My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
5.13 Sekilas masa lalu Fregia



Dhuarr...


Puluhan mana yang mengeras runcing seperti kaca menghantamku hingga tanah yang ada di sekitarku ikut luluh lantak.


Alih-alih health point mengucur deras hingga hampir tak tersisa, 2%. penglihatanku langsung memudar. Tusukan dari pengerasan mananya memberikan luka yang besar. Tak kala juga ia mengahantamkan pengerasan mana yang bentuknya persegi ke arahku.


"Hahaha, tanpa ampun ya."


Sebelum kesadaranku menghilang aku melirik ke arahnya. Tatapannya yang dingin membuatku bergemetar, lagi-lagi ia mengingatkanku dengan kejadian yang mengerikan.


"Hah hah huh..." Napasku hampir berakhir. Kulihat ia berjalan mendekatiku.


"Bukan akhir yang buruk," ucapku sembari tersenyum kecil berusaha mengingat bahwa riwayat akhirku bisa sampai pada tugas yang diberikan oleh tuan.


*Bruk...


Apa?! Anak itu, Dayshi terjatuh di dekatku lalu ia kembali bangkit duduk bertongkat lutut menatapku dengan tatapan sendu.


"Kau tidak apa-apa?!"


Matamu tidak apa-apa?! Sudah tahu kalau aku sekarang lagi sakratulmaut masih saja ditanya. Cepat bunuh aku.


"Tampaknya kamu tidak apa-apa," ucap dia kembali. Ia kemudian mengelus kepalaku lalu mengusap tangannya ke arah wajahku hingga kelopak mataku menjadi tertutup.


Anak ini ....


Membuatku kesal sekaligus bernostalgia akan kenangan indah dan burukku.


...Flashback On...


Grrr...


Sebuah tangan berbulu dan memiliki telapak empuk sedang mengelus-ngelus kepalaku. Tak jarang juga bulunya yang lebat pada bagian kepalanya, membelai wajahku.


"A hahaha. Udah udah." Aku yang masih berusia tujuh tahun tertawa dengan riangnya sembari pergi ke dalam sungai yang dangkal, tak jauh dari pepohonan rindang di mana beberapa tiger juga sedang bermain di sana.


Keluargaku waktu itu hanyalah sekumpulan momon yang dinamakan tiger. Momon yang memiliki bulu belang oranye pada tubuhnya. Dari aku lahir, aku sudah dirawat oleh para tiger ini seperti anaknya sendiri.


"Ma, sini lihat. Aku dapat ikan!" seruku ketika telapak tangan kecilku yang berbentuk harimau memegang ikan yang cukup besar dan tertancap pada kuku-kuku kecilku.


Aku juga tersenyum polos dengan mulutku yang terbuka lebar memperlihatkan deretan gigi susuku. Ekor panjangku yang oranye pun juga ikut menari-nari layaknya golombang yang terombang-ambing.


"Grrrrr..."


Tiger itu kemudian menyahutiku dengan suara perutnya. Aku mengertikan suara perutnya mengatakan "kerja bagus" kepadaku.


"Bagaimana denganmu?" tanyaku sembari menolehkan kepala ke arah tiger kecil yang seukuran denganku. Ia juga sedang berburu ikan.


Tiger kecil itu hanya mengaum sambil meloncat loncat kecil. Ia berkata bahwa dirinya juga bakal dapat ikan.


"Hahaha, berusahalah," kataku menyemangatinya dan kembali naik ke permukaan tanah. Kubanting pulalah ikan yang berada di tanganku hingga ia tak dapat menggeliat lagi. Setelah itu aku mencakar dan memisahkan kepalanya dari tubuhnya.


Isi bagian dalam perut ikan itu juga kubuang bersama dengan tulang-tulangnya. Hanya dagingnya yang kemudian kucuci lalu kumakan. Rasa empuk kenyal sarta tawar amis memenuhi suluruh mulutku. Dan setelah itu aku pun mengambil air sungai yang jernih untuk kuminum.


"Aah, segar."


