
"Hei!"
"Di-dia sosok yang menyerupai manusia harimau." Dayshi memikirkan ingatan samas-samarnya. "Yeah kalau tidak salah namanya...."
"Kau ingin mati?"
"Aaaaakh aku tak bisa berpikir. Hei cepat lepaskan aku. Baru aku akan memberitahukan siapa dia."
Spontans sosok itu langsung menonjok wajah Dayshi. "Sepertinya kau siap untuk mati."
Dayshi tersenyum, membuat sosok itu menjadi kesal. Bisa-bisanya dia masih bisa tersenyum padahal sosok itu benar-benar serius untuk membunuh Dayshi kalau ia menginginkannya.
"Kau tahu, aku punya beberapa informasi terkait dengan sosok itu. Tampaknya kau benar-benar tahu dengan manusia harimau itu bukan. Atau mungkin dia kenalanmu. Hahaha, kamu tahu yang menyerangku duluan adalah dia bersama dengan manusia rendahan."
"Yeah, dan kamu tahu juga. Aku dapat membuatmu cacat hanya untuk menggali informasi darimu."
"Ck, dia Fregia."
"Fregia ya .... Apa yang kamu lakukan dengannya?"
"Aku tak melakukan apa-apa, justru dia yang mengapai-ngapaiku."
"Maksudmu?" sosok itu meringankan tekanan telunjuknya.
"Ya, dia menyerang kami dengan gerombongan harimaunya."
"Sepertinya dia masih melekat kepadanya. Apa dia ingin menjadi mainan?" sosok dihadapan Dayshi menjadi geram, ia kembali menekan telunjuknya di dahi Dayshi. Memang bagi Dayshi tekanan telunjuk tersebut tidak terlalu berefek sakit kepadanya, tetapi ketidakberdayaannya untuk menggerakkan anggota tubuhnya lah yang membuat Dayshi mengguruti kesal.
"Hei, apa ada hal lain yang ia katakan kepadamu?"
"Ck, entahlah. Aku tak sadar dibuatnya karena dia. Dia benar-benar membuatku babak belur waktu itu. Tapi—"
"Tapi?"
"Tapi, aku sepertinya sering mendengar dia menggurutu bahwa 'ini semua demi tuanku'"
Sosok yang berada di hadapanku seketika memasang raut wajah yang datar. Dia diam dan melonggarkanku untuk bergerak. Dia mulai berdiri lalu membelakangiku.
"Terus," ujar sosok itu. Tampaknya ia masih terus penasaran dengan Fregia. Ya, ini wajar karena mungkin saja dia satu ras dengan Fregia, hanya saja keduanya memiliki jenis yang berbeda, tetapi yang paling penting adalah dia pasti sudah mengenal sosok bernama Fregia itu.
"Aku tidak tahu lagi, karena pikiranku waktu itu sangat kacau. Kalau kamu ingin lebih tahu, tampaknya teman-temanku lebih mengetahuinya."
"hmm, begitukah."
"Iya, karena setelah aku tak sadarkan diri bisa saja mereka berbincang dengan Fregia." Dayshi sedikit ragu akan perkataannya sebab samar-samar ia mengingat bahwa ia sendiri lah yang mengalahkan Fregia. "Bagaimana mungkin aku yang mengalahkannya ya,"cetus Dayshi.
Sosok itu datang mendorong Dayshi hingga terjatuh dan tertahan oleh batang pohon. Posisi tanah yang miring membuat Dayshi menelan ludah.
" Namaku, Asta. Kau sekarang diamlah di sini. Aku akan pergi menemui rekanmu."
" Diam? Ya Bagaimana mungkin aku bisa kemana-mana jika kau mengikatku di sini!" seru Dayshi. Ia tak dapat bergerak karena terikat di batang pohon. Ikatan dari akar pohon gantung yang tebal dan besar, sulit untuk dilepas.
Asta melirik ke belakang lalu membalikkan badan kemudian menghilang terbang ke atas langit malam.
"Sial, fyuuhh" Dayshi kesal, tetapi ia juga lega. Untunglah ini bukan akhir perjalanannya. Dayshi celangak-celinguk, ingin rasanya ia mencari sesuatu untuk melepaskan diri. Namun pada akhirnya ia tak bisa melakukan apa-apa tanpa tangan dan kaki yang tidak bisa digunakan—sebab terikat dengan memeluk batang pohon yang pas dengan ukuran tubuhnya.
Selang tak lama Dayshi mengantuk. "Apa mereka baik-baik saja," gumam Dayshi. Ia mengkhawatirkan rekan perjalanannya. Gundah rasanya, tapi mata Dayshi semakin memberat. Tanpa sadar ia pun tertidur.
Beberapa menit kemudian...
"Shi, bangun shi." Seseorang menepuk-nepuk bahu Dayshi. Dayshi masih tidak sadar.
