
Deru angin berhembus kencang. Kelopak-kelopak bunga hitam berputar melingkari katana milik wanita bersuraikan hitam pirang itu.
Dalam kegelapan malam, cahaya remang-remang yang menyertainya membuat kami terpana. Tatkala aku hanya menganga mengaguminya, melihat kelopak bunga hitam itu menyebar luas dan seolah terbawa angin yang berputar layaknya tornado.
Semburat ungu melapisi tiap kelopak. Membuat cahaya redup, menyala dan mewarnai malam menjadi ungu pula.
Sorot mata dingin yang disertai seringaian kekesalan tertuju pada sang pemimpin perajurit rentenir itu. Ia yang dilihat mulai gentar. Berkali-kali ia mengayunkan katana merah pekatnya, akar-akar tipis nan tajam terus terpecut, tetapi sayang itu adalah usaha yang sia-sia.
Semua serangannya itu hanya menepis angin di sekitar Eva. Eva sendiri mengelus bibirnya dengan gemulaian permainan jari-jemarinya. Kala tangan kanannya yang memegang katana di arahkan pada pemimpin perajurit itu, ia seketika menghilang dari tempat ia berdiri.
"[Enchanting Pansy Night] : max."
Meledak, kelopak-kelopak bunga hitam itu terhambur di mana Eva menghilang. Sesaat ketika terhambur, kelopak-kelopak itu dengan gesitnya terayun kencang seolah tersedot ke arah lawannya.
Pas ku perhatikan. Pemimpin perajurit rentenir itu telah kalah. Bahkan zirah yang ia kenakan pun terlucuti, lebih lagi baju dan apa yang terlapisi dengan kulitnya ikut musnah menjadi potongan-potongan kain yang bahkan tak bisa digenggam sempurna.
"Hebat," gumamkuku dengan Reynald tanpa sadar. Jujur aku tak dapat mengomentarinya. Itu sungguh tak dapat dijelaskan dengan kata-kata bagiku.
"Sepertinya orang-orang berzirah itu tak ada yang tersisa. Semuanya pingsan tanpa luka yang berat karena rasa takut dan syok-nya," ujarku.
"Pusaka dalam diri yang menakjubkan, kak."
"Ya, itu sungguh luar biasa."
Eva Nieos, wanita bar yang dapat mengalahkan belasan perajurit tingkatan elit seorang diri. Dia pasti orang yang terlatih dan memiliki pengalaman banyak mengenai penggunaan mana.
Mengenai mana drop yang aku alami sepertinya dapat kupertanyakan kepadanya, dia pasti memiliki solusi untuk memulihkan manaku lebih cepat.
Pedang Eva berubah menjadi kelopak bunga yang berhamburan di udara, tak lama juga kelopak-kelopak tersebut menghilang menjadi mana yang menyatu dengan alam.
Selepas dari itu, ia berdiam diri sementara waktu. Ia merogoh kantung celana sepan hitamnya. Sebatang rokok keluar yang kemudian diselipkan pada bibir merah mudanya. Tak lupa korek api mekanik pun ikut juga keluar untuk menyalakan benda itu, angin malam yang mengganggunya dijalani dengan salah satu tangannya.
Eva menegadah ke langit. Ia menghirup sigaret bermereknya cukup lantang, lalu kedua jari tangan kanannya mengapit benda berasap itu. Asap putih pun keluar dari mulutnya, lalu kepalanya pun menyerong, dan tanpa sengaja kedua bola mata kami saling bertatapan.
Ia tersenyum kepadaku, entah itu dalam artian apa. Yang jelas ia terlihat cantik untuk dipandang, helaian rambutnya yang tipis dan menutupi sebagian wajahnya ketika melihatku membuatnya semakin menawan. Belum lagi dengan kulitnya yang putih mulus dengan tubuh idealnya itu. Dia sepertinya layak untuk dikatakan sempurna sebagai seorang perempuan.
Aku menjadi sedikit canggung melihatnya. Dengan sengaja pandanganku kupindahkan ke arah lain. Namun Eva malah berjalan kemari.
"Reynald, hei Reynald. Dia ke sini tuh."
"Eh, sepertinya dia mau menghampirimu."
"Dia gak bakal nyerang aku kan?"
"Se-sepertinya tidak."
Reynald yang memandang lurus, kini sedikit menengadahkan kepalanya. Penasaran dengan apa yang Reynald lihat, aku kembali menoleh ke arah asal tadi aku melihat.
