
"Sepertinya ini akan menjadi akhirnya."
Di tengah keadaannya yang terduduk sehabis terhempas itu. Ares masih saja bisa tersenyum ke arah Prajurit bertombak kapak tersebut. Aku bahkan tidak tahu apakah ia merasakan rasa sakit ataukah tidak pasalnya tampangnya tetap biasa saja meski pada bagian mulutnya terlihat terdapat bekas aliran darah ke bibir dan dagunya.
"Virus sialan, sadarlah akan dirimu itu. Health Poin yang kau miliki bahkan jauh rendah dari milikku. Aku benar-benar akan membasmimu, setelah itu akan kubasmikan baj1ngan kotor yang lainnya."
Prajurit tersebut bergemetar gemas kepada Ares.
"Heh, percaya diri sekali kau. Menyerahlah di sini. Sekarang kau tak memiliki pasukan lagi. Untuk apa kau bersusah payah melindungi penguasamu yang kotor itu."
Resha menyindir prajurit tersebut.
Prajurit tersebut menundukkan sedikit kepalanya. Kecaman aura yang berasal darinya menjadi sedikit menguat.
" Ukh." Aku merasa tertekan Begitu pun juga dengan Raisa yang juga kami sama-sama sebagai tingkatan di level Epic.
"Orang seperti kalian memang tidak mengerti. Sebagai seorang prajurit kerajaan ini, sudah sepantasnya aku harus membela kerajaanku. Aku mengabdikan seluruh hidupku untuk kerajaan ini, begitu pun dengan penguasanya. Karena mereka memang mutlak merekalah yang mengatur kerajaan ini jadi pastilah mereka mengetahui bagaimana mereka melakukannya secara turun temurun."
"Kau lah yang tidak mengerti. Negeri ini takkan bertahan lama jika kekacauan akan terus terjadi ke depannya. Jika pemimpin Negeri ini saja tidak becus, Negerinya pun akan lebih tidak becus, yang ada hanya orang-orang tidak becus yang makin berkuasa sedangkan yang becus dikira tidak becus."
Resha semakin nyinyir.
"Becas becus Becas becus, Bodoh lah dengan itu."
"Heh, Apa-apaan dia itu." Resha terlihat tidak menyukai orang tersebut.
Ya aku juga seperti itu, ia terlihat begitu menyepelekan persoalan tersebut. Dia tidak peduli dengan siapa yang memimpinnya. Orang seperti itu hanyalah orang yang senang diperintah saja tanpa tahu apa yang ia perintahkan, benar tidaknya pasti menjadi urusan belakangnya saja.
Resha geram. Tampaknya ia ingin segera sekali menghajar orang tersebut. Namun Ares menghentikannya. Ares berdiri.
"Kalian tidak usah ikut campur di sini. Sekarang biarkan aku yang menghajar dia."
Ares tersenyum. Ia memegang pedang besarnya itu. Tekanan aura dia yang kurasakan lebih berat daripada sebelumnya. Dia ternyata semakin kuat. Kekuatan dia lebih melimpah dari yang sebelumnya.
"Kau sangat percaya diri ya," ucap prajurit tersebut sebelum ia menjadi panik karena Ares tiba-tiba berada di atasnya dan membenturkan pedang besar ke arahnya. Ia berhasil menahannya, tetapi tidak dengan tubuhnya.
Tekanan dari pedang besar tersebut sangat berat. Hentakan dari pedang besar itu membuka seluruh luka yang ia terima sebelumnya. Bekas bekas sayatan semakin lebar hingga Darah pun tak dapat berdiam diri untuk meledak keluar.
Health Point prajurit tersebut seketika turun drastis. Ares tak berhenti di situ ia dengan tangkasnya mengangkat pedang besarnya lalu memberikan sayatan besar nan tajam sampai ia melewati prajurit itu.
Prajurit tersebut terbelalak kaget tanpa kutip. Pertanyaan yang sering ditanyakan ketika terkejut pun harus ia keluarkan tanpa sadar.
"Apa yang terjadi?"
Lagi-lagi darah nan hebatnya mengucur bak air mancur lalu ia pun berlutut dan terjatuh. Health point yang ia miliki perlahan turun ke 10%. Rasa sakit yang begitu dahsyat pasti ia rasakan. Ia bahkan pingsan setelah health yang ia miliki telah berada di angka 5%. Health Point turis drop turun. Masih butuh waktu yang lam sampai angka persenannya habis, begitu pun dengan ajalnya.
Ares tampak keletihan setelah ia menyerang. Ia duduk berlutut. Agemenon, Anyelir, dan Anemone segera menghampiri Ares.
"Hoe, kau tidak apa-apa," ucap Agemenon.