*plak
"Kalian?... Aduh pipiku kok sakit ya."
"Akhirnya bangun juga," ucap Raisa menepuk nepuk tangannya sendiri. Yang lainnya tertawa heran melihat Raisa.
Ah ternyata Raisa, pikir langsung Dayshi dalam benaknya.
****
"Bagaimana bisa kalian di sini?" tanya Dayshi.
"Kau Bodoh ya, jadi umpan demi kami? Mana mungkin kami mau!" tegas Raisa.
Sebelumnya, saat Dayshi memisahkan diri dan mengangkat kedua temannya pergi bersama Mirai. Raisa langsung meronta agar diturunkan. Namun Toro tetap bersigegas berlari sembari memperhatikan apa yang ada di sekitarnya.
"Lewat sini!" Mirai mengarahkan jalan. Ia juga fokus terhadap sekitarnya sembari memanfaatkan mata fucturiecesnya untuk melihat jalur yang aman.
"Momon-momon di hutan ini tampaknya bawahan dari sosok demihuman burung tadi."
Sebuah petak yang ditumbuhi semak belukar lebat menjadi perhatian dari Mirai. Momon-momon yang berada di belakang masih jauh untuk mengejar meraka. Di sekitar semak-semak tersebut pun hanya ada momon-momon jinak yang ukurannya belum bisa dikendalikan dengan baik.
Mirai mengambil kesempatan dan masuk ke tempat tersebut. Baginya itu sudah cukup untuk menjadi tempat persembunyian.
"Dayshi sialan itu, sok-sokan sekali dia menjadi umpan. Bukannya dia lebih ke arah menginginkan untuk bunuh diri," gumam Raisa. Ia kemudian diturunkan oleh Toro bersamaan dengan Resha.
"Kau yang sebelumnya ada di desa Rose ya. Apa yang kau lakukan hingga ada di tempat ini?" tanya Raisa.
Toro terengah-engah. "Entahlah, tapi setidaknya sekarang pulihkanlah dia." Toro mengambil sesuatu dari udara, tampak tangan Toro menumbus dimensi lain lewat udara disekitar tangannya yang tiba-tiba menghitam.
Toro mengambil potion berwarna merah dan memberikannya kepada Raisa.
"Potion merah yang kumiliki tinggal sedikit. Dan bahan pembuatannya pun cukup drastis berkurang di desa kami." Toro tersenyum. Ia mengamati Raisa yang dengan sigap meminumkan Resha red potion.
"Ini semua berkat kalian, akhirnya aku dapat kembali mencari bahan-bahan potion. Kalian tahu, mana mungkin kita yang dari desa Rose akan berdiam diri melihat keantusiasan kalian menghadapi si Raja Gila." Toro kembali menoleh menatap jalan yang tadi mereka ambil.
"Ukh,"
"Resha!" seru Raisa. Resha bangun dengan terbatuk mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya. Ia melihat-lihat sekitar, merasa pandangannya masih pudar. Kemudian ia pun duduk sembari merenggangkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian ia melirik bekas wadah potion dan mengambilnya, lalu ia menoleh, menengadah memperhatikan sosok Bertubuh bongsor.
"Pak Opin,... Eh, Toro?"
"Kau sudah bangun?" tanya Toro sambil melirik Resha dengan menyerongkan kepalanya.
Resha celangak-celinguk. "Di mana demihuman itu?... Tunggu, di mana Dayshi?"
"Ck, si bego itu mau jadi umpan," ucap Raisa kesal.
"Masih ada kesempatan. Kau sudah pulihkan Resha? Ayo kita bergegas mengejar Dayshi."
"Sial, dasar mantan pengawas." Resha mengepalkan tangan dan berdiri. "Tunggu sebentar, bukankah area hutan ini dikuasai oleh sosok tersebut dengan bawahan momon-momonnya."
"Terus," ucap Toro seolah meski ia ditahan ia akan tetap bersikeras untuk pergi menyelamatkan Dayshi.
"Aku punya skill yang seperti kamuflase, dan menghilangkan keberadaan. Setelah aku menggunakan skill ini barulah kita beranjak bersama. Kalian tunjukkan saja jalannya ketika kita berlari."
Mereka pun kemudian berlari mengejar jalan yang tadi ditelusuri, cukup sulit juga untuk mencari jejak jalan Dayshi, apalagi di hutan lebat dengan kegelapan yang sangat samar-samar.
Sedikit cahaya mana digunakan, dilindungi oleh asap yang menghilangkan hawa keberadaan pula. Tanah hutan yang lembab cukup bisa dijadikan patokan untuk mencari bekas jejak pijakan Dayshi.
Cukup lama, sampailah mereka melihat Dayshi yang sedang terikat di batang pohon. Dan mereka pun segera menghampiri Dayshi yang tertidur dikira pingsan.
"Begitu lah," jelas si Toro menceritakan kepada Dayshi.