
Dan, aku secara refleks menutup kedua netra agar terjaga dari gelombang kejut yang berupa angin kebiruan. Warna itu menandakan ketebalannya murni tanpa debu dan kotoran.
"Aaaaakh? " Pekikan suaraku keluar hingga tenggorokan terasa perih dan kering.
Jantung berdebar begitu kencang, keringat dingin mengucur deras membasahi seluruh tubuh dan pakaian. Perasaan lega saat membuka mata pun menjadi kesan seperti lepas dari kejaran makhluk buas.
"Dayshi! Hoi Dayshi. Kamu tidak apa-apa kah?" ucapnya dengan suara yang agak berat, tetapi masih terkesan sangat remaja. Sepertinya sumber suara ini sedang memegang bahuku sambil menggoyangkan aku. Apakah ia berharap agar diriku segera sadar?
Aakh, pusing. Aku bangkit lalu duduk dengan tatapan yang kosong.
Sebenarnya mimpi apa itu tadi? Aku bermimpi dalam mimpi dan mimpi nyata dalam mimpi yang terasa nyata. Ah, aku tak bisa mencernanya dengan baik.
"Kamu tidak apa-apa, Dayshi?" Rasa berat yang ada di bahuku terasa ringan. Oh, dia menarik tangannya dari bahuku.
Aku tak menjawab dan masih menatapnya dengan kosong. Dia pun melanjutkan perkataannya.
"Sepertinya kamu bermimpi buruk."
Wajah pudar yang mirip denganku, siapa dia? Pandangan muka pudar itu menjadi jelas. Oh kukira siapa, yang ada di hadapanku ini .... Lah kenapa jadi mukanya Resha?
Aku menghela dan menghembuskan napas sesaat.
"Mimpi itu terasa begitu nyata," ucapku sembari berusaha mengeluarkan serak tenggorokan agar dapat kembali berbicara dengan nyaman.
Resha menghembuskan napas lega. "Mimpi apa yang membuatmu seperti ini?"
"Entahlah. Tapi mimpi itu luar biasa menakjubkan."
"Mantan pengawas. Eh, Dayshi. Kau membuatku semakin penasaran."
Mantan pengawas, mantan pengawas. Resha ini sudah jadi kebiasaan ya.
Aku menatapnya dengan tidak senang. "Kalau penasaran, masuk ajah dalam mim ...."
Dalam mimpi? Loh, tunggu sebentar. Masa bisa bermimpi dalam mimpi. Aku seperti di film-film saja, haha.
"Dayshi." Panggil Resha.
"Eh, iya apa?"
"Kamu ... lagi punya gangguan kejiwaan yah?"
"Apa maksudmu!"
"Soalnya sedari tadi kamu bengong mulu sih."
"Ah masa," ucapku berpura-pura tidak tahu sembari berdiri lalu mencari handuk untuk bergegas membersihkan diri.
"Eh, pakaian ini akan kita apakan?" tanyaku sambil mengeluarkan blazer hitam.
"kita diberikan kan? Berarti kita pakai dong."
"Maksudmu ambil ajah gitu."
"Iyalah."
Dengan tanggapan mengohkan, aku pun pergi keluar mencari tempat mandi dengan handuk sebagai penutupku.
...➕➖✖️➗...
Perkiraan pukul delapan pagi, kami semua berkumpul di luar tempat inap untuk membicarakan pencarian Pak Opin.
Raisa dengan rambutnya yang diikat ke belakang, memimpin pembicaraan.
"Jadi, kita akan berpencar untuk mencari informasi di desa Rose ini. Bagi yang sudah mendapatkan informasi, maka berikan sebuah kode udara."
"Bagaimana caranya memberikan kode udara?" tanya Mirai.
Sambil berjongkok di tepi jalan, aku mengajukan pendapat. "Bagaimana kalau kita menggunakan kembang api."
"Kembang api. Bisa, tapi di mana kita mendapatkannya. Setahuku di sekitar sini tidak ada yang menjualnya," ucap Mirai.
"Aku punya dinamit, ini bisa..."
