
Segalanya butuh uang tapi uang bukanlah segalanya. Keinginan seseorang untuk bahagia berbeda-beda, mereka memiliki takarnya masing-masing. Ya secara general kebahagiaan itu berarti sukses yang mana bisa dilihat maupun disentuh.
Namun, coba lihat orang di luar sana. Menurutmu sukses itu seperti apa sih? Ada orang yang berhasil memiliki pekerjaan dengan gaji yang besar, tetapi nyatanya pekerjaan orang tersebut tidak sesuai dengan passionnya. Dan ya, dia merasa terbebani dan berpikir bahwa dirinya tidak bahagia.
Di sisi lain ada orang yang bahagia hanya karena hidup bercukupan. Mendapatkan makanan dua kali sehari pun dia sudah sangat bersyukur.
Hanya saja ada seorang anak yang selalu bertanya-tanya dalam benaknya; Jika seseorang kaya, memiliki kedua orang tua yang menyayanginya, ingin mendapatkan uang dari pekerjaan sendiripun dia bisa, memiliki bakat dan keterampilan di atas rata-rata, pintar, banyak teman, dan semuanya terasa begitu lancar. Apakah dia bahagia?
Pasti bahagia sekali dong.
Cuma anehnya ada seseorang yang disebutkan dengan ciri-ciri itu malah merasa dirinya tidak bahagia. Lebih tepatnya dia merasa penasaran sekali dengan arti kebahagiaan yang sebenar-benarnya.
"Pa, Bu, aku merasa bahagia sekali kan?"
Ya, itu adalah anak yang aku sebutkan sebelumnya sendiri. Seorang anak laki-laki yang masih berusia 11 tahun mempertanyakannya dengan mata berbinar-binar. Seperti biasanya, sebelum orang tuanya menjawab orang tuanya mengelus kepalanya.
"Selama ini aku merasa senang sekali, segala yang kuinginkan selalu papa dan ibu berikan. Aku mau mainan, hp, dan barang-barang lain selalu saja ada. Aku juga mau diuruskan soal tampilan sama orang yang mau main bersamaku pun juga ada. Tapi kenapa ya pa, bu, aku selalu merasa ada yang masih kurang gitu?"
Papanya tersenyum. Ia memukul pundak anaknya pelan. Tetapi, anak tersebut sama sekali tak mengerti apa yang papanya pikirkan.
"Riko, sebenarnya kamu sudah bahagia sejak dulu. Hanya saja karena keinginanmu cepat terwujud kamu jadi tak dapat benar-benar merasakan kebahagiaan itu."
Apa hubungannya dengan keinginan yang cepat terwujud?
Anak yang bernama Riko bertanya-tanya dalam benaknya itu.
"Jadi bahagia itu artinya kita harus menunggu ya, pa?"
"Ada benarnya juga, cuman jika kamu ingin benar-benar bahagia Ko, kamu harus memiliki keinginan, impian. Apa yang mau kamu raih dengan usahamu sendiri. Kau harus memiliki itu Riko."
Papanya serius sekali menjelaskan kepada anaknya dengan baik-baik.
"Impian ... Ya."
Apa dengan memiliki impian Riko bisa bahagia. Riko bertanya-tanya dalam hatinya.
"Apa itu impian? Oh iya, impian adalah apa yang mau aku raih dengan usahaku sendiri. Jadi apa yang harus kuusahakan?"
Sejak saat itu Riko mulai mencari apa yang harus Riko impikan. Segala halnya aku lalui dan meraih banyak prestasi. Namun lama setelah itu aku mulai merasa risih sendiri. Aku masih tak tahu impian apa yang harus aku cari, malahan mungkin mencari impian itu sendiri yang jadi tujuanku.
Masalahnya orang-orang yang ada di sekitar Riko terasa begitu mengganggunya. Orang-orang yang ingin berteman dengannya serasa tak ada yang tulus di mata Rikk. Malas rasanya baginya untuk memikirkan teman karena teman yang di sekitarnya seperti seorang penjilat saja.
Teman-teman Riko datang karena merasa untung di dekatnya sampai-sampai dia sendiri merasa bahwa dia hanya dimanfaatkan saja. Namun terlepas dari semua itu Riko kembali berpikir bahwasanya kehidupan Sosial itu memang hanyalah hubungan timbal balik.
Selama orang di sekitar Riko berguna maka mereka akan diperlukan dan sebaliknya begitupun dengan dirinya kepada mereka. Jika mereka memang sudah tidak berguna lebih baik ditinggalkan saja daripada mereka hanya menjadi beban pikirannya. Itulah yang terpikir di kepala Riko kecil.
Secara tak langsung Riko malah menjadi orang yang haus akan perhatian. Apapun yang Riko kerjakan sekarang hanyalah untuk mencari perhatian.
"Apakah ini yang dinamakan impian?"
****
"Perhatian - perhatian - perhatian! Lihatlah diriku, lihat aku. Kalian jauh lebih rendah dariku. Ayo lihat aku, bukankah aku jenius.
"Huahahah, ternyata ini yang dinamakan kebahagiaan ya!"
Dada Riko berdegup begitu kencang. Di umur 16 tahun Riko sudah tak dapat mengontrol kesenangannya itu. Raut wajah dia sudah tak dapat ia kendalikan juga saat sendiri.
