My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
5.2 Sigil



Tik tik tik...


Tetesan air kecil membasahi kami. Sebagian terbangun karenanya.


“Resha, bangun cepat!” Resha akhirnya membuka kelopak matanya. Ia benar-benar telat bangun walau rintikan hujan telah membasahinya.


“Ayo cepat kita cari tempat berteduh!” seruku. Tempat seperti padang rumput ini memang sulit untuk mencari pepohonan apalagi di tengah kegelapan tanpa siluet sedikit pun.


Namun, aku tetap yakin di sekitar sini pasti ada beberapa pohon akasia yang dapat kami temukan, setidaknya satu yang dapat kami pakai sebagai tempat berteduh.


“Tempat berteduh? Apa maksudmu?” tanya Mirai.


“sepertinya memang ada karena hawa di sini juga dingin seperti ini.” Resha yang telah bangkit mengambil lentera yang berada di tengah-tengah tempat tadi kami beristirahat.


Ia mengangkat lentera tersebut dan mengarahkannya ke mana-mana untuk melihat sekeliling.


“sebaiknya kita mulai bergerak. Perasaan ku mulai tak nyaman.” Mirai mulai gelisah, ia tampak berkeringat dingin.


Srrk...


“Tunggu, coba diam sebentar. Sepertinya aku mendengar ....”


“Oi Dayshi, ini aku. Aku mau buang air kecil dulu.” Cepat, Resha. Yang berjalan ke rerumputan yang lebih lebat dan tinggi.


“oh, kukira apa. Bergegaslah, Resha. Firasatku mulai buruk nih!”


Pemuda yang beralaskan sepatu kulit itu pun melambaikan tangan hingga sosoknya menghilang di tengah rerumputan, tetapi cahaya lentera yang ia bawa tetap memperlihatkan keberadaannya.


...➕➖✖️➗...


Sudah setengah jam, gerimis tak ada hentinya, Resha pun entah mengapa tak kunjung kembali. Tak ada tanda nyala dari lenteranya. Apakah mungkin ia tersesat?


Dari dua puluh menit yang lalu pun, kami terus menyerukan namanya agar ia dapat mengetahui lokasi kami. Namun karena tak ada tanda-tanda Resha akan kembali, kami pun dengan terpaksa meninggalkan tempat ini.


Mencari si pemuda yang kadang banyak cengkunek itu sekaligus mencari tempat untuk berteduh. Terus kembali menelusuri padang rumput yang menambah tinggi ini.


“Bisa-bisanya di keadaan seperti ini dia malah menghilang, ” keluh si gadis kecil yang telah lenyap dikalahkan tingginya rumput yang menjulang. Kain tebal yang ia kenakan basah kuyup hingga tudung kepalanya lemas menitikkan tetesan air.


Mood Raisa sedang hancur nih. Aku berpikir sebaiknya aku menghibur dia.


“haha, tenanglah, Sa. Kitakan juga sedang mencari tempat yang lebih baik. Oh iya, lenteramu cukup hangat juga di bawa seperti ini. Gimana kalau kamu saja yang membawanya, hangat loh.”


Raisa tak menanggapi sedangkan aku menyodorkan lentera yang kubawa sambil berpikir sejenak.


“mungkin jalan masih dapat terlihat.”


“Kamu kira Raisa tak mendengarmu.” Si pembawa big bag ini menghentikan langkah kakinya setelah beberapa meter melewati pijakanku.


“Eh, bu, bukan itu maksudku.”


Aduh, apakah tadi aku tak sadar mengucapkan sesuatu yang sensitif dengannya. Apa yang harus kulakukan sekarang? Padahal niatku hanya ingin menghiburnya saja, aduuh.


“Sudahlah, bawa saja lenteranya sana!”


Sepertinya aku membuat suasana hati dia bertambah buruk. Untuk kesekian kalinya, aku melirik Mirai setelah menunduk memurungkan wajah. Ia sedari tadi diam saja.


Ya, lagian dia bukan tipe orang yang banyak bicara. Namun, tampak jelas saat ini ia dalam keadaan gelisah.


“Mirai, kamu tidak apa-apa?” tanyaku.


Gadis bermanik mata biru langit itu mengangkat tundukan kepalanya. Ia melihatku lalu menganggukkan kepala, mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja.


Namun, sesaat ketika aku membalikkan pandangan untuk kembali berjalan. Mirai menyerukan nama Raisa dengan histeris, pelan, tetapi tetap terdengar jelas.


Raisa yang masih berdiri di depanku, lantas memundurkan langkah kakinya.


“Ada apa Mirai?” bisik Raisa, waswas, seolah keduanya saling mengerti satu sama lain.


“Diamlah sebentar,” ucap Mirai. Ia menatap kami bergantian kemudian menutup kelopak matanya—berusaha untuk fokus akan sesuatu.


Aku tak tinggal diam, aku memperkuat indra penglihatan dan pendegaranku dengan fokus kepada keduanya.