"Hahaha, bukannya kakak melihatnya sendiri. Janganlah berlama-lama di sini. Kalian pergilah duluan," jawab Ares.
"Tidak usah, lebih baik kita pergi bersama saja. Hasil yang maksimal adalah ketika kita pergi bersama-sama. Meninggalkanmu hanya akan mengurangi kesempatan kita untuk mendapatkan hasil yang terbaik," ucap Anemone.
Ares meringis. "Apa-apaan dengan kata-katamu itu. Baiklah aku hanya akan memulihkan tenagaku sejenak. Namun sebaiknya orang-orang itu biarkan mereka untuk pergi duluan."
Ares menunjuk ke arah kami.
"Jangan khawatir, mereka takkan berkhianat kepada kita. Pasalnya aku mengetahui apa tujuan anak itu. Mereka hanya sedang mencari seseorang. Ia juga pasti telah memiliki gambaran akan tempat ini. Jadi biarkan saja mereka pergi."
Ketiganya lalu melihat Resha. Mereka tampak ragu.
"? " Ares melihat Agemenon. Ia pasti bertanya-tanya akan apa yang ingin Agemenon katakan.
"Resha, kalian pergi saja duluan. Tampaknya kalian tak punya waktu untuk berdiam lama di sini."
Resha melirik Anyelir setelah mendengarkan ucapannya.
"Raisa?" Resha menengok ke arah Raisa. Ia menunggu kesepakatan darinya. Tanpa dijelaskan Raisa mengetahui apa maksud Resha. Ia mengangguk.
"Baiklah ayo kita pergi."
Kami kemudian segera bergegas pergi dari tempat ini. Aku berhenti sejenak melihat kondisi keempat orang tersebut lalu segera ikut bersama dengan yang lainnya.
➕➖✖️➗
"Hei Sky, bisakah aku bertanya kepadamu?"
Tanya Hoji setelah ia berhasil menangkis serangan Sky menggunakan kemampuannya yaitu ledakan duri. Duri yang berhamburan tersebut juga bermaksud menyerang Sky. Namun serangan tersebut juga luput karena langkah penghindaran Sky juga begitu sempurna.
"Apa, J1ng?" ucap Sky.
Alis Hoji berkedut kesal. "Astaga, apakah mulut seorang pangeran terhormat di kerajaan ini seburuk gramofon rusak. Bahkan benda itu tak seburuk suaranya."
"Apa itu yang ingin kau tanyakan?"
Sky mengayunkan gagang pedang tanpa mata pedangnya, sekali lagi ia menggunakan sebaran kelopak ya sebagai mata pedang yang menghujani. Begitu lebar dan menghujani dari segala arah.
"Sky, menurutmu bagaimana dengan sistem kerajaan ini?"
Hoji muncul tiba-tiba di hadapan Sky. Sky panik ia mundur beberapa langkah.
"Sialan. "
"Ayolah jawab saja pertanyaanku."
"Kukira kau sebelumnya adalah seorang ksatria dari kerajaan ini juga. Untuk apa kau bertanya seperti itu lagi. Bukannya kau tau sendiri"
"Ya, aku hanya ingin mengetahui dari perspektif kamu pangeran."
Mereka berbicara sambil masih beradu kekuatan.
"Sistem kerajaan ini sangatlah simpel. Selama kau berada di atas maka kau bisa melakukan segalanya, " ucap Sky.
"Sungguh sangat mudah dimengerti sekali ya. Jika aku bisa berada di atas segalanya, aku juga akan bisa melakukan apa yang aku mau. Bukankah begitu. Cukup dengan mengalahkan penguasa di kerajaan ini. Maka aku akan menjadi penguasa yang baru. Begitu kan?"
"Anj1ng sialan berani-beraninya kau."
Sky menghentakkan kakinya dan membuat area kering nan panas. Aura tersebut tersebar membentuk tempat yang baru bagaikan ilusi.
Sepanjang pemandangan Hoji, ia melihat tanah kering yang luas. Dari atas matahari begitu terik dan rupanya matahari tersebut merupakan pusaran kelopak bunga berwarna kuning yang berputar dengan kencang dan panas.
Kelopak itu menuju ke arah Hoji. Hoji terperangah. Air keringat mengucur deras untuk pertama kalinya. Kulitnya pun merasakan rasa perih yang teramat dari panas tersebut padahal kelopak-kelopak bunga tersebut belum mengenai dirinya.
"Ribuan kelopak berada di sisiku, panas dirinya adalah sumbernya, berputar seperti angin yang kencang, melalui satu inti yang terus diikuti. 【Tornado clouds of hot petals】"
"Cukup sampai di sini Hoji."
Sky melepaskan kekuatannya