
Syat ... Jeb.
Berhasil, tepat mengenai lehernya dan memisahkan antara kepala dan badan Boss Momon Tiger itu. HP 10.000 hilang begitu saja. Mana ampliefer layang-layangku sendiri menembus tenggelam hingga ke tanah-tanah.
Sumber mata air berupa darah seketika membanjiriku. Membuat diriku penuh akan warna merah tua yang kental.
"Benar kata Raisa, level di dalam dunia ini tidak terlalu berpengaruh dalam hal menang atau kalah."
[Level up]
[Level up]
[Kalahkan Boss Momon Tiger 3/1]
Kini levelku berada di angka 32 sedangkan musuh memiliki level 80 dengan Boss Tigernya yang berlevel 50.
Boss Tiger yang baru saja kukalahkan kini membuatku optimis untuk menghadapi sang pengendali Tiger itu.
"KAU SI ALAN!?" Sedangkan dia—sang pemilik—marah besar kepadaku. Siapa yang tidak marah jika hewan kesayangannya terus dibunuh, aku tahu itu, tetapi ....
"Untuk apa kamu mengerahkan binatang buasmu kepadaku? Bukankah kau yang si alan, datang-datang cari masalah!" seruku juga dengan geram.
Tampak perempuan itu berdiri di atas Boss Momon Tiger. Matanya membulat lebar tajam melihatku. Mukanya begitu merah padam, giginya bergelutak kesal. Ia benar-benar murka terhadapku.
"Ah, mati 'dah aku," kataku sembari menelan ludah. Ia membuatku merinding.
Pada saat tangan ia diangkat tinggi-tinggi lalu menjatuhkannya dengan cepat. Seketika getaran besar kurasakan, bunyi yang sama seperti sebelumnya juga terdengar.
Namun kali ini bunyinya terdengar lebih cepat, geterannya pun merambat dengan cepat dan semakin besar pula. Pasti itu adalah Boss Momon Tiger yang akan datang menyerangku.
Tepat seperti dugaanku. Boss Momon Tiger dengan level 55 dan nyawa 15.000 datang ke arahku dengan kecepatan yang luar biasa.
Kesempatan bergerak hanya tiga detik sebelum ia menyerangku. Apa yang harus kulakukan dalam tiga detik itu.
Tak berpikir panjang, hanya skill mana amplieferlah yang dapat kuandalkan. Dalam tiga detik itu, kucoba menyelesaikan persoalan yang kudapatkan.
Namun sayang aku tak berhasil menyelesaikannya, tapi meski begitu skill yang kugunakan tetap keluar. Ya, pastinya juga dengan pertahanan yang lemah.
"[Mana Ampliefer] level 5"
Ctrang...
"Agh!" semburan darah keluar dari mulut dan hidungku.
Hancur juga, perisai mana amplieferku benar-benar menjadi kepingan mana yang seperti debu. Bahkan aku sendiri terlempar begitu jauh, hampir kembali ke tempat awal aku berangkat, malah itu melebihinya. Aku jatuh ke dalam sungai yang begitu luas.
Health pointku yang tadinya seratus persen, seketika menjadi 45%. Aku terkena luka berat. Pukulan paw—telapak kaki—yang begitu luar biasa, meski sedikit empuk tetapi pantulan keempukannya itulah yang membuatku terlempar begitu jauh.
Blubub...
Udara yang kutampung dalam mulutku keluar menggantikan air yang masuk ke seluruh lubang mulut dan hidungku.
Kesadaranku, tepatnya penglihatanku mulai memudar. Layar virtual hologramku menampilkan HP 45% yang terus menurun tiap lima detiknya.
Hahaha, apa ini akhir? Tubuhku sama sekali mati kaku—tidak dapat digerakkan—meski kupaksakan. Janji, harapan, dan semangat saja itu belum cukup. Aku masih jauh dari kata kuat, masih jauh dari kata tangguh. Aku masih lemah, tak ada harapan, haha ....
Tak dapat dipercaya.
Tangan terlambai ke atas, gelembung udara telah habis naik ke permukaan air. Samar-samar tanda peringatan terlihat, seluruh anggota tubuh entah mengapa tidak mendingin, melainkan menjadi panas, terus memanas.
Kau sudah berusaha dengan baik, kawan.
Ah, panas ya. Tidak, ini hangat. Dalam kesadaranku yang sudah hilang, garis bibirku entah mengapa melengkung tanpa ada paksaan.
