
Keesokan harinya setelah mendapatkan pemeriksaan dokter, akhirnya Naya sudah diperbolehkan pulang. tekanan darahnya juga sudah stabil. Hanya saja pagi-pagi tadi Naya sudah mulai mengalami morning sickness. Dokter mengatakan kalau hal itu wajah dialami oleh ibu hamil di usia trimester pertama. asal tetap jaga pola makan dengan baik dan tidak melakukan pekerjaan berat.
Senja dan Xavier ikut pulang mengantar Naya. Mungkin mereka akan singgah sejenak di rumah besannya sampai benar-benar melihat kondisi anaknya baik-baik saja.
Setelah menyelesaikan adiministrasi dan menebus beberapa obat dan vitamin, Naya segera pulang bersama suami dan kedua orang tuanya.
Naya sudah merasakan lebih bai daripada tadi pagi saat perutnya mual-mual. Apalagi kini di dalam mobil ia terus bermanja pada Mamanya.
Beberapa saat kemudian Naya sudah tiba di rumah. kedatangan mereka disambut oleh Ayah dan Bundanya yang memang sengaja menunggu di rumah saja.
Senja dan Xavier dipersilakan masuk oleh tuan rumah yang tak lain adalah besannya. Mereka berempat berbincang sejenak di ruang tengah. Sedangkan Zaky mengantar istrinya masuk ke kamar untuk beristirahat.
“Sayang, kamu istirahat dulu ya! Aku akan keluar sebentar. Nggak enak membiarkan Mama dan Papa.” Pamit Zaky setelah membantu istrinya berbaring di tempat tidur.
“Lebih penting Mama dan Papa ya daripada aku?” tanya Naya mendadak nadanya menjadi sewot.
Zaky menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apakah drama kehamilan istrinya dimulai sekarang? karena dia masih ingat ucapan Mamanya tadi, akhirnya Zaky lebih memilih menemani istrinya di kamar daripada menemui Mama dan Papanya.
Zaky akhirnya ikut berbaring di samping istrinya. Memeluknya erat dan mendekapnya oenuh cinta. Benar saja, Naya langsung mencari kehangatan di balik tubuh kekar suaminya yang serasa memberikan ketenangan tersendiri.
Zaky mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus Naya. Ternyata wanita itu sebenarnya ingin tidur namun caranya saja yang agak mendrama. Zaky memberi kecupan singkat pada kening istrinya.
“Aku sangat mencintaimu. Terima kasih telah mengandung anak kita.” Gumamnya lirih lalu ia segera beranjak dari tempat tidur.
***
Sore harinya Senja dan Xavier berpamitan pulang. kerena Xavier juga tidak bisa berlama-lama dan ada pekerjaan yang memang tidak bisa ditinggalkan.
“Nanti kalau keadaan naya sudah kuat begitu juga dengan kandungannya, Zaky akan berkunjung ke rumah.” ucap Zaky mengantar kepergian Mama dan Papanya.
“Iya. tidak perlu memaksakan diri. Mama pasti paham kok. Yang penting Naya dan calon cucu Mama tetap sehat.” Jawab Senja.
Naya memeluk Mama dan Papanya bergantian. Entah kenapa dia merasa keberatan saat kedua orang tuanya akan pulang. Naya kembali mengingat masa kecilnya dulu yang selalu dimanja orang tuanya, dan juga kakaknya yaitu suaminya sendiri.
“Eit, ibu hamil tidak boleh cengeng! Nanti yang di sini juga akan sensitif.” Ucap Senja saat melihat Naya mulai menampakkan raut wajah sedihnya.
Zaky pun mendekati istrinya dan berusaha menghiburnya. Dia yang sudah paham betul watak Naya sejak dulu, membuatnya lebih mudah untuk menenangkannya di saat seperti ini.
“Nanti, setelah ini kita jalan-jalan yuk, Sayang! Bukannya kemarin kamu bosan di rumah terus?” bisik Zaky pada istrinya.
Akhirnya Naya mulai tersenyum cerah. Benar yang dikatakan oleh suaminya. mungkin karena rasa bosan membuatnya mendadak mellow seperti ini. ditambah lagi pengaruh hormon kehamilannya.
“Bunda, Ayah, kita pergi dulu ya?” pamit Naya pada kedua mertuanya yang sedang santai di ruang tengah.
“Iya, hati-hati. Ingat, Ren jangan membuat istrimu terlalu capek!” Pesan Bunda Rosma pada Zaky.
Zaky mengangguk, setelah itu menggandeng Naya keluar rumah. belum sampai Naya masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja wanita itu menutup mulutnya rapat dan segera berlari masuk menuju toilet. Zaky yang panik pun ikut mempercepat langkahnya menghampiri Naya.
Naya masuk ke toilet yang dekat dengan dapur. Wanita itu menundukkan kepalanya dan memuntahkan semua isi perutnya.
Huuek huuekk…
Zaky memijit tengkuk istrinya berharap bisa meringatnkan rasa sakit pada perutnya yang terus mengeluarkan isinya.
“Sayang, kamu baik-baik saja?” tanya Zaky khawatir.
“Sudah tahu perutku mual dan muntah begini masih ditanya baik-baik saja.” Jawab Naya senewen, mendadak moodnya berantakan. Kepalanya juga tiba-tiba pusing. keinginan untuk pergi jalan-jalan mendadak sirna berubah dengan rasa malas sekaligus kesal.
Sedangkan Zaky juga bingung menghadapi sikap istrinya kali ini. ia mencoba menguatkan hatinya dan siap menerima omelan Naya.
Tak lama kemudian Bunda Rosma ikut menghampiri Naya. Wanita itu juga tampak cemas melihat wajah pucat Naya.
“Sudah, lebih baik istirahat. Besok saja jalan-jalannya.” Ucap Bunda Rosma memberi solusi.
Naya tidak menjawab. Ia membasuh mulutnya setelah itu beranjak dari toilet menuju kamarnya. Zaky berjalan mengekori Naya. Kemudian Bundanya menepuk pelan pundak anak laki-lakinya seolah menyiratkan pesan agar bersabar menghadapi istrinya yang moody’an.
“Sekarang tidur ya, Sayang! Besok kalau sudah baikan, aku janji akan mengajak kamu jalan-jalan.” Ucap Zaky sembari membantu istrinya merebah.
“Kamu jangan tidur di kamar ini, Mas! Aku mual lagi kalau melihat wajah kamu.” Ucap Naya membuang muka lalu menarik selimut menutupi tubuhnya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
Bentar lagi tamat ya guys.. seperti biasa di akhir cerita othor akan bagi² GA pulsa. Syarat dan ketentuannya tergantung mood othor'nya hehehehe... Jangan lupa follow akun ig author @dee_k9191 🤗🤗😘😘😘