My Brother My Husband

My Brother My Husband
Eps 67 ~ Ngebet Nikah



Beberapa saat kemudian Naya dan Shanum keluar kamar dan kembali bergabung dengan kedua orang tua mereka. Hati Naya masih bertanya-tanya tentang maksud ucapan Shanum tadi. apakah benar kalau Zaky akan melamarnya? Lalu bagaimana dengan kedua orang tuanya.


Naya dan Shanum tidak kembali ke ruang tamu, melainkan ke ruang makan. Karena semua anggota keluarganya sudah berkumpul di sana.


Naya mengambil tempat duduk di samping Mamanya, walau di sebelah Zaky masih kosong. Dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya berpikiran buruk kalau lebih memilih duduk dekat Zaky.


Setelah semuanya berkumpul, mereka memulai makan malamnya. Sesekali Xavier dan Senja berbincang-bincang dengan Nyonya Rosma dan Tuan Bagas. Naya baru tahu kalau ternyata Zaky dan keluarganya juga baru saja datang beberapa menit setelah kepulangannya dari kantor tadi.


“Nak Naya setiap hari kerjanya selalu pulang jam segini?” tanya Nyonya Rosma.


“Tidak, Tante. Sesekali saja kalau sedang banyak pekerjaan.” Jawab Naya.


“Bunda. Panggil Bunda, sayang.” Nyonya Rosma mempertegas panggilannya.


“I..iya, Bunda.” Jawab Naya.


Beberapa menit setelah menyelesaikan makan malamnya, Xavier mengajak keluarga Zaky menuju ruang keluarga untuk bersantai. Dan di sinilah perasaan naya harap-harap cemas. Apakah benar yang dikatakan oleh Shanum tadi.


“Sebelumnya saya sudah mengatakan pada Tuan Xavier kalau kedatangan saya kesini untuk bersilaturahmi. Tentunya saya dan istri saya sangat berterima kasih atas limpahan kasih sayang kalian berdua pada anak pertama saya yang hilang sejak masih bayi sampai tumbuh dewasa seperti sekarang ini. terlebih dengan didikan kalian yang sangat baik pada Rendra.” Ucap Tuan Bagas dengan mata berkaca-kaca.


“Tidak perlu bicara seperti itu, Tuan. Saya mengadopsi Zaky memang sudah saya anggap seperti anak kandung saya sendiri. Saya bersyukur kalau ternyata Zaky masih memiliki orang tua kandung yang sangat baik juga.” timpal Xavier.


Suasana menjadi haru. Terlebih pada kedua pasangan suami istri itu. mereka sama-sama bersyukur bahwa Zaky berada di tangan yang sangat tepat.


“Dan saya juga ingin menyampaikan maksud lain dari kedatangan keluarga kami ini, Tuan Xavier, Nyonya Senja.” Lanjut Tuan Bagas setelah mengusap sudut matanya.


Xavier dan Senja saling memandang lalu mengangguk mempersilakan Tuan Bagas menyampaikan maksudnya.


“Selama setahun kami tinggal bersama Rendra, banyak sekali yang anak saya ceritakan selama hidupnya. Terutama kepergiannya dari keluarga anda. Di sini saya tidak menyalahkan siapapun. Karena tujuan saya hanya satu, yaitu anak saya bahagia. Bukankah begitu Tuan Xavier, yang sebagai orang tua juga?” tanya Tuan Bagas dan diangguki oleh Xavier.


“Jadi, langsung saja ke inti pembicaraan. Kalau kedatangan saya ke sini ingin mempererat tali persaudaraan kita dengan menjadikan anak-anak kita dalam ikatan keluarga. Bagaimana, apakah anda menyetujuinya?” lanjut Tuan Bagas.


Baik Naya maupun Zaky sama-sama menundukkan kepalanya. Mereka berdua sama-sama takut mendengar jawaban dari Xavier. lebih tepatnya takut dengan jawaban buruknya.


“Sebelumnya, saya dan istri saya sebagai orang tua angkat Zaky selama ini ingin meminta maaf pada anda.” Ucap Xavier sengaja menjeda kalimatnya.


Deg


“Karena keegoisan kami berdua, Zaky sampai meninggalkan kami. Dan setelah bertemu Zaky kembali, saya dan istri saya berjanji tidak akan membuatnya pergi lagi. tapi sayangnya Zaky memilih tinggal dengan orang tua kandungnya.” Lanjut Xavier dan seketika membuat Zaky merasa sangat bersalah.


“Ma, Pa, maaf! Bukan maksud Zaky seperti itu.” sahut Zaky.


“Nggak apa-apa, Zaky! Kami tidak marah. Lalu untuk maksud Tuan Bagas yang ingin anak-anak kita terikat dalam sebuah ikatan keluarga, kami ingin memastikan dulu pada Naya, apakah perasaanya masih sama pada Zaky. bagaimana, Sayang?”


Naya diberi pertanyaan seperti itu bibirnya kelu. Dia memilih duduk bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya sambil menangis terisak. tentunya Xavier dan Senja sangat tahu apa jawaban Naya.


“Bangunlah, Sayang! Maafkan Mama selama ini yang sangat egois. Sekarang Mama dan Papa ingin melihat anak-anak Mama bahagia. Mama dan Papa merestui kalian berdua.” Ucap Senja dengan berlinangan air mata.


Naya bangun dan memeluk Mamanya. Tangisnya pecah karena hatinya benar-benar lega. Rasa cintanya pada Zaky yang selama ini ia jaga, kini mendapat kepastian.”


Zaky pun ikut memeluk Papanya. Dia sangat berterima kasih atas restu yang diberikan oleh Mama dan Papanya. Sekarang, hati Naya dan Zaky sama-sama lega.


“Karena kedatangan kami hari ini sangat mendadak, dan tidak ada persiapan apapun, bagaimana kalau besok saja acara pertunangan mereka digelar?” usul Tuan Bagas setelah semua keadaan cukup tenang.


“Apa bisa kita mempersiapkan acara pertunangannya besok? Ini terlalu mendadak. Anda jangan khawatir akan batalnya pertunangan anak-anak kita.” Ucap Xavier, dan mendapat sambutan gelak tawa dari Tuan Bagas dan Nyonya Rosma.


“Anda ini bisa saja, Tuan Xavier. bukan seperti itu maksud saya.  maaf, bagaimana kalau acara pertunangan mereka dilangsungkan secara sederhana saja. nanti, untuk acara pernikahannya kita bisa memikirkannya lagi dan sesuai keinginan anak-anak kita. Bagaimana, Nak Naya?” tanya Tuan Bagas pada calon menantunya.


“Naya setuju.” Jawab Naya singkat dan cukup lugas.


“Dih, yang sudah mendapat lampu hijau main bilang setuju-setuju saja.” celetuk Shanum tiba-tiba.


Semua orang tergelak mendengarnya. Tapi tidak dengan Naya yang saat ini wajahnya sudah memerah seperti tomat. Karena seakan-akan dirinya yang ngebet nikah.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️