My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
9.7 Penyamaran



Raisa memukul tembok yang menjadi sandarannya. Debu-debu kotor di tembok tersebut terhempas di sekitaran kepalan tangan Raisa.


"Hahaha—" aku tertawa enek sembari mengelus-ngelus kepalaku—bekas pukulan Raisa. "Sepertinya si Raja Gila itu memiliki kemampuan cenayang sampai tau dengan tindakan kita yang bakal menentangnya. Atau mungkin dia memiliki bawahan atau sesuatu yang dapat memata-matai kita. Hehe..."


"Kau pikir ini lucu, Dayshi. Berhentilah tertawa sebelum aku akan memukulmu lagi karena kesal," kata Raisa mengepalkan tangan. Menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin menghantam. Sekesal itukah dia terhadap apelnya.


"Sudahlah, sudah. Jangan bertengkar di sini." Mirai mencoba menenangkan Raisa. "Lihatlah di luar, tampaknya orang-orang yang paling mengancam kita—para prajurit Garden Flower— telah pergi. Ayo kita bergegas mencari tempat yang lebih aman. Tak mungkin kita bisa terus-terusan berada di sini, bukan?"


"Tunggu sebentar. Mirai apa kamu tidak lihat apa ini. Poster ini dan ciri-ciri kita tertulis di dalam kertas ini. Kita seorang buronan. Orang-orang di luar situ pasti sudah langsung mengetahui bahwa orang di dalam buronan ini adalah kita. Bagaimana mungkin kita bisa keluar dari sini."


"Hehehe," Mirai terkekeh seolah ia sedang siap membanggakan dirinya. Tampaknya dia memiliki kejutan, atau mungkin dia sudah memiliki persiapan ... jangan-jangan.


"Yap, apa yang kamu pikirkan benar Dayshi. Aku sudah memiliki persiapan. Lihat ini..."


Apa, tunggu, apa dia mendengarkan apa yang sedang aku pikirkan. Tapi, tunggu dulu. Apa yang dia perlihatkan memang sungguh pas dalam suasana saat ini. Yap, apalagi kalau bukan pakaian samaran. Pakaian yang bisa dikatakan antara orang biasa dan juga dimiliki seorang bangsawan di sini.


Sebuah gaun dress mengembang layaknya kelopak bunga dengan warna hitam dan dua buah topi cart wheel—penutup kepala khusus wanita yang memiliki pinggiran lebar dengan hiasan bunga di atasnya— serta satu topi hat hitam—penutup kepala khusus pria yang memiliki bentuk seperti cerobong asap, mungkin lebih tepatnya atau biasa juga disebut sebagai topi pesulap.


"Satu gaun dress dan tiga penutup kepala. Terus bagaimana dengan Raisa dan Dayshi?" Raisa menunjukku.


"Hei, bukannya kita juga memiliki pakaian seperti itu waktu kita mendapatkannya di dosa Rose."


"Oh, iya benar juga kamu Dayshi. Ngomong-ngomong aku tak menyangkanya jika kamu juga memilikinya." Raisa tampak mengutak atik sesuatu di hadapannya. Terlihat jarinya seakan menari-nari di udara. Ia pasti sedang membuka status miliknya. Tapi, aku sedikit kesal juga dengan lirikan matanya yang tertuju padaku dengan bibir senyum ditekan seolah sedang menahan rasa ingin tertawanya.


"Aku juga mendapatkannya ..." kini Raisa malah menutup senyum di bibirnya dengan tangan kanan. Bahkan aku mendengar tawa kecilnya.


"Beneran kamu juga memiliki gaun dress seperti ini? Sepertinya ini akan sangat sesuai denganmu Dayshi, Hahaha." Raisa tertawa bengek.


"Sialan kau,"


Dia benar-benar tertawa terbengek-bengek. "Semoga kau tidak bisa bernapas gara-tawa kebengekanmu itu." bahkan suara tenggorokannya yang seperti b4bi pun terdengar.


Aku dan Mirai memperhatikan Raisa dengan diam dan muka yang datar. Aku rada kesal. Dia sampai membungkuk memukul-mukul perutnya sendiri.


"Bahagia sekali kamu ya," kataku yang kemudian mengeluarkan inventory dan mengambil blazer hitam yang siap aku kenakan. (Dayshi mengeluarkan inventory tanpa menyebutkan skillnya. Hanya dengan memikirkan lalu membayangkannya maka skill tersebut akan terwujud)


" Hei Dayshi, apa kau ingin mengenakan ini?"