"Gak bisa. Kalau mau buat keributan, sana repot sendiri." Raisa memotong perkataan Resha.
"Tapi ...."
"Jadi, dengar baik-baik. Soal kembang api sebagai kode, Raisa sudah punya." Raisa mengeluarkan kembang api yang ia katakan dari tas besarnya lalu membagikannya.
"Ini. Jika kalian telah mengetahui letak keberadaan pak Opin, segeralah menggunakannya."
Aku berpikir kembali dan merasa ada yang kurang. Jika misalkan nanti aku mendapatkan petunjuk keberadaan pak Opin, berarti mercon ini langsung dipakai.
Terus, bagaimana kalau yang lain juga mendapatkan petunjuk. Dan, buruknya lagi jika petunjuk itu berbeda-beda pasti bakal sulit.
"Bagaimana kalau kita semua mendapatkan petunjuk yang berbeda-beda. Menurutku, lebih baik kita mengumpulkan informasi lalu kembali berkumpul di satu tempat." Aku mengajukan pendapat.
"Kalau petunjuknya berbeda-beda. Yaa, nanti kita diskusikan lagi, " jawab Resha.
"Ok bisa, tetapi Raisa bilang kalau kita sudah dapat petunjuk maka segera pakai kembang apinya kan?"
"iya juga sih. Artinya hanya satu informasi yang akan kita dapat, dan informasi itu pastinya kayak gitu kan."
"Iya juga yah, pasti nanti bakal gitu." Mirai tak ikut diam.
"Oh gitu kah, tetapi bukankah kita harus segera mencari pak Opin." Tanya Raisa yang sebelumnya tampak berpikir keras lalu berpura-pura untuk mengerti.
Raisa hari ini terlihat terburu-buru. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Bukannya kemarin dia sendiri yang menyuruhku untuk jangan terburu-buru.
Aku tersenyum sinis, merasa Raisa memakan omongannya sendiri. "Benar. Namun, kalau kita terburu-buru nantinya malah salah langkah dan akan semakin lama kita menemukan pak Opin."
Pada akhirnya Raisa mengetahui maksudku dan mendecih tidak senang. "Baiklah. Batasnya sampai matahari tepat di tengah langit. Kita berkumpul di rumah Lily yang berada di Utara dekat perbatasan untuk keluar dari desa Rose."
"Jangan sia-siakan waktumu. Gunakan sebaik mungkin untuk mencari petunjuk!" seru Raisa seperti seorang pemimpin tentara loreng.
Dengan serempak kami mengatakan "Oke" lalu bubar bagaikan anak ayam yang diganggu.
...➕➖✖️➗...
Seperti janji, kami semua seharusnya berkumpul kembali di tengah matahari terik ini. Namun, hanya aku yang terlebih dahulu datang ke rumah Lily.
Si tuan rumah saat ini menyiapkan teh mawar setelah aku memberitahu maksud kedatanganku kemari.
"Silahkan diminum." Lily menempatkan teko serta gelas di hadapanku.
"Oh iya, Lily pernah lihat tidak? Rekan kami yang tubuhnya besar dan lumayan berotot, terus di bagian kepalanya dia tidak punya rambut sehelai pun."
"Apakah yang kamu maksud adalah pak Opin?" tanya Lily sembari duduk bertatap muka denganku.
"I, iya. Dari mana kamu tahu namanya?" tanyaku. Kupikir sedari awal kami masuk ke desa Rose, kami sama sekali belum pernah memperkenalkan diri. Pertemuan kami juga kurasa sangat singkat, ia hanya memandu kami dalam satu malam.
"Dari rekanku yang namanya Raisa. Kemarin aku bertemu dengannya dan ia juga bertanya hal yang sama dengan kamu."
Oh iya, pantas Raisa mengetahui rumah Lily.
"Jadi, Lily tidak tahu keberadaan pak Opin?"
"Tau. Kemarin selepas Raisa menanyakannya, aku bertanya kembali kepada warga sekitar. Mereka berkata...."
