My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
8.5 Gerombolan Burung Garuda Haast.




Sosok besar berukuran dua meter lebih, bersayap kokoh, bulunya coklat, tetapi tampak hijau akibat api hijau yang melapisinya. Pandangan kami terhadap udara tampak bergetar.


Tak ada yang bisa bergerak dari kelompok kami, insting kita mengetahui saat berhadapan dengan lawan kuat, bahwasanya salah sedikit saja mengambil tindakan akan berdampak buruk bagi kita.


"Kalian, manusia...." ucapan dengan penuh tekanan meledakkan hawa haus membunuh sesaat darinya. Ia menatap kami begitu tajam, Sampai-sampai saat ia berjalan, bola matanya seolah bercahaya hijau neon mengikuti gerakannya.


Sulit bagi kami untuk bernapas. Kami dipaksa mengeluarkan pertahanan sendiri, aliran mana kami tak teratur dan dengan sendirinya mana terlepas malapisi tubuh kami.


"Yo," ucap Resha. Ia memberanikan dirinya untuk berdiri, tubuhnya terpancar mana kuning emas, lebih-lebih cahaya mana pada rambutnya, lalu saat ia bertatapan mata dengan sosok dihadapannya, terteralah angka 165 di atas kepala Resha.


Resha memperhatikan rupa lawannya dengan senyuman, berharap agar bisa berdamai dengan kata-kata. Ia juga melihat status lawannya, tertulis banyak tanda tanya bagiku. 200 itulah peragaan dari bibir Resha, seolah menyebutkan level darinya.


"Yo?" sosok tersebut heran kemudian menjadi geram. "Ternyata masih banyak sosok manusia angkuh."


Sayap sosok tersebut memekar, memperlihatkan bulu coklat halusnya. Ia mulai mengangkat salah satu tangannya ke arah kami.


"Demi-human animalia. Garuda Haast," gumam Resha. "Tu-tunggu-tunggu. Tolong sabar ya, tolong. Sebelum tuan menyerang kami, bolehkah saya bertanya apa alasan tuan melakukan ini."


Tuan, tak ada alasan untuk tidak menyebutkan kata tersebut. Jelas, makhluk yang berada di hadapan kami, pastilah makhluk angkuh yang hanya menganggap kami secercah serangga yang mengusik. Jadi kami tak boleh sembarang berkata, ini demi merayu dan tak memancing amarah yang lebih.


Sosok tersebut mengepalkan tangan kanannya yang masih mengarah kepada kami. "Untuk apa juga aku harus menjawab pertanyaan, manusia angkuh. Bukankah apa yang kulakukan ini sudah jelas dengan apa yang kalian lakukan di belakang itu."


Mendengar apa yang dikatakan makhluk tersebut, kami terdiam lalu refleks menatap Raisa.


"E-eh." Raisa menjadi canggung. Ia memperhatikan makhluk di hadapannya, sosok itu tampak sekali seperti lelaki kekar persis manusia biasa pada umumnya—mengecualikan bulu sayap dan ekor di balik tubuhnya.


Raisa menaruh tangan kanannya ke depan dada, pandangannya tegas tetapi tetap menunjukkan rasa bersalah atas apa yang ia lakukan. Raisa kemudian menundukkan badan setengah, seraya berkata, "maaf tuan tanah. Apa yang saya lakukan memanglah perbuatan buruk. Akan tetapi, saya melakukan hal itu karena saya terpaksa. Momon White forest rabbit hampir membunuh kami, jika saya tak melakukan hal tersebut, maka pasti ada korban jiwa di antara kelompok kami."


"Bukankah aku telah mengatakannya sebelumnya. Aku takkan menjawab pertanyaan kalian, apalagi merespon apa yang kalian katakan. Lagi pula, kalian sudah terlambat meminta ampunan padaku." Sosok tersebut menghempaskan tangannya ke samping lalu turun.


"lihatlah apa yang ada di sekitarmu." ia berseringai. "Kalian takkan mungkin selamat dari siksaanku hingga kalian mati. Huahaha...."


Dari dasar hutan lalu terbang ke atas langit. Momon dengan nick name bertuliskan Garuda Haast, menghiasi gelap ya cakrawala dengan cahaya lapisan mana para garuda haast tersebut.


Kami terkejut, membelalakkan bola mata. Jumlah mereka hampir serupa dengan momon White Forest Rabbit. Level mereka bahkan hampir sama dengan Resha, 150.


Kakiku seketika melemas. "Tak ada harapan," ucapku bergetar.


"Pasti ada harapan." Mirai memegang pundakku, sorot matanya mengarah ke langit-langit, ia fokus memperhatikan lawannya. Netra Mirai mulai bercahayakan biru langit, tanda bahwa ia menggunakan kekuatan fucturiecesnya. Kemampuan untuk melihat masa depan.


"Apa yang kamu lihat?" tanyaku.


Pandangan Mirai beralih menatapku.


"Selama kita masih mampu berdiri dan melawannya, maka di situlah kita masih mempunyai harapan," ucap Mirai.


Tak ada tanda-tanda bahwa ia akan menyerah di titik ini. Sorot matanya sendiri mengatakan kita pasti memiliki harapan. Ia tampak memiliki sesuatu yang berharga, sehingga ia tak boleh berhenti di sini. Ia ingin bertahan hidup. Meski tangannya gemetar, mimik rupanya tak pernah lesu. Menatap ke depan, melawan, demi mencari masa depan yang terbaik.


"Mirai...." pandanganku seolah terbuka kembali.


"Mereka akan menyerang." Mata Mirai kembali seperti semula. "TEMAN-TEMAN, BERHATI-HATI LAH. MEREKA AKAN MEMULAI SERANGAN SECARA BERSAMAAN."


