
"MATI AJA KEBELET SANA!" serius gini malah mau buang air kecil. Jangan bercanda kamu.
*Jdarr ... Prangk
Bunyi tanah hancur saat aku mendorong kakiku hingga aku memijak tanah rata yang sama dengan Dayshi. Bersamaan dengan itu, benda mana yang Dayshi buat, kuhancurkan semua hingga hancur berkeping-keping lalu menghilang.
Sudahlah aku gak bakal urus mau kayak gimana lagi. Tangan menyerang, dia menghindar, lalu kuserang lagi, dan akhirnya ia menahan dengan kedua tangannya, tetapi ia tetap terdorong jauh ke samping kiri.
"Eh, tunggu ngapa. Ntar aku ngompol gimana?!" omel Dayshi sambil memegangi celananya, tepatnya di atas resleting celana.
Anak ini serius tidak sih.
"Itu bukan urusanku. Yang jelas kamu bakal mati sama bau pipismu itu!" sahutku dengan geram. Kesabaranku sudah di ambang batas, berkali-kali aku terus menyerangnya dengan agresif.
*Bak buk bak ....
Bukan kuku, tapi gumpalan jari tiger yang kurapatkanlah yang terus kujadikan bahan pukulan.
"Apa kau sudah ngompol, hah? Apa celanamu sudah basah?"
Pertanyaan macam apa ini. Ah, anak ini sepertinya sudah mati.
*Brak ....
Dayshi terjatuh, tetapi masih memiliki kesadaran. Luka lebam dan benjolan- benjolan terlihat pada anak ini.
Kaki kananku kuangkat lalu menginjak anak itu. Sepertinya dia tidak jadi buang air kecil. Lagi, kuangkat kembali dan menendang selangkangannya. Dayshi menjadi berguling-guling di rerumputan yang lembab itu.
"Gimana? Katanya mau buang air kecil. Kenapa malah menggeliat di tanah seperti itu."
"Ukhhh, sakit sakiiit. Kau ingin membunuhku ya!?"
"MEMANG," ucapku dengan nada mencekam sambil memperhatikannya dari atas.
"Hiii." Dayshi bergidik ngeri melihatku.
Perlahan kaki kananku kembali kuangkat sampai lurus 180 derajat. kali ini kukuku siap menembusnya.
"Matilah."
Dhuar...
Debu tanah mengepul hebat, retakan dari kasarnya bongkahan tanah juga terasa di kakiku.
"Hiiiiik." Suara terkejut dari arah samping kiriku. Cih, rupanya anak sok polos ini masih hidup. Jangan-jangan apa yang kurasakan tadi hanyalah khayalanku belaka.
"BISA DIAM TIDAK SIH!" teriak Dayshi. Dia membuatku sedikit terkejut.
"Anuku sakit sampai ke perut-perut bego. Masa kamu gak ngerasain," lanjutnya lagi.
"Ck, tahan aja. Harusnya tadi kan kamu sudah bobo, ngapain bangun lagi!? Lagian ini juga cuma t****." Eh, dia bicara sendiri lagi.
Ada apa dengan anak ini? Apa dia sudah tidak waras sampai berbicara sendirian begitu.
"Bapak kau cuma t****. Ini benda berharga woi. Ntar keturunanku bakal gimana?!"
"Itu salahmu, tiba-tiba ambil alih terus ngomong ngawur. 'Aku ... ingin buang air kecil' gundulmu sana buang air kecil!? Ganggu suasana aja."
Ah, dia bertambah aneh lagi. Bahkan tadi ku lihat ia juga sedang memperagakan raut wajah seriusnya sendiri tadi. Pasti dia sudah gila.
"Ngomong-ngomong coba cek dulu, apa gak papa?" dia masih berbicara sendiri.
Haaih, sedang apa sebenarnya dia. Aaaaakh. Kesal aku hingga kekuatanku kupusatkan pada tanganku dengan geram sekali. Kuterjunkan larianku kepadanya, tetapi tiba-tiba aku mengerem langkahku.
Si bocah sialan ini, kenapa sekarang dia malah membuka celananya. Dan lagi, ia benaran telanjang anu. Aakh, sepertinya setelah ini ia bakal mengambil celananya dan memutar-mutarnya di atas kepalanya.