Selang tak seberapa lama, auman tiger terdengar dari permukaan tanah yang lebih tinggi di dekat sungai. Kulihat dari bawah, para tiger yang di atas langsung berlari menuju sumber suara.


Para Tiger yang di bawah pun begitu. Aku naik ke atas tiger yang tadi mengelus ku dan meloncat naik menuju sumber suara.


Terlihat lah gerombolan pria dari ras human berjumlahkan lima sedang bertarung dengan para tiger.


"Umpan yang bagus kawan," ucap salah satu di antara mereka. Ia berhasil menaklukkan satu tiger. Kemungkinan tiger itulah yang sebelumnya mengaum seolah merintih kesakitan.


"Sepertinya kita akan kaya hari ini," ucap yang lain sembari menghajar para tiger dengan benda aneh yang ada di tangannya.


Beberapa dari mereka juga terlihat memakai tombak. Ia menyerang dengan mengayunkan tombak itu dan menggemaskan para tiger.


"Menarik level para tiger ini masih sekitar lima puluh-an. Itemnya juga cukup mahal," kata mereka yang perlahan terus menjatuhkan para Tiger dengan mudahnya.


"Ma, apa ma mau keluar," ucapku saat aku dan tiger yang kutunggangi sedang mengintip pertarungan itu di balik semak-semak.


"Grrrrr..."


Ucap Ma mengatakan iya. Badan Ma memang lebih besar dari pada tiger yang lain dan levelnya lebih tinggi 50%. Artinya ia berlevel 75.


"Aku ikut ya Ma."


"Grrr... Tidak aku tidak mengizinkan mu. Kamu adalah calon ratu, kami harus menjagamu."


"Tapi Ma..."


"Cuku diam saja di sini. Jika dalam keadaan terburuk, pergilah secepat mungkin menjauh dari para gerombolan manusia itu."


Tak dapat menolak lagi, aku pun hanya mengikuti perintah dari Ma, salah satu Boss Momon Tiger di area hutan rimba.


Ma pun keluar dan berhasil menyerang si pengguna tombak. Beberapa momon Tiger betina mundur bersama dengan kawanan anak-anaknya. Aku pun juga ditarik oleh satu Tiger betina, tetapi aku memutuskan untuk tetap berada di situ melihat Ma.


Dor dor dorrr...


Suara nyaring dari benda aneh keluar dari si pengguna. Ia membuat momon tiger betina untuk berlari secepatnya.


Singkat cerita, Ma mulai tak berdaya dan terus terkena serangan. Aku yang melihat Ma seperti itu, lantas saja keluar dari persembunyian.


Aku berlari secepat tiger dan mencakar wajah sang pengguna benda aneh. Orang yang menggunakan benda itu terjatuh dan berguling-guling memegang wajahnya yang mulai berdarah.


"Dasar kau!" orang yang tak memiliki persenjataan kemudian berusaha memukulku. Aku dengan lincah menghindari pukulan itu dan berlari ke arah Ma.


"Ma kau tidak apa-apa?" tanyaku melihat Ma yang ambruk dan mulai tertidur. Beberapa kali aku menggoyang-goyangkan tubuh Ma agar ia tak boleh tidur. Ma harus cepat lari dari sini.


"Lucky, kita dapat mangsa yang menarik ini."


"Hei, dia dari ras Demi-human. Sepertinya dalam waktu lama kita akan bisa bersenang-senang. Hahaha."


"Ma, Ma .... Grrr." Ma tak bergerak dan aku menggertakkan gigi dan menatap tajam mereka yang menyerang Ma.


Lagi, dengan tubuh kecilku menerjang dengan kecepatan setinggi mungkin. Tanganku yang siap mencakar dan meloncat dengan pijakan pohon dan tanah, selalu saja luput tak dapat mengenainya. Mereka cukup hebat dalam menghindar.


Level mereka sekitar lima puluh. Sedangkan aku masih berlevel tiga. Hanya mengandalkan kekuatan dan kelincahan masih tak cukup untuk melawan mereka.


