
Sayatan lebar sepertinya akan segera menghantam kami. Jika aku tidak melakukan apa-apa ini akan berakibat fatal.
"【Iin Fit】"
Apa itu? Si pemimpin pemberontak ini barusan berdiri di hadapanku lalu serangan tersebut seketika hilang bak ditangkis atau memang ia menangkisnya.
"Ares!" sosok wanita bertopeng yang menjaga Resha tiba-tiba berdiri di samping pemimpin pemberontak tersebut.
"Kau tidak apa-apa?"
"Jangan khawatirkan aku kak Anyelir."
Ares hanya fokus kepada lawannya. Ia benar-benar menatap teliti pergerakan dari sang prajurit tersebut. Para prajurit tersebut benar-benar berusaha menghadang jalan kami.
"Kalian tangguh sekali ya."
Pemimpin prajurit tersebut tersenyum sinis.
"Lihatlah Rombonganmu sekarang. Sisa kalian yang tersisa."
Hanya sekejap selepas dia menyerang kami sebelumnya, ia juga di waktu yang sama menghabisi para pemberontak. Tidak justru para rekannya juga ikut andil di waktu tersebut. Kemampuan mereka bukanlah main.
Tak kupercaya dengan mudah orang-orang di sekitarku mati begitu saja. Tidak, apa aku harus memikirkan ini? Mereka mati karena mereka juga memilih jalan tersebut, seharusnya mereka juga tahu dampak apa yang akan mereka lakukan di sini. Untuk apa aku harus merasa bersalah.
Aku heran sendiri dengan dada sesak yang kurasakan ini. Waktu itu juga, di tragedi kota Flamesea. Aku juga merasakan hal ini. Mengapa?
"Kau membunuh dengan begitu mudah ya. Sisi kemanusiaan yang ada pada dirimu sepertinya tidak ada sebagai makhluk berakal. Ya, tapi tidak apa-apa. Sekarang ini adalah medan pertempuran."
Ares, dia merasa geram. Amarahnya tersalurkan dalam getaran tangannya yang memegang pedang besar.
Whush...
Aura tekanan dan hawa sesak ini seketika menjalar seperti angin kencang yang baru saja menghantam sekujur tubuh. Rasa gemetar yang membuat bulu kudukku berdiri ini adalah perasaan dari aura pembunuh dari seseorang, Ares.
Dadaku sudah sesak malah dibuat lebih sesak lagi dari luar. Benar kata Ares, sepertinya aku mulai tak waras. Bukannya sudah jelas, dada sesak yang kurasakan sebelumnya adalah perasaan yang manusiawi.
Baru beberapa kali aku dihadapkan dengan pemandangan orang mati, dan sepertinya untuk pertama kalinya aku melihat pemandangan yang saling membunuh ini.
Ya, sepertinya ini baru pertama kalinya? Aku melihat ke arah telapak tanganku. Aku merasa meragukan perkataan hatiku itu lalu aku kemudian kembali mengepal tanganku erat-erat.
"Bukan saatnya aku memikirkan ini. Aku harus segera menyelesaikan tugasku."
Cting..
Ares bergerak lagi bersama dengan ketiga rekannya itu. Pertarungan mereka begitu hebat hingga menimbulkan suara pertempuran yang menggemakan seisi terowongan ini. Nyaring sekali bunyinya.
"Aku benar-benar muak kepadamu sialaaan."
Ares memukul dari atas dengan mata pedangnya. Sang prajurit tersebut menahannya dengan badan Greataxe nya. Serangan kembali terjadi dan semakin lancar dari sisi Ares. Sedangkan itu duel dari lima prajurit dan kelompok Anyelir juga saling memiliki berat kekuatan yang sama.
"Jika kita berdiam diri saja, kita takkan bisa melewati terowongan ini."
Raisa mengulang kembali perkataannya, ia ikut membantu. Ia menyerang dengan kemampuan dasarnya yaitu tembakan mana darinya.
Meski begitu serangan Raisa dengan mudah ditangkis oleh kelima prajurit tersebut bahkan tak merasa terganggu dalam menghadapi kelompok Anyelir.
"Berhati-hatilah mereka akan menembakkan panah ke arahmu, Raisa!"
Mirai menggunakan kemampuan mata fucturiecesnya. Aku segera bergegas menghalangi arah panah yang akan menuju Raisa. Tepat setelah Mirai berucap panah tersebut datang dari salah seorang dari prajurit tersebut.
Aku ingin menangkis dengan menggunakan pedangku, tetapi saat panah tersebut telah mendekatiku aku sedikit terpaksa menggunakan 【Mana Ampliefer】sebab pedangku sedikit meleset untuk menangkis anak panah tersebut.
Sepertinya aku masih perlu sedikit peka lagi. Skill 【Feeling】yang kudapatkan saat berlatih meningkatkan indraku masih berlevel satu. Untuk meningkatkannya aku perlu memakainya dalam pertarungan.
Keterdesakan akan melatih diriku untuk lebih baik. Ini yang dapat kupelajari dari hasil latihan serta pertarungan yang pernah aku lakukan. Tak sia-sia juga aku berada di tingkat C dalam guild, sebab misinya untuk mencari hewan yang hilang membuatku mendapatkan skill ini.
Puk..
Resha menepuk pundakku. Dia lagi-lagi tersenyum. Senyum yang dipenuhi dengan hawa nafsu. Ya, Resha terkadang suka sekali merasa gemas jika berhadapan dengan lawan yang ia anggap kuat. Ia takkan tahan untuk berdiam diri begitu saja.
Resha menerjang. Ia tampak menghilang seperti fatamorgana lalu tiba-tiba muncul di hadapan para prajurit tersebut. Hebatnya prajurit yang Resha serang berhasil menangkisnya.
Kamampuan mereka memang di atas rata-rata. Serangan demi serang mereka bahkan saling menghempaskan tubuh mereka sendiri berkali-kali.
"Ya ini memang bukan panggungku."
Untuk saat ini aku tidak ingin terlalu mengandalkan kemampuan mana ku. Lebih baik menggunakan skill pasif maupun skill yang tidak terlalu memakai mana. Selama ini aku telah melatih kemampuan skill 【Swordsmanship】— 【Keterampilan Berpedang/ ahli pedang】yang aku miliki.
Skill ini telah mencapai level 5. Aku cukup yakin untuk menggunakannya dengan baik. Aku berlari ke arah lawan membantu celah kosong yang ada.
Dengan arahan dari si Mirai kami dapat menyerang dengan lebih baik. Raisa menyerang menggunakan temabakan mana juga sangat membantu dalam menyulitkan lawan.
Prajurit tersebut mulai terlihat kesulitan. Serangan yang kami berikan sangat ampuh kepada mereka. Sampai-sampai mereka beberapa kali harus melangkah mundur dan memberikan serangan efek besar agar bisa bertahan.
Serangan efek besar yang prajurit gunakan membuat kami harus terpukul mundur beberapa saat. Lalu di saat itu pulalah mereka juga akan memperlihatkan jeda celah yang sangat pas jika langsung di serang. Lantas saja Mirai mengarahkan kami, dan kami tanpa diperintahkan sekalipun akan mengambil kesempatan tersebut.
Agemenon berhasil menghantam kepala prajurit tersebut hingga sang prajurit tak sadarkan diri. Begitu pula dengan Resha, ia menyayat musuhnya pada celah yang ada sehingga musuh juga menjadi jatuh.
Dua lainnya di kalahkan oleh Anyelir dan Anemenon. Satu lagi aku berhasil memukul bagian leher belakang musuh sehingga juga terjatuh. Sisa Sang pemimpin Prajurit yang tersisa.
HP yang ia miliki berada di 75% sedangkan Ares di 49%. Tampaknya Ares sudah sangat kewalahan. Ia mengangkat pedang besarnya lalu kembali maju. Sedangkan prajurit tersebut dengan lincah menghindari serangan Ares lalu hampir memukul telak Ares dengan Greataxenya.
Beruntungnya Ares menggunakan pedang besarnya untuk menahan serangan prajurit tersebut yang datang dari belakangnya setelah ia menyerang. Meski ia berhasil menahan serangan tersebut, tetapi tak dapat dimungkiri ia harus terhempas dan mengahantamkan tubuhnya di dinding baja terowongan.
...『』『』『』『』『』『』『』『』...
... 【DAYSHI ANDRIAN 】...
【Level : 147『Epic』】
【Title : None 】
【Power : Math Fantasies 】
【HP : 99% 】
【MP : 98% 】
【Weapon : Sword 】
【Skill Exclusive :
> Count (Ngitung)
> Weak Point
> Mana Ampliefer (Mana 2D)
Rain Thorn
> Mana 3D
Flying Ball
A CUBE
> Swordsmanship
> System Connect
>Feeling】
...『』『』『』『』『』『』『』『』...
... 【RAISA NUR AMELIAH 】...
【Level : 150 『Epic』 】
【Title : None 】
【Power : 】
【HP : 100% 】
【MP : 98% 】
【Weapon : Wand 『 Leaf Green ' 』 】
【Skill Exclusive :
> Shooting mana
> Eye Elements
> Processing
The Hands Of The Tree
Helium Bubble
> H-BOM
> SHAPING 】
...『』『』『』『』『』『』『』『』...
... 【MIRAI FUCTURIECES】...
【Level : 250 『Master』】
【Title : 。。。 Not yet analyzed 。。。 】
【Power :
- Eye Fucturieces
- Enchantment
- Abundant Mana 】
【HP : 100% 】
【MP : 100% 】
【Weapon : None 】
【Skill Exclusive :
> Looking to the future
> Overspread
> In Enchanter】
...『』『』『』『』『』『』『』『』...
... 【RESHA * 】...
【Level : 290 『Grandmaster』 】
【Title : 。。。 Not yet analyzed 。。。】
【Power : Smoke 】
【HP : 100% 】
【MP : 98% 】
【Weapon : dual dagger 】
【Skill Exclusive :
> Smoky
> Fog Knife
> Slam Sharp
> Black Smoke
Permanen
> Sidestep
> Inner Dimensional Holl】