Jujur, aku tercengang. Anak ini sangat berbeda dari musuh yang pernah aku lawan. Mungkin musuh seperti dia, hanya ada sekali seumur hidupku ini.
Kupasanglah raut muka najis kepadanya, lalu kuberseru. "Hei Idiot, sekarang bukan ajangnya pamer burung tak bersayap!"
Terlihat, ia tampak begitu kaget saat melihatku. Matanya menjadi kosong, dan beberapa saat kemudian ia langsung memasang kembali pakaian di bawah pinggangnya.
"Dari reaksimu itu ... drrt," ucapku memotong, sambil menggertakkan gigiku dengan gemas.
"... Kau pasti tak menganggapku ada tadi kan?!" langsung saja kembali kulancarkan serangan yang sebelumnya kutahan.
*Buakh
Pas saja mengenai wajah lebamnya, ia terpelanting sangat jauh, masuk ke dalam alang-alang yang semakin lebat dan tinggi.
Tak kubiarkan begitu saja terlempar, aku dengan kekuatan kakiku, mendorong pijakan hingga terbekas hancur. Seketika itu pula, aku sudah sampai pada Dayshi yang masih berada udara. Lagi, ia kuserang dengan menggunakan tumit kaki harimauku, tepat di tengah Ulu hatinya.
Ini sudah tamat. Takkan ada lagi episode selanjutnya.
Remukan tanah hingga satu meter dengan pusat seseorang yang terkapar. Seharusnya sekarang ia sudah tak dapat kembali bangkit.
Namun apa yang terjadi? Dayshi, orang itu benar-benar alot untuk dibunuh. Ia masih saja bernapas di tengah kepulan debu tanah yang hancur itu. Udara naik turun di atas mulutnya, sedangkan hidungnya telah mengucurkan cairan berwarna merah kental.
Terus mengapa ia masih bisa bertahan, dan lagi nyawanya sedari tadi kritis begitu. 4%, seharusnya ia sudah jatuh pingsan, tak sadarkan diri.
Apa persenan health point kali ini tak berpengaruh padanya. 100% di mana kondisi tubuh berada dalam keadaan sehat bugar, tanpa ada satu pun penyakit dan luka, bahkan luka gores sekali pun itu.
99-51% Kondisi fisik yang memiliki luka ringan. Baik di dalam dan di luar.
50-11% Kondisi fisik di mana memiliki luka berat yang mengakibatkan kesadaran perlahan memudar dan rasa nyeri yang setengah mati.
10-6% Kondisi di mana fisik tak dapat lagi menahan rasa sakit, kesadaran juga telah pudar. Kondisi di sini juga dinamakan kondisi sekarat.
5-1% Kondisi fisik telah mati rasa dan kesadaran telah menghilang (pingsan)
0% Game Over. Di mana sang pemilik health point itu dalam keadaan tak bernyawa (meninggal)
Jadi, sekarang mengapa anak bernama Dayshi itu seolah tak berpengaruh sama sekali akan HP yang ia miliki, seharusnya ia kan dalam keadaan pingsan.
Tidak, jawaban satu-satunya dalam pertanyaan ini adalah mental yang ia miliki. Health point sama sekali tak mempengaruhi kondisi mental seseorang.
Hanya saja jika mental rendah, pertahanan akan menjadi rendah juga. Sehingga damage serangan lawan akan menguras nyawa lebih banyak dari damage normalnya.
Mental yang tinggi sering kali juga meningkatkan tingkat defence dan juga intelegence. Sehingga, terkadang ada beberapa orang yang dapat bertahan hingga ke titik penghabisan karena memiliki mental yang kuat.
Persoalan mental Dayshi memang patut dipuji. Tetapi soal fisiknya mestinya sudah tak dapat bertahan, apalagi digunakan untuk bertarung.
Tubuhnya masih memiliki beberapa bekas sayatan, beberapa tulang yang ia miliki seharusnya juga ada yang patah, dan lagi wajah penuh benjolan dan lebam ikut terhiasi bersamaan dengan darahnya yang terus keluar pada luka-luka itu. Cukup hebat juga dia tak mengalami anemia.