"Hei kamu, cepat gunakan itu jangan sampai mangsa seperti ini malah terluka."


"Baik Boss," ucapnya sembari menyiapkan benda aneh yang sama dengan yang tadi, hanya saja benda satu ini terlihat cukup besar.


Dorr...


Sebuah jaring terlihat melebar menuju ke arahku. Aku yang ingin menghindari jaring itu, malah tersandung karena merasa panik.


Alhasil jaring besar itu terjun mengenaiku, sesaat jaring itu juga menyengatku hingga tak sadarkan diri.


"Hei cepat ambil item-item itu. Kuliti dengan benar..."


Suara samar-samar mereka terdengar gaduh hingga pada akhirnya aku tak merasakan apa-apa lagi.


"Ma ...."


Perasaan kehilangan terasa begitu sesak. Perasaan ini seperti kehilangan orang tua, yang selalu merawatku dan mengajarkanku untuk bertahan hidup.


Dalam pengantar tak kesadaranku, aku mengingat akan ucapan Ma saat kita mendapatkan buruan.


"Memangsa atau dimangsa. Itulah kehidupan kita, kita memangsa untuk bertahan hidup. Dan kelak juga akan dimangsa oleh makhluk yang lebih kuat dari pada kita. Jadi kau ratu mungil, jadilah kuat agar tak dapat dimangsa."


****


"Ma ... maafkan aku yang masih lemah, Ma ...."


...Flashback off...


...~ Dayshi POV ~...


Bruk...


Sesaat ketika aku terjatuh, aku merasa lega dan dapat mengendalikan tubuhku kembali.


Aku bangkit dan mengingat bahwa tadi aku menyerang seekor momon tiger yang sangat kuat. Tadi aku benar-benar mengalahkannya, aku merasa itu bukan aku juga sih, tapi aku benar-benar melihatnya bahwa akulah yang menyerangnya.


Aku menengadahkan kepala dan melihat momon tiger yang ada di hadapanku berubah menjadi manusia setengah hewan.


Apa ini yang namanya Ras Demi-human. Kulihat ia tak bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Tunggu jangan-jangan ....


"Kau tidak apa-apa?" tanyaku


Ia tak menjawab, tetapi kulihat ia menggertakkan giginya. Sepertinya ia kesal, pasti ia masih tak ingin kalah.


"Tampaknya kamu tidak apa-apa."


Hahaha, aku merasa gemas melihatnya. Ngomong-ngomong di telinganya ini beneran telinga tiger ya di kepalanya.


Tak sadar, aku penasaran mengelus telinga yang ada di kepalanya. Ternyata benar, telinga dia benar-benar asli tanpa ada cap pengenalnya. Bukan produk.


Napas dia masih tak beraturan, dan matanya yang kosong entah mengapa masih terasa tajam melihatku.


Takut akan ada apa-apa, lebih baik aku mengusap wajahnya agar ia tak menatap kosong ngeri lagi. Sesaat setelahnya aku kemudian melihat ia malah tersenyum dengan menitikkan tetesan air mata.


"Ma, maaf. Kamu sendiri yang tadi menyerangku duluan. Dan lagi sepertinya bukan aku yang membuat seperti ini," kataku menjadi gugup.


*Ngiiing


Ukh, tiba-tiba telingaku berdenging kencang dan tubuhku langsung terasa menyakitkan. Rasa perih, mual, pening, semuanya bercampur aduk.


*Cting


Kala itu aku melihat pula bahwa aku mendapatkan poin EXP yang sangat banyak hingga aku naik ke level 40. Sayangnya meski level ku baik, tetapi HP-ku yang masih tersisa 4% tak kunjung kembali pulih.


Bahkan aku mendapatkan sebuah pemberitahuan baru lagi, pemberitahuan yang benar-benar mengejutkanku. Tanda peringatan berlabel segitiga seru berwarna merah juga mulai terlihat ketika HP-ku menjadi turun ke angka 3%.


"Ck...."


...°°°°...