My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
10.3 Perkara Sepotong Roti



Di malam harinya. Beberapa anak-anak keluar dari pekarangan rumah secara sembunyi-sembunyi. Sebenarnya bertindak bebas bisa mereka lakukan yang penting tidak keluar dari perbatasan wilayah pinggiran dan jauh dari area ikab kerja pertambangan dan konstruksi untuk menghindari para prajurit inspektur.


Pengasuh sendiri biasanya pergi di waktu siang dan di petang dimana matahari tergelincir. Jadi beberapa anak-anak yang superaktif pergi keluar berjalan-jalan.


"Aku sudah muak melihatnya lagi. Lebih baik kita segera mengatakannya saja," ucap salah satu anak yang tengah berdiskusi. Mereka semua memiliki umur dari sepuluh tahun ke atas.


"Tapi selama ini, aku rasa baik-baik saja," ucap Agenemon.


"Tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya," jawab lagi anak yang lain.


Di tengah gerombolan anak-anak berambut putih itu. Anemone adalah anak yang tidak bisa diterka. Dia yang dikira akan menghiraukan saja, tiba-tiba menarik kerah baju Agenemon.


"Jangan bilang kalau kau lupa soal kejadian dulu." Tangan Anemone gemetar mengangkat Agenemon. Raut wajahnya mengkerut tampak marah, sampai-sampai warna kulit Anemone memerah dan Agenemon kesulitan untuk bernapas.


Agenemon ingat sekali waktu itu. Waktu dimana mereka juga bertindak sebagaimana yang Ares lakukan. Di balik pengasuhnya yang hanya membiarkannya saja, pengasuh mereka justru yang terkena ganjarannya. Wanita yang masih dikatakan cukup muda itu di hajar habis-habisan oleh para prajurit bahkan di nodai dengan kasar.


Bagi anak-anak yang bahkan masih labil sekali, kejadian tersebut memberikan efek traumatis yang hebat saat melihatnya. Hanya gara-gara roti yang mereka berikan kepada anak yang terlantar lemah, pengasuh mereka malah terkena dampaknya.


Mereka—para prajurit—menjadikannya alasan untuk bertindak sewenang-wenangnya.


Agenemon menggertakkan rahang giginya. Ia mencengkram kembali tangan Anemone kemudian menatap kedua mata Agenemon penuh emosi.


"Lepaskan, aku juga tahu itu."


Anemone melepaskan cengkramannya dengan menghentakkannya secara kasar.


"Jadi kenapa... " sayu Aganemon dengan nada bicara rendah penasaran.


"Aku sudah tidak mau peduli lagi," kata Anemone.


"KAU—"


"Ares ... aku tahu kau ada di sini. Kemarilah."


Aganemon yang geram terhadap perilaku Anemone hampir saja memukulnya sebelum Anemone memanggil Ares.


Mereka kemudian membalikkan badan. Lalu keluarlah Ares dari balik batu besar yang tak jauh dari rumah asuh lusuh mereka.


"Kau mendengarkan semuanya kan?"


Ares mengangguk menjawab pertanyaan Anemone.


"Kau tahu, perbuatanmu itu akan menyiksa ibu."


"Tapi, kenapa?... "


"Jangan berpikiran bodoh, Ares! Di tempat ini kita cuma di siksa oleh iblis-iblis itu. Mereka semuanya adalah setan. Setan yang lebih buruk daripada setan! Orang-orang yang tak punya baju besi kayak iblis itu cuma bakal di siksa saja!" pekik Anemone.


"Apa kamu mau ibu kita lebih tersiksa?..." lanjutnya. Suaranya yang terdengar polos kembali merendah dengan wajah yang murung. Dia tidak ingin membayangkan orang yang satu-satunya adalah orang dewasa yang tersenyum kepadanya, menghilang karena tiada, menderita berat karena mengasuh mereka.


"Ini makanan untukmu. Gunakan dengan baik-baik ya. Di sini kau harus jadi anak yang kuat karena kamu adalah harapanku di masa depan untuk tanah pinggiran ini."


Hal sekecil itu sudah memberikan hari yang cerah bagi Anemone. Lalu dada Anemone terasa menjadi lebih sesak lagi jika membayangkan kejadian lalu kembali lagi di depan matanya.


"Terus, aku harus bagaimana? Aku ... aku-a-aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku hanya ingin orang-orang sekitarku tidak menderita. Aku hanya ingin anak itu agar bisa sehat. Apa kamu tidak lihat, anak itu sangat kurus daripada kita, bergerak pun anak itu kesusahan. Kalau aku tidak memberikannya makan ... dia ... dia bisa mati...." Ares terbata-bata, ia sudah linglung habis berpikir.


"...."


Anemone terdiam sejenak. Lalu berkata dengan berat hati sebelum menggigit bibirnya.


"Itu, salah dia sendiri...."


