
"A-aku ke-luar bersama Ara..." Cicit Batari, dengan memainkan ujung kukunya.
"Oh, rupanya kau masih memiliki tenaga. Sehingga masih bisa bersenang-senang dengan sahabatmu." Ujar Ervin, yang beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah, Batari.
"A-aku..." Ucap Batari. Dengan mulutnya yang terasa kelu, hanya untuk mengucapkan bahwa kondisi tubuhnya tidak sedang baik-baik saja dan ingin mengatakan bahwa dirinya tidak bersenang-senang, melainkan pergi ke rumah sakit.
"Baiklah, karena aku melihat kau masih bertenaga, aku akan membuatmu untuk tidak bisa pergi ke mana pun." Ujar Ervin. Menarik pergelangan tangan Batari, untuk menaiki anak tangga.
"L-lepas... Aku tidak ingin melakukannya lagi." Lirih Batari, walaupun sisa tenaganya benar-benar sudah habis. Tetapi Batari, berusaha untuk berontak walau pada akhirnya Batari, yang tidak bisa lepas dari jeratannya.
"Diam! Jika kau terus berontak, aku akan memperlakukanmu lebih dari ini." Ujar Ervin. Dengan ancamannya yang berhasil membuat Batari, menuruti ucapannya.
Brukkkk!
"Hiks... Hiks... A-aku sungguh l-lelah."
"Aku tidak ingin melayanimu lagi..." Lirih Batari. Ketika Ervin, tengah membuka dasinya.
"Kau istriku bukan Adikku lagi Batari, aku berhak atas dirimu begitupun dirimu yang harus siap melayaniku kapanpun jika aku menginginkannya." Ujar Ervin. Ketika Batari berada di bawah kungkungannya.
"Hiks... Ku-mohon, kau harus ingat jika aku tengah hamil." Tutur Batari, dengan air mata yang semakin berlinang.
"Aku tidak pernah melupakan itu, hamil bukan sebuah halangan untuk aku tidak menyentuhmu, Batari." Ujar Ervin, yang tengah mencumbui leher Batari.
"Kehamilanku sangat berbeda... Jika kau mengetahui kondisi bayi di dalam rahimku yang teramat lemah, mungkinkah kau akan memperlakukanku seperti seorang suami yang menyayangi istrinya, seperti pada umumnya pasangan yang berumah tangga." Batin Batari, yang terus meremas sprainya begitu kuat. Untuk tidak mengeluarkan suara yang sangat dibencinya keluar lagi dari mulutnya.
"Jangan ditahan Batari, lepaskanlah..."
"Aku sangat ingin mendengar suaramu..." Ujar Ervin. Dengan Batari, yang semakin kuat menahannya. Hingga tenagannya terasa begitu lemas dan pandangannya pun perlahan-lahan terlihat buram.
"Ahhhhh..." Tanpa sadar Batari, mengeluarkan suaranya. Hingga detik demi detik pandangannya pun berubah menjadi gelap.
"Panggil namaku, Batari!" Ujarnya. Dengan gairah yang begitu memburu, dengan sebelah tangannya yang berhasil menurunkan reseleting pakaian, Batari.
"Kau sungguh menjadi canduku, hingga aku selalu menginginkanmu lagi dan lagi." Ujar Ervin, kembali. Dengan melahap gemas sebelah gunung, Batari. Tanpa dirinya sadari bahwa Batari, sudah tidak sadarkan diri di bawah kungkungannya.
"Bersiaplah, aku akan melakukannya." sambungnya kembali, ketika akan menurunkan reseletingnya. Tetapi ia mengurungkan niatnya di kala melihat Batari, yang memejamkan kedua kelopak matanya.
"Hei, Batari... Bangun!" Ucap Ervin. Menepuk-nepuk wajah Batari, yang terus memejamkan kedua matanya.
"Jangan bercanda Batari, atau aku akan langsung melakukannya." sambungnya kembali. Dengan langsung menanggalkan pakaian Batari, dan dirinya sendiri dalam keadaan sama-sama naked. Hingga detik berikutnya Ervin, menggauli Batari. Dalam posisi Batari, yang tidak sadarkan diri.
Keesokan harinya, waktu yang sudah menunjukkan pukul 01.30 PM.
Batari, yang terbangun dari tidurnya dan melihat dirinya masih berada di kamar Ervin. Yang lagi-lagi hanya dirinya seorang tanpa keberadaannya.
"Akhhhh!" Rintih Batari, ketika tubuhnya benar-benar tidak bertenaga dan merasa begitu lengket di bagian area sensitifnya.
