My Power Of Math Fantasies

My Power Of Math Fantasies
8. UPPIN LEVEL



...Dayshi POV...


Tiga hari telah berlalu. Kini aku berlatih bersama dengan Eva sesuai dengan perjanjian. Aku sadar diri bahwa aku bukanlah orang yang langsung bisa bertarung di dunia ini.


Jujur selama ini aku terus mengandalkan mana. Dan kini aku sudah kehilangan kekuatan tersebut, aku merasa diriku menjadi orang yang begitu payah ketika pertarungan nantinya akan terjadi kapan saja.


"Hei? Apa hanya segitu saja batas maksimalmu? Cepat kembali putari desa ini hingga kali ke tiga!" tegas Eva.


Namun, kenapa? Kok begini. Latihan selama dua hari ini yang kulakukan adalah latihan fisik. Terus menerus bahkan sampai aku benar-benar dibuat tak sadarkan diri. Eva memerintahkanku untuk push-up sampai tanganku lebih di atas maksimal, setelah itu ia akan menyuruhku untuk sit-up hingga aku benar-benar tak bisa bergerak, lalu berlari, dan latihan fisik lainnya.


Jujur sih, aku berharap untuk dilatih cara bertarung. Seperti menggunakan pedang maupun senjata lainnya, atau setidaknya ia melatihku untuk bela diri. Namun, ia berkata bahwa fisikku harus ditingkatkan terlebih dahulu. Aku tak bisa membalas apa yang ia katakan, jadi aku lakukan saja apa yang ia perintahkan.


Tak lama di hari ke-tiga, Raisa, Resha, dan para penduduk yang berteman dengan Resha kembali dengan membawakan banyak makanan berkualitas. Semua yang mereka bawa hampir dibagi habis ke penduduk, tetapi beberapa bagian juga dijual di tempat Eva Nieos. Mereka kelihatan letih dan beristirahat beberapa hari.


Hari ke-tujuh di desa Orchid. Aku mulai belajar untuk berkonsentrasi serta cara mengatur napas yang baik. Pada awalnya aku berlatih konsentrasi dengan menarik napas perlahan lalu menghembuskannya melalui mulut. Berulang kali aku melakukan hal tersebut, pikiranku benar-benar harus dibuat kosong.


Namun, efeknya ternyata mulai cepat berpengaruh kepadaku. Aku sudah bisa merasakan lebih apa yang ada di sekitarku, bahkan pendengaranku mulai lebih jelas dari yang sebelumnya.


Semangat untuk melatih konsentrasiku jadi begitu membara. Berdiri di padang bunga berhembuskan angin sejuk, duduk di atas sebuah bola besar, hingga melatih konsentrasi saat diserang dengan mata yang tertutup. Tentu saja, hanya latihan seperti ini membutuhkan waktu yang amat panjang. Bahkan sampai akhir aku bertempat di desa ini, aku masih di perintahkan untuk melatih konsentrasiku, sedangkan rekanku yang lain ikut melatih dirinya sendiri.


Sudah tiga bulan kita berada di desa Orchid. Persiapan kami juga dirasa sudah cukup memumpuni. Semenjak pertarungan melawan beberapa bawahan Kingdom of Flower, kita mengerti bahwasanya untuk menyelamatkan pak Opin maka kita harus berhadapan dengan orang seperti mereka, bahkan aku yakin banyak yang lebih kuat.


"Terimakasih banyak guru Eva, aku benar-benar beruntung bertemu dengan guru. Berkat guru, aku akhirnya bisa berkembang lebih cepat."


Aku menundukkan kepala untuk menghormati guru Eva. Lantas, guru Eva memegang pundakku lalu aku mengangkat kepala tanpa menegakkan tubuh hanya untuk melihat guru Eva.


"Tidak, jika bukan karena ketekunan dan kerajinanmu sendiri kau juga takkan sampai seperti ini. Jujur, kau masih sangat lemah nak, bahkan aku lihat kau juga tak memiliki bakat sama sekali dengan bela diri apapun itu. Bersihir pun aku angkat tangan untuk melatihmu."


Aku terkejut mendengar apa yang guru Eva katakan. Berat untuk menerima apa yang beliau katakan, tetapi aku tetap menjaga senyum yang telah kutorehkan kepada guru Eva. Kemudian guru Eva pun melanjutkan perkataannya dengan membalas senyum yang tulus kepadaku. Perasaan hangat saat ia menatapku tampak seperti guru yang menyayangi muridnya hingga ia tak ingin melepaskannya pergi.


"Namun Dayshi, di balik semua yang aku katakan. Aku bisa merasakan bahwa kau pasti akan bisa mengalahkannya, si Raja Gila itu. Aku yakin, seberapapun lemahnya kau, kau pasti akan kembali bangkit. Kau akan terus berjuang untuk menjadi kuat, di dalam dirimu aku bisa merasakan jiwa yang akan selalu membantumu. Ia akan membuatmu berubah dan kamu bisa merubah kembali dunia ini."


