
Garuda haast, merupakan jenis burung yang besarnya lima kali lipat dari manusia biasa, memiliki tubuh yang gagah serta kuku yang amat runcing. Namun, garuda haast yang mengejar kelompok Dhile lebih mengerikan lagi.
"Kamu tahu, burung itu lebih dari apa yang kita bayangkan," ucap Dhile.
"Yeah, aku tahu itu. Apa kamu ingin mengulang ucapan lagi dengan mengatakan bahwa burung tersebut adalah penguasa hutan ini," cetus Resha.
Sedangkan Gerry terus melanjutkan pijakannya dalam menelusuri tempat persembunyian mereka. Lubang bawah tanah, yang entah makhluk apa yang membuat lubang tersebut hingga dapat dimasuki oleh makhluk seukuran manusia.
"Ayolah dengarkan aku berbicara terlebih dahulu." Dhile menegaskan suaranya dengan kesal.
"Ck, terus apa!?"
"Api, burung itu dilapisi oleh api ditiap-tiap bulunya."
"Hah! Yah aku juga tahu itu beg*."
"Ya santailah ngomongnya. Yang aku mau bilang, kok burung itu bisa punya api gitu, emangnya phoenix. Dari tag name yang kita lihat saja sudah jelas itu bukan phoenix, tapi garuda haast."
Ketika keduanya mulai saling berdebat, Gerry lantas menghentikan gerak langkahnya. Kedua rekannya seketika berhenti berdebat dan mengecilkan volume suaranya. Dhile pun menanyakan alasan mengapa Gerry berhenti dengan sigap yang waspada akan sekitar.
"Apa ada sesuatu di depan?" tanya Leo.
Gerry menggelengkan kepala. Sejenak Leo melirik ke depan tepat di balik badan Gerry lalu ia kembali menoleh ke belakang karena berpikir mungkin sesuatu ada di belakangnya.
"Tak ada apa-apa?... Gerry, apa kau mulai mencoba menakut-nakutiku."
Gerry tak berkata apa-apa, tetapi ia memutar kepalanya ke samping dan melirik Leo, seolah ia berkata 'tenanglah' kepada rekan gelisahnya itu. Dhile dan Leo pun hanya tersenyum canggung menanggapinya. Keduanya sama-sama merasa bersalah atas kelakuan diri mereka sendiri.
"Ular tadi ...." Baru sepatah kata yang terucap dari mulut Gerry, keduanya malah sudah langsung memasang kuda-kuda yang siap untuk menerjang terowongan jalan sempit itu.
"Ada apa dengan ular tadi," tangkas Leo.
Gerry kembali menggeleng-gelengkan kepalanya—mengartikan bahwa bukan ular itu yang dimaksudkan ada di dekat sini, tetapi ia ingin membicarakan seputar ular atau momon yang semacam ular tersebut—dan melanjutkan apa yang ingin ia katakan.
"Ular dan garuda Haast tadi merupakan momon yang sudah mencapai level di atas 100. Artinya momon tersebut telah bisa menggunakan kemampuan yang memanfaatkan mana. Baik itu mana dasar, mana tiruan, hingga mana spesial pun telah bisa mereka kuasai."
"Eh, bahkan momon juga punya hal yang seperti itu."
"Iya, tapi yang berbeda dengan kita makhluk yang berakal. Para momon yang telah naik di atas level 100 biasanya akan langsung memiliki kemampuan memanfaatkan mana tersebut hanya dengan menggunakan instingnya, tetapi bukan berarti juga para momon tersebut bisa menguasainya dengan cepat, mereka juga butuh adaptasi."
"Di atas level seratus? Haha, level dua ratus saja sangat jarang aku dengar orang-orang akan menguasai kemampuan tambahannya, kenapa malah momon yang hanya bisa mengandalkan insting bisa menguasai kemampuan mana lain."
"Eh, Leo belagu. Sejak kapan Gerry mengatakan momon bisa menguasai dua jenis kemampuan."
Gerry mengangguk, "ya, intinya sekarang kita harus lebih berhati-hati saja karena jenis momon yang kita hadapi di hutan ini tidak sama seperti biasanya."
Ketiganya terus menelusuri terowongan sempit itu. Tak ada momon maupun penghalang jalan mereka, butuh sepuluh menit akhirnya mereka keluar dari tempat tersebut.
"Bagaimana?" tanya Dhile. Gerry yang meninjau di luar lubang, kembali memperlihatkan anggukannya dan menarik kedua rekannya itu keluar dari lubang.
"Aish, bukannya sekarang kita makin masuk ke dalam hutan ini. Entah monster seperti apa yang bakal kita temui. Dibandingkan latihan, ini mah namanya cari mati," ucap Leo
"Nggak." Dengan sigap pula Leo berucap tanpa acuhnya.
“Mud Golem level 100, salah satu momon yang telah memiliki mana dasar yang dapat dikendalikan. Yah jelas, Mud Golem ini berkemampuan lumpur. Cukup sulit melawan momon tipe Monstalia dengan jenisinya yang elementalist. Momon tipe ini dapat beregenerasi, artinya meski bagian tubuhnya telah dihancurkan, momon ini tetap dapat memulihkan bagian tubuh yang hancur tersebut kembali ke semula. Jadi, bagaimana, Kalian ingin mencobanya?” ujar Resha.