“Dayshi, matikan lenteramu,” bisik Mirai.


Srrk, suara rerumputan terdengar mendekat padahal kami tak ada satupun bergerak bahkan jari sekalipun itu.


Aku mulai menelan ludah, tak tahu situasi, yang jelas ini pasti hal yang buruk.


Suara rerumputan tadi semakin mendekat, mendekat, dan hening. Suara tersebut tiba-tiba hilang menyisakan bunyi rintikan hujan ke dedaunan rumput alang-alang.


“Apa yang terjadi, Mirai,” kataku.


“Kosong, masih kosong, aku tak melihat apa-apa. Sepertinya sudah cukup aman. Kita sudah bisa berjalan, tapi jangan gunakan lentera itu. Bisa saja beberapa momon berjenis beast  menyerang kita.”


“ba, baiklah.”


Kami mulai berjalan pelan, aku memimpin karena lebih leluasa melihat sekitar walau pada akhirnya ikut tenggelam di padang rumput. Namun semakin jauhnya kami berjalan,  jarak antar rumput pun juga semakin renggang. Dan, beberapa mulai terbentuk  semak-semak.


Berpikir mengenai Momon, aku mengetahui beberapa hal dari perjalananku sebelumnya.


Momon jenis hewan yang kusebut tadi adalah momon yang terkadang sensitif dan memiliki indra yang sangat kuat. Dibandingkan dengan real life-ku mungkin sekitar dua kali lipatnya bahkan lebih untuk bossnya.


Momon di sini adalah sebutan dari makhluk yang tak menyerupai manusia dengan ciri utama layaknya hewan dan tumbuhan di real world. Jika dibagi dari segi bentuknya, ada tiga jenis momon.


Pertama, Animalia, jenis momon yang bentuknya seratus persen menyerupai hewan yang ada di real world—memiliki ciri-ciri yang sama dengan kehidupan Dayshi di dunia sebelumnya.


Kedua, Vegetalia, jenis momon yang persis dengan tumbuhan, tetapi memiliki keuunikan masing-masing. Ada yang dapat bergerak bebas seperti King Peanuts dan ada yang hanya berdiam diri di tempat, tetapi hidup layaknya hewan buas yang terperangkap.


Dan, yang terakhir ialah Monstalia. Jenis momon yang benar-benar monster. Dapat terbuat dari elemen maupun dari gabungan beberapa makhluk hidup, bentuknya pun terkadang aneh. Sebagai contoh ialah golem yang terbuat dari elemen tanah.


Momon juga dapat dikategorikan menjadi tiga berdasarkan tingkat kesensitifannya, pertama momon agresif yaitu Momon yang sangat sensitif karena memiliki Indra yang lebih kuat dibandingkan Momon yang lainnya, tingkat serangannya pun bisa dibilang tidak main-main.


Kedua momon biasa, yaitu momon yang hanya menyerang jika merasa terganggu akan kehadiran kita.


Dan ketiga, momon jinak. Yaitu momon yang dapat dipelihara dan dirawat dengan baik, momon yang satu ini hanya akan menyerang jika merasa nyawanya terancam dan lagi kemampuan serangan dari momon yang satu ini tergolong sangatlah rendah dari pada yang lainnya.


Bruk, ambrukan tubuh terdengar di belakang. Si anak perempuan dari clan Fuctur itu tak sadarkan diri. Alih-alih aku menggendongnya ke tempat yang sedikit teduh di bawah alang yang menjulang.


“Apa dia demam? Sudah sedaritadi dia terlihat mengkhawatirkan sesuatu.” Aku berjalan memberi jarak untuk menikmati sedikit cakrawala gelap setelah menurunkan Mirai.


“Mirai tidak demam, sepertinya dia kelalahan saja,” sahutnya saat telah memeriksa kondisi si gadis berlapiskan kardigan yang basah.


“Baguslah kalau dia tidak demam.”


Sejenak kembali hening. Raisa merogoh tas besar yang selalu ia bawa, ia mencari sebuah benda semacam pil atau obat-obatan. Aku berjalan-jalan memperhatikan sekitar tanpa lepas pandang terhadap kedua rekanku.


“Kira-kira Resha tersesat ke mana ya? Semoga dia tidak kembali ke tempat sebelumnya.” Aku mulai mengkhawatirkan si pemuda assassin thief itu.


“Orang seperti dia tidak usah terlalu dipikirkan.”


“Raisa, apa maksudmu?”


Raisa menghela napas singkat. “Dia pasti bakal kembali.”


“eeh, kamu berkata seperti itu malah membuatku cemburu deh.”


“Kamu ngomong apa sih. Sudahlah, lebih baik Raisa mempercepat pemulihan Mirai saja.”


Gadis loli berkekuatan substance itu kemudian mengambil sebuah kertas yang telah ia rogoh sebelumnya di dalam tasnya.


Aku yang penasaran kemudian mengomentari benda tersebut.