Iya, terima kasih.
Blubub ... Blububb
...~Author POV~...
"Red Potion?!" Raisa terkejut melihat Potion itu. Dan lebih terkejut lagi saat melihat Mirai memegang dan siap menuangkan Red Potion ke dalam mulutnya.
Raisa ingat sekali bahwa Red Potion yang diberikan di desa Rose dibagikan setiap orangnya hanya ada satu. Bagaimana mungkin Mirai memiliki Red Potion lebih dari pada yang dibagikan?
"Raisa?" panggil Mirai dengan heran.
"Kenapa tidak diminum?" lanjutnya. Ia benar-benar kembali pulih total. Raisa yang baru sadar dari lamunannya, kini menatap bingung ke arah Mirai.
"Kondisi kita sudah parah, jadi janganlah ragu-ragu," lanjut Mirai lagi, membuat Raisa yakin dan langsung meminum Red Potion yang ada di tangannya.
Kondisi mereka berdua kini kembali fit. Bar status berisikan HP dan MP kembali seperti semula, penuh tanpa ada satu angka pun yang berkurang dari angka seratus persen.
"Wah wah wah, Red Potion ya. Bagus-bagus itu menarik. Tapi aku yang indah, tampan—"
Belum selesai Vyno berbicara, Raisa menembakkan bola cahaya putih tepat ke arah wajah Vyno, sehingga pipi Vyno menjadi tergores.
Vyno kemudian menjulurkan tangannya ke arah kedua gadis di hadapannya dengan tegas.
Meski jarak yang sedikit jauh, tumbuhan Ivy yang merambat seketika keluar dari tanah. Kali ini lebih banyak dari yang sebelumnya.
Kedua orang yang diserang lantas saja menghindari serangan itu. Namun sayang, rambatan tumbuhan itu sangat luas, kemunculannya juga begitu banyak.
Hampir lagi terkena. Ternyata keduanya berhasil lolos. Raisa menggunakan skill Helium Bubble-nya, sedangkan Mirai melawan serangan tersebut dengan mencabik-cabiknya. Tubuh Mirai seakan menjadi keras dan tajam.
Itu adalah berkat dari skill yang digunakannya, yaitu [In Enchanter] level 7] . Skill yang menyihirkan dirinya sendiri, membuat fisiknya menjadi keras dan mana yang terlihat berwarna biru seolah malapisi seluruh tubuh Mirai adalah mana yang sangat tajam.
Vyno yang melihat itu tak menghentikan skill yang ia gunakan. Ia malah menambahkan mana yang besar ke dalam skillnya itu, membuat tumbuhan merambatnya kini menyerang dengan lebih lebat dan jangkauan yang lebih panjang lagi.
Rambatan yang cepat itu seketika menutupi seluruh pandangan Mirai layaknya kurungan sangkar burung tapi tanpa adanya sebuah celah. Raisa sendiri terbang semakin tinggi kini mulai terkejar kembali oleh rambatan tumbuhan Ivy itu.
Raisa yang tak mau dirinya terikat kembali, kini mulai menyerang rambatan-rambatan itu dengan skill pasif tembakan sihirnya. Benar saja usahanya membuahkan hasil, rambatan yang mengejarnya kini mulai melambat karena hancur secara terus menerus. Tumbuhan itu tak beregenerasi, ia hanya tumbuh naik secara terus menerus.
Vyno yang telah lega melihat Mirai terkurung, kini mengalihkan pandangannya ke arah Raisa. Ia melongak ke atas, ketinggian Raisa terbang ke atas ternyata sangat tinggi, ia bahkan hampir sampai menemui awan.
Geram Vyno melihatnya, ia pun meluruskan tangan kanannya ke arah samping lalu tumbuhan Ivy mulai merambatinya. Ia membuat sebuah tangan yang besar dari rambatan itu dan mengambil tombak yang telah siap di tangan kirinya.
"Wah wah wah, gadis kecil yang malang. Kamu tahu, skill ini adalah skill andalanku. Bersiaplah untuk mati gadis kecil."
"[Spear Breaker: Ivy Shove] level max]
Dengan tangannya yang besar, Vyno mengayunkan tangannya layaknya ketapel. Ayunan tangannya saat melempar itu benar-benar tak terlihat saking kuat kencangnya.
Alhasil tombak itu menerobos angin, sungguh begitu cepat. Raisa yang berada di atas mulai merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia kemudian melihat ke arah musuhnya, tetapi yang ia lihat saat menolehkan muka adalah sebuah tombak runcing berwarna Silver mengkilat.
