My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
9.5 Sekutu



“[SLAM SHARP]”


Resha menhentakkan kakinya dan seluruh orang dalam ruangan tersebut terhempas terkecuali dari si pemimpin mereka dan beberapa orang di antaranya.


“Aku ingin bekerja sama dengan kalian,” ucap Resha sangat serius. Keseriusannya itu membuat si pemimpin berpikir kembali.


“Apa tujuanmu?”


Seringaian tipis dari lukisan wajah Resha, “ …. Kedamaian.”


Sontak orang-orang terdiam mendangar ucapan Resha.


"Kedamaian? Kedamaian macam apa yang kamu pikirkan. Kulihat-lihat kau juga bukanlah orang yang berasal dari kota ini. Aku tak yakin jika hanya kedamaian yang kamu inginkan."


Resha sedikit lama untuk merespon. Dia hanya diam dan tersenyum miring, dia tampak licik di mata pemimpin pasukan pemberontak tersebut.


"Aku sudah melihat keadaan di kota ini. Memang tampak sangat memprihatinkan kepada orang-orang pinggir kota ini. Walaupun aku ini adalah orang asing, tapi aku tetaplah bagian dari kalian. Kita satu ras—ras Human, kita semua bersaudara. Dan sebagai ras yang sama, aku sangat tidak suka jika ada yang menindas bagian dari saudaraku. Apalagi jika saudara-saudaraku ini malah saling menjatuhkan dan memerangi satu sama lain."


Alis hitam dari si pemimpin mengkerut. " Aku tak yakin apa ucapanmu itu tulus atau tidak. Tapi aku cukup terkesan dengan pidatomu itu..." si pemimpin menarik pedang pipih di pinggangnya lalu mengarahkannya kepada Resha." Lantas sekarang, apakah kau akan menghalangi kami?"


"Oh tidak-tidak, justru aku mendukung kalian. Memang aku menginginkan kedamaian, tapi itu berlaku untuk seluruh masyarakat di kota ini. Bukan kepada kerajaan kalian. Karena aku rasa ada sesuatu yang buruk di kerajaan ini. Jadi bagaimana kalau kita bersekutu saja?"


"...."


Si pemimpin pemberontak berziarah itu menurunkan kembali pedang miliknya. “Baiklah kalau itu yang kamu katakan. Aku takkan bertanya lebih. Tapi jika kamu berkhianat aku takkan tinggal diam.”


Itu berarti, dia setuju.


“ya, itu terserahmu," ucap Resha acuh tak acuh.


“Kalian jaga dia!” seru pimpinan tersebut memberikan pengawasan kepada Resha dengan ketat. Tiga orang menjaga Resha. Ketiganya terlihat tangguh dengan topeng penutup matanya. Salah satu dari tiga penjaga tampaknya adalah seorang wanita, di lihat dari rambut panjang dan tubuh langsing ideal dirinya.


...➕➖✖️➗...


Semuanya kembali duduk dengan tenang. Beberapa orang dari pintu atas turun membawakan meja serta satu gulungan kertas dan satu tinta cair beserta kuas bulu unggas. Mereka menepatkannya tepat di atas panggung.


Resha dan beberapa orang naik ke atas panggung tak terkecuali pula si pemimpin berzirah tersebut. Gulungan kertas di buka dengan lebar, terlihat didalamnnya peta Kingdom of Flower.


“Semua area telah kita penuhi. Namun area bangsawan hanya ada beberapa di antaranya. Mereka akan menjadi penghambat. Di perbatasan cukup normalpun begitu terutama bagian Guild Iin. Tapi tenang saja, kita punya sekutu di sana.”


“Istana ini dikelilingi dinding dan air, bagaimana cara kita bisa masuk ke dalama?” Tanya seseorang dari pimpinan pemberontak. Dia adalah Hoji.


“Ada lorong bawah tanah yang menghubungkan istana ersebut keluar dari perbatasannya. Dan aku sudah mengatahui beberapa titik tempat lokasi masuk tersebut. Jangan khawatir aku adalah salah satu Flower Country knight (Ksatria Negeri Bunga), Hoji.


Hoji menjelaskan semua rute penyerangan. Termasuk dengan jalur masuk lorong rahasia tersebut.


“Ingat yang di atas akan menyerbu gerbang depan. Said dan lainnya pimpin bagian atas. Kita tidaksedikit, wilayah rendah dan normal ada di tangan kita. Hancurkan mereka dan terobos masuk istana itu. Beberapa bawahanku akan siap di dalam istana. ….”


