My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
11.2 : Riko (2)



"Nak, Apa kau tidak penasaran denganku. Apa yang kuinginkan darimu bukanlah seperti yang kamu pikirkan. Kamu selamanya tak bisa mengetahui orang lain."


"Apa yang kau maksud."


Riko cukup terkejut dengan apa yang orang itu katakan. Riko tak pernah berpikir membaca pikiran orang lain, yang Riko lakukan hanyalah menebak apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


"Hahaha, Di malam yang dingin dengan hujan yang deras begini, aku tak pernah melihat akan ada orang bodoh yang dengan tega membiarkan tubuhnya basah kuyup."


"Ck, bukannya orang bodoh itu kau sendiri."


Riko berpikir sepertinya orang yang ia temui adalah orang gila. Dengan segera Rikopun pergi saja meninggalkan orang berbadan besar itu.


Riko tidak tahu akan pergi ke arah mana, ia hanya berjalan tanpa tujuan yang jelas. Namun, yang pasti Riko harus jauh dari orang gila itu.


"Nak, Apa kau memiliki sebuah impian?"


Riko berhenti sejenak setelah membalikkan badan dari orang itu.


*Impian, aku sudah malas untuk mengejarnya lagi. Terlalu hampa untukku.


"Apa kau pernah berpikir untuk berada di puncak?"


Langkah kaki Riko yang tadinya ingin beranjak pergi kembali tertahan.


*Selalu, aku selalu berpikir aku berada di atas dari orang lain.


Riko membatin.


"Di atas langit masih ada langit."


Riko sudah sering mendengar istilah itu. Sudah sangat jelas apa inti yang orang itu katakan kepada dirinya.


"Bagaimana jika kau berada di antara orang-orang sepertimu. Apa yang akan kau lakukan, apakah kamu masih bisa berada di atas puncak dengan mudah."


*Cukup menarik juga. Aku memang sudah sering kali mendapatkan orang yang lebih dariku. Aku tahu jika masih ada orang yang lebih jenius dari pada aku. Meski begitu aku ini masih lebih tinggi dibandingkan orang lain.


Riko sudah terlalu sombong menjadi bentuk sosial dari manusia. Ingin sekali ia menahan hasrat ini, tapi tiap kali ia menemukan orang yang tak tahu apa-apa, itu membuat Riko ingin sekali berlagak di depan orang seperti itu.


Sepertinya Riko tak bisa menahan senyum sinisnya. Ya, agar semuanya bisa dalam kendaliku.


*Aku memang harus melewati orang-orang brengsek yang berada di atasku.


"Hei, jika kau memang bisa mempertemukan orang-orang Seperti ku bahkan lebih tinggi dariku. Aku takkan sungkan lagi dengan apa yang ingin kau lakukan. Selama ada sistem feedback di antara kita, maka aku akan melakukannya dengan baik."


"Hahaha, kurasa aku belum mengatakan semuanya. Kau anak yang menarik juga, hahaha. Terserahlah, yang penting tugasku bisa kuselesaikan secepatnya."


"Tugas? Apa yang kau maksud dengan tugas. Siapa kau sebenarnya."


Riko menjadi lebih waspada. Kata tugas yang orang itu ucapkan berarti ada seseorang di balik dari perbuatannya itu yang mengikuti Riko.


"Hahaha, mana mungkin kau akan percaya dengan apa yang aku jelaskan."


"Katakanlah, jika tidak aku akan segera pergi dari sini meski kamu akan mengejarku kembali."


"Hahaha hah? Baiklah, tapi jangan terkejut dengan apa yang aku katakan nantinya."


Riko tak merespon ucapan orang itu yang menunggu jawabannya. Meski begitu dia tetap menjawab pertanyaan Riko.


"Aku datang dari dunia lain."


"Hufh," seketika saja Riko membuang napas. Jawaban orang itu benar-benar di luar nalar Riko. Yah, tapi Riko tetap berusaha menunggu lebih jelas jawaban dari orang tersebut.


"Lanjutkanlah, "


Riko paling tidak suka dengan basa-basi.


"Aku ditugaskan untuk mencari orang-orang yang sepertimu. Orang yang memiliki keinginan akan hasrat untuk mencapai impian. Di dunia ku ini kau akan bebas untuk belajar. Kau akan seperti berada dalam sebuah permainan. Apapun yang kau inginkan dapat dideteksi dan diberikan arahan jelas sesuai dengan apa yang kamu pikirkan. Aku di sini hanya menawarimu dan tak memaksamu. Aku yakin hidupmu akan jauh berubah dari yang sekarang dan kau juga akan mengetahui apa yang sebenarnya kau inginkan dari dalam dirimu."


Jelas sekali apa yang orang itu katakan sangat di luar dari pikiran yang masuk akal. Namun, entah mengapa Riko merasa percaya dengan apa yang ia katakan.