Ia berjongkok tepat di dahan pohon pas di atas kepala Mud Golem.
“Eh, mencoba? Maksud akak apa?” Light terkejut. Bagaimana mungkin ia tak terkejut, level mud golem tersebut sangat berselisih jauh dengan levelnya, ia yang level 47 melawan level 105 sudah seperti melawan hal yang tak mungkin ia bisa kalahkan sendiri.
“Xixixi, ini sangat menarik kak. Bisa nih kita berjuang dan melampaui batas!” ujar Alex yang kemudian menaruh keranjang di pundaknya lalu mulai mempersipkan kuda-kuda bertarungnya—membungkuk dengan tangan terbuka serta kedua telapak yang mengepal.
“Lah, Raisa di mana?” tanya Resha dengan celingak celinguk mencari keberadaan Resha. Ia merasa sesuatu yang buruk sebentar lagi akan terjadi.
“Akhirnyaa! Raisa dapat kesempatan juga untuk menyerang, hyaaat!” seru Raisa sendiri. Entah sejak kapan ia melesat begitu cepat di atas udara, yang jelas ia menggunakan skill pasifnya yaitu tembakan udara. Dengan kemampuan pengendalian Raisa yang hebat, ia bisa mengontrol tembakannya dari tongkat ke tanah yang ia pijak sehingga Raisa dapat meloncat lebih tinggi akibat daya ledak dari tembakan yang ia buat.
“huahahaha, rasakan ini [HIDROGEN BOM!] level 3”
Tinggi lompatan di atas lima meter dari Resha, tak menggubriskan Raisa dari ledakan yang dibuatnya sendiri. Dia terpental jauh ke atas dan selamat dengan menggunakan skill berikutnya yaitu [HELIUM BUBBLE] level 1.
Sedangkan itu Resha yang juga tepat di bawah Raisa seketika terkejut, ia bisa saja terkena serangan yang Raisa buat jika bukan karena skill pasifnya Smoky aktif dan membuatnya terhindar muncul di samping Raisa seolah ia ikut terpental lalu berpegangan erat di pakaian tebal Raisa.
Dua lainnya yaitu Light dan Alex hanya bisa pasrah dengan keadaan. Mau bagaimana lagi, saat Raisa menyerang ledakan itu langsung begitu tiba-tiba. Baru melihatnya saja semuanya langsung tampak putih.
Tak dapat melihat, akhirnya keduanya ikut terkena ledakan dari angin yang berhambur menerbangkannya serta pijakan yang juga ikut terangkat hancur.
Pada akhirnya asap jamur hitam berkumpulan debu menguasai tempat itu. Panas yang dibuat dari ledakan juga membuat hutan disekitarnya terbakar dan dalam sekejap lenyap menjadi abu. Lumpur yang berada di sekitar situpun juga berhamburan lalu mengeras hancur begitu saja.
Namun, anehnya Mud Golem yang terkena serangan masih tetap bertahan dengan sisa bagian tubuhnya yang telah rusak parah—tersisa bagian kepala dengan tubuh yang tersisakan satu pinggang.
“A-a-apa yang baru saja kamu lakukan, Raisa!?” seru Resha histeris. Ia meneguk air liurnya tak percaya akan apa yang ia lihat. Walah, mungkin ia juga sudah menyebut Raisa sebagai seorang cheater dalam benaknya. Yah, sebutan cheater yang Resha maksud ialah seorang player yang biasanya bermain curang dalam game-game elektronik.
Bagaimana mungkin juga Resha tak memikirkan hal tersebut setelah Raisa membuat sekarat Mud Golem. Ingat, Raisa bukannya masih berlevel 38.
Seiring memperhatikan Mud Golem tersebut, Resha nampak semakin terkejut lagi dengan melihat Health Point yang dimiliki momon elementalist tersebut.
Yeah, HP momon itu terus berkurang dan makin sekarat dengan tubuhnya yang juga seiring rapuh menjadi tanah lembur. Padahal momon jenis monstalia adalah momon yang memiliki kemampuan regenerasi yang paling unggul dibandingkan momon jenis lainnya.
Tidak menunggu waktu yang lama sampai momon tersebut akhirnya tiada. Bekas serangan yang dibuat Raisa sangatlah besar dan dalam, lubang tanah yang gosong dengan dihiasi tepian yang terbakar. Mungkin lubang tersebut mempunyai luas yang berdiameter setengah kilo meter.
Tak heran jika keduanya terperangah di atas langit dan sanngat mengkhawatirkan akan nasib Light dan Alex yang sepertinya terkena langsung serangan yang dibuat Raisa.
“Raisa, aku sungguh gemetar meliha skill yang kamu keluarkan. Entah sepertinya aku takut akan ke depannya. Lain kali kumohon perhatikan sekitarmu sebelum mengeluarkan skill tersebut.”
“Baiklah,” jawab Raisa menundukkan kepala. Ia tak bisa menjawab hal lain lagi. Jantungnya bahkan berdebar dengan begitu cepat, air keringat yang keluar dari pori-porinya pun adalah keringat kekhawatiran.
Dalam batinnya, Raisa sangat berharap semoga keadaan kedua orang tersebut baik-baik saja. Yah, meski Raisa tahu sendiri, kedua orang tersebut pasti tak bisa selamat dengan keadaan yang tak terluka sama sekali.
“Ayo kita cari mereka.”