
"Lima tahun lalu, aku dan Mio saling berteman. Setidaknya itulah yang kurasakan," jelas Eva. Ia hanya mengucapkan kalimat sejelas yang aku ketahui itu. Tak ada penceritaan detail di dalamnya, dan ini benar-benar informasi yang tidak berguna bagiku.
"Hanya itu?" jelas saja aku komplain atas jawabannya. "Aku butuh jawaban yang detail. Setidaknya, aku mendapatkan petunjuk mengenai dirinya."
Namun, apa yang ia lakukan. Ia hanya tersenyum licik layaknya seekor rubah betina. Sungguh menjengkelkan.
"Satu pertanyaan, satu jawaban. Bukankah itu syaratnya?" tanyanya sebagai alih. Kujawab dengan "hah" atas dasar ketidakterimaanku itu.
Ia berdiri dan sempat kukira ia ingin berdebat denganku. Nyatanya, ia malah tertawa kecil entah dari segi mananya yang lucu. Suasanaku pun menjadi canggung ketika ia membalikkan posisi badannya—merapikan kursi sembari membelakangiku.
Setelahnya, ia membenahi pakaian lalu beranjak pergi keluar sini dengan jalan yang memutar. "Supaya lebih nyaman, kita berbicara di sana saja." Ia menunjuk ke meja makan.
Meja yang cukup sederhana, bentuk persegi panjang dengan bahan yang hanya berupa kayu yang dilapisi pernis sehingga warna kayu cokelatnya lebih terasa dan tampak mengkilap. Empat kursi solo yang seragam warna dengan meja tersedia, tapi hanya dua kursi lah yang dapat digunakan untuk saling berhadapan melanjutkan pembicaraan.
Sampai di tempat tujuan, Eva berseru. Menyerukan nama seseorang yang mungkin itu adalah adiknya, Ariana. Ia meminta tolong untuk menyediakan segelas minuman tak beralkohol.
"Aduh-aduh, kau tampaknya masih marah. Baiklah untuk pertanyaan kedua langsung dari kamu saja," ucapnya sembari menarik kursi yang memepet ke meja. Sepertinya ia tak nyaman kupandang tajam, matanya yang tertoreh padaku pun dijadikan suatu acuan tuk berkata selanjutnya.
Ia duduk dan aku dengan posisi yang hampir sama hendak membalas ucapannya. Namun belum saja pantatku menyentuh kursi, ia langsung menuruskan kalimat. "Dia anak yang cukup pendiam dan kurasa ia juga anak yang penurut."
"Hei?" tukasku, tapi ia tak menghiraukanku. Terpaksa aku duduk dan dengan tak senang aku menopang pipi menggunakan tangan kanan seraya memasang raut cemberut sembari mendengarkan tuturannya dengan baik.
"Yah setidaknya jauh dari kejadian itu. Kejadian di mana desa ini di ambang kritis karena dirinya.
"Manusia itu memang makhluk yang cerdas karena memiliki akal pikiran. Sayangnya jika akal pikiran itu tak dipakai, ia malah lebih bodoh dari pada binatang. Insting untuk bertahan hidup sangatlah kita butuhkan, tapi perlu dipikirkan juga. Apakah insting itu lebih baik dari apa yang sebenarnya terjadi?
"Sama seperti para warga desa ini. Tidak, mungkin sebagian besarnya. Semenjak mereka mengetahui bahwa Mio memiliki kekuatan yang terwarisi, mereka semua senang. Namun apa jadinya saat mereka tahu bahwa kekuatan yang terwarisi itu ternyata berkaitan dengan nasib buruk. Pastilah para warga itu merasa resah dan terancam akan dirinya sendiri.
"Mulai dari teman sebayanya yang dari awal hanya empat sampai lima orang, mereka menjauh. Aku yang terus berada di dekatnya tahu benar bahwa dia mulai merasa ada yang ganjil dengan dirinya sendiri. Sampai ketika dia mengetahui akan aliran mana dasarnya, dia menjadi orang yang berbeda.
"Mio semakin jauh, ia bahkan mulai tak menggubris kehadiranku. Hingga kejadian itu pun terjadi, aku sudah tak dapat melihat punggungnya lagi. Mio benar-benar menghilang tanpa mengatakan apapun kepadaku. Aku sempat mengejarnya, tapi aku terjatuh.
