My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
4.9 Peta Benua Celebesia di Upperworld



"Lho. Tehnya habis?" tanya Raisa yang memasang wajah bingung padahal sedari tadi dia sendirilah yang paling banyak meminumnya.


Semuanya memandang Raisa dengan senyuman kecil—berniat menahan tawa karena sikap Raisa yang sedikit menggemaskan—begitupun denganku yang agak kesal dan bahkan ingin menertawainya dengan keras sambil berteriak "dasar maniak teh" untuk menyinggungnya.


Akan tetapi, semua niat buruk itu segera kutahan karena sekarang kami harus menyelesaikan perundingan ini untuk mencari pak Opin.


Dengan melapang dada sambil tersenyum seri. Aku pun menyindir halus Raisa yang masih menatap teko kosong. "Rai~sa. Bisa dilanjut?"


Lantas ketika ia mendengarku, gadis yang selama ini suka marah-marah kini tersipu malu karena tingkahnya sendiri. Pipinya menjadi merah merona dan pandangannya tertunduk—hingga poni rambut yang ia miliki menutupi sebagian wajahnya. ia kemudian berucap dengan suara yang amat pelan dan lembut. "si, silahkan."


Rasanya saat aku mendapatkan respons di luar dugaan, jantungku seketika berdebar hingga terasa terdengar di dekat telingaku.


Jika saja aku memiliki tubuh yang lemah, mungkin hidungku sudah mengeluarkan darah—saking imutnya suara Raisa, seperti gadis kecil yang memohon sesuatu yang sangat ia inginkan.


Semuanya kini masih mematung sembari memandang Raisa yang masih dalam keadaan menunduk. Suasana menjadi canggung hingga Lily memecah keheningan saat ini. "a, anu. Biarkan saya kembali mengambil teh untuk anda."


Rupa-rupanya Lily sedang salah tingkah. Ia mengambil teko kosong tersebut kemudian sejenak berdiam diri lalu membungkuk dan pergi ke dapur.


Sedangkan kami yang telah lepas pandangan dari Raisa ke Lily, kini masih berdiam diri sampai sosok si tuan rumah menghilang dari pintu ruangnya.


"ke, kenapa kalian diam saja! Duuh, Cepat lanjutkan!" teriak Raisa yang sudah tak dapat lagi menahan rasa malunya. Wajahnya saat ini sudah merah semua.


"o, oke. Ssst Resha! Petanya ke gulung tuh."


"ah, iya. Ehm, kok jadi canggung gini sih," gumam Resha sambil mengacak-acak rambut cokelat kehitamannya itu  kemudian melebarkan kembali peta yang ada di hadapannya kepada kami.


"Jadi, coba lihat peta ini." Ia mengambil dua buah gelas kosong kemudian menaruhnya di atas peta tepat di bagian tepi—sebagai penahan peta agar tidak tergulung kembali.



...Ilustrasi peta Benua Celebesia...


"Nah, ini adalah peta Benua Celebesia. Bisa kalian lihat, yang wilayah berwarna merah adalah wilayah Utopia. Sedangkan yang berwarna hijau adalah wilayah Dystopia.


"Sekarang perhatikan garis lurus ini. Garis ini adalah pembatas antara Underworld dan Upperworld, atau biasa disebut Light of Dark. Kenapa Light of dark? Coba perhatikan garis ini berwarna hitam dan putih. Pembatas putih ialah dinding cahaya suci yang membakar ras Underworld jika ia nekat melewatinya. Sebaliknya pembatas hitam, ialah dinding kegelapan yang menelan ras Upperworld jika ia juga berani melewatinya."


Resha mengambil napas sejenak, sesaat setelah Lily kembali membawa dua teko—salah satu teko berisikan teh dan satunya lagi berisikan air putih biasa.


Ketika kedua teko tersebut disimpan di tepi meja, terlihat bahwa di bagian pinggir wadah tersebut mengembun hingga airnya sesekali menetes.


Di bagian lubangnya keluar uapan air, ini tandanya bahwa yang si tuan rumah bawa ialah minuman dingin. Sangat cocok di tengah hawa panas ini, dahagaku pun timbul dan ingin meminumnya.


"Ehem. Sekarang coba perhatikan garis merah ini," ucap Resha yang sengaja mengeraskan suaranya agar diperhatikan. Sepertinya ia melihatku yang salah fokus ke hal yang lain.


