
"Apa yang kamu lakukan sendirian di sini?" ucapnya. Ia sepertinya masih berusia 12 tahun. Rambutnya pendek sebahu dengan poni yang datar.
Aku menyeka air mataku yang berhasil lolos mengalir di pipiku. Bahuku naik kemudian turun. Lega dada ini melihat ada seseorang yang menemaniku.
Namun aku juga penasaran, mengapa ia berjalan-jalan sendiri di tengah kelengangan malam tanpa ada seseorang yang mendampinginya. Bukankah usia dia juga tergolong anak-anak?
"Anu," ucapku saat sadar melihat ia beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dariku. Ia terhenti dan memperhatikanku.
"Boleh aku ikut dengan kakak," ucapku, pandanganku ke bawah. Aku sedikit malu menatap matanya.
"Seterahmu," ucapnya singkat.
Dengan senang hati aku pun mengikutinya, tetapi tak sampai satu menit ia berhenti. Kita berada di tengah-tengah padang bunga nemophilia. Kirana rembulan semakin tampak. Dengan jelas terlihatlah kawanan Triangle datang dari berbagai arah, padang bunga tempat ini seakan bergerak.
"He-hei bagaimana ini. Kita dikurumuni," ujarku melihat seluruh Momon Triangle itu. Tombak yang sedari tadi kugenggam, kuangkat dengan posisi kuda-kuda sembarang. Tombak miring tersiap di depan dadaku.
"[Lotus] level 1"
Tenaga dan aliran manaku terasa meningkat di area kedua pergelangan tanganku.
"Levelnya tinggi sekali kak, 15-25. Apa kita bisa lolos di sini?" Aku menoleh ke kakak perempuan itu. Kuperhatikan statusnya di atas kepala, dan aku terperanjat kaget. Dia, seorang gadis 12 tahun, sudah memiliki level 26.
Kata kakekku, usia anak-anak (1-12 tahun) itu hanya bisa sampai di level 20. Dan itu pun sangat jarang ada anak-anak yang mencapainya, palingan di usia 13 tahun baru ada yang mencapai level 20.
Akan tetapi, ada satu lagi yang menjadi masalah. Peningkatan poin pengalaman apa yang sering kakak ini latih? Poin pengalaman (EXP) berfungsi untuk menaikkan level, jika ia sering melatih dirinya untuk belajar persoalan akademis, maka poin pengalamannya juga akan semakin bertambah seiring ia menyelesaikan tugasnya dalam memahami.
Dan, poin pengalamannya akan meningkat drastis jika ia menantang dirinya untuk terus melawan tugas-tugas secara langsung, dalam hal ini jika ia terus-terusan mendapatkan skor tinggi serta dapat memahami tugas yang ia kerjakan.
Namun, jika misalkan poin pengalamannya adalah karena sering melatih dirinya dalam hal kemampuan sihir atau seni bela diri, mungkin kita bisa selamat. Melihat kakak ini tenang saja, aku yakin pasti poin pengalaman yang ia pakai untuk meningkatkan level adalah poin pengalaman bertarung.
Melihat levelnya yang tinggi dari umur seusianya, pasti ia sering melatih dirinya dengan melawan Momon secara langsung. Kalau perkiraanku ini salah, maka sekarang kami akan seperti masuk ke dalam sangkar harimau.
Tapi, bukannya itu terlihat mustahil ya. Selama ini anak-anak seusia kakak itu tak ada yang pernah mencapai level 16 karena melatih kemampuan sihir atau bela dirinya.
"Ti-tidak?!"
"[Lucky puller] level 2"
Kakak itu memegang bahuku, semua serangan Momon berbentuk segitiga berbulu itu tak ada yang mengenai kami.
Tangannya yang berada di bahuku diturunkan dan menyenggol telapak tanganku.
"pegang tanganku," ucapnya.
Aku memegang tangannya. Terus, ia melihat tombak yang aku bawa, lalu melirik pergelanganku.
"Hajar momon itu," ucapnya dengan nada yang masih begitu datar.
Salah satu momon Triangle yang melompat-lompat di sekitarku pun aku pukul dengan sekali ayunan.
"Huwoo, kok bisa?"
Aku terkejut sekaligus senang karena dapat membunuh Momon itu hanya dalam sekali serangan. Levelku yang masih di angka tiga seketika naik ke angka empat.
"Sini tombakmu."
"Eh,"
Ia langsung mengambil tombak kayu kecilku itu tanpa aku serahkan. Dengan menarik-narik aku, ia memukul semua Momon triangle itu seorang diri.
***
Malam semakin dingin, kakak itu sekarang sudah mencapai level 28.
"Kakak pelit," ucapku.
Ia tak menggubrisku. Malahan saat semua Momon Triangle itu habis dibunuhnya, ia membuat ancang-ancang pertahanan diri. Seolah ia sedang menunggu kedatangan lawan yang akan menyerangnya.