“Kertas itu tampak tidak asing. Hmm, loh bukannya itu kertas yang sama saat kita melawan King Peanuts.”


“Oh, Dayshi belum mengetahuinya ya. Coba lihat.” Raisa memperlihatkan kertas tersebut dengan salah satu tangannya.


“Apa itu? Sepertinya kayak pola gambar ... jangan-jangan itu pola sihir seperti pola lingkaran sihir Rose Arcenciel. Tapi pola itu tidak berbentuk seperti lingkaran. Lebih tepatnya mirip seperti lambang health poin di game, bentuk plus dengan sedikit berpola.”


“Hampir benar. Ini adalah pola sihir,  tepatnya disebut sebagai sigil. Sigil ini berfungsi untuk mengeluarkan sebuah kemampuan atau kekuatan dengan cara menyerap mana si pemakai—dengan menggunakan setitik darah si pemakai agar terhubung secara langsung.”


“woah, bukankah itu curang namanya.”


“Curang? Apa yang kamu katakan. Menggunakan sigil ini juga sangat berbahaya, tingkat pengambilan mananya berkali lipat dari kemampuan yang natural. Jika kamu tidak tahu berapa jumlah mana yang diambil dari sigil ini dan mana kamu juga tidak mencukupinya maka nyawa kamu juga bakal direnggut.”


“A, ah. Itu cukup mengerikan juga.”


“Mengulang dari awal stage memang parah sih. Jadi, sebaiknya Dayshi jangan suka meremehkan, deh.”


“A~ah, rasanya ucapan itu tak cocok denganmu.”


“Coba katakan sekali lagi,” rajuknya.


“tidak tidak tidak. Maksudku, iya.”


“Coba perhatikan Raisa. Lihat bagaimana Raisa menggunakan sigil ini.”


“Ba, baiklah.”


Raisa pun mulai menggenggam erat sigil tersebut dengan tangan kanannya. Ia kemudian mengangkat tangannya ke mulut lalu menggigit salah ibu jarinya hingga berdarah. Ia mengucapkan sebuah kalimat.


“Alhi ki boda wada”


Ketika setitik darah mengenai sigil tersebut, semburat hijau muda membentuk ulang sigil tersebut di hadapan Raisa.


Tampaklah Raisa dilapisi cahaya hijau muda lalu mengalirkan sinar yang sama ke dalam tubuh Mirai melewati tangan yang ia letakkan ke atas dada Mirai.


“Luar biasa,” kagumku.


“ ‘Alhi ki boda wada’ itu sejenis mantra ya?”


Raisa tak merespon, ia fokus memulihkan Mirai—tepatnya mana Mirai.


Aku hanya memperhatikannya seperti menonton televisi. Lama setelah bosan, aku kembali menatap cakrawala yang mulai menampakkan keindahannya meski masih ada tetesan air yang terus berjatuhan pelan.


Aku menjulurkan tangan ke atas langit berharap aku bisa menghalau tetesan air tersebut layaknya sebuah payung.


Dan, sinkronation.


Terbentuk lah sebuah ilusi seperti payung tetapi lebih menyerupai sebuah kerucut.


“Apa aku bisa menyesuaikan bentuknya sesuai keinginanku?”


Kembali tampak sebuah hologram yang menginformasikan sebuah rumus tanpa angka apalagi soal. Ini tidak seperti biasanya.


“Rumus-rumus ini akan aku apaan? ... Sistem?”


“Anda dapat mengubah rumus tersebut menjadi angka yang anda inginkan. Hasil dari rumus yang telah anda buat akan mengubah objek tersebut.”


Dengung suara mengisi gendang telingaku, beberapa kali aku melempar kepala ke kiri dan ke kanan untuk mencari asal dari suara tersebut. Hingga pada akhirnya aku tersadar bahwa suara tersebut layaknya sebuah headset yang mengisi seluruh pikiranku.


Perasaan sedikit panik dan penasaran mulai menguasaiku. Aku menelan ludah dan memberanikan diri untuk berkata apa yang ada di dalam benakku.


“Hei, apa kamu berada di dalam pikiranku?”


“Tidak, lebih tepatnya saya berbicara langsung dengan pikiran dan isi hati anda.”


Suara halus seperti seorang wanita kembali terdengar. Ia benar-benar merespon pertanyaanku.


“Siapa kamu?”


Aku kembali bertanya untuk memastikan.


“Saya adalah sebuah program atau biasa juga disebut dengan sistem. Mungkin anda lebih mengenalnya sebagai kekuatan yang berasal dari dalam diri anda. Tugas saya hanyalah memberitahukan apa yang anda tanyakan.”


Sesaat setelah mendengar jawaban tersebut, aku merasa lega dan mulai mengerti. Aku pun akhirnya dapat berbicara dengannya tanpa adanya rasa khawatir. Pertanyaan demi pertanyaan pun mulai kulontarkan.


......••••......


Sekedar informasi


*