
Soal SETENGAH BOLA. Yap aku juga berimajinasi tentang hal tersebut. Inti dalam soal tersebut adalah pada bagian inti diameter 30 meter dengan volume setengah bola yang ditanyakan. Setengah bola berarti dua per tiga.
Phi dengan ketentuan pastinya ialah 22/7 atau 3,14. Diameter diubah ke r atau jari-jari, berarti 30 di bagi dua menghasilkan hasil 15. Sisa di hitung saja semuanya.
Hal mudah jika hanya di ganti atau mengubah rumus ke bilangan, aku hanya butuh ketelitian saja. Yang lumayan sulit itu adalah menghitungnya, bukan hanya kita harus berpikir tapi ketelitian akan menjadi faktor terpenting.
Salah sedikit saja, meski itu hanya satu bilangan atau satu salah simbol. Maka semuanya akan hancur sampai ke bawah-bawahnya. Aku tahu itu, karena masalah kecil pun serupa dengannya yang mana masalah kecil bisa berubah menjadi masalah yang sangat serius jika diremehkan.
Di sini aku diajarkan untuk serius. Aku takkan bermain-main apalagi jika aku berada di situasi yang mengharuskan ku memang untuk harus fokus. Walau begitu sih, aku tak boleh terlalu menyeriuskannya, serius dengan santai dikit 'kan lebih bagus agar tidak tertekan.
"Baik ini dia hasilnya, bagaimana? Apakah kurunganku akan bertahan lama?"
Tak sampai dua menit tadi aku menyelesaikannya. Waktu yang tersisa ialah satu menit. Itu berarti batas soal ku tadi adalah tiga menit 45 detik. Boss Momon besar berbulu hitam hampir sedikit saja menghantam Mirai. Namun sebelum mengenainya, aku segera menyerukan skillku.
"[BALL CONFIENEMENT]."
Skill lanjutanku tercipta. Sebuah bola setengah lingkaran, besar, dengan volume yang luas mengurung para momon kelinci hutan berbulu coklat, abu-abu, dan hitam. Mereka menghantam kurungan yang aku buat. Rasa seperti kaca, tetapi lebih kuat dan elastis, akibat momon itu bergetarlah kurunganku seperti tetesan air yang jatuh ke genangan air.
"Kuat sekali. Kurunganku mungkin tak akan bertahan lama akibat perbedaan level kami. Dan coba lihat." Aku menunjuk momon besar yang berada di tengah kumpulan momon yang lebih kecil darinya. "Bukankah status yang ia miliki adalah Boss dari para momon tersebut."
"Jangan terlalu memikirkannya, kurungan ini sudah sangat membantuku." terlihat dari atas, Raisa akan melancarkan sebuah serangan. Dari tempat ia seakan terbang, ia pasti habis meloncat dari batu ke batu lalu ke pohon, jadilah ia bisa melambung dari atas kurungan yang aku buat.
"Hei kalian, cepat bergegas pergi dari sini. Ia takkan bermain-main!" seru Resha. Ia beranjak menjauh dari kurungan.
Raisa pasti akan kembali menggunakan skill
H-BOMB miliknya. Apakah sebelumnya ia hanya menggunakan setengah dari kekuatannya. Karena pada dasarnya level skill kita juga bisa kita atur sendiri tinggi rendah, tetapi batas ketinggian skill tetap tergantung pada diri kita yang mengupgaradenya.
Aku dan Mirai bergegas pergi.
"Heh, setelah dibac*tin Resha mana mungkin aku bakal setengah-setengah lagi. LIHATLAH INI!?"
"RAISA, INGAT BADANMU SENDIRI YA!" seru Resha menyarankan. Daripada khawatir, Resha malah terlihat terhibur. Ia sungguh menapak kakinya pergi jauh-jauh dari tempat Raisa akan mengeluarkan skillnya.
"Heh, apa yang dia katakan. Raisa sudah tak bisa mengontrol diri lagi. Cepatlah menjauh sana!" titah Raisa, setelah mengeluarkan skill
[HELIUM BUBBLE] lalu terbang ke atas langit. Sedangkan kami, berlari secepat dan sejauh mungkin.
"Sisa dua serangan bersamaan dari para momon, kurunganku akan hancur, Sa!" seruku, masih berlari sekencang-kencangnya. Sudah seberapa besar sih ledakan maksimal Raisa saat ini?
"Terimakasih informasinya Dayshi .... Sekarang bagaimana dengan kalian HAH?!" Raisa melihat ke bawah. Pandangan memperhatikan para momon yang memberi ancang-ancang untuk melakukan serangan pantulan cepat kilat. Namun sayangnya para momon tersebut melancarkan serangan ke tempat yang sama.
Dalam sekejap, Raisa tersinggung dengan apa yang momon itu lakukan. "Masih terobsesi dengan Mirai ya, sampai kalian menghiraukan aku!" Raisa memegang erat tongkat leaf Green miliknya. Cahaya hijau berupa mana, mengumpul ke kristal bulat ujung tongkat Raisa.