Cepat atau lambat dia pasti akan roboh. Health point 4% yang terus bertahan, nantinya juga pasti akan turun. Aku optimis dengan itu.
"Hyaaat." Ketika ia masih belum bangkit, aku kembali meloncat dan menerjunkan kakiku ke padanya.
"Eh, Kok kakiku ke sampingnya. Seranganku luput? Mana mungkin," ucapku melihat kakiku jauh di sampingnya. Lubang tanah hancur sedalam satu meter terbekas.
Aku kemudian berjalan menanjak menuju Dayshi yang masih terkapar. Kulihat baik-baik, iris mata Dayshi kini terlihat memiliki simbol yang aneh.
Selain Chi pada pupilnya itu, ia juga kini memiliki tanda tambah yang berwarna kuning, ada pula yang menyilang berwarna merah, dan pada bagian tepi atas dan bawah irisnya terdapat setengah lingkaran berwarna hijau.
Napas yang ia keluarkan terengah-engah dengan berat. Pandangannya benar-benar lurus ke arah langit dengan lebarnya. Tangan dan kakinya lemas terlentang seadanya.
Aura hitam dan putih pada tubuhnya terasa menusuk dan terlihat, seketika itu pula aku merasa waspada. Insting hewanku membuat kakiku kembali ingin menyerangnya dengan kuku yang terasah.
Akan tetapi, ia lagi-lagi menghilang. Aku merasa panik, kali ini aura pembunuh dapat kurasakan. Dari samping kanan?! Tidak, dari samping kiri. Ah, dia ada tepat di atasku.
Tolehan kepala yang ke mana-mana kini naik ke atas. Kumisku yang berfungsi untuk mendeteksi pergerakan musuh pun serasa luput pada pergerakannya. Padahal kumis ini sangat peka, perubahan udara juga angin dapat kurasakan dengan jelas karenanya.
Lagi, hawa keberadaannya kembali menghilang.
Bingung akan di mana ia berada. Aku memandang ke mana-mana untuk mencarinya, sekaligus juga aku menjilati bekas luka pada bagian perutku. Aku menunduk dan berpose layaknya harimau agar jangkauanku dapat sampai pada bagian yang ingin kujilati.
Jangan ambigu, bekas lukaku lah yang ingin kusembuhkan dengan air liurku. Air liurku ini mengandung antiseptic sehingga luka yang terkena dengan ai liurku tak akan dapat terinfeksi oleh kuman.
Selain dari pada itu, air liurku juga memiliki efek untuk memulihkan kembali bekas luka yang diterima, health point ku juga dapat kembali pulih satu persen per tiga puluh detiknya. Ya, efek ini berlangsung hingga lukaku sudah benar-benar pulih kembali.
"Sembunyi di mana kamu?!" seruku tak sabar.
"Dari bela—"
Ugh, dia menyerangku dengan mana yang kuat nan tipis. Meski tak tersayat, serangannya cukup untuk mendorongku ke depan.
Sret...
Dia kembali menyerangku dari depan. Terus, serangannya bertambah cepat. Dan tiap serangan yang ia berikan memiliki damage yang terus meningkat pula.
Semakin lama, HP-ku mulai menurun dengan perlahan tapi pasti. Beberapa kali aku berusaha menghindar dengan kecepatanku, tetapi aku seperti menabrak tembok.
Kala kulihat, ternyata aku terkurung dalam sebuah kubus transparan. Dan, ia terus menebasku tanpa ada hentinya.
Pergerakan menjadi terbatas. Meski kurungan kubus ini kuhancurkan, kubus yang lain masih ada di luar sana. Belum lagi kubus yang telah kuhancurkan malah kembali pulih.
"Grrr." Aku menggertakkan gigi kesal. Aku diam berdiri, dan hanya bola mataku menjelajahi seluruh pandangan.
Jleb....
Tusukan? Yang benar saja, dia berhasil menusukku, tepat pada bagian perutku.
Akh, total HP-ku saat ini menjadi 25%.
"Bagus," aku berseringai.
"Transformasi bentuk ke-3, [Full Tiger]"
...°°°°...