"Jadi jika aku masuk ke dalam dunia itu, aku akan bisa mendapatkan apa yang aku inginkan? Impian yang tak jelas dan samar- samar yang aku sendiri meragukan dengan apa yang sebenarnya aku inginkan, dan kau malah memilih orang sepertiku. Hahaha sangat konyol aku bisa menjadi kandidat itu, kupikir kau memilih orang yang salah."


"Hahaha, aku bukannya salah memilih. Sebenarnya tanpa kau sadari kau itu memiliki impian. Dan kau sendiri adalah orang yang unik. Mencari apa impianmu yang sebenarnya adalah impianmu itu sendiri."


Orang itu mendekati Riko lalu menyentuh dada Riko seolah mengatakan sumber permasalahan dari apa yang Riko cari adalah dirinya sendiri.


"Hahaha, itu benar, kamu hanya meragukan dirimu sendiri. Dan ketika kau merasa bisa kau malah meninggikan dirimu hingga kau kembali terjatuh. Kamu merasa penasaran terhadap pikiran orang luar, berusaha memahami agar kamu bisa mengambil hati mereka."


Sebenarnya siapakah orang itu. Orang itu mengetahui segala tentang diri Riko, bahkan apa yang Riko sendiri tak ketahui tentang dirinya. Orang itu dengan mudahnya mengetahuinya.


"Jujur saja, kau yang seolah mengetahui segala tentangku membuat aku semakin takut kepadamu. Apa sebenarnya kamu ini seorang stalker yang telah mengikutiku sejak lama."


"Hahaha, cukup simpel saja jawabannya. Aku memiliki kekuatan yang bahkan tidak sekedar membaca dari tindak seseorang. Yah, aku takkan menjelaskannya panjang lebar. Jika kau ingin mengetahui semua jawabannya, semuanya ada di dalam botol ini."


Orang itu mengeluarkan botol yang entah dari mana tiba-tiba muncul di tangannya. Seperti sulap saja. Entah trik macam apa yang orang itu gunakan.


"Heh, kau suka sekali tertawa ya om."


"Hehehe, jangan khawatir di dalam botol ini hanya berisikan air yang bernama Yum. Tampak seperti air biasa, tetapi bisa membuatmu masuk ke dalam duniaku. Kau takkan mati meminum ini."


Ekspresi dan tawanya itu yang malah membuat Riko semakin ragu. Seolah orang itu merasa senang dengan niat jahat.


"Apanya yang jangan khawatir. Minum air yang bisa membuatku masuk ke dalam dunia lain itu bukannya sama saja dengan mati. Sama halnya jika aku minum racun lalu kemudian mati maka aku masuk ke dalam alam baka."


"Hahahah, tenanglah nak. Waktu di dunia ini berbeda dengan di duniaku. Kau akan bisa kembali lagi ke dunia ini lagi kok .... "


Orang itu kemudian menjelaskan tentang perbandingan waktu di dunia Riko dengan di dunianya cukup panjang dan jelas.


"Baiklah. Terakhir aku ingin kembali bertanya. Apa hal terburuk yang akan terjadi kepadaku jika aku menerima tawaranmu itu om."


"Hahaha, ah. Hei nak, tidak akan ada orang yang menawarkan sesuatu kemudian menjelekkan kembali apa yang ia tawarkan."


"Jadi, apa kau tak ingin mengatakannya padaku. Aku takkan bodoh, menerimanya secara langsung tanpa memikirkan resiko apa yang sebenarnya yang dibalik semua keuntungan yang kau tawarkan itu. Aku yakin, pasti ada resiko besarnya di balik tawaranmu itu bukan."


"hahaha, kau anak yang sangat jeli sekali. Meski. begitu kau sepertinya tampak sekali akan mau tak mau menerima tawaranku ini. Dengar ini .... "


"*Bajingan, hahaha keparat. Ini sama saja cari mati bukan. Sialan ini malah membuatku semakin bersemangat. Aku tak tahu kenapa, tapi. "


"Ya, baiklah, berikan botol itu padaku."


"Hahaha, pada akhirnya kau menerimanya juga ya. Oh iya, maaf lambat memperkenalkan diriku sebelumnya. Aku adalah Lostopine Verst panggil saja dengan sebutan Verst. Seorang calon pengawas dari dunia tempatku berasal."


Verst melemparkan botol berisikan air yum kepada Riko. Riko menangkapnya dengan tepat.


"*Yum ini akan mengubah segala Kehidupanku. Dengan ini apakah aku akan memulai kehidupan lagi dari awal. Aku, aku,...


" *Aku ingin bisa orang lain menjadi tetap berada selalu di sisiku, tulus. Mendapatkan apa yang sebenarnya aku kejar dalam diriku sendiri. Dan bisa mengetahui segala maksud dari apa yang sebenarnya orang lain lakukan. "


Di atas ranjang sebelum Riko tidur, Riko memejamkan mata dan menarik napas. Selama ini Riko merasa segala yang ia inginkan akan terkabulkan. Riko penasaran apakah semua keinginannya akan bisa terkabulkan sebesar apapun harapan dia di dalam dunia tempat Verst berada.