"Apa dia tetap menggauliku, walaupun aku dalam keadaan tidak sadarkan diri." Batin Batari. Ketika melihat tubuhnya dalam keadaan naked yang hanya ditutupi oleh sebuah selimut.
"Hoam! Aku merasa seperti habis kerja rodi, walaupun tidurku begitu panjang, tetapi tenagaku terkuras habis." Batinnya kembali, dengan menguapkan mulutnya.
Dret... Dret...
Kak Ervin : Jika kau sudah terbangun, aku sudah membuatkan makanan untukmu, jadi turunlah ke bawah.
Kak Ervin : Atau kau perlu bantuanku, karena sekedar untuk berjalan saja pastinya kau tidak bisa. Karena kau sudah kehabisan tenaga.
Kak Ervin : Teleponlah aku! Aku akan langsung pulang ke rumah.
Batari, yang hanya membacanya saja, membuat bulu kuduknya kembali berdiri seketika.
"Aku tidak ingin bantuanmu, yang ada aku harus membalas budi untuk melayani nafsu birahimu kembali yang begitu tinggi." Batin Batari, yang berusaha beranjak dari tempat tidurnya.
"Akhhhh!" Rintihnya, ketika kedua kakinya yang akan melangkah, tetapi malah terjatuh kembali di atas ranjang.
...***...
~Kantor JE Corp~
"Sayang!" Ujar Disha, yang masuk keruang kerja Ervin. Dengan Ervin, yang tidak menghiraukan kedatangan Disha, yang menenteng sebuah makanan di tangannya.
"Aku membawakan makanan kesukanmu." Tutur Disha, yang menaruh makanannya dengan mengeluarkannya untuk menyajikan kepada, Ervin.
"Kemarilah, honey." sambungnya kembali. Dengan Ervin, yang melangkahkan kakinya ke arah, Disha.
"Kau tidak perlu repot-repot membawakan makanan untukku." Ujar Ervin, dengan melipatkan kedua tangannya.
Ceklekkk...
"Bos..." Ucap Delvin, yang menggantungkan ucapannya ketika melihat Disha.
"Ada apa?" tanya Ervin.
"Ehemm... A-anu..." Delvin, yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa ada masalah?" tanya Ervin, kembali.
"Begini, Bos." Ujar Delvin, yang kembali menggantungkan ucapannya.
"Katakan! Jangan membuatku menunggu dengan ucapanmu yang menggantung terus menerus." Ucap Ervin. Dengan Disha, yang menatap aneh gerak-gerik dari, Delvin.
"Quindi, capo, Michelle invita te e Batari a cenare di nuovo, prima che torni nel suo paese d'origine." (Anu Bos, Pak Michelle mengajak anda dan Batari untuk makan malam kembali, sebelum beliau kembali ke negara asalnya). Ujar Delvin, yang menggunakan bahasa italia.
"Determina solo l'ora, lo parteciperò con, Batari." (Tentukan saja waktunya, aku akan menghadirinya bersama, Batari). Tutur Ervin.
"Baik, Bos." Ujar Delvin. Seraya undur diri dari ruangan, Ervin.
...***...
~Kediaman, Ranti dan David~
"Istirahatlah sayang, dan ganti juga pakaianmu, apa kau tidak merasa panas dengan menggunakan pakaianmu hingga menutupi leher." Ujar Ranti.
"Iya Mah, aku akan menggantinya nanti." Ucap Batari, dengan menyunggingkan senyumnya.
"Baiklah," Ujar Ranti, yang meninggalkan Batari.
"Hmm... Semoga di sini aku bisa tidur nyenyak." Batin Batari, yang mengambil pakaian di lemarinya.
~Setengah jam kemudian~
"Tidak! Jangan sentuh aku hiks..."
"J-jangan mendekat!!!" Teriak Batari. Hingga Ellona, yang mendengar suara teriakan Batari. Langsung membuka pintu kamarnya yang tidak dikunci.
"Hiks... Pergi!" Ucap Batari, dengan igauan di alam bawah sadarnya.
"Tari..." Panggil Ellona, seraya menepuk-nepuk pelan wajahnya.
"Hiks... Hiks..." Batari, yang masih berada di alam bawah sadarnya.
"Batari..." Ucap ellona kembali. Dengan Batari, yang perlahan-lahan membukakan kelopak matanya.
"M-mba Ellona," Cicit Batari, dengan suara paraunya.
"Apa kau bermimpi begitu buruk, sehingga kau menangis seperti orang ketakutan?" tanya Ellona.
...----------------...