My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
6.10 Orchadiellion



Apa-apaan ini. Keadaan rumah yang cukup besar ini juga kacau balau. Halaman depannya yang cukup rimbun dengan tumbuhan anggrek, kini kurasakan penuh dengan kayu-kayu kasar.


Para perajurit rentenir rampok tadi pasti menyapu habis rumah ini. Aku harap Mirai baik-baik saja.


Aduh, tak ada sorot cahaya satu pun di tempat ini. Waktu aku berada di teras depan rumah pun, pintu masuknya juga telah hancur dengan bekas seperti di hantam benda keras. Mereka itu benar-benar keterlaluan.


Aku tak dapat melihat, penglihatan seakan tak berfungsi. Sulit untuk menemukan letak tangga menuju ke atas.


"Reynald, apa kamu punya skill yang mengeluarkan cahaya."


"Apa maksud kakak sihir cahaya gitu."


"Iya."


"Tidak kak, aku tidak punya. Sihir lotus yang kumiliki hanya memberikan energi atau tenaga yang kuat."


"Aduh, jadi bagaimana kita masuk."


"Tenang kak, aku punya sesuatu. Tapi sebelum itu, kumohon lepaskan tanganku. Sakit kak."


"Ah, maaf-maaf."


Aku melepaskan genggaman tanganku yang sepertinya sangat kuat memegang pergelangan tangan Reynald. Meski cukup gelap, aku dapat melihat pergelangan tangan Reynald yang tampak memerah. Aku terlalu berlebihan.


"Kamu baik-baik saja?" tanyaku kepada Reynald yang tengah mengelus-elus tangannya.


"Tidak. Sakit sekali tadi kakak memeganginya. Sampai-sampai tanganku kukira bakal patah. Ini saja masih berdenyut-denyut," keluh Reynald.


"Aduuuh, maaf sekali ya. Aku gak sengaja. Habis ... oh iya tadi katanya kamu punya sesuatu. Ayo cepat perlihatkan, kita bisa naik ke atas kan," ujarku dengan lincah, dan kedua tanganku tanpa sengaja memegang serta meremas bahu Reynald.


"Sakit kaak! Kamu ini apa-apaan sih!" jerit Reynald merintih kesakitan. Aku benar-benar lupa diri. Sampai-sampai Reynald menjaga jarak dariku dengan memeluk kedua bahunya sendiri.


Raut wajahnya merah padam serta sebelah matanya menyipit. Ia begitu terengah-engah hingga perutnya dapat terlihat naik turun.


Gila, apa yang sudah aku lakukan kepadanya. Aku baru saja membuat seorang anak kecil mati keletihan. Aku harus tenang, pasti Mirai ada di atas.


Kuelus dadaku sembari menghembuskan napas memburuku perlahan-lahan. Aku menundukkan kepalaku. Sial, ada apa denganku ini. Mengapa aku merasakan kejadian ini bukan pertama kalinya, dan itu terasa begitu terbekas di dalam hatiku. Tapi apa itu?


"Kakak sudah tenang. Aku tahu kakak khawatir, tapi kalau terlalu berlebihan kan tidak baik juga kak. Kakek pernah bilang kalau orang kuat itu adalah orang yang dapat tenang di segala jenis situasi. Jadi tenanglah kak, seharusnya kakak adalah orang yang kuat bukan," jelas Resha.


Dasar aku ini, dia yang masih seperti anak-anak malah lebih terlihat dewasa daripada aku. Seharusnya aku yang memberikannya contoh yang baik kepadanya, eh ini malah yang terjadi adalah sebaliknya.


"Sial, aku bukan golongan orang yang kuat ya."


"Tidak, kakak pasti bisa jadi orang kuat. Dan aku pasti akan menjadi seorang kaisar, orang kuat di antara yang paling kuat."


Eh, kaisar? Apa yang dia bicarakan. Tapi tampaknya ia sangat mendambakan akan kalimat itu. Terlihat, dari perubahan sikapnya yang tadinya mengambek, kini dengan drastis melipat tangannya sambil tersenyum-senyum membanggakan diri.


"Baiklah, sekarang kakak ikut di belakangku. Biarkan aku si calon kaisar yang akan menunjukkan jalannya. Kakak tahu, aku telah lama tinggal di sini. Jadi aku sudah hapal dengan denah rumah ini. Bahkan dalam kegelapan sekali pun itu."


"O-oh, baiklah. Seorang calon kaisar masa depan memang hebat," ujarku memujinya, meski tak tahu tentang apa yang aku katakan itu.


