
Di luar dari lorong bawah tanah terdapat kekacauan pula yang lebih besar, baik di dalam istana maupun di luarnya.
"Untung aku sudah lebih waspada dari sebelumnya. Sudah aku duga orang tersebut tidak dapat dipercaya."
Hunusan pedang baru saja dihentikan. Terlihat di belakang orang tersebut bergeletakan banyak prajurit-prajurit.
Di sekitar orang itu udara bergemetar, ia memiliki rambut pirang yang disisir ke belakang berdiri. Jika di pandang dari segi wajahnya, ia tampak seperti orang yang serius, tegas, dan memiliki wibawa yang kuat. Ya, ia adalah salah satu dari Flower Country Knight, sang ksatria dengan julukan 【The Burning Sunflower】sekaligus salah satu dari calon pengurus kerajaan Kingdom of Flower, Sky Philips .
Diri dari seorang pangeran tersebut terselimuti oleh hawa yang panas tapi juga terlihat estetis dengan warnanya yang berkilauan emas. Kobaran di sekitaran Sky Philips adalah aura yang ia miliki. Aura dengan tekanan yang sangat kuat.
"Tak kusangka juga banyak prajurit yang akan berkhianat," ucapnya.
Mata emas Sky di alihkan ke jendela setelah melihat prajurit pengkhianat yang ia kalahkan. Ia memperhatikan area depan gerbang istana lewat jendela yang ada di seberangnya. Para prajurit saling bertarung satu sama lain, mereka tampak saling berdebat panas dan saling memperngaruhi satu sama lain.
Namun, tampaknya perdebatan tersebut tetap berujung pada pertarungan yang mana mengharuskan agar mereka memilih apakah tetap setia atau tidak. Keraguan mereka akan mengancam diri mereka sendiri untuk kalah.
Di antara banyaknya prajurit tersebut ada salah dua dari prajurit tersebut tampak memiliki gerak-gerik yang berbeda. Mereka mencoba menurunkan jembatan istana yang juga merupakan pintu masuk ke dalam istana Garden Flower.
Sky berkedut kesal setelah melihat dua prajurit tersebut berhasil mengambil alih kontrol dari jembatan istana Garden Flower. Jembatan tersebut lantas turun, gemuruh dari luar istana semakin menjadi-jadi.
"Dimana para Flower Country Knight itu berada? Setidak becus itukah pekerjaan mereka yang sampai-sampai membiarkan pemberontak tersebut menginjakkan kaki di dalam istana ini," ucapnya dengan kesal.
Sky akhirnya memutuskan untuk segera menuju lokasi tersebut meskipun Zet Philips selaku Raja di Kingdom of Flower sebelumnya menyuruh ia agar tetap berjaga di dalam istana. Tepatnya di jalur-jalur bagian tempat pintu lorong tersembunyi.
Sedangkan itu di luar dari istana tersebut terlihat banyak sekali para pemberontak dan prajurit berjatuhan, hampir dari setengah dari massa kota Garden Flower yang ada di perbatasan istana, tepatnya di bagian pinggir parit pertahanan yang lebih tampak seperti sungai.
"Hoji, Apa yang membuatmu terobsesi begitu untuk menyerang istana ini?" tanya sesosok wanita berambut merah muda yang tampak sedikit pirang sebagaimana penduduk yang ada di kota Garden Flower. Ia memiliki cara berpakaian yang paling berbeda dibanding yang ada di kerajaan tersebut. Ia menggunakan baju yang lebar dan longgar serta memiliki pengikat kain besar pada pinggangnya.
Ia memasukkan pedang tipisnya ke dalam sarungnya. Pedang itu memiliki panjang yang serasi ia gunakan pada tubuh 160-annya. Ya, pedang tipis itu lebih bisa disebut sebagai katana. Pedang pipih bermata satu dengan panjang yang memiliki sedikit lengkungan.
"【The deadly beauty of life】, Saki Achamimi. Tak kusangka kau akan menghalangi di sini. Aku kira kau akan mengerti denganku. Bukankah kau juga sudah tahu bahwa pemberontakan pertama di wilayah pinggiran lima tahun lalu aku juga turut ikut campur dengan mereka—para pemberontak.
"Dan juga sebelum pemberontakan tersebut aku sudah berkali-kali mengusulkan penghapusan sistem kasta tetapi tetap saja usalanku terus ditolak dan dibantahkan dengan alasan memang seharusnya mereka diperlakukan rendah karena itu adalah sebab perbuatan mereka sendiri yang melanggar aturan kerajaan ini.
