
"Cepat tutup pendarahan ibu!" seru anak gadis yang tengah dalam kepanikan. Mata birunya terpancar dengan air mata yang berderai, membiarkan penglihatannya pirau hingga ia harus mengusapnya berkali-kali.
"Bu, bertahanlah," ucap Agemenon sembari terus berusaha menghentikan pendarahan ibu asuhnya setelah membawanya ke dalam panti kecil mereka.
Belasan anak-anak yang umurnya 10 tahun ke bawah ikut andil di sana dengan tangisan. Beberapa dari mereka berusaha untuk membantu kakak-kakaknya.
Ares, Anyelir, Agemenon, dan Anemone lah yang tengah sangat berusaha keras untuk menyelamatkan ibu asuh mereka karena kebetulan waktu itu merekalah yang dapat pulang duluan dari ikab kerjanya walau memang sudah sekarat kehabisan tenaga juga—sisanya banyak yang tengah ikab kerja atau mungkin lebih dapat disebut sebagai kerja paksa.
"Terimakasih, nak. Kalian sudah ada menghiasi hari-hariku," ucap ibu asuh itu setelah berusaha memegang wajah Agemenon. Dia kemudian terbatuk sampai mengeluarkan darah.
"Kalian anak-anak yang baik. Kalian sangat kuat.." ibu asuh itu melanjutkan perkataannya.
Dia menatap Agemenon yang tengah menangis hebat tanpa bersuara. "Diamlah, bu. Jangan banyak berbicara," isaknya sembari menggeleng-gelengkan kepala sebelum ia memegang erat tangan ibu asuhnya.
"Agemenon... Kamu sudah tumbuh besar saja, kamu yang selalu ceria itu sekarang kenapa kamu begitu sedih."
"Anemone, Anyelir, Ares." Wanita itu berusaha memperhatikan anak-anak asuhnya satu persatu yang ada di dekatnya. Bola matanya yang hitam mulai perlahan menatap kosong langit malam yang dipenuhi dengan bintang bersinar.
Perlahan sinar bintang tersebut redup dari penglihatannya. Namun bibir dari wanita tersebut tak ingin berhenti 'tuk bergerak. Untuk yang terakhir baginya, dia ingin terus berbicara kepada anak asuhnya.
"Kalian tahu ibu suka sekali dengan huruf A, bagiku huruf itu sangat indah, seperti halnya angka 1, awal dari permulaan, yang terbaik. Kalian adalah huruf A' bagi ibu..."
"berkat kalian ibu bisa bangkit dari keterpurukan. Kalian sangat-sangat kuat, ibu juga jadi ingin lebih kuat, ibu menyayangi kalian..."
wanita itu mengingat masa-masa kelamnya sebelum masuk ke wilayah pinggiran. Dia yang tanpa keluarga dibuang oleh keluarganya karena memiliki rambut berwarna putih.
Rambut khas wilayah pinggiran. Orang-orang yang dimasukkan ke wilayah pinggiran memiliki rambut berwarna putih karena sebelum dimasukkan rambut mereka akan di cat putih terlebih dahulu.
Banyak yang tidak menyukai warna rambut tersebut dikarenakan si Raja Gila yang dulu pernah mengacau di kota Garden Flower tersebut. Dikarenakan ciri khas rambutnya yang putih dan jarang ada di Kingdom of Flower, maka rambut putih dijadikan tanda sebagai kebencian di Negeri tersebut.
Wanita yang sudah dibuang dari keluarga itu lantas mendapatkan perlakuan buruk pula di luar lingkungannya. Ia dicemooh, di pukul, bahkan ada orang-orang bengis yang menodainya dengan nafsu bejat. Hingga pada akhirnya dia pun jatuh diseret ke dalam wilayah pinggiran.
Di saat itu dia sudah tak memiliki harapan untuk hidup lagi. Perlakuan yang lebih kejam di dalam wilayah pinggiran membuat dirinya hampir kehilangan akal. Dan di saat itulah dia melihat banyaknya anak-anak yang ada di wilayah pinggiran.
Mereka semua lahir di kota ini dari pasangan-pasangan yang tidak waras. Tak memikirkan masa depan, juga dari hubungan yang lebih kotor lagi disebabkan pelecehan. Hanya beberapa pasanganlah yang benar-benar bisa disebut pasangan, itu pun bisa dihitung jari.
Anak-anak usia balita sudah mendapatkan perlakuan tak berprikemanusiaan. Ia dipaksa untuk dapat bergerak banyak, tak peduli dengan lingkungan. Mereka di jaga ketat dan membiarkan orang tuanya untuk ada di sana ikut bekerja paksa.