"Sampai sekarang aku sudah tak pernah melihat rupa wajahnya. Meski dulu aku ini temannya, aku bahkan tidak terlalu mengerti apa yang ada di pikirannya. Yang kuketahui, kepergiannya dikarenakan dia sudah tak tahan lagi akan lingkungannya.
Eva menceritakan kalimat demi kalimat dengan penuh emosional. Ia tak sadar akan air mata yang telah bergelimang di pipi tirusnya. Aku jadi enggan untuk bertanya. Iba terasa dalam hati, tapi aku juga harus sadar akan kepentingan yang perlu kuhadapi.
Jangan sampai hanya karena kasihan aku tak memedulikan diriku sendiri. Perasaan itu hanya boleh muncul saat semuanya dalam keadaan yang tak terlalu buruk, di mana semuanya tak saling berhubungan dengan apa yang akan aku lakukan selanjutnya.
Eva menatapku berkaca-kaca hingga aku tak tahu harus mengatakan apa. Aku hanya terpatung menyerap sari penceritaan sebelumnya, yang kemudian ia pun tersenyum dengan rebasan air mata. Ia melanjutkan kalimatnya.
"Kamu tahu, aku selalu ada di dekatnya. Namun, dia menjauhiku karena ia berpikir jika aku berada didekatnya, aku akan diperlakukan sama seperti dirinya—dikucilkan dan dilempari benda keras atau sesuatu yang tak layak didapatkan oleh manusia itu sendiri. Bukankah itu jahat? Ya aku tahu pilihannya itu. Tapi sudahlah. Dia itu anak yang baik."
Suara Eva yang mulanya sedikit naik, kini melemah. Sayu memandang ke bawah, tangan kiri tertaruh di meja dan tangan kanan memegang dahi, membiarkan poni datarnya tertempat di atas menutupi telapak dengan berantakan.
Napasku sedikit kutahan mendengar cerita Eva akan teman kecilnya, Mio. Kulepaskan napas tersebut dan membuat darahku bergetar hangat.
Mio, seorang anak yang melarikan diri dari keluarga serta lingkungannya hanya karena memiliki kekuatan yang berkaitan dengan nasib buruk. Di umur 12 tahun, di mana otak belum dalam fase yang benar-benar matang. Sungguh malang sekali nasibnya.
Sepertinya ini sudah cukup. Eva mungkin sudah menceritakan semuanya. Dan kini ia tampaknya butuh waktu sebentar untuk berdiam diri, mengambil sebatang rokok serta pemantik api tanpa mana, kemudian ditaruh pada bibir dan dinyalakan dengan satu tangan.
"Dari mana kedatanganmu. Jayakarsa? Dari banyaknya turis yang dulu mengunjungi tempat ini, aku masih merasa asing melihat bentuk wajahmu. Ya, tapi mungkin masih dekat dengan bentuk muka orang Jayakarsa," selidik Eva setelah menghembuskan asap rokoknya.
Aku menjadi ragu untuk menjawab dengan kebenaran. Aku juga tidak terlalu pandai dalam berbohong. Jadilah aku mengatakan dengan seadanya saja, tapi tetap aku menyembunyikan identitasku yang datang dari dunia lain, real world.
Kuceritakan asalku yang berada di kota Flamesea, kota yang telah menjadi abu, dan dia tak mengatahui itu. Kuceritakan juga pertemuanku dengan Dinata sang wali kota Flamesea, yang kemudian aku mengarahkan para master anggota miliknya.
Tanpa sadar di situ aku mulai terlibat untuk terus membantunya, tapi bukan secara cuma-cuma. Aku pergi menjadi pengawas menemui pak Opin, lalu kembali saat mendapatkan sepucuk surut dari merpati putih.
Di tengah hutan aku bertemu dengan Raisa, gadis pendek yang tengah mencari bahan obat-obatan. Tak kuceritakan bagaimana Raisa menjadi rekan seperjalananku dan tak kuceritakan pula akan tragedi Kota Flamesea.
Aku hanya lanjut bercerita kembali ke Kota Boas menemui pak Opin dan mulai melanjutkan perjalanan bersama dengan Resha yang dulu adalah orang yang kuawasi. Tanpa kuberi tahu lagi tentang tujuan perjalanan kami, aku langsung menceritakan pertemuan kami dengan Mirai yang kala itu disergap gerombolan goblin.