"Aduh, apa-apaan sih kakak itu," ucapku sembari memegang badanku yang kesakitan.
Bunga-bunga nemophilia yang tadinya bergerak bersama Momon Triangle, kini terlihat berkumpul. Sebuah Momon Triangle yang tiga kali lebih besar muncul dengan levelnya yang tertera angka 30. Dia adalah boss Momon Triangle.
Keduanya pun saling berhadapan, dan saling menyerang.
***
"He-hebat, kakak benar-benar menghabisi Boss Momon itu. Wuah, level kakak sudah naik ke level 29. Ajarin juga dong aku kak!" seruku dengan riangnya.
Lagi-lagi ia tak menanggapi ucapanku. Ia hanya memperhatikanku dengan wajah datarnya lalu menunjuk ke belakangnya dengan menyerongkan dirinya terlebih dahulu.
"Pergilah."
"Ti-tidak mau. Nanti—"
"Semua Momon kecil itu, sudah aku habisi. Kamu tinggal berjalan lurus, itu takkan lama ke tempat pulangmu. pergilah," ucapnya lagi dengan tangannya yang masih terpampang menunjuk arah jalan pulang ke desa Orchid.
Suaranya yang begitu dingin malah membuatku menjadi sesak, padahal aku sudah mengagumi dirinya.
"Kakak mengusirku? Kakak tidak suka ya sama aku?" kataku dengan kepala yang tertunduk seakan kecewa akan sesuatu.
Terdengar, kakak itu menggaruk-garuk kepalanya. Dengan wajah kaku ia pun memegang bahuku. Aku menaikkan daguku untuk melihatnya.
"Aku mau pergi .... ke hutan."
"Ikut," ucapku dengan memasang wajah yang kembali ceria. Aku begitu ingin melihat kakak itu mengalahkan Momon.
Namun, kakak itu malah menggeleng-gelengkan kepala, tanda melarangku.
"Pokoknya aku ikut!" aku masih tetap keras kepala mengikuti keegoisanku sendiri.
"Ck, seterahmu lah," ujarnya terdengar kesal. Aku sendiri menjadi begitu bersemangat.
"Hei, aku tak akan menjagamu. Kamu bisa saja mati nanti," katanya sembari melirikku lirih dan terkesan begitu dingin.
Awalnya aku menjadi ciut. Namun aku teringat dengan si kakek, yang mungkin masih berada di hutan.
"Ti-tidak apa-apa."
"Hah, dasar anak kecil," gumam dia sambil berjalan ke tempat di mana aku tadi muncul. Ia benar-benar tak mempedulikanku lagi.
***
Di dalam hutan yang gelap, dengan suara bising Momon yang aktif di malam hari. Kakak itu berlari mengendap-ngendap, ia memburu Momon-Momon yang levelnya tiga kali di atas sampai tiga kali di bawah levelnya.
"Tunggu," aku berlari kecil mengejarnya. Hingga ku lihat ia lagi-lagi melawan Boss Momon. Namun Boss Momon itu terlihat tidak asing di mataku. Cahaya, putih, mata merah, iya, itu adalah White Forest Rabbit.
Sekali serang, Momon itu melesat seperti banteng yang diberikan bendera merah. Pohon yang dikenainya lantas bergetar. Namun, di hadapan Kakak itu, ia tak pernah mengenainya. Bahkan kakak itu tak pernah menggerakkan badannya sama sekali untuk menghindari serangan kelinci hutan putih itu.
Yeah, sampai pada akhirnya kelinci itu keletihan sendiri. Aku yang melihatnya, lantas menertawakan kelinci itu. Bagaimana tidak, kelinci itu menjulurkan lidahnya dengan panjang, bahkan telinganya yang semulanya berdiri tegak, menjadi lesu tak bertenaga.
"Baru tahu aku, kelinci itu imut juga, hahaha," tawaku memujinya dengan nada ledekan.
"Hei!" seru si kakak kulkas dengan iris hitamnya membulat lebar memperingatiku.
White Forest Rabbit itu ternyata geram saat mengetahui keberadaanku. Dengan loncatannya ia pun melesat ke arahku.
"White Forest Rabbit yang malang, kamu pasti tak akan mengenaiku," ujarku dengan percaya diri. Aku berpikir bahwa serangan miliknya akan tertangkal seperti si kakak yang kukagumi.
"Bodoh! .... Ugh,"
Yeah, karena kenekatan bodohku itu lah yang membuat kakak yang kukagumi terpelanting menghadang serangan kelinci itu. Ia terlempar ke arahku, dan aku pun tertindih dengan tumbukan yang cukup keras. Membuat kepala bagian belakangku terbentur ke tanah hingga aku kehilangan kesadaran.