"Kamu tahu, aku tidak setuju dengan aturan tersebut. Meski pada dasarnya dengan aturan tersebut kedamaian di kota ini menjadi yang tertinggi dibandingkan kota-kota lain di Kingdom of Flower, tetapi tetap saja tidak dengan mereka yang terlahir di wilayah pinggiran serta tidak dengan penyamarataan seluruh pelanggaran."
Hoji menjawab pertanyaan wanita yang juga merupakan salah satu dari Flower Country Knight.
"Oh, begitu ya," balas singkat Saki. Memang ia tidak terlalu tertarik dengan permasalahan yang ada, baik itu dari pihak pemberontakan maupun dari pihak kerajaan, ia tidak mau tahu kecuali jika ia sendiri yang penasaran. Merasa penasarannya itu telah habis maka Saki kemudian membalikkan badannya berniat kembali ke dalam istana.
Hoji mengangkat sebelah alisnya heran. Ia sendiri sebenarnya sulit untuk mengerti akan keberadaan si Saki. Yang Hoji tahu, Saki merupakan Flower Country Knight dengan kemampuan dan segi kekuatan yang paling tertinggi di antara yang lainnya.
Saat pertama kali Hoji bertemu dengan Saki, aura keberadaan yang ia rasakan dari Saki sangatlah samar-samar tapi terasa begitu mengancam juga. Seakan jika ia menyinggungnya maka ia akan habis di tempat. Bahkan jujur dalam benak Hoji, ia sangat tidak ingin berhadapan dengan Saki.
"Aku penasaran dengan apa yang kamu pikirkan, Saki. Kau lebih terlihat seperti orang yang tidak pedulian dan hanya menjalankan sesuatu jika kau merasa tertarik. Bahkan setelah kau menghabisi seperempat dari pasukanku, kini kau malah membiarkan kami masuk begitu saja ke dalam istana setelah jembatan istananya terhubung."
Saki tersenyum mendengar apa yang dikatakan Hoji.
" Ya, jika menurutmu aku seperti itu, maka itulah aku," ucap Saki yang kemudian menghilang bak mengikuti semilir angin.
Hoji menghela napasnya. Ia berjalan sejenak kemudian berhenti beberapa saat kemudian.
"Ck, baru saja dia pergi, sekarang malah kau yang datang," ucap Hoji setelah melihat Sky yang ada di hadapannya. Ia membuat para pemberontak bergemetar tak dapat bergerak dari tempatnya.
"Tampaknya kau sangat marah ya, Sky Philips."
"Dasar Pengkhianat. Kau cecunguk rendahan sebaiknya berhentilah di sini atau aku akan menghabisimu bersama para anjing peliharaanmu itu."
"Anj1ng? Hahaha, itu urusanmu sendiri."
Tatapan Hoji penuh dengan amarah, rasa yang begitu mengesalkan bagi dirinya jika ia melihat orang yang bernama Sky Philips tersebut.
Hoji merasa akan percuma saja jika berbicara dengan Sky lebih lanjut tentang pengkhianatannya. Sedari awal Sky sendirilah yang biasa menolak mentah-mentah pengajuannya tentang kasta dan wilayah pinggiran.
Sky adalah orang yang menilai tinggi dirinya sendiri. Tak peduli siapapun kecuali ayahnya, ia memandang rendah orang lain. Baginya orang lain hanyalah pesuruhnya, budak, dan bertindak atas dasar keinginannya.
Jika ada yang di luar dari kendalinya, Sky tak akan segan-segan untuk menghancurkan orang tersebut bahkan biar orang itu mati sekali pun, ia takkan peduli.
"Ck, anjing kampung memang suka sekali menggong-gong tidak jelas. Ya aku juga sudah tahu pasti ini adalah kelakuanmu. Dasar anjing kampung."
Aura Sky menekan udara hingga bergemetar. Panas menyelimuti di sekitarnya. Para prajurit dan pemberontak kini semakin kesulitan pula untuk mengatur pernapasan mereka. Sampai-sampai keringat mereka bercucuran begitu deras.
Tak seberapa lama pedang kilauan emas yang muncul pada tangan Sky berhamburan menjadi kepingan-kepingang kelopak bunga. Kepingan tersebut juga bersinar dengan kuningnya yang tampak menggetarkan udara di sekitarnya, memperlihatkan bahwa kepingan berbentuk deraian kelopak bunga yang begitu panas dan tajam.
Kepingan-kepingang itu berputar bagai topan lalu dengan cepat mengarah ke Hoji berniat untuk menghantamnya. Hoji berdiam saja di tempat bak ia telah mengetahui hal tersebut sedari awal.
Hoji meringis kemudian menarik pedang tipisnya dari sarung pedang yang ada di pinggangnya.
"Mulut anda kotor sekali, Pangeran."