Ares membulatkan matanya. Dia semakin menjadi bingung karena dia juga pernah berada di posisi anak yang mau mati tersebut. Dia bahkan selamat karena dia juga pernah diberikan sepotong roti dan setengah gelas air putih.


Hanya karena itulah dia bisa selamat dari maut. Mereka yang samar-samar tersenyum kepadanya lah yang memberikannya dorongan untuk bisa bertahan hidup. Tetapi kenapa, kenapa mereka melarang Ares untuk bisa menjadi seperti orang-orang menyelamatkannya itu?


Pertanyaan demi pertanyaan timbul dalam kegelisahan hati Ares hingga Ares merasakan sakit kepala.


"Jadi, aku harus bagaimana!? ... Kak... Apa yang kulakukan itu salah kah kak?.. " Air mata Ares keluar, dia sudah tak dapat membendungnya lagi. Dia merasa serba salah.


Selama bertempat tinggal di rumah tanpa keluarga sedarah. Ares sebenarnya sangatlah mengagumi anak-anak yang aktif berbicara dan menonjol sembari menyebarkan senyumannya yang polos tanpa satupun beban.


Ares tak menginginkan jika senyuman mereka tiba-tiba tiada dan sekarang mereka—anak-anak itu—ada di hadapannya saat ini. Raut mereka sedih dan Ares merasa dialah yang membuat mereka seperti itu.


"TIDAK ADA YANG SALAH ARES!" pekik suara anak gadis yang cengking. Ia menegangkan tangannya ke bawah di samping tubuh mungilnya. Erat-erat dia mengepal jari-jemarinya.


"Apa yang kamu lakukan itu tidak salah. Yang salah itu tempat ini. Tempat kotor ini. Iblis-iblis itulah yang salah. Seharusnya iblis-iblis itu yang tidak ada, seharusnya mereka yang harus disiksa. Kenapa juga kita harus menuruti mereka. Kenapa juga kita harus tersiksa begini. Kita tidak punya kesalahan, kita bukan orang-orang jahat seperti orang luar yang masuk ke sini."


Anyelir tiba-tiba berkata dengan lantang terus mendekati Ares. Matanya tegas dan gerakannya penuh ekspresif. Sampai pada akhirnya ia pun memegang lengan Ares lalu dengan jelas lagi dia berkata.


"Kamu tidak salah Ares. Merekalah yang salah."


Dari sinilah mereka timbul perasaan-perasaan ingin memberontak. Dan dimulai hari itu pula mereka diam-diam mengamati bagaimana pola lingkungan mereka bertempat dan mengatur strategi tersendiri bersama dengan anak-anak asuhan.


Mereka membuat kelompok tersendiri dan berlanjut banyak seiring umur mereka bertambah. Karena yang terlibat hanyalah anak-anak di usia yang masih dikatakan labil. Mereka jadi luput penjagaan dari para prajurit inspektur.


Sampai suatu hari, ketika anak-anak yang sudah hampir menuju 16 tahun dan akan melepaskan diri dari asuhan. Semua anak-anak asuh pada tengah malam harinya mendapatkan peristiwa buruk yang tidak mereka duga-duga.


Kejadian yang sama dengan perkara yang sama lagi. Sudah berapa kali mereka berusaha melindungi dan memperingati anak-anak yang lain. Mereka juga sudah berterus terang kepada sang pengasuh. Namun pada akhirnya hal yang serupa terjadi berulang kali.


"Selalu saja mereka mempermasalahkan soal perkara sepele ini. Hanya karena sepotong roti mereka tega-teganya menjadikannya alasan untuk menyiksa ibu," tutur Anyelir.


Anemone tertenduk lemah merasa putus asa.


"Lagi-lagi kita luput. Kenapa ... kenapa ibu suka sekali menyembunyikan masalahnya?"


Semakin bertambahnya umur mereka, maka pekerjaan berat pun semakin padat dan berat. Melawan pun masih tak ada gunanya bagi mereka, karena mereka masih mencari satu celah yang harus mereka ketahui agar bisa menyempurnakan rencana yang mereka susun.


Hanya anak - anak yang usianya dari sepuluh tahun ke bawahlah yang masih bisa untuk bergerak bebas di luar dari ikab kerja. Namun, karena pemikiran mereka masih belum matang dan memiliki hati nurani yang masih sangat polos. Kejadian-kejadian serupa terus saja terjadi. Sedangkan orang yang mereka anggap ibu—pengasuh—mereka terus saja membiarkan hal tersebut, seolah ia memang sengaja untuk melakukannya.


Hingga pada akhirnya, iblis yang naik pitam karena kejadian yang terus berulang itu menyiksa ibu mereka sampai sekarat. Parahnya lagi, tubuh sekarat ibu mereka sengaja ditelantarkan di depan rumah asuhnya. Membiarkan anak-anak yang lain melihatnya dan menangis - nangis di depan ibu asuh mereka yang sudah dalam keadaan sulit untuk mempertahankan nyawanya.