"JANGAN HARAP BISA LOLOS DARI SERANGANKU KALI INI." Tiba-tiba Raisa terbang dengan kecepatan tinggi naik ke atas.
Ketika mana bercahaya kan hijau telah berkumpul banyak. Di arahkankanlah tongkat Raisa ke para kumpulan momon yang sebentar lagi akan menghancurkan kuringanku.
"[H-BOMB]"
"Tunggu..." dengan kecepatan lari 10 m/s (meter per sekon) hasil dari latihan keras serta konsentrasi. Akhirnya aku dapat berlari sejauh 300 meter dalam semenit dengan kecepatan lariku yang terus menurun dan berhenti.
Namun, saat ledakan terjadi. Getaran rambatan udara sangat menerpa tajam seolah dapat mengiris-iris tubuhku. Rembetan tanah dari bawah ikut mengguncang ke atas, lapisan-lapisan tanahnya menggembur.
Tubuhku pun terbang terbawa angin tersebut, HP ku terus berkuras dengan gesitnya. Kumenelan ludah, menahan rasa sakit, serta berpikir akan maut yang akan menghampiriku.
"Daripada momon itu, aku sepertinya akan terbunuh oleh rekanku sendiri." Cahaya putih terlihat, benturan demi benturan sudah tak dapat kurasakan. Aku sudah mati rasa. Lalu aku sudah tak tahu akan apa yang terjadi selanjutnya. Semuanya menjadi putih kemudian menggelap.
...➕➖✖️➗➕➖✖️➗➕➖✖️➗➕➖✖️➗...
"Dayshi... Hoi Dayshi! Bangun!"
Seseorang, ia menggoyang-goyangkanku. Tubuhku terasa perih, apalagi di bagian punggung, rasanya panas.
"Apa yang terjadi." Pikiranku acakadut. Berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Raisa, dia, sungguh mengerikan. Cheat skill apa yang dia pakai. Ledakan sebesar itu mana mungkin bisa dilakukan oleh orang yang levelnya masih di bawah seratus. Raisa itu cheater, dia nge-cheat parah.
Namun, mana mungkin Cheat bisa dilakukan di dunia ini. Apa yang aku pikirkan sebenarnya.
"Woi, bangun Dayshi."
Suara itu .... Apakah itu Resha. Mataku masih begitu berat. Siluet pudar seseorang mengenakan mantel kulit hitam, tampak seperti zirah polisi di real world-ku. Ia semakin jelas.
Mata tajam khawatir, rambut oranye kekuningan pendek, telapak tangan kasar yang menandakan begitu banyaknya ia berlatih. Ia .... Ia adalah Resha. Salah satu rekanku saat aku pertama kali pergi ke kota Boas mengendarai kereta kuda bersama rombongannya.
Aku berusaha membangkitkan diri. Aku duduk, masih menatap wajah khawatir Resha.
"Akhirnya kau bangun juga. Kupikir kamu sudah mati Dayshi, capek aku. Dah satu jam aku berusaha membangunkanmu, tapi kau tak kunjung bangun. Padahal aku juga sudah menutup hidung dan mulutmu, tapi kau masih aja kayak orang pingsan."
Entahlah, Resha. Aku bingung ingin menjawab apa yang kamu katakan.
Resha beranjak berdiri. "Kau masih memiliki 65% HP. Kebanyakan HP kamu terkuras akibat skill yang Raisa buat. Apa-apaan dengan dia itu. Melawan momon yang levelnya rendah di hutan ini sampai segitunya. Bukankah itu berlebihan."
Tak biasanya Resha berbicara panjang lebar dengan nada yang lancar begitu. Mungkin dia sedang kesal.
Hawa panas masih terasa. Sebenarnya perasaan panas ini datang dari mana?
Aku berdiri dengan kaku. Pandanganku mulai semakin menjelas. Cahaya ini, silau. Merah oranye. Itu—. Mataku membelalak bulat, napasku seketika terhela.
"Gila'?!"
...°^°^°^°^°^°^°^^°^°^°^°^°^°^°^^°^°^°^°^^°^°^^°^°^°^^°...
Beh Raisa memang ya. Tipe mage yang full damage. Entah sebenarnya imajinasi apa yang ia pikirkan sampai segitu kuatnya. Mana 'mana' dia juga bisa dibilang banyak untuk dirinya. Sayangnya sih dia juga lemah banget dipertahanan.
Kira-kira selain Dayshi dan Resha, apakah yang lain bakal selamat dari skill yang Raisa keluarkan?
Hmm, tebak yuk. Kalian pasti tahu kan jawabannya. Isi di kolom komentar ya.
...°^°^°^°^°^°^°^^°^°^°^°^°^°^°^^°^°^°^°^^°^°^^°^°^°^^°...