Resha menggunakan jarinya untuk menunjuk simbol yang seperti kerajaan yang ada di dalam peta. "Ini adalah kerajaan-kerajaan yang tadi aku bilang. Garis merah ini adalah pembatas dari wilayah kerajaan tersebut."


Resha mulai menunjuk satu persatu lokasi kerajaan tersebut. Ia memulainya dari bagian atas yang bertuliskan DE—singkatan dari nama kerajaan.


"DE, The Diamond Empire. KM, Kingdom of Magic. KI, Kingdom of Insect. KF, Kingdom of Flower. Dan KT, Kingdom of Time.


"Desa Rose. Sebenarnya beberapa hari lalu, aku baru sadar jika desa Rose merupakan desa tersumbunyi. Tapi bagaimana mungkin kita bisa masuk ke desa ini," ucapan Resha mulai menyelidiki. Sesekali ia memainkan jarinya terhadap meja dan kembali memegang dagu sembari fokus ke dalam peta.


"Mirai, aku curiga kepadamu," ucap Resha dengan tatapan yang tak seperti biasanya. Ia mengintimidasi. Membuat Mirai menjadi gemetar, pasti di antara shock dan takut akan sorot mata Resha.


"Hei Resha, apa maksudmu itu!" jelas aku tak terima perlakuan Resha yang agak kasar terhadap Mirai. Mengingat Mirai pernah menyelamatkanku dari ancaman maut saat dulu melawan goblin.


"Orang luar diam saja, diamlah Dayshi!?" seru Resha. Tampak wajahnya begitu merah padam entah apa yang membuatnya begitu marah.


"Aku serius. Mirai, mengapa kau mengetahui desa ini? Mengapa saat itu kamu bisa diserang Goblin yang seharusnya berada di Underworld? Dan, kenapa pada saat itu kamu terlihat begitu tenang saat kita mati-matian melawan goblin itu?" tanyanya dengan nada yang cukup tinggi hingga membuatnya terengah-engah.


Ia kembali duduk—menenangkan nafsu amarahnya—lalu kembali bertanya dengan pelan. "Mirai, sebenarnya kamu itu siapa?"


Sejenak semuanya masih terdiam. Aku sendiri terkejut melihat sosok lain dari Resha. Aku tak pernah menyangka jika Resha naik pitam akan semengerikan ini.


Yah, walau begitu aku sebenarnya lebih heran mengapa ia sangat marah. Apalagi Mirai sebenarnya telah kami anggap sebagai teman —tidak tahu kalau dengan Resha.


Raisa dan Lily juga terlihat berkutat memikirkan ucapan Resha mengenai Mirai, atau tentang Resha yang terlihat sungguh berbeda dari biasanya.


Mirai sendiri kini menunduk dengan kedua tangannya menutupi wajahnya. Beberapa saat kemudian ia mulai menengadah ke arah Resha. Wajahnya pucat, sorot matanya sayu dan bercahaya kerjap berwarna biru langit.


"Resha, " ucapnya lembut.


"A, apa?" sahut Resha yang terdengar rada aneh dalam telingaku—mungkin ada sedikit perasaan bersalah atau semacamnya.


"Sepertinya benar. Aku memang sudah tak bisa memiliki siapa-siapa lagi," lanjut Mirai. Air matanya sudah tak dapat ia bendung, suaranya mulai histeris.


"Mirai." Raisa tak tega melihatnya, ia kemudian menatap Resha dengan geram. "Hei, Resha!"


"su, sudahlah. Jangan banyak ba, basa-basi. Coba jawab dengan jelas! Kumohon ... cepatlah. Waktu kita sangat sedikit," ujar Resha yang kini mulai perlahan ikut iba kepada Mirai.


Mirai bukannya berhenti menangis melihat kedua orang tersebut, ia malah menjadi terisak-isak sambil berkata, "cukup. Jangan mengasihaniku. Aku tak menyukainya."


Sejenak ia menjeda, berusaha menghirup udara yang sulit ia lakukan karena terhalang oleh air hidungnya.


"Baiklah, aku akan menjawabnya." Mirai mulai menenangkan diri, walau begitu isakannya untuk mengambil napas masih terdengar gemetar.


...°°°°...


Sekedar informasi


*


...Jika anda suka, tolong di like dan komennya ya....