
POV Author
"Tamat sudah riwayatmu, bocah ingusan." Sosok itu berjalan mengarah ke Dayshi secara perlahan. Membawa bawahannya yang berisikan seluruh penghuni momon hutan di sini, ia merasa dirinya lah yang memegang kendali.
Di lain sisi Dayshi tak lagi melarikan dirinya. Ia tahu bahwa dirinya juga tak bisa melarikan diri lagi. Aura hutan ini seakan telah memipitnya seperti kurungan yang menyempit.
"Ini adalah satu-satunya jalan." Dayshi dengan perasan naik turun, seakan pasrah hilang harapan. Satu-satunya yang mendorongnya maju adalah ia tak ingin menjadi pecundang.
Sosok bersayap garuda itu berhenti sejenak dalam langkahnya. Ia terkejut.
"Heh, pada akhirnya ia hanya bisa pasrah dan meminta tolong. Memang benar-benar sifat ras human." Seakan geram, sosok tersebut mengenalkan tangannya lalu memancarkan aura yang siap membunuh.
Dayshi tetap berjalan menghampiri musuh. Perlahan keduanya saling melihat siluet bayangan orang yang ingin ditemuinya. Pas ketika mereka telah saling memperlihatkan wujudnya, keduanya saling menatap mata.
Angin di malam itu yang seharusnya dingin, tak bisa dirasakan oleh Dayshi. Suasananya hanyalah suasana penuh kekebalan akan dirinya sendiri. Terpikirkan di benaknya berbagai cara yang bisa ia lakukan dalam kondisi tersebut. Sebenarnya ia sudah berkali-kali masih menginginkan, ia merasa tak ingin mati kembali respawn, yeah jika memang itu benar-benar akan kembali respawn.
Dayshi menegukkan ludah dan siap 'tuk berkata. "kamu—"
"Kamu sudah menyerah ya?" tanya sosok tersebut. Ya, sayang ucapan Dayshi terpotong kan. Namun Dayshi tetap bersikukuh melawan dirinya yang sebenarnya gemetar mati rasa.
Dayshi berekspresi tak wajar, matanya sebelah sipit disertai rautan wajah yang gelisah. Ia pun mulai berkata dalam mimik itu. "Kau, hahaha. Menyerah katamu. Apa HAH!?" Entah ucapan Dayshi menjadi amburawul. Ia malah lebih memperlihatkan tampang yang mengejek.
Sosok itu menjadi bingung. Ia memiringkan kepala seakan-akan bertanya-tanya dalam hatinya bahwa bocah dihadapannya sudah tak waras lagi. Meski begitu sosok itu juga was-was akan ada rencana lain yang dimiliki bocah tersebut.
"Hei!" seru Dayshi dingin. Sorot matanya menjadi tajam. "Kamu ini, pecundang ya?" tanya Dayshi. Napasnya menjadi begitu teratur dan seakan ialah yang memojokkan sosok tersebut.
"Hah? Apa yang kau ucapkan bocah?" sosok tersebut seolah merasa salah mendengar akan ucapan bocah di hadapannya. Mana mungkin anak yang kerjaannya tadi hanyalah menonton dan terkena serangan kecil saja sudah terombang-ambing, kini malah mengejek dirinya yang bahkan bisa saja membunuh bocah tersebut dalam sekejap.
"Apa kau tuli? Aku bilang apa kau pecundang, BRENGSEK!" seru Dayshi, tatapannya seolah mencekam.
"hmhmhhh..." sosok tersebut malah tertawa gumam lalu semakin menjadi. "Huahahah, kau-kau...kau. Dasar manusia, kau benar-benar sudah tidak waras ya."
Sosok tersebut kembali melihat Dayshi dan Dayshi masih dengan mimik yang sama.
"Hei, nak. Kamu tahu, aku benar-benar bisa menghabisi bahkan sebelum kamu melanjutkan napasmu sekarang ini," ancam sosok tersebut.
Dayshi malah tersenyum miring, ia terlihat begitu meremehkan lawan dihadapannya.
"Yeah aku tahu itu. Tapi kau benar-benar pecundang. Berani-beraninya kau melawan bocah manusia sepertiku dengan mengerahkan seluruh momon hutan ini." Dayshi mengangkat kedua tangannya ke samping dada, khasnya dengan telapak membuka seolah mengatakan 'ya begitu' tampang merendahkan lawannya.
"Jangan berpura-pura bego. Aura mereka sangat terasa jelas padaku. Apa kau tak bisa melewan bocah manusia sepertiku sendirian? Atau jangan-jangan kamu takut, khahaha .... DASAR PECUNDANG."