Brak, bunyi gebrakan pintu membuat kami kaget dan refleks kami langsung memperhatikannya. Rupanya ia adalah Resha, yang tengah dalam keadaan terengah-engah.
"apa kamu tidak apa-apa." Lily dengan cepat mengambil sapu tangan yang terletak di lemari tak jauh dari tempatku duduk.
"Kamu tampak kelelahan. Ini, usaplah keringatmu terlebih dahulu," ujar Lily sembari memberikan sapu tangan merah kepada Resha.
Resha yang tadinya masih membungkuk, kini dengan tegap mengambil sapu tangan tersebut lalu berterima kasih. Ia kemudian membersihkan seluruh keringat yang bercucuran dari wajahnya.
"Tunggu sebentar ya, ada yang mau kuambil."
"oh iya. Maaf nih kalau merepotkan."
"iya, tidak apa-apa kok. Malah aku senang bisa membantu kalian," ucap Lily yang kemudian masuk ke salah satu ruangan yang ada di rumahnya.
"Kamu kenapa?" tanyaku. Resha datang lalu duduk di sebelahku.
"Kukira tadi aku terlambat. Makanya aku lari, terus kesandung kaki sendiri tepat di depan pintu rumah ini."
"Lah, kalau dapat petunjuk yang banyak kan lebih bagus."
"haha, iya juga. Padahal aku buru-buru cuma gara-gara tersesat."
"Maksudmu apa?"
"Aku lama cari rumah ini. Jadi pas ketemu, aku langsung lari ke sini."
"Ooh, jadi kamu kebanyakan nanya 'di mana tempat ini' gitu."
"Kalian berdua cepat juga datangnya."
Suara gadis yang terdengar seperti anak kecil terdengar. Ya, itu Raisa yang baru datang bersama dengan Mirai. Ia kemudian masuk dan ikut duduk bergabung dengan kami.
"Iyalaah~, namanya juga Resha." Resha menyombongkan diri.
"A***y, padahal tadi mirip anjing kelaparan," ucapku dengan nada yang mengejek.
"Oh. Ngomong-ngomong di mana Lily."
"Di dalam, katanya 'ada yang mau di ambil'," sahut Resha yang tak lama kemudian Lily keluar dengan membawa kue kering.
"Maaf, Raisa malah merepotkanmu," ucap Raisa sambil membantu Lily meletakkan kue kering tersebut ke meja.
"Tidak apa-apa, malah aku senang bisa membantu kalian."
"Ok, karena semuanya telah berkumpul. Ayo kita mulai, kumpulkan semuanya." Dengan nada yang dingin, Raisa memimpin pengeksekusian informasi.
...~Another POV~...
Ruangan yang begitu gelap nan mencekam, tak ada suara lain kecuali suara kedua orang yang sedang merencanakan sesuatu.
"Gimana rencananya, apakah berjalan dengan mulus?" tanya salah seorang yang ada di ruangan gelap itu.
"Ya tuanku. Semuanya berjalan dengan mulus." Orang yang ditanya pun menjawabnya dengan penuh keyakinan.
"Huahaha, baguslah kalau begitu. Sekarang, bagaimana dengan dia?"
"Sayang sekali. Dia sangat keras kepala, tapi tenang saja tuanku. Akan kupastikan ia membuka mulutnya." Si penjawab kemudian bersikap siap dengan tangannya yang hormat tertaruhdi ujung alisnya.
"Hmm, begitu yah. Baiklah kalau benar begitu, gunakan segala cara untuk membuka mulutnya." Sang Penanya yang bersikap seakan memimpin itu merasa geram.
Si Penjawab merasa takut meski tetap di luarnya ia terus bersikap tak gentar. Ia pun menjawab dengan tegas.
"Siap tuanku." Ia menundukkan kepalanya lalu pergi dari hadapan si penanya.
Si Penanya kemudian mengeluarkan napasnya perlahan sesaat setelah si Penjawab itu pergi. Mata dari si penanya itu menjadi tajam dan ia berseringai.
"Semoga dia tidak berkhianat."
...••••...
Sekedar informasi
*