Menyadari hal itu, Raisa dengan refleks yang cepat langsung menghindar, tetapi sayang tombak tersebut tetap mengenainya.
Kaki kiri Raisa, tepatnya di bagian pahanya lantas tersayat begitu dalam. Untung tidak mengenai titik tengah pahanya, jika saja terkena, dapat dipastikan kaki Raisa akan keluar dari anggota tubuhnya.
Sekarang gelembung helium yang dibuat Raisa telah meletus, mengakibatkan Raisa harus terjatuh dengan ketinggian yang pastinya hampir setinggi awan di langit. Raisa juga tak dapat mengeluarkan skillnya lagi karena serangan tadi, ia merasakan keperihan yang sangat kuat.
Serangan tombak itu ternyata juga memiliki efek rasa terbakar bagi korban yang terkena serangannya. Dan hal itulah yang Raisa alami saat ini.
Raisa terus terjatuh dan terjatuh. Ia hanya bisa menutup matanya menunggu tanah yang keras menyentuhnya.
Srashh...
"APA?!" Vyno terkejut.
Bunga Ivy bercahayakan merahnya habis ditebas oleh Mirai. Aura mananya menjadi lebih tajam dari sebelumnya.
Mirai sendiri, kini terkejut saat melihat Raisa terjatuh dari langit. Ia kemudian menggunakan skill Overspread yang mana ia menyebarkan sihirnya masuk ke dalam tanah dan menumbuhkan bunga nemophilia yang sangat banyak tepat di mana Raisa terjatuh.
Bunga nemophilia bercahayakan biru itu menahan bobot Raisa hingga melekukkan badannya dan memberikan keempukan sederhana dan membatasi damage jatuh Raisa.
Minus 95%, tekanan udara mengacaukan sistem pernapasan, perasaan shock akibat ketinggian jatuh yang tinggi, anemia karena luka yang terlalu lebar, serta efek serangan tombak yang melumpuhkan karena rasa sakit.
Itulah yang membuat Raisa tak sadarkan diri. Meski begitu jiwa dalam wadahnya masihlah menempel.
"Wah wah wah, temanmu itu sungguh malang sekali nasibnya. Hahaha, dia orang pertama yang membuatku bergairah untuk membunuh."
"Kau yang terburuk Vyno!" ucap Mirai dengan dingin. Ia berlari ke arah Raisa, khawatir akan dengannya.
Namun saat Ia telah sampai di sana, ia hanya bisa menatap orang yang menerimamya menjadi rekan menggelepar seperti ikan. Darah menjadi kasur merahnya dengan hiasan bunga yang lebat.
Sontak Mirai pun mengeluarkan Red Potion terakhirnya. Ia sudah tak berpikir akan seberapa besar biaya dan usahanya dalam membuat Red Potion itu. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah Raisa yang harus kembali sembuh.
Dengan sepenuh hati, Mirai pun mulai menuangkan Red Potionnya perlahan ke dalam mulut Raisa. Namun sayang, Red Potion itu sulit untuk masuk ke dalam mulut Raisa.
Mirai mulai panik, tetapi ia masih bisa berpikir dengan jernih. Ia pun menuangkan Red Potion itu ke dalam mulutnya sendiri lalu memasukkannya ke dalam mulut Raisa. Dengan tenaga angin Mirai, akhirnya Raisa dapat meminum Red Potion itu.
Kegelisahan dalam batin Mirai seharusnya telah menghilang, hanya saja karena Raisa sama sekali tak sadarkan diri. Mirai langsung naik pitam. Luka yang telah hilang dalam fisik Raisa pun tak ia perhatikan dengan baik-baik.
Hanya gemuruh petir lah bergojolak dalam pikiran Mirai. Aura membunuhnya lantas menyesakkan napas musuh, mana enchant yang melapisinya seolah menjadi lebih tajam dari pada silet. Ia sudah tak bisa dihentikan.
"Wah wah wah, luar biasa. Ukh, kau sudah sangat berkembang ya."
...°°°°...
Sekedar informasi
1. Level skill.
Yaitu tingkatan kekuatan skill tersebut. Semakin tinggi level skill yang dimiliki, maka semakin tinggi pula dampak atau besar kekuatan dari skill tersebut. Biasanya skill akan terupgrade jika sering digunakan atau dilatih.
Batas skill maksimal biasanya level 10.