My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
9.4 Penguatan mantra



"Aku harus menulusuri ini lebih lanjut," batin Resha.


Mana yang menguras terus tak Resha hiraukan. Ketika ia bersembunyi terkadang Resha akan menutup kembali skillnya dan membiarkan dirinya mengisi mana seiring waktu yang diambil. Mungkin tak cukup lama untuk mengisinya kembali, tetapi itu sudah sangat membantu Resha agar tak cepat kehabisan mana.


Resha berjalan mengikuti rombongan tersebut. Ia menggunakan lagi skill penghilang keberadaannya. Iringan mereka nampak diburu-burukan, seolah mereka berpikir waktu adalah bom yang akan menghujam.


"Terowongan ini memiliki banyak cabang. Salah arah sedikit saja, bisa-bisa aku tersasar."


Resha menghentikan gerak langkahnya setelah gerombongan itu juga berhenti.


"Apa mereka salah arah?"


Suasana menjadi riuh. Si terduga ksatria maju ke depan, tepat di arah jalan buntu terowongan.


"Jangan panik, arah jalan kita sudah benar."


Si ksatria itu memanggil dua bawahannya dengan mengibaskan tangan di atas bahu tanpa menoleh ke belakang.


"Lakukan," ucap si ksatria tersebut.


"Baiklah," jawab kedua prajurit tersebut.


Kedua prajurit tersebut kemudian mengambil posisi saling berhadapan dengan menjaga jarak yang jauh. Mereka berada di samping kiri dan kanan si ksatria tersebut. Mereka kemudian menjulurkan kedua tangannya lalu membaca kalimat mantra mana.


"The thunderous rambles, stop. Make the air move normally. Let everything calm down. Mana in self created for silence. Air silence."


* (Rambatan yang bergemetar, berhentilah. Jadikanlah udara bergerak biasa. Biarkan segalanya menjadi tenang. Mana dalam diri tercipta untuk keheningan. Keheningan udara)


Hawa dalam terowongan tersebut seketika menjadi hangat sesaat. Dua orang tadi masih menjulurkan tangannya dengan mata yang tertutup rapat-rapat. Alis mereka berkedut-kedut seolah menahan sesuatu.


"Mantra ini bukannya digunakan untuk meredam suara." Resha mundur beberapa langkah.


Ksatria itu mengambil pedang platinumnya yang memiliki kepipihan yang terlihat begitu tipis dibandingkan pedang biasanya. Menariknya ketika pedang itu ditarik dari sarungnya, pedang tersebut tak goyang atau gemetar sama sekali. Tingkat kelenturan yang dapat dikatakan tidak ada, tetapi mata pedangnya tampak seperti silet.


Ksatria tersebut memasang kuda-kuda dengan berdiri tegak dan pedang yang diluruskan di hadapannya, tepat ujung pedang tersebut melebihi batas kepala ksatria itu.


"The sword blade is the sharp, you are stronger than all, when you can cut through anything. Strike down what I block, and submit to my hands. Cutting blade"


* (Bilah pedang yang tajam, dikau lebih kuat dari segalanya, dikau dapat membelah apapun. Tebaslah apa yang menjadi halanganku, dan tunduklah pada tanganku. Pedang pemotong.)


"Mantra-mantra yang mereka gunakan sangat tidak asing. Penguatan mantra mereka di susun dengan kalimat. Semakin kuat imajinasi yang mereka bayangkan, maka semakin kuat pula mereka dalam mengeluarkan kekuatan. Kalimat-kalimat dalam mantra inilah yang membuat mereka dapat membayangkan dengan baik akan kemampuan yang mereka keluarkan."


Dinding yang menjadi jalan buntu, kini telah ditebas tanpa ada suara yang terdengar. Tak ada getaran dinding yang terjadi. Hanyalah dinding yang menjadi bongkahan batulah yang berjatuhan layaknya puzzle.


Ksatria tersebut sempat melirik ke belakang, Resha bergidik waspada, tetapi ksatria tersebut kembali berjalan diiringi yang lainnya.


"Ayo ikuti aku, " ucapnya.


...➕➖✖️➗...


"Aku harus cepat!"


Aku berlari di tengah jalan kota. Mencari Resha yang entah dimana ia berada. Saat kembali tadi pun Raisa dan Mirai pun masih tak ada. Di mana mereka berada?


Tak sanggup, aku terengah-engah di tengah jalan. Hiruk pikuk orang berjalan terkadang melihatku dengan asing.


"Hei, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya seseorang yang rupanya ia adalah Raisa. Ia membawa sekantong apel.


"Ah, aku mencari-carimi dengan yang lain."


