My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
10.10



"Jangan kira aku tak akan bisa melewan ini Sky. Aku sudah mengenalmu sejak lama.


"Seluruh lingkup di sekitar adalah genggamanku, benih yang tak terlihat, tersebarlah, ikuti kendaliku. 【Scattered thorn seeds】. "


Hoji menapak tangannya ke tanah lalu mengayunkan tangannya di udara disertai telapak tangan jari-jemarinya mengepal seolah menggenggam.


Banyaknya duri yang besar lantas keluar dari bawah tanah hampir di segala penjuru pandangan Hoji, terkecuali di tempat Hoji berdiri sendiri.


Sky lantas meloncat untuk menghindari duri tersebut. Akan tetapi waktu Hoji membentangkan tangannya seketika itu bola duri-duri yang besar berterbangan muncul dari segala arah.


Duri tersebut berhasil menusuk bagian punggung perutnya. Sky terkejut bukan kepalang. Ia membelalakkan mata memperhatikan duri yang muncul tiba-tiba di perutnya.


Duri tersebut menusuk dari belakang.


Darah keluar dari mulut Sky. Saraf kepalanya terlihat bukan main kesalnya.


"HOJIII!!!"


Sky menggunakan kemampuannya ia menghilang dan berubah menjadi kelopak bunga yang berterbangan.


Kelopak bunga tersebut tersebar di langit-langit lalu tiba-tiba berputar memadai ke sekitar area Hoji.


Sky lantas muncul lalu menyerang Hoji dengan pedangnya. Hoji menangkis serangan tersebut. Sky tetap melancarkan serangannya berkali-kali tanpa mundur sekalipun. Hoji terus menahannya.


Hempasan terakhir Sky lancarkan dan memberikan efek ledakan yang cukup berat kepada Hoji. Ledakan itu menimbulkan pula efek kelopak bunga yang terhempas, ia membuat Hoji cukup terlempar ke belakang. Menguras Health poinnya sampai 45%.


Aliran darah Sky akhirnya telah berhenti akibat Sky memanaskan lukanya sendiri. Sky memegang menutupi luka tusukan tersebut.


"Kau pernah berkata waktu dijadikan sebagai Flower Country Knight kau ingin melindungi tempat ini, kau ingin berdiri demi orang lain, dan menciptakan keadilan secara utuh. Apakah ini yang kau maksud Hoji."


Hoji cukup berat untuk mengangkat kepalanya. Ia berusaha memperhatikan Sky. Ia teringat waktu melantik dirinya sebagai salah satu dari ksatria kerajaan ini. Di tengah koloseum ia berdiri di antara banyaknya Kandidat yang telah ia kalahkan, matanya tangguh menatap langit yang ada.


Lantang-lantang suaranya berteriak menyuarakan alasannya ia berdiri, impiannya jika menjadi seorang ksatria.


"Kini aku telah melaluinya, menjadi seorang ksatria yang melindungi rakyat kerajaan ini. Sayangnya satu impianku tidak dapat diwujudkan di sini. Keadilan negeri ini tidak seperti yang ada dalam bayanganku. Aku hanya ingin melindungi apa yang sepatutnya dilindungi."


Hoji kembali berdiri. Ia memegang erat-erat pedang miliknya.


"Maka dari itu aku berdiri di sini. Aku akan hancurkan sisi buruk kerajaan ini. Yaitu kalian, Sky. Kalian keluarga Philips!"


"Hoji, sepertinya aku sudah muak berbicara denganmu."


Sky berlari menuju Hoji. Ia lagi-lagi menggunakan kemampuannya yang tampak menghilang menjadi sebaran kelopak bunga berwarna kuning.


Hoji menutup matanya. Ia berusaha merasakan arah lawannya. Ketika Sky telah mendekat Hoji pun dengan segera mendapatkan Sky kemudian Hoji membantingnya.


"Bagaimana mungkin," Sky terkejut.


"Bagaimana bisa dia menangkapku sewaktu aku menggunakan skill ini. Sebaran bunga ini tak pernah ada yang menembusnya. Kecepatanku dan wujudku pun sangatlah samar-samar. Mengapa dia bisa membantingku."


"Cukup mengecewakan ya, Sky. Kemampuan seorang pangeran apakah hanya sampai di sini."


Alis Sky bekedut-kedut. Ia memelototi Hoji. Geraham giginya bergeletuk.


Hoji menekan kencang sikunya yang tepat berada di leher Sky. Tanah bergejolak dibuatnya hanya dengan tekanan tersebut. Sky masih berusaha bertahan.


Hoji menatap dingin Sky.


"Kamu hanyalah anak yang manja pangeran. Kau terlalu lama hidup bermewahan dan melakukan apa saja yang kau sukai sampai-sampai kau lupa seberapa merepotkannya dirimu terhadap orang lain. Tak sedikit orang yang membencimu."


Hoji mengangkat sebelah tangannya, membuka telapak tangan lalu meremas wajah Hoji kembali dibanting ke bawah tanah hingga membuat cekungan tanah dan daya kejut yang cukup menghamburkan sekitarnya.


"Tulang kepala kamu keras juga ternyata."


...➕➖✖️➗...