Semuanya bersiaga.


"Dayshi, apa kau masih memiliki mana?"


"Iya, ak—"


"Gunakanlah seperti kau membuat kurungan sebelumnya. Kali ini lindungi kami."


"Tapi ini, takkan cukup kuat menahan kekuatan mereka. Apa, tidak apa-apa?"


Baiklah kalau begitu. Kukembali ke posisi awal siaga. Menarik napas, berusaha fokus.


"Yui, tolong bantu aku."


"Baiklah, tuan."


Aliran mana kembali terasa. Tersisa dua kesempatan aku dalam menggunakan mana. Kutangkup kelopak mataku. Sesaat ketika cahaya muncul dalam benak, barulah aku membuka pandangan.


"[MANA 3D]"


Melambat, kembali kurasakan semuanya melambat. Wajah rekan-rekanku tampak begitu serius sekali. Aku kagum, mereka semua tak ada yang memunculkan ekspresi panik, apalagi putus asa.


Kuambil napas dalam-dalam, aku harus menyelesaikannya dengan teliti. Kali ini aku membayangkan sebuah prisma yang memiliki sisi yang banyak, tetapi sayang usaha itu gagal. Aku belum bisa memiliki akar skill itu. Baiklah, kalau begitu aku mencari dari yang lebih praktis.



Kubus, ini lebih baik ketimbang menggunakan Ball Confienement sebagai pertahanan maupun kurungan. Bola hanya memiliki satu sisi, jika ia sudah hancur, maka habislah sudah. Sedangkan kubus memiliki enam sisi, jika sisi atas hancur, maka kami masih memiliki sisi bagian lain yang dapat digunakan untuk berlindung.


Selain itu, dengan sifat manipulasi skill ini. Aku dapat kembali meregenerasikan mana untuk memperbaiki sisi kubus yang hancur.


Waktu telah berlalu tiga detik, cukup mudah bagiku saat aku melihat angka sepuluh meter tertera. Langsung saja aku menggunakan skill ini. Mana ku terkuras sebanyak seribu, efek ini dikarenakan aku masih dalam masa pemulihan dari mana drop.


"[A CUBE]"


Kuberseru seolah mengucapkan mantra agar kekuatan yang serasa magis keluar.


Aliran sinar khas dari manaku—biru aqua—mengalir deras menyembur dan membentuk kubus yang mengurung semua garuda haast yang beterbangan di langit.


"Sempurna, Dayshi!" seru Mirai, lembut menatap, tersenyum polos seakan berterima kasih.


"Sekarang giliranku." Mirai memegang kedua tangannya di depan, jari-jari yang saling memeluk di sela-sela jari, kemudian dilepas gemulai ke arah samping kanan. Ia terlihat seakan menari dengan tangannya yang begitu lentur bak bergelombang dan memutar.


Tak lama, hanya satu putaran, cahaya biru langit muncul pada telapak tangan ketika ia menghentakkan lengan lurus yang mengarah pada kumpulan garuda haast yang terkurung oleh kubus milikku.


Pose kedua tangannya melebar, mangap seperti mulut buaya. Akan tetapi di tengah kedua telapak tangannya terus mengalir cahaya biru langit yang ia pancarkan.


Cahaya tersebut tampak seperti tali yang terhubung dengan kurungan kubusku. Aku terkejut, ia mengambil alih pengerasan mana 3D yang aku buat. Ia bahkan memberikan endurance atau daya tahan A CUBE semakin tinggi. Naik sekitar lima ribu endurance.


Selang tak lama, Mirai mengecilkan kedua telapak tangannya, lalu mengepal menyatukan tangan. Kubus kurungan di atas ternyata ikut terkontrol, Mirai memanipulasi besar kecilnya kurungan kubus itu. Tentu saja Mirai mengecilkan ukuran kurungan kubus di atas.


Tak ada yang dapat keluar dari kurungan kubus tersebut, berkali-kali para momon haast di atas mendobrakkan nyala apinya serta kekuatan kuku dan paruh tubuhnya, tetap saja menjadi suatu hal yang sia-sia.


Kurungan semakin mengecil, momon yang seharusnya agresif kini sudah tak berdaya melawan tangguhnya kekerasan kurungan tersebut. Percuma mereka memberikan damage yang tinggi, karena Mirai juga memberikan ketahanan yang tinggi pula dengan kecepatan yang cukup menandingi mereka. Sampai pada akhirnya mereka pun lenyap.


Lenyap, dan menghilang menjadi kunang-kunang mana yang terbang menyatu dengan alam. Semua makhluk tadi ternyata hanyalah kemampuan dari sosok makhluk yang menyoroti tempat istirahat kami.


"Apakah dia yang membuat seluruh momon agresif itu. Mereka semua tampak begitu nyata," ucap Raisa.


Aku tak sadar sebelumnya, bahwa Raisa telah memegang tongkatnya dengan begitu erat. Ia pasti telah bersiap-siap menggunakan kemampuan berbahayanya. Untunglah Mirai langsung melenyapkan seluruh momon buatan itu.


"Dayshi, mundurlah. Raisa, kau juga tahan penggunaan skill gak ngotak itu, " ucap Resha berjalan mendekati sosok lawan yang berkulit putih kuning langsat di area tubuh menyerupai manusianya.


"Maafkan aku teman-teman. Sekarang, aku tak sabar berduel dengannya."



Gimana ceritanya?


Cukup sulit juga untuk mendesain ilustrasinya. Yah, Aku tetap akan memberikan yang terbaik. Dan, semoga kalian menyukainya.