"Ooh, kamu sudah dapat informasi"


"Ya, beberapa...."


Saat aku masih ingin berbicara. Seseorang yang tak asing dari belakang Raisa terlihat sedang berlari terbirit-birit kemudian menepuk bahu Raisa dan mununduk keletihan.


"Loh, apa maksudmu?" bingung Raisa.


Mirai menunjuk ke arah belakang dengan tangan yang sesanggupnya. Terlihat beberapa prajuri mengejarnya.


Raisa tersenyum tak ikhlas, rasa memberontak ingin bersantai malah ribut ‘kan terjadi lagi.


“Ayo lari!” seruku menarik dirinya.


“Apa lagi ini!”


Di tempat persembunyian di antara gang yang sempit.


“Hei apa yang telah kamu lakukan, Mirai?”


“Sepertinya kita akan segera ketahuan. Bukan ketahuan lagi, tapi memang sudah diketahui, kita sekarang adalah buronan.”


“Apa maksudmu?”tanya Raisa.


“Entah bagaimana yang terjadi, tapi muka kita telah terpampang di dalam poster pencarian.”


“Kok bisa?... ” tanyaku. “Tidak, ini mungkin saja ada hubungannya dengan orang-orang yang menterang kita di perjalanan saat sampai di desa Orchid, "lanjutku.


“Vyno!?”


“Yeah, mereka pasti ada hubungannya dengan kerajaan ini.”


Keheningan tercipta, kami saling berpikir akan kerajaan ini. Apa hubungannya mereka mengejar-ngejar kita. Aku sama sekali tak pernah ingat akan tempat ini. yang aku tahu aku hanya masuk dalam sebuah permainan di mana aku harus .... harus keluar dari dunia ini dengan bisa mempelajari perhitungan? .... ? ...? entahlah, sebenarnya untuk apa semua ini kulakukan.


“PEMBERONTAK?” pikir Resha terkejut melihat kerumunan orang berkumpul dalam satu tempat dengan seragam dan pakaian yang berbeda-beda menandakan asal dan kehidupan mereka.


“Tempat ini sepertinya tak jauh dari guild Iin,” gumam resha menebak-nebak sesuatu saat ia menatap langit-langit ruangan bertanah dingin sembari menyandarkan tubuhnya di dinding.


Sebuah tempat kosong dengan bangunan yang seadanya, tempat untuk perkumpulan biasa dengan satu panggung yang ada dan diisi tanpa ada apa pun. Mereka semua duduk rapi dengan dua orang yang ada di panggung memimpin.


“Hari ini, adalah hari dimana kesabaran kita melonjak keras. Kita akan memperbaiki kerajaan ini menjadi lebih baik, hancurkan mereka yang selalu menindas kita. Keterinjakan kalian cukup sampai di sini. Hidup selayaknya tanpa dikontrol....”


Teriakan semangat melonjak keras mengisi ruangan tersebut, ruangan bawah tanah yang kedap akan suara. Histeris mereka melonjak deras, semangat pemberontakan yang begitu besar.


“Cukup sampai di sini.”


Kerumunan pekerja dan banyak lagi menjadi hening.


“Keluarlah, aku tau kau berada di sana.” Si pemimpin yang berada di panggung menunjuk tepat ke arah Resha yang measih menggunakan kemampuan menghilangnya.


Resha terhentak kaget dan akhirnya menghentikan kemampuan tersebut. “hebat juga kau mengetahui keberadaanku, padahal selama ini kemampuanku tak ada yang bisa mengatahui keberadaanku.”


Orang-orang seketika waspada dan siap-siap menyerang Resha sedangkan si pemimpin mereka yang berpenampilan penuh zirah tersebut tersenyum miring.


“Aku hanya menebak saja karena instingku, pasti sudah lama kau mengikuti kami dari terowongan bukan?”


Resha mengangkat kedua tangannya, “ya begitulah, tapi tenang saja aku bukan seorang mata-mata.”


“Apa kau punya bukti dan apa aku harus mempercayai apa yang kamu katakan?” si pemimpin tersebut mengangkat bilah pedangnya, ia mengarahkan mata pedangnya kepada Resha. Seluruh orang yang berada di ruangan tersebut akhirnya mulai menyerang.


“[SLAM SHARP]”


Resha menhentakkan kakinya dan seluruh orang dalam ruangan tersebut terhempas terkecuali dari si pemimpin mereka dan beberapa orang di antaranya.


“Aku ingin bekerja sama dengan kalian,” ucap Resha sangat serius. Keseriusannya itu membuat si pemimpin berpikir kembali.


“Apa tujuanmu?”