My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
9.3 Pinggiran



Aku terduduk, degup jantungku mengencang. Misi tingkat S memang tidak main-main. Hampir kebanyakan misi di atas adalah misi pembunuhan, bahkan banyak cara-cara pembunuhan yang diminta. Bahkan orang yang meminta pembunuhan tersebut menginginkan beberapa anggota tubuh dari si target.


"Hei-hei-hei yang benar saja. Kenapa semua misi di atas semuanya berkaitan dengan manusia."


Tap....


"Suara langkah kaki?"


Entah mengapa aku menjadi gentar dan pikiranku langsung berinisiatif untuk bersembunyi.


"Ah ternyata di ruangan ini."


Suara itu, terdengar masih anak-anak. Emerald?


"Sepertinya terjadi sesuatu di bawah sana. Aku sampai tidak menyadari tempat ini karena pelindungnya tidak aktif."


Emerald mulai masuk ke dalam. Sedangkan aku masih bersembunyi di pojok dekat ruangan masuk—tanpa pintu—dibalik gentong-gentong kosong yang isinya gosong, bekas sesuatu yang terbakar.


"Misi ini.... Akhirnya aku sudah sampai di sini, ha-ha-ha-ha."


Reynald tertawa seolah ia merasa senang akan apa yang misi tersebut catatkan. Itu membuatku merinding. Aku mengambil kesempatan untuk segera keluar. Aku mengendap-ngendap dan akhirnya berhasil keluar dari ruangan. Namun, saat aku menoleh ke belakang, Reynald tampak menyadariku tetapi ia tampak menghiraukanku saja.


Apakah mungkin dia mengira aku sebagai orang di rank A ke atas? Ataukah dia hanya membiarkanku saja seolah aku tidak akan memiliki masalah walau tahu akan misi yang terpajang di atas? Entahlah, yang jelas aku akan lebih berhati-hati ke depannya kepada dia.


Aura yang terpancar dari tubuhnya tidak main-main kuatnya. Kehadirannya bahkan dapat ia samar-samarkan, tetapi sayangnya saat ia melihat misi tadi nafsu haus akan membunuhnya sangat jelas terasa.


...➕➖✖️➗...


Beberapa hari sebelumnya di sisi lain yaitu Resha. Ia datang ke wilayah perbatasan antara wilayah pinggiran dan wilayah yang cukup normal. Terlihat jelas perbatasan tersebut memiliki sisi yang hijau dipenuhi sawah dan perkebunan serta pagar kayu tinggi menjulang runcing.


Dan di sisi satunya adalah wilayah terlantar dengan bangunan-bangunan yang tak layak, diiringi tanah yang kering bekas pijakan tanpa arah serta rumput semak belukar yang tidak terawat perkembangan pesatnya.


Di perbatasan tersebut, Resha ada di atas pagar kayu runcing. Ia mengamati wilayah pinggiran dari atas. Tak banyak orang di sekitar perbatasan. Mereka semua tanpa terkecuali anak-anak pergi ke area-area pekerjaan keras, menambang batu bara, mengangkat tanah dan batu.


Wilayah-wilayah tersebut bisa dikatakan cukup jauh dari wilayah tempat tinggal mereka.


Resha menoleh ke belakang kembali, ia memperhatikan kembali wilayah yang dikatakan sebagai wilayah normal. Hembusan angin menerpa wajah Resha, hirup sejuk serta hirup sesak berdebu berbau sampah seolah bersatu di pagar tersebut.


Resha mengambil kain dalam kantong celananya. Kain tersebut diikat dari atas hidung ke belakang kepala. Menjadikan sebuah masker untuk menutup bau sampah pembuangan di sekitar area tempat tinggal orang terbuang yang dipaksa untuk bekerja dengan upah minimum.


Jerit tangis anak-anak mulai terdengar ketika Resha berjalan lebih dalam. Terlihat anak-anak dengan kondisi yang begitu kekurangan gizi, kurus hingga terlihat seperti mereka tak memiliki daging pada tubuhnya.


Kantong mata yang hitam, serta bola mata yang memerah. Air mata kering yang dilapisi debu, sangat memberantakkan wajah tak berdaya mereka, seolah mereka tak memiliki niat untuk hidup lagi.


Berlarian, menyeret kaki, mendatangi Resha.


"Kurang ajar."


