My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 42



"Tidak menjamin wajah cantik nan lugu tetapi malah bunting duluan." sambungnya lagi. Membuat Batari, semakin menundukkan kepalanya.


"Itu dia yang sudah membuat nama kampus kita rusak!" Tunjuk mahasiswi yang membuat para mahasiswi yang lainnya menolehkan wajahnya menatap tajam ke arah Batari, yang terus menundukkan kepalanya.


"Dasar bitchh!" Ujar para mahasiswi. Membuat langkah Batari, terhenti. Ketika segerombolan para mahasiswi menghalangi langkah kakinya.


Dheg!


Plakkk!


"Seharusnya semenjak foto itu keluar, disaat itu juga kau di keluarkan dari kampus ini." Ujar salah satu mahasiswi yang bernama, Lala. Dengan menampar wajah, Batari.


"Benar-benar muka tembok!" Ucap Risna. Dengan mendorong tubuh Batari, hingga terjatuh ke lantai.


"Akhhhh!" Ringis Batari, yang langsung memegangi area perutnya yang terasa sakit.


"Cih! Lihatlah selain menjadi wanita tunasusila ternyata di pandai berakting." Ujar Nina. Untuk memprovokasi mahasiswi lainnya, agar tidak memiliki rasa iba dan terus untuk menghakimi, Batari.


"Batari!" Ucap Ara dan Rissa yang menerobos dari segerombolan para mahasiswi yang tengah menghakimi, Batari.


"Are you oke?" tanya Ara penuh khawatir.


Angguk Batari, walaupun dirinya tidak menjamin akan baik-baik saja.


"Ahh! Penyelamatnya datang." Ujar Lala, dengan nada sinis.


"Kalian semua benar-benar tidak memiliki perasaan!" Tutur Ara, yang begitu geram.


"Dia pantas mendapatkan itu semua dari kami." Jawab Nina.


"Dan kami sangat senang. Akhirnya wanita tunasusila sepertinya di drop out dari kampus juga." sarkas Mira.


"Apa! Drop out..." Cicit Rissa, yang begitu syok mendengar penuturan dari, Mira.


"Apa kau tidak mengetahuinya jika dia di drop out dari kampus ini karena bunting." sambung Mira, kembali.


"Apakah itu benar, Tari?" tanya Rissa. Dengan menatap wajah, Batari.


"Kasihan banget."


"Ternyata Rissa, tidak mengetahui ini semua."


"Benar-benar tidak dianggap seorang sahabat lagi." Bisik-bisik para mahasiswi lain yang semakin memperkeruh keadaan.


"Rissa... Kenapa kau juga menghakimi Batari, seperti mereka." Ujar Ara.


"Aku bertanya kepada Batari!" Ucap Rissa, yang masih menatap wajah Batari.


"Jawab Batari! Kenapa kau terus terdiam."


"Oh, jangan-jangan diantara kita bertiga yang tidak mengetahui ini semua hanya aku seorang." Ucapnya dengan menatap wajah Batari, begitu kecewa.


"A-aku bisa jelasin, Ris." Cicit Batari, yang menahan rasa nyeri di perutnya. Dan berusaha membangunkan tubuhnya sendiri tetapi malah kembali terjatuh.


"Kau mau jelasin apa lagi, Batari."


"Pembelaan untuk dirimu sendiri hah!!!" Teriaknya.


"Rissa!" Ujar Ara.


"Kenapa kalian berdua begitu tega."


"Tidak memberitahukan ini semua kepadaku."


"Apa