Setelah sekian lama menjelaskan sampailah mereka pada titik akhir perencanaan. Resha berdegup kencang tak sabar menanti, ruang bawah tanah adalah termasuk tempat penjara mereka.


Di dalam sebuah istana, seseorang terlihat tunduk kepada orang yang mengenakan pakaian bangsawan, kain tebal melekuk membentuk kelopak merah.


“Hari ini akan menjadi ramai.” Dia sang pemakai mahkota melihat keluar jendela. “pergilah,” ucapnya.


“Baiklah, paduka.” Jawabnya. Ia berdiri dan berjalan keluar dari ruang singgasana Raja.


Ruang yang didomisili dengan warna putih, hiasan-hiasan lampu megah serta rambatan-rambatan bunga bermekaran pada pilar membuat si Raja berpikir tenang. Ia duduk ke singgasananya. Menyenderkan kepalanya pada tangan.


“Si Gila itu benar-benar brengsek. Untuk apa lagi, dia mau datang kemari.” Si raja menghentakkan tangannya pada singgasana penuh dengan amarah.


“ck, sepertinya di luar juga terjadi keganjilan. Aku memiliki perasaan tidak enak,” si Raja keluar dari istana.


Untuk memastikan sesuatu si Raja pun memanggil Sky Philips, salah satu orang yang masuk dalama jajaran Ksatria Negeri Bunga. Ksatria Negeri bunga ialah tingkat tertinggi dalam kedudukan pasukan kerajaan. Ia yang mengomando para prajurit lain. Sky Philips sendiri merupakan seorang pangeran di kerajaan ini.


“Sky, komando prajuritmu untuk lebih tersebar di kota. Jika ada orang yang bertingkah aneh atau mencurigakan saat melihat kalian, tangkap mereka. Satu lagi, jangan biarkan ada satu orang pun yang mengetahui perintah ini di luar dari komando prajurit u, termasuk jajaran para empat ksatria Negeri Bunga lainnya."


Tanpa berpikir panjang dan bertanya-tanya kepada si Raja, Sky Philips langsung menundukkan kepalanya seraya berkata," Baik, Paduka. " Ia berdiri kemudian pamit undurkan diri bersiap langsung menjalankan tugasnya.


" Tak seperti biasanya paduka merasa sangat cemas. Ya tapi tak mengapa, kurasa aku akan dapat sedikit hiburan nanti."


"Rencana kita menjadi kacau, beberapa anggota kita ada yang ditangkap dan kita kebocoran informasi," lapor anggota dari pihak pemberontak.


"Tak ada harapan bagi yang tertangkap, tapi kita akan tetap menyelematkannya. Pasukan bawah tanah langsunglah bergerak sekarang, ingat prioritaskan diri kalian lalu selamatkan mereka," titah dari Hoji.


Pasukan bawah seketika bergerak mengikuti perintah. Tetapi ada satu orang yang tak bergerak sama sekali dari tempatnya, membuat Hoji penasaran dengannya. Ternyata itu adalah Resha, Resha memandangi Hoji dengan mimik yang ingin berkata.


"Bisakah aku pergi ke rekan-rekanku terlebih dahulu? Aku akan segera menyusul."


"Apa yang ingin kamu lakukan?"


"Aku ingin memberitahukan soal ini, kemudian kembali bergabung."


"Baiklah, tapi kamu tetap dalam pengawasan kami."


"Iya, iya, tidak apa-apa," ucap santai Resha yang kemudian beranjak pergi ditemani dengan tiga orang yang menjaga dirinya.


Setelah beberapa jam berlalu, Resha masih berlari mencari rekan-rekannya. Perasaan Resha mulai gundah hingga meneguk air liurnya sendiri. Ketiga orang dibelakangnyapun mulai resah berpikir bahwa ini adalah tipu dayanya Resha. Bagaimana tidak, sedari tadi mereka berempat seolah hanya berputar ke tempat yang sama.


"Kau, sebenarnya apa yang mau kau lakukan?!"


"Hehehe...." Resha berkeringat dingin. Dia sendiri sebenarnya bingung akan jalanan perkotaan yang penuh dengan liku-liku. Harga dirinya untuk mempertahankan akan ingatannya terpaksa dipasrahkan saja.


"Aku ingin pergi ke guild Iin. Tapi, aku lupa sama jalanannya," lanjut kembali Resha dengan tegas. Ia masih menjaga kehargadiriannya meski dalam posisi ucapan yang kurang cocok di situasi itu.