"Tenanglah ko, tenang. Jaga image-mu (kesan) kau harus bisa mengendalikan dirimu agar bisa mengendalikan segalanya ko," ucap Riko kepada dirinya sendiri.
Star syndrome, apakah itu yang mulai Riko rasakan? Riko tahu sendiri akan hal itu. Namun ia masih bisa menahan dirinya, lebih tepatnya ia lebih ingin mengendalikan segala sesuatu bukan sekedar kekaguman dan pujian dari orang lain.
"Tak diragukan lagi kau memang yang terbaik nak."
"Aku .... Terbaik? "
Senyum sinis Riko benar-benar tak bisa ia tahan, ia ingin tertawa keras di dalam ruangan papanya. Degup jantung Riko terasa lebih berbeda dari biasanya.
Bukankah Riko sangat menginginkan perhatian. Riko ingin pujian dan membuat orang lain ketergantungan kepadanya. Tapi, ada hal aneh yang ia rasakan.
Suara napas Riko naik turun. Ayahnya menjadi khawatir. Ia memegang pundak anaknya itu dan melihat wajahnya.
Riko melihat jelas wajah terkejut dari papanya itu. Spontan Riko juga terkejut. Kenapa papanya melihat dirinya seperti itu, papanya melihat anaknya seakan melihat orang lain yang tak ia kenal. Riko bergegas beranjak keluar.
"Riko! Apa kau baik-baik saja."
Samar-samar sekali Riko mendengar suara papanya. Riko berlari keluar dari rumah. Surat tawaran yang kuterima langsung ia sobek tanpa berpikir panjang lagi.
Awan begitu gelap menyelimuti bumi. Angin berhembus begitu kencang. Badai hujan akan segera tiba. Sangat begitu dalam menjiwai dengan apa yang Riko rasakan.
Perasaan asing yang lebih dari sebelumnya. Apa itu sebenarnya perhatian? Bukankah Riko sudah diberkahi dengan segalanya. Untuk apa lagi ia berusaha mendapatkan yang namanya perhatian. Tanpa ia berusaha pun orang lain juga akan memujinya bukan? Ayahnya akan terus memperhatikannya.
"Apa yang ayah pikirkan."
Langkah lari Riko semakin lama semakin melambat. Cuaca yang dingin mulai merebak ke sekujur tubuhnya meski kemampuan rasa dalam kulitnya sudah tak bisa berfungsi dengan baik karena pikiran dia hanya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.
"Dia adalah ayahku, sudah sewajarnya jika orang tua memberikan perhatian yang lebih kepada anaknya daripada orang lain. Tugas orang tua adalah mendidik dan memberikan yang terbaik untuk perkembangan anaknya. "
Dalam undang-undang perlindungan anakpun sudah sangat ditegaskan dalam negeri ini: Mengasuh, memelihara, melindungi, dan mendidik anak; Menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, minat, dan bakatnya; Mencegah anak menikah pada usia dini; Memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti anak.
Jadi untuk apa lagi Riko harus terlalu memikirkan persoalan perhatian dari ayahnya sendiri. Ini sudah menjadi hal yang lumrah bagi ayahnya bukan.
Air mulai merintik, perlahan mereka membasahi seluruh badan Riko. Riko mulai berjalan begitu lambat.
"Kenapa aku terus memikirkannya. Wajah terkejut dari ayahku benar-benar membayang-bayang isi kepalaku."
Riko menarik napas berharap pikirannya segera teralih.
Rasa dingin mulai terasa. Hembusan napas RIko bahkan mengeluarkan embun yang dapat terlihat karena cahaya lampu jalan. Begitu sepi tempat ini tanpa adanya pengendara yang keluar. Mana mungkin dicuaca hujan semakin lebat ditambah hari bertambah gelap mereka akan keluar tanpa tujuan yang jelas. Ya, pengecualian besar terhadap Riko.
"Andai saja aku dapat mendengar isi hati seseorang secara langsung dan mengetahui tindak yang akan mereka putuskan. Apakah dengan itu aku jadi lebih bisa mengendalikan seseorang. Mempergunakan mereka secara tepat hingga aku tak harus lagi bersusah payah seperti ini. "
Riko memegang dengup jantungnya. Ia Berpikir, untuk apa juga iaharus lari seperti ini. Ia merasa sangat kekanak-kanakan sekali.
Riko merasa berat matanya untuk membuka lebar, ia malas sekali mengerutkan kulitnya di wajah. Malas berekspresi untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan. Tanpa adanya ekspresi, orang lain akan menganggap diri ia yang begitu datar.
"Huh ..."
Cukup memutarbalikkan logika saja.
Suara hujan semakin berisik. Hawa di sekitar Riko seolah ada yang berubah. Riko memiliki firasat yang cukup respontif. Perasaan yang tidak nyaman itu membuat degup jantungnya lebih terdengar jelas di telinganya.
"Hafh,"
Angin semakin kencang. Riko menutup matanya, ianagak ragu-ragu untuk melihat ke belakang. Ia merasa ada orang yang mengikutinya.
Seperti dugaannya, saat Riko membalikkan badan, orang dengan badan yang besar dan berotot berdiri diam memandanginya.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Riko.