Kepulan asap menerpaku, mataku menjadi terpejam otomatis. Ketika kubuka kelopak mataku, dia, Eva terlihat begitu dekat dengan wajahku. Aku terkejut dibuatnya.
"A-a-a-anu." Aku menjadi begitu kikuk. Sambil mundur beberapa langkah ke belakang, kedua tanganku kuangkat ke depan bahu seolah menahan sesuatu.
Dia ini mau apa, benar-benar membuatku jantungan saja. Asap rokoknya tadi lumayan wangi juga. Aku harus hati-hati, bisa-bisa aku juga ikut pingsan tanpa terkena serangan langsungnya.
Glek, dia kembali menghisap rokoknya. Dengan raut muka mencurigakan, ia seakan menyeringai.
"Hei, kakak. Ada apa denganmu?" Reynald menarik-nari cape yang kumiliki.
"Kamu anak yang menarik," ujar Eva, meniup asap rokoknya keluar.
Menarik? Apanya menarik? Sepertinya ada udang di balik batu nih.
"Ke kedai kakak yuk. Kamu pasti lapar," ucap Eva.
"Ta-tapi."
"sudahlah, ayo ikut kakak. Kakak pasti akan memberikanmu pelayanan terbaik."
Pe-pelayanan yang terbaik. Jangan-jangan.
"Reynald, bagaimana ini?" tanyaku. Tapi Reynald hanya diam tak merespon apapun. Kegoyang-goyangkan tubuhnya pun dia masih diam saja. Hingga pada akhirnya ia tersenyum canggung melihatku sambil mengatakan, "sudahlah kak, ikut saja dengannya."
Perkataannya itu malah membuatku merasakan hal yang tidak enak. Sial, aku menjadi semakin curiga akan ada niat yang terselubung di dalamnya. Ikut apa tidak ya.
"Kakak pasti akan memberikanmu pelayanan yang terbaik."
Tidak tidak, ingat dia adalah wanita yang .... Ikut saja, sepertinya bakal ada hal yang menarik. Hmm, ikut apa tidak ya. Kalau aku menerima ajakannya, entah kenapa nanti aku merasakan hal yang buruk akan menimpaku. Akan tetapi, jika aku menolaknya .... Ti-tidak bisa, dia pasti akan memaksaku. Aah, benar-benar tak ada pilihan lain.
"Ba-baiklah, tapi biarkan dia ikut bersamaku."
"Loh, kak kak kak?! Kok aku juga ikut."
"hehe, itu karena tadi kamu bertingkat aneh." Aku menarik tangan Reynald.
"Terus bagaimana dengan penduduk yang lain."
"Aduh aduuh~, ternyata kamu anak yang sangat perhatian dengan orang lain ya. Tenang, mereka baik-baik saja kok."
"Kok, kamu bisa tau?"
"Adu aduuh~, lihat saja sendiri di belakangmu."
Aku melihat ke belakang. Para penduduk sudah dapat menggerakkan tubuhnya untuk berdiri. Mereka semua masih meratap jauh, beberapa ada yang menggunakan skillnya untuk menerangi pandangannya. Beberapa orang pula terlihat berjalan kemari dengan wajah yang lesu.
"Eva, terimakasih telah mengusir para perampok itu lagi," ucap para penduduk itu yang kemudian berlalu pergi. Eva hanya memasang wajah datar, ia diam seolah tak menanggapi ucapan mereka.
"Lain kali jaga barang kalian sendiri," ucap Eva tanpa menoleh ke belakang. Perubahan sikapnya itu benar-benar berubah drastis. Aku saja sampai merinding mendengar nada bicaranya yang begitu dingin
"Baiklah," ketiga penduduk itu berdiam sejenak, lalu berjalan lagi dengan menundukkan kepalanya seolah ada perasaan bersalahnya kepada Eva Nieos.
"Kamu sudah lihat kan. Mereka baik-baik saja. Ayo cepat ke kedaiku. Tak ada orang lagi yang perlu kamu khawatirkan."
Baru saja kukan berjalan mengikuti Eva Nieos. Aku teringat dengan Mirai yang kutinggal di dalam rumah besar itu seorang diri.
"Tidak, masih ada orang yang perlu kukhawatirkan. Maaf, aku pergi dulu." Dengan genggaman tanganku yang kueratkan, aku pergi berlari ke tempat di mana Mirai berada."
"ADUH ADUH!! Sakit kaaak." Sementara itu, Reynald yang sedari tadi kupegang merintih kesakitan karena genggamanku. Ia juga ikut terseret saat aku berlari lupa akan dengannya.
"Yaah, dia malah pergi begitu saja."