"Tak aku sangka akan sekacau ini. Pikiran jadi ke mana-mana gara-gara baji***n itu. Kerajaan ini akan segera berakhir meskipun para pemberontak itu tidak ada."


Pria yang memiliki badan kejar dan cukup besar itu menggaruk-garuk kepalanya. Kamarnya sangatlah berantakan. Penuh dengan kertas benda-benda yang rusak di mana-mana.


Pria pirang lantas tertawa penuh keputusan asaan.


"Kalau sudah begini lebih baik semuanya hancur saja."


"Prajuriiit!!! Buka penjara bawah tanah. Lepaskan para gladiator biarkan mereka mengamuk sesuka hatinya."


Prajurit yang dipanggil tersebut terkejut serta bingung bagaimana ia menanggapinya. Dengan dilepaskannya para gladiator tersebut, bukankah itu berarti kehancuran yang menjadi bumerang bagi kerajaan ini akan semakin besar.


"Kenapa diam saja, cepat lakukan!" titah raja tersebut, Zet Philips.


Tak mau menunggu lama Zet Philips pun menghempaskan prajurit tersebut dan bersegera pergi sendiri untuk membuka gerbangnya.


Dalam sekejap ia menghilang dari tempatnya dan muncul ke kunci gerbang tersebut.


"Kau masih bertahan ya. Kekuatan kamu memang tidak main-main. Aku sangat berharap besar kepadamu. Sang Supervisor wilayah Kingdom of Flower, Lestopine Verst."


Zet membuka sel Lestopine Verst yang merupakan seorang wali kota dari kota boas, Pak Opin. Pak Opin tengah duduk di bangku tengah dalam kurungan di antara kurungan. Para gladiator banyak yang tersungkur penuh dengan keringat. Mereka lelah setelah sekian lama menghajar pak Opin, tetapi tak memberikan efek apapun kepadanya.


"Kapan dia datang?"


Pak Opin mengintimidasi Zet Philips dengan tatapan.


"Jangan terburu-buru begitu. Dia pasti akan datang. Tidak, aku yakin sebentar lagi dia datang. Orang yang telah lama kamu tunggu-unggu itu akan segera ke sini, anak pilihan terburukmu yang menghancurkan keseimbangan dunia ini kini akan segera mengambil wilayah ini. Ha-ha-hahahaha!!"


"Hahaha, aku jadi duta shampo lain. Rambut aja kaga ada, yang ada kulit palaku makin kinclong!!!.... Hei Zet, tampaknya kamu sangat putus asa sekali Ha-ha-hahahah!!"


Zet kesal, ia menarik kerah kameja Pak Opin.


"Hah? Apa kamu bilang. Aku putus asa aha-ha-hahaha! Diam kamu, yang membuatku hancur ini gara-gara anak pilihanmu itu. Gara-gara kau semuanya hancur kan. Hah!"


Zet mendorong pak Opin. Pak Opin bergeming dan hanya tersenyum seringai. Di balik senyuman pak Opin sebenarnya ia juga dilanda kegelisahan dan ketidaksabaran untuk segera bertema dengan orang itu.


"Ha-ha-hahaha. Mau bagaimana lagi. Nasi telah menjadi bubur. Aku hanya bisa mengulangnya kembali dan membuatnya tidak kembali di dunia ini."


Zet hanya menghela napas mendengar kata pak Opin. Ia kemudian kembali pergi dari sel setelah berkata, "Seterah kamu, itu bukan urusanku. Ya, aku hanya tidak menyangka seobsesif itu kamu kepadanya sampai-sampai mau menyerahkan diri di sini. Sekarang lakukanlah apa yang kamu sukai, Kerajaan ini juga akan hancur sekarang."


*Dhuam, dentuman ledakan terdengar besar sekali hingga menggetarkan seluruh tanah kastil Kingdom of Flower.


"Dia telah datang,"


Semua orang yang ada menapakkan kaki di Kota Garden Flower merasakan kehadiran yang tak pernah ingin mereka tunggu. Aura yang sangat pekat dan membuat langit kota Garden Flower penuh dengan awan hitam nan menggelapkan dataran kota tersebut.


Semua orang menatap ke arah langit. Dimana ada satu cercahan cahaya yang menyoroti tempat ledakan besar tersebut berasal. Siluet hitam dari kepulan debu pun mulai samar-samar dilihat jelas.


Para prajurit serta pemberontak yang ada di sekitar tempat tersebut tiba-tiba dada mereka berdegup begitu kencang tak karuan. Mata mereka terbelalak melihat sosok itu. Rambut berwarna putih, mata berwarna merah, dan aura yang dapat menggetarkan seisi kota sampai awan hitam pun selalu menemaninya.


"Say hello semuanya!"


Cengiran dengan mata girang nan besar itu, tak salah lagi. Ia adalah utusan orang luar pertama yang tak bisa ke luar dan menggila menciptakan tempatnya sendiri, ia adalah Si Raja Gila, orang yang tercantum dalam Misi utama Dayshi dan Raisa.


Si Raja Gila itu melambaikan tangannya. Seketika semua prajurit dan para pemberontak yang berada di sekitar situ meledak dan ada yang menghilang entah ke mana.


Si Raja Gila hanya tersenyum kemudian berjalan setelah memandang tempat kastil yang masih utuh.