My Brother My Husband

My Brother My Husband
Eps 63 ~ Pulang



Setelah selama kurang lebih seminggu Zaky menemani Shanum pemotretan, akhirnya hari ini juga ia harus pulang. selain pekerjaan Shanum sudah selesai, pekerjaan Zaky di perusahaan Ayahnya juga sudah menantinya. Padahal hatinya sangat berat sekali untuk berpisah dengan Naya.


Saat ini Naya sedang berada di kamar hotel dimana Zaky menginap. Sebelumnya Zaky sudah berpamitan pada Mama Papanya kalau hari ini juga akan pulang. namun, rupanya Naya yang sejak tadi tidak terlihat oleh Zaky di rumahnya, ternyata sudah berada di hotel dan sedang bersama Shanum.


Shanum membiarkan kakaknya dan Naya berdua. Mungkin mereka ingin mengucapkan kata perpisahan sebelum Zaky pulang. Shanum juga tidak berpikiran buruk dengan apa yang dilakukan kakaknya dengan Naya di dalam kamar itu, karena dia yakin kalau kakaknya pria baik-baik.


**


“Sudah dong, Nay jangan nangis terus!” Zaky bingung bagaimana cara menenangkan Naya yang sejak tadi tidak berhenti menangis setelah tahu kalau hari ini dirinya akan pulang.


“Kenapa Kak Zaky ninggalin aku lagi? Kak Zaky jahat!!” kalau sudah begini, sifat asli Naya muncul lagi. dan Zaky akan kesusahan untuk menenangkannya.


Zaky hanya menghembuskan nafasnya pelan. Kalau saja yang sedang menangis di sampingnya ini anak balita, pasti cukup dibelikan coklat atau permen, pasti langsung diam. tapi kenyataannya Naya bukan anak kecil lagi.


“Nay, aku pulang untuk meminta bantuan Ayah dan Bunda agar bicara sama Mama dan Papa mengenai hubungan kita. Jadi, please mengertilah, Sayang! Kita harus berjuang bersama-sama. Kamu jangan kekanak-kanakan begini, ya?”


Naya seketika menghentikan tangisnya. Dia tersentuh dengan ucapan Zaky, tapi di akhir kalimatnya yang mengatakan kalau dirinya kekanak-kanakan, membuat Naya tidak terima.


“Kenapa kalau aku kekanak-kanakan? Kakak tidak suka. Jadi Kak Zaky lebih suka perempuan yang dewasa dan pengertian? Tidak seperti aku ini?”


Zaky melongo mendengar ucapan Naya. Dia sungguh merutuki kebodohannya atas ucapannya baru saja. kalau sudah begini, Zaky jadi merasa pusing sendiri. Akhirnya ia memeluk Naya dengan erat sambil terus menggumamkan kata maaf. Namun sayangnya Naya masih kesal.


Tak lama kemudian Zaky mengurai pelukannya dan memegang kedua bahu Naya, hingga ia bisa melihat langsung wajah sembab Naya ditambah lagi mukanya yang sedang kesal.


“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Naya! Aku tidak peduli bagaimana sifat kamu yang sebenarnya. Aku menerima semua itu. aku bilang seperti tadi hanya untuk meminta penegrtian kamu tentang hubungan kita. Aku pulang karena memang di sana rumahku. Aku sudah berjanji bukan, kalau akan tinggal bersamamu, tapi dengan status yang berbeda, yaitu kita sudah menjadi pasangan suami istri. Jadi, tolong ijinkan aku untuk pulang.” ucap Zaky dengan sungguh-sungguh.


Naya akhirnya luluh setelah mendengar penuturan Zaky. hatinya sudah kembali menghangat. Lalu ia memeluk Zaky dengan erat.


“Baiklah, Kak. Aku akan menunggu kedatangan Kak Zaky.” ucap Naya setelah pelukannya terurai.


Zaky menangkup kedua pipi Naya. Ini hari terakhirnya bertemu dengan Naya, jadi ia ingin meninggalkan kenangan terindah sebelum berjauhan dengan kekasih hatinya.


Zaky mendaratkan bibirnya tepat pada bibir Naya. Menyapu lembut bibir Naya yang sudah membuatnya candu. Naya yang sudah terbawa suasana pun ikut menyeimbangi permainan Zaky. bahkan tangan Naya kini sudah mengalung pada leher Zaky, sedangkan tangan Zaky menekan kuat pinggang Naya hingga keduanya saling menempel.


“Maaf! Aku tidak sengaja mengganggu!” Seru Shanum yang tiba-tiba memasuki kamar Zaky di saat yang tidak tepat.


Sontak saja kegiatan enak-enak mereka terhenti setelah mendengar suara seruan Shanum. Namun Shanum sudah keluar dari kamar Zaky setelah melihat adegan plus-plus itu.


Nafas Naya dan Zaky masih tersengal. Antara kehabisan pasokan oksigen dengan ciuman setengah panas tadi, dan gugup kepergok oleh Shanum.


Sedangkan Zaky hanya menggaruk tengkuknya karena memang dia lupa menutup pintu dengan rapat, jadi masih ada celah sedikit dan mudah sekali Shanum masuk. Beruntungnya yang masuk Shanum, bukan orang lain.


“Lain kali teliti dulu, Kak!” gerutu Naya lalu beranjak dari duduknya.


“Maaf. Apa kita bisa melanjutkannya lagi?” goda Zaky dan mendapat tatapan tajam dari Naya.


Tak lama kemudian Zaky sudah bersiap untuk pulang. Shanum juga sudah menarik kopernya keluar dari kamar hotel. Perempuan itu tidak enak sendiri setelah memergoki kakaknya sedang berciuman dengan Naya. Padahal yang harusnya merasa tidak enak adalah Zaky dan Naya. Tapi kenapa justru Shanum. Atau memang itu tadi adalah pemandangan yang baru pertama kali Shanum lihat? Karena memang selama ini perempuan dua puluh satu tahun itu sama sekali tidak ada pengalaman menjalin kasih dengan seorang pria manapun.


Mengingat apa yang baru saja dilakukan oleh kakaknya dengan Naya, tiba-tiba saja Shanum membayangkan hal yang sama dan dilakukan dengan seseorang yang telah berhasil mencuri hatinya beberapa waktu yang lalu. Namun sayangnya, setelah itu Shanum tidak menemukan keberadaannya lagi.


“Ngapain bengong, Num? jadi pulang tidak?” Ucap Zaky membuyarkan lamunan Shanum.


“Eh, nggak kok Kak. Ya sudah ayo.” Jawab Shanum lalu berjalan mengekori kakaknya yang ada di depan bersama Naya.


Sesampainya di basement hotel, Zaky memasukkan koper Shanum ke bagasi. Sedangkan Shanum berbincang sebentar dengan Naya.


“Nay, seingatku saat acara pembukaan mall kamu juga datang. apa kamu juga diundang di acara itu? sepertinya kamu juga tamu penting.” Tanya Shanum tiba-tiba.


“Oh, tidak. Aku hanya menemani Kak Nabil saja.” jawab Naya.


“Jadi Naya kenal dengan pria itu. dan namanya adalah Nabil.” Batin Shanum tersenyum setelah mendengar jawaban Naya.


Tak lama kemudian Zaky menghampiri kedua perempuan itu. dia membukakan pintu untuk Shanum dan mempersilakan dia masuk.


“Aku pulang dulu ya, Sayang!” pamit Zaky lalu memeluk Naya.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️