Guru Eva melihatku penuh semangat dan harapan. Aku lega, tetapi....


"Guru, aku pasti akan mengalahkannya, pasti akan kulakukan!" ucapku membalas dengan suara lantang bersemangat. Guru Eva tersenyum kemudian mendorongku ke arah rekan-rekanku yang telah bersiap pergi dari desa ini.


"Ingat Dayshi, latihan konsentrasi itu tetap sering-sering kamu lakukan ya! Kalahkan bajingan itu dan .... Tolong selamatkan Mio," ucap guru Eva sambil tersenyum sayu menatapku.


"Siap!" Seruku mengacungkan jempol.


Resha dari belakang ingin menepuk pundakku, tetapi entah mengapa ia malah tersandung dan terjatuh.


"Aduh aduh.... Kayaknya makin hari makin menjadi saja nih," gumam Resha sambil menepuk-nepuk pakaian agar debu tanah tak menempelinya. Di saat itu pula Resha tak sengaja menyerogoh kantung celananya dan mendapatkan pisau kecil berwarna hitam.


"Ini kan, senjata anti mana."


Resha berjalan dengan menyeret kakinya lemas. Tampaknya ia sedikit keseleo. Ia menepuk pundakku sembari melirikku.


"Hehehe...."


"Apa-apaan dengan ekspresi terkejutmu itu, aku tak punya maksud apa-apa kok. Justru aku sedang senang nih. Akhirnya kutukan ini bisa kuhilangkan."


"Kutukan?"


"Yeah kutukan. Sebelum kita pergi aku ingin melepaskan kutukan dari desa ini, ya sekaligus kutukan yang mengenaiku juga. Bisa kan kalian menunggu sebentar?" Resha berjalan kembali ke desa.


"Ba-baiklah." Kami semua setuju menunggu Resha. Resha pun langsung berlari ke tengah desa, ia siap dengan pisau kecil hitam yang akan ia gunakan.


Kutukan dari Mio yang menumbuhkan Anggrek kalajengking di desa ini akhirnya akan di basmi oleh Resha. Namun bagaimana caranya? Selama ini anggrek-anggrek tersebut tak bisa dimusnahkan, dicabut, dan dipotong. Malahan hal tersebutlah yang membuat anggrek-anggrek itu bertambah banyak.


"Pisau kecil ini adalah senjata anti mana. Senjata satu-satunya yang dapat memutuskan aliran mana bahkan menghilangkannya. Benda ini sangat efektif melawan unsur-unsur mana atau skill yang Mio lakukan." Resha menjelaskan.


Ia dengan skillnya memberikan sayatan berputar dan dalam sekejap sayatan itu menyebar memotong habis anggrek kalajengking yang Mio buat di desa ini. Benar saja, anggrek tersebut tak kembali tumbuhan malahan hancur menjadi kepingan mana layaknya kunang-kunang yang beterbangan ke atas langit.


Atmosfer di desa pagi itu sangat indah. Pasalnya selain kepingan mana yang Resha buat, embun pagi pun nampak menutupi desa ini dengan warnanya yang mengikuti cahaya kepingan mana. Putih bersih, nampak seperti berada di atas awan.


Orang-orang desa bersorak gembira. Mereka pasti sangat lega, akhirnya kutukan yang membuat desa bernasib buruk hilang selama beberapa tahun lamanya menunggu.


Setelah akhirnya Resha membersihkan semua bunga anggrek itu. Resha kembali dengan menghela napas. "Selesai juga, ayo kita berangkat."


"Akak..! Suatu hari nanti kami pasti akan membalas kebaikan kalian," seru teman-teman Dhile.


"Benar itu kak".


"Hah, apa-apaan dengan mereka itu." Resha dengan malu-malu kucing menggaruk area belakang kepalanya. Ia tanpa menoleh ke arah adik lovers-nya itu menyuruh kita untuk segera berangkat.


Melihat para warga melambaikan tangan kepada kami, kami pun ikut membalas melambaikan tangan pergi meninggalkan desa. Tentunya terkecuali Resha dengan wajahnya yang merah apel.


Hari ini, hari yang cukup mengharukan. Entah di depan jalan ini kami akan menghadapi rintangan apa. Yang jelas kami harus menyelamatkan beliau di Kingdom of Flower. Tunggu saja pak Opin, kami pasti akan menyelamatkanmu.




\**ADEH, penyakit writer's Block ku kali ini suka kambuh eh. Mana aku sekarang jarang baca-baca lagi. Tolong imajinasilu kembalikaaan, plot ceritaku huhuhuuuu. Dah nulis sih tapi, yaah*~



*Yo gan, jangan malas malas sama saya ya, terimakasih jika ada yang tetap menunggu cerita ini. Aku bakal tetap akan tamatin kok. 💪💪 Ganbaru~ ganbatte~ semangat semangat*~



*Wkwkw gak papa' kan semangatin diri sendiri. 😊*\*