
Beberapa waktu yang lalu.
Drrrr....
Istana terus-menerus berguncang dengan hebat. Terowongan ini begitu gelap gulita, lampu di sekitarnya hanya menyala redup, itu pun masih berkedap-kedip seakan masih berjuang mempertahankan nyala apinya.
"Sepertinya kita sudah sampai di sini."
Di depan sana terlihat sorotan cahaya yang menyerbak masuk. Terowongan ini masih berlanjut, tetapi tangga yang menuju celah-celah masuknya cahaya tak bisa kami hiraukan. Sudah pasti itu adalah pintu keluar dari terowongan pintas ini.
"Waspadalah, Raisa akan keluar lebih dulu untuk memastikan apakah ada musuh atau tidak."
Aku menarik tangan Raisa sebelum ia bergegas keluar.
"Biar aku saja, setidaknya aku memiliki skill pelindung jika ada kejadian yang tak diduga."
"Dayshi. Baiklah, Berhati-hatilah," jawabnya sambil menganggukkan kepala.
Aku pun kemudian dengan hati-hati bergegas membuka pintu keluar yang tepat ada di langit-langit terowongan sini.
Hawa-hawanya terasa dingin. Aku merasa ada yang ganjal, sesuatu yang buruk mungkin akan segera terjadi.
Ruangan yang berlantai keramik. Dengan luas kamar yang dapat ditampung belasan orang. Ruangan ini adalah kamar istana milik sang raja beristirahat.
Tempat yang begitu rapi dan bersih. Tak ada tanda-tanda kekacauan di dalam sini.
Aku dan Raisa akhirnya memutuskan untuk segera bergegas pergi keluar dari kamar ini. Pintu kamar ini juga tak terkunci rapat.
Sepanjang perjalanan di istana ini tak cukup banyak yang menghalang kami. Ruangan istana ini benar-benar begitu kosong, tak ada tanda-tanda kehadiran seorang pun.
Tiba-tiba tempat ini menjadi bergetar. Kami seketika berhenti berusaha menyeimbangkan tubuh. Reruntuhan batu-batu kecil mulai berjatuhan.
Geteran ini berasal dari atas. Firasat mengatakan bahwa kita harus naik ke atas sana.
Kami pun segera naik ke asal getaran tersebut. Geteran berikutnya semakin besar hingga runtuhan pun terjadi. Spontan kugunakan skill mana 3D. Kerusakan tempat semakin menjadi-jadi.
Kuharap semuanya akan baik-baik saja.
Ayo kita naik ke atas. Aku menggunakan mana 3D ku untuk bergerak dan melayang di udara. Yah, aku tak menyangka skill ini dapat kugunakan seperti ini juga. Aku menyadarinya sesaat setalah hampir tertimpa bangunan, aku menggerakkan mana 3D ini untuk menghindar secara spontan.
"Dayshi, lihat itu. Bukankah dia tampak seperti pak Opin."
Aku melihat ke arah telunjuk Raisa. Dia benar itu adalah pak Opin, tidak salah lagi.
"Eh!"
Kami terkejut ketika mangamatinya dengan jelas. Pak Opin terjatuh dengan luka yang begitu besar.
Tanpa sadar aku menambahkan kecepatan terhadap mana 3D. Aku menopang pak Opin setelah mana 3D kuhilangkan dan menggantinya sebagai gelembung yang Raisa buat.
"Ini buruk, pak Opin tampaknya akan sangat sulit untuk diselamatkan."
"Apa kamu tak memiliki skill untuk menyembuhkannya. Tidak, dimana Mirai saat ini? Kita harus segera menolong pak Opin."
"Itu sudah terlambat. Ugh. Hahaha~, "
Suara dan napas pak Opin bergemetaran. Sialan, kenapa jadi begini. Kami baru saja datang ke tempat ini dengan tujuan untuk menyelamatkan pak Opin. Namun yan terjadi malah pak Opin tengah kritis di hadapan kami.
Aku dan Raisa mengeluarkan semua potion yang tersisa dan meminumkannya kepada pak Opin. Akan tetapi, usaha itu sama sekali tak membuahkan hasil. Drop hp yang ada pada nya terus saja berkurang secara pesat meski kita meminumkannya potion, hp yang naik akan kembali berkurang secara drastis.
Ini buruk, sangat-sangat buruk. Kami tak dapat menutupi lubang yang ada pada tubuhnya.
"Hei, sadarlah."
"Riko, apa sebenarnya yang ingin kau raih."
Ucapan dari pak Opin begitu terbata-bata. Tak lama ia pun meninggal.
Hahaha, hidup yang singkat ya.
Aku begitu lemas tuk berbicara dengan baik. Sungguh aku memiliki kondisi mental yang jelek.
Apakah Riko yang pak Opin maksud adalah orang itu. Orang yang sedang melayang di udara dan menatap rendah kami. Tatapan yang begitu tajam seolah tanpa bergerak pun kami semua akan langsung mati di sini.
"Ra-Raisa... "
Si Raja Gila, orang itu tiba-tiba terkejut saat melihat Raisa. Ia tampak seperti orang yang lama tak pernah melihat orang terdekatnya.
Orang itu tiba-tiba menghilang dari kejauhan, tetapi ia seketika muncul di dekat Raisa tepat di hadapannya.
"Raisa!"
Wajah Raisa begitu panik tetapi kemudian ia berekspresi lemas ketika si Raja Gila seolah membisikkan sesuatu kepada Raisa.
*Pllung
Bunyi gelembung yang Raisa buat meletus. Aku dan pak Opin lantas terjatuh.
Apa yang sebenarnya si Raja Gila itu bisikan? Apa dia mencuci otak Raisa juga. Aku sama sekali tak bisa bergerak ketika si Raja Gila itu mendekat. Aura yang pancarkan begitu berbeda dibandingkan semua orang yang telah aku temui.
"Mana 3D, cube"
Aku membuat kubus. Menahan bada pak Opin yang sudah tak bernyawa. Aku perlahan-lahan turun dengan pelan dan meletakkan pak Opin.
Raisa dalam bahaya. Jika aku tak melakukan sesuatu, si Raja Gila itu entah akan apa yang ia perbuat kepadanya.
Mana 3D. Lagi-lagi aku menggunakan skill itu namun kukontrol secara jauh. Sebuah kubus seharusnya menutupi si Raja Gila.
Tak mau memberi celah, aku memberikan mana thorn yang menghujaninya dengan keakuratan yang tepat sehingga tidak mengenai Raisa.
Tetapi itu semua ternyata tidak berguna. Si Raja Gila hanya menatapku seolah risih dan menganggapku seperti seekor lalat.
Tidak mengapa. Jika kau begitu meremehkanku itu tidak apa-apa.
Aku menutup mataku. Memberhentikan waktu yang cukup lama untuk membuat suatu pedang dari pemadaman mana 3D. Setelah itu aku kemudian melesat. Pedang yang kubuat dari mana adalah pedang yang keras. Ia takkan mudah untuk menghancurkan pedang ini.
Ketika aku menyerang si Raja Gila, tiba-tiba Raisa menghadang dengan tubuhnya.
Hampir saja pedang tersebut melukai dirinya. Aku membantingkan diri untuk mengontrol pedang tersebut.
"Apa yang kamu lakukan Raisa!"
Mata Raisa sama sekali tak melihatku. Apa yang sebenarnya dia pikirkan. Apa gara-gara SI Raja Gila itu. Si Raja Gila itu malah menatapku dengan raut begitu kecewa.
Apa ini?
"Dayshi. Apakah kamu akan selamanya seperti itu?"
A-apa yang dia katakan. Si Raja Gila itu mengetahui namaku?
"Apa maksudmu?"
"Heh, mana mungkin kau bisa mengingatnya. Bahkan aku tak cukup yakin dengan itu. Tapi tidak apa-apa, pasti sudah banyak hal yang sudah kamu lewati bukan."
"Itu sama sekali tak menjelaskan apa maksud darimu."
"Raisa...."
Raisa mengangguk. Ia sudah bersiap untuk menyerangku. Aku sama sekali tak mengerti apa maksudnya.
Raisa mulai menyerangku dengan tembakan-tembakan mananya. Aku menghindarinya secara terus-menerus.
Aku kemudian menggunakan kemampuan manaku untuk menyelimuti diriku sendiri. Serangan yang Raisa berikan pada akhirnya terhalang oleh lapisan mana yang menyelimuti tubuhku itu.
"Eye Elements.... Processing, The Hands Of The Tree."
Raisa tampak sedikit panik. Serangan-serangan berupa gelembung itu tak ada yang mengenaiku. Aku menerobos untuk mendekati Raisa.
Saat aku sudah berada di dekatnya, tanpa aku duga Raisa menggunakan skill berbahayanya dalam jarak yang begitu Dekat. Ia menjulurkan tangannya dan mencentik jarinya.
"H-BOM"
Seketika ledekan besar terjadi. Cahaya yang luar biasa terang Sampai-sampai mataku hampir saja dibuat buta. Aku terlempar cukup jauh dan lapisan mana yang melindungi tubuhku seketika hancur.
Dalam keadaan seperti ini aku hampir dibuat tidak terbedaya. Namun, aku tetap bersikeras tak mau membuang waktu yang banyak.
Pada saat aku terlempar itu, aku memberhentikan tubuhku, membuat pijakan mana ampliefer yang aku buat.
Aku kembali melaju saat Raisa masih tengah mencari keberadaanku. Aku memukul belakang lehernya hingga ia tak sadarkan diri. Kurasa ia sekarang dalam keadaan yang tidak tahu akan melakukan apa. Mungkin dia masih dalam pengaruh si Raja Gila.
"Kau, apa yang kamu lakukan kepadanya."
Si Raja Gila tak menjawab apapun kepadaku. Ia malah tiba-tiba muncul di hadapanku. Aku menghunuskan pedangku kepadanya, yang mana hunusan pedangku ini seharusnya dapat menghancurkan batu yang sangat besar. Namun dia malah dapat menangkap pedang tersebut.
"Jangan terlalu marah begitu. Kamu tahu aku dapat dengan mudah langsung menghentikanmu disini dan membuatmu bangkit kembali seperti kerang kosong."
Si Raja Gila secara tiba-tiba membuatku sesak napas. Seolah ada sesuatu yang mencengkram seluruh tubuhku.
Notifikasi warning tiba-tiba tertera dengan begitu berisik.