Angka kematian sangatlah tinggi di daerah kumuh ini. Tetapi, kenapa masih ada yang berusaha untuk bertahan hidup.
Wanita itu melihat ketiga anak yang terus bekerja dengan giat bersama. Usianya masih kategori baru masuk sekolah dasar, mereka malah dengan tampak riangnya ikut dalam pekerjaan berat tersebut.
Keterampilan penggunaan mana mereka memang tampak di atas rata-rata usianya. Tetapi, sayang sekali mereka berada di sini, di tempat kusuh dan terbusuk.
"Ini semua berkat kalian. Hidup lah untuk hidup yang baik, teruslah menjadi kuat agar kalian bisa menyelamatkan teman-teman kalian yang lahir di sini. Terus ...."
Suara dari wanita tersebut terus semakin lesu. Kedua matanya semakin meredup. Napasnyapun semakin pelan. Hanya kedua bibirnya yang masih berusaha keras untuk terbuka.
Berlinang air mata, berkuncur bagaikan air hujan. Tidak, ibu masih tidak boleh untuk pergi. Siapa yang nanti akan memberikan mereka roti, anak-anak itu nanti akan ke mana.
Ibu, senyumannya di kala menyambut mereka terus menjadi penyemangat. Ketika mereka sudah lelah dengan dunia kejam, harapan pun menghilang. Dia, sang ibu selalu yang menjadi pertama. Pertama untuk teringat, menjadi harapan baru, hanya untuk membahagiakannya.
Ibu pengasuh yang suka rela terus tersenyum. Kala mereka pulang pun ia dengan gembira memeluk mereka. Memberikan mereka sepotong roti dan segelas air. Dia pun juga berjuang mendapatkan makanan-makanan itu, meski para iblis akan selalu menyiksanya. Memberikan perkara yang selalu terus sama.
"Kami mohon bu, jangan tinggalkan kami..." air mata serta ingus Ares sudah penuh membasahi wajahnya. Wajahnya penuh kerut tangis, dan dengan keras membuka lebar mulutnya merengek bagaikan anak bayi nan baru lahir.
Kekosangan tatapan ibu tiba-tiba mengeluarkan air mata.
".... Maafkan ibu ya, maaf karena ibu egois. "
Dia juga tak ingin meninggalkan mereka. Berkali-kali bahkan tak akan bisa dihitung lagi, ibu sangat menyayangi anak-anaknya melebihi dari nyawanya sendiri. Tapi, apalah daya takdir hari itu mengharuskan ibu untuk pergi, pergi selama-lamanya.
Kalimat terakhir sebelum menutup tetap meninggalkan senyuman kasih sayang yang tulus kepada anak-anak asuhnya. Jauh setelah kepergiannnya, terdengar kata 'terimakasih' dari sang ibu di lubuk hati semua anak-anak asuhnya.
Ruangan tersebut lantas menjadi histeris penuh dengan isak tangisan. Bahkan beberapa anak masih ada yang tak percaya bahwa ibu asuh mereka telah tiada, anak-anak tersebut beberapa kali memanggil ibunya, ia ingin membangunkannya.
"ibu... Mama... Ayo bangun. Biasanya kan ibu tidur kalau kami sudah tidur duluan. Ibu... Ayo bangun."
Butuh waktu sedikit lama untuk anak-anak yang tak percaya itu menjadi sadar.
Aganemon yang terisak-isak pun menjawab pertanyaan mereka.
"Dek, ibu sekarang lagi tidur. Biarkan dia beristirahat ya. Karena sekarang ibu sudah tidak bersama kita lagi dek." Agenemon berusaha untuk tersenyum walau ekspresinya malah terlihat kacau.
"Apa maksud kakak, itu ibu kan lagi tidur. Kenapa kakak bilang 'dia tidak bersama kita'? "
Agenemon memeluk anak kecil yang bertanya itu masih dengan tangisan tak bisa dia tahan.
"Hmm, kamu benar ibu masih ada bersama kita. Tapi kita sudah tak bisa melihatnya lagi seperti dulu."
"kenapa kak... " anak tersebut mulai meneteskan air mata. Tampaknya ia sudah mulai mengerti apa yang dimaksud Agenemon. Tetapi pertanyaan demi pertanyaan masih terus terlontar, benar-benar tak ingin menerima kenyataan tersebut. Kenapa - kenapa - kenapa, kenapa harus dia yang tiada.