"Yosh!" Reynald mulai berjalan. Dia benar-benar bersemangat. Aku sampai berpikir ulang, apa tadi dia benar-benar kesakitan akan apa yang aku perbuat.


...➕➖✖️➗...


"Pintu ini tak terbuka. Tapi bekas dobrakannya cukup memberikan kurasakan yang lumayan parah. Engsel pintunya juga hampir terlepas," ucap Reynald.


"hufh. Kita dobrak saja yuk." Aku sudah menyerah memainkan gagang pintu itu. Cukup gemas aku dibuatnya.


"Eh, jangan kak. Pintu ini sepertinya masih bisa digunakan, ini juga cuma retak kok, engselnya juga—"


"Eh, pintu ini cuma agak miring aja yah." Aku memotong kalimat percakapan Reynald karena teringat akan sesuatu. Aku merogoh kantung celanaku di balik lapisan cape yang cukup tebal.


"Nah, ini dia." Satu buah kunci silver kuangkat naik sembari melihatinya. Kenapa tidak dari tadi sih aku mengingatnya.


"Lah kak?"


"hehehe. Baiklah...." semoga kamu baik-baik saja, Mirai.


*Kriek, prak


Yeah, pada akhirnya pintu itu juga terjatuh, padahal sudah dijaga Reynald agar tidak terlepas dari engselnya.


*Whoosh


Angin dingin membelaiku, ia masuk dari celah jendela yang tak berkaca itu, membuat gorden putih yang melapisinya menjadi berkibar-kibar. Tatkala saat aku memperhatikan apa yang ada didekatnya, kudapatilah seorang gadis bersuraikan hitam tengah terbaring dengan selimut tebal yang menutupinya.


Aku menjadi lega, lebih lega dari yang sebelumnya saat aku melihat pintu kamarnya yang belum terbuka pasti. Dengan perlahan aku pun menghampiri dia. Angin dingin dari jendela masih berhembus secara bergelombang munculnya.


"Hei, apa rumah ini memang sengaja di desain dengan jendela tanpa penutupnya. Angin malamkan tak baik juga dengan kesehatan."


"Jangan tanya padaku kak, tanya orang yang dulu bangun rumah ini."


"Katanya kamu tinggal di sini. Jadi ini bukan benar-benar rumahmu dong?" aku berjalan ke arah jendela. Menatap langit sesaat, kemudian menduduki bagian tepi jendela.


"Iya, lagian ini rumah besar yang cukup tua kak. Cuma seorang bangsawan yang dapat membangunnya." Reynald mengambil kursi yang berada di dekat kasur Mirai. Ia mendudukinya.


"Jadi, siapa bangsawan itu?"


"Bangsawan dari keluarga Orchadiellion, pemilik terakhirnya Mei Orchadiellion dan kalau tidak salah anaknya Mio Orchadiellion yang menyebabkan tempat ini tak ditinggali keluarganya lagi," jelas Reynald.


"A-apa? Siapa tadi kamu bilang?" Aku terkejut bukan kepalang, ada sosok nama yang tak begitu asing aku dengar.


"Orchadiellion? Mei Orchadiellion."


"Bukan itu, satunya lagi." Aku berdiri dan membuat Reynald terkejut.


"Mio Orchadiellion kak?" Reynald mengelus dadanya sembari mengeluarkan karbon dioksida yang telah tertukar dalam paru-parunya, dan keluar melewati lubang hidungnya secara perlahan.


"Iya, dia. Mio aku ingat jelas dengan dia." Aku mengepalkan tangan, teringat kejadian di desa Rose.


"Memang ada apa dengan dia kak?"


"Orang itu, dia menculik rekan kami. Dan sebab dialah kami sekarang berjalan ke mari .... Jangan-jangan serangan tempo hari itu juga karena ulahnya."


"Apa benar kak, dia kak Mio Orchadiellion," Reynald tampak begitu terkejut akan apa yang aku katakan. Manik matanya yang kecoklatan itu membulat lebar.


"Iya, dari namanya 'kan juga Mio, tapi aku tak tahu jelas Mio siapa. Yang pasti aku tahu kalau rambutnya itu sangat panjang, hampir sepaha. Kulitnya putih dan cukup cantik juga," jelasku.


Reynald menepuk dahinya dan mengacak-acak rambutnya sendiri. "Aku tak menyangkanya, dia benar-benar kak Mio. Aku pikir dia sudah berubah."