Resha mengepalkan tangan penuh amarah, tak berkata apa-apa, Resha pergi menghilangkan sosok keberadaan dirinya sembari meninggalkan makanan yang ia miliki.


Ketegangan dari raut mereka terlihat begitu jelas, tak ada yang tersenyum apalagi bersenda gurau. Tetesan keringat selalu memandikan mereka, tak peduli apakah dia itu perempuan ataupun laki-laki. Mereka semua hanyalah alat yang dimanfaatkan lalu dibuang begitu saja ketika rusak.


Resha berjalan sembari masih menyembunyikan hawa keberadaannya. Ia fokus kepada beberapa pekerja yang memiliki gerak-gerik mencurigakan. Pekerja itu terlihat begitu gelisah, lalu pergi meninggalkan kawanannya. Ia menuju ke dalam penambangan bawah tanah. Tepat ke dalam tanah yang menjulang lingkar.


Di dalam tak ada aktivitas penambangan yang terjadi. Kegelapan nan dinginlah yang terasa. Pekerja itu terus berjalan dan ternyata pekerja tersebut menemui kawanannya yang sangat banyak di dalam.


"Gantikan posisiku, dan cepat jaga pintu di luar."


Pekerja tersebut saling berbisik. Resha dengan cepat bersembunyi di balik bebatuan lorong yang berbeda.


"AKU SUDAH CAPEK! KAPAN KITA MELAKUKANNYA!?" seru salah seorang pekerja.


"Benar itu, kapan kita akan melakukannya!?" seru yang lain lagi.


"GOBL*K, tunggu sebentar. Jika kalian tak ingin mati sia-sia di sini, maka bersabarlah. Kita tunggu pemimpin kita. Tanpa dia kita tidak akan bisa bergerak dengan baik."


Seketika mereka semua terdiam, memperhatikan satu orang yang terlihat menonjol.


"Jangan tergesa-gesa. Aku yakin tak lama lagi kita akan melakukannya. Kita akan balas perbuatan mereka terhadap apa yang mereka lakukan pada kita. Kita balas juga saudara kita yang telah habis di desa perbatuan sana!"


Prok-prok-prok, tepukan tangan seseorang dari arah lorong lain menghentikan seruan semangat orang tadi. Para pekerja tersebut menoleh bersamaan dengan penasaran dan keterkejutan.


Siluet seseorang? Tidak lebih banyak dari perkiraan Resha. Mereka semua keluar dari lorong berlawanan arah dengan lorong pintu luar. Serasa tak ada habisnya, mereka ada puluhan atau bahkan lebih.


Seolah memimpin, orang yang bertepuk tangan tadi dengan segera disalimi oleh yang tadi berpidato keras.


"Bagaimana?"


"Aman, pak."


Rambut putih keperakan, dengan pakaian zirah perak sederhana yang hanya menutupi dada, punggung, bahu, dan lengan. Pedang platinum di samping pinggang dengan gagang pedang tersebut tepat di perbatasan antar mata pedang terdapat sebuah permata—bercorak bunga iris ungu— yang khas sekali untuk diketahui. Ia pasti adalah salah satu dari petinggi prajurit Kingdom of Flower. Dia seorang ksatria, pikir Resha.


"Kita tak bisa berlama-lama di sini. Ayo, segera ikuti aku," ucap ksatria terduga itu.


"hust, kalian jagalah bagian belakang. Jangan sampai ada yang mengikuti kita." Perintah dari orang yang mengikuti Ksatria itu. Dua dari orang bawahan si ksatria segera pergi ke arah lorong depan pintu masuk terowongan tambang ini.


Lokasi ini apakah tidak diketahui oleh orang-orang atas—orang yang bertugas mengawasi para pekerja. Mungkin tidak mustahil jika memang orang dalam yang mengkhianati mereka.


"Aku harus menulusuri ini lebih lanjut," batin Resha.


Mana yang menguras terus tak Resha hiraukan. Ketika ia bersembunyi terkadang Resha akan menutup kembali skillnya dan membiarkan dirinya mengisi mana seiring waktu yang diambil. Mungkin tak cukup lama untuk mengisinya kembali, tetapi itu sudah sangat membantu Resha agar tak cepat kehabisan mana.


Resha berjalan mengikuti rombongan tersebut. Ia menggunakan lagi skill penghilang keberadaannya. Iringan mereka nampak diburu-burukan, seolah mereka berpikir waktu adalah bom yang akan menghujam.