"Berengsek nih bocah." sosok itu bertambah geram, perasaannya yang ingin segera membunuh tetapi tertahan karena harga dirinya membuat udara di sekitarnya menjadi tertekan.
Dayshi sendiri terlihat begitu baik-baik saja akan hal tersebut, tetapi yang sebenarnya Dayshi lakukan hanyalah menahan dirinya dari segala bentuk tekanan.
"Kenapa, ucapanku benar kan?" Dayshi kembali memanas-manasi sosok lawannya sembari berjalan pelan seolah memutari lawannya.
"Baiklah, aku akan menghabisimu langsung dari tanganku."
"Hahaha, ayo cepat kemari, burung kecil. Hehehe," ucap Dayshi tertawa kecil. Tangannya digoyang-goyangkan seperti ia mengatakan, ayo cepat kemari.
Kesal, lawan itu langsung menerjang menuju Dayshi. Seolah terancana, tangan yang sedari tadi tersembunyi di balik punggungnya tiba-tiba keluar dan menghempaskan debu tanah ke mata lawannya.
Lawan terkejut dan terpaksa memberhentikan terjangannya. Insting dari salah satu sayapnya ternyata sigap menghadang debu itu. Sayap yang ia miliki menghadang pandangannya sendiri. Ketika ia harus hendak mengerakkan sayap tangannya. Dayshi langsung sergap mengambil lalu menyerang lawan dengan ranting kayu yang ia telah targetkan sedari tadi.
"Bulumu tampaknya lumayan kuat tapi tidak untuk matamu."
Dayshi mengahantamkan ranting kayu tersebut. Cukup membuat goresan pada kelopak matanya yang sebelumnya ia merespon cepat untuk berkedip. Di saat itu juga, Dayshi langsung melarikan diri kembali, menelusuri hutan belantara. Tanjakan demi tanjakan terus terasa, bebatuan-bebatuan besar mulai banyak menghadang seiring Dayshi memasuki pedalaman hutan.
Dayshi mulai merasa ganjal. Momon-momon yang ia terobosan pastilah momon jinak yang memiliki karakteristik lebih lemah daripada yang lainnya. Namun sepertinya momon-momon itulah yang sengaja menggiringnya lebih dalam ke hutan.
Beberapa menit kemudian Dayshi mulai merasa penat. Ketika Dayshi melihat ke belakang, ia terkejut. Bagaimana bisa ia berada di posisi yang tinggi sedangkan dibelakangnya sudah mulai terlihat curam. Terpeleset sedikit saja sudah dapat menghabiskan health point dirinya.
"Tambah menanjak." Dayshi kembali melihat arah jalannya.
Berisikan semak terdengar. Sosok itu menerobos hutan dengan sayapnya, ia ke atas lalu jatuh menubruk Dayshi hingga terbentur.
"Habislah sudah, hahaha."
"Yeah, kau akan benar-benar habis di sini."
"Hahaha," Dayshi tertawa pasrah. "Hei kau tau tidak, ini sudah kedua kalinya aku bertemu dengan manusia yang memiliki wujud seperti hewan. Sebenarnya kalian itu apa sih? Suka banget menghambat jalan kami," ucap Dayshi menggerutu.
"Kedua kalinya? Hei, siapa yang pertama kali kau lihat."
"Hah?" Dayshi sekejap mencerna apa yang sosok tersebut katakan. Ia berpikir, apakah sosok orang yang sepertinya termasuk ras yang langka.
"Apa yang kau katakan?"
"Kamu tahu, ras kami bukanlah ras yang akan menonjolkan dirinya kepada manusia rendahan seperti kalian. Aku penasaran, wilayah mana lagi yang kau ganggu hingga ia mendatangimu."sosok itu menekan dahi Dayshi dengan telunjuknya.
"Ukh, aku tak pernah mengganggu-ganggu wilayah lain."
"Terus bagaimana dengan wilayahku ini hah? Padahal aku sudah cukup renggang membiarkan beberapa manusia lalu lalang di sini. Namun, yeah itu memang tak bisa berlangsung lama."
"a-ah~"
"Hei, aku tak terlalu suka berbasa-basi. Cepat katakan, siapa yang kau ganggu itu." Dia menekan lagi dahi Dayshi.
Dayshi tak dapat meleluasakan gerak tubuhnya. Pasalnya sosok itu menduduki dirinya. "sudah kubilang—"
Tak mau mendapatkan banyak alasan, sosok tersebut terus menekan Dayshi.