"Raisaaa, lihat ini lihat. Yang kumaksud blazer ini, bukan gaun dress itu."


"Eh, bukannya tadi kamu bilang memilikinya ya."


"Ya bukan itu maksudku."


"Tapi, kamu ingin memakainya kan."


"Tidak,"


"Dayshii..."


"Eh, kok marah-marah gitu sih."


"mmm, aha ha ha ha...."


Suara yang berbeda keluar. Tampaknya Mirai tertawa kecil melihat kami. Tidak, ia bahkan terus tertawa dan terlihat semakin riang, Sampai-sampai sedikit air matanya keluar bak terharu saja.


Aku dan Mirai terdiam sejenak lalu saling menatap mata dan ikut tertawa akibat Mirai dan mulai sadar akan tindak laku yang kami lakukan tadi. Itu terlihat kekanakan dan juga terasa rada malu jadinya. Aku jadi menertawakan diriku sendiri.


Di tengah suasana yang sebelumnya tegang kini kami bernapas lega. Aku mulai mengenakan blazerku. Cukup simpel dan mudah untuk mengenakannya. Beberapa helaian pakaian seperti celana pendek dan kaos masih terlapisi ketika aku mengenakannya.


"Hei Dayshi," panggil Raisa pelan.


"Apa?" sahutku melihatnya. Ia mengibas-ngibaskan tangannya. Spontan aku mengerti maksudnya. Aku mengambil topi hat dan keluar dari gang sempit itu. Pastinya sebelum keluar aku memastikan apakah akan ada orang yang melihatku saat keluar ataukah tidak. Di momen sepi dan memang jalanan tersebut aslinya sepi jika bukan karena tindak dikejar sebelumnya. Aku pun keluar semberi menunduk memegang pinggiran depan topi panjang hitam yang aku kenakan.


Aman.


"Jangan mengintip ya. Kuledakkan matamu jika kau mengintip Dayshi!" seru Raisa.


"Iya-iya."


Apa-apaan sih dengan si Raisa ini. Lama-lama makin ngeri saja. Aku menghelakan napas. Celangak-celinguk melihat apa yang ada di sekitar.


+-×÷


"Raisa, Mirai!"


"Iya, tunggu bentar."


ini sudah hampir sepuluh menit lebih, dan mereka masih saja belum selesai-selesai. Perempuan kalau sudah urusan pakaian, dandan, dan apa-apa saja, kalau sudah di suruh 'tunggu bentar' malah lamanya tidak bisa diperkirakan. Bagaimana cara menunggunya coba.


Masih kuhelakan napas yang berat. Aku melihat langit-langit yang cerah. Warnanya biru tanpa awan. Kutarik napas kembali lalu kuhembuskan. Kupejamkan mata dan menikmatinya.


Ah, bangunan-bangunan bertingkat dua dan tiga ala Eropa ini, bahkan beberapa bentuk bangunan arsitektur tanpa sudut lancipnya itu benar-benar membuatku takjub. Aku tak pernah melihat hal seperti ini di duniaku sebelumnya.


"Hahaha, rasanya aku seperti diinkernasi saja."


Luar biasa. Terik matahari tak terasa akibat teduhnya bangunan. Malah terasa sejuk saat angin sepoi menghantam ku di jalan menyepi ini. Kupejamkan lagi sekali kelopak mataku. Berharap ketika membuka kelopak mata sekali lagi, mataku akan menjadi lebih segar menikmati apa yang ada di sini.


Namun, tidak seperti ekspekstasiku. Kini aku melihat empat orang terbang di atas penglihatanku. Pemandangan siluet hitam yang mengejutkan. Tapi, yang lebih mengejutkan adalah ketika ketiga orang di atas pemandangan itu, melihatku secara serentak.


Lantas aku menjadi panik seolah terintimidasi. Jangan - jangan mereka adalah beberapa orang yang mengincar kami sebagai buronan. Kalau begitu kami harus bergegas pergi dari sini. Jangan sampai tempat ini akan menjadi heboh nantinya, ya firasatku mengatakan begitu.


Apa mereka—Raisa dan Mirai—belum selesai? Tadi itu pasti mereka—tiga orang yang melintas di pandangan—melihatku.


"Jadi dia orangnya?" Aku terhenti. Suara asing nan berat serak terdengar di belakangku, pas ketika aku beranjak pergi hendak memberitahukan akan apa yang barusan aku lihat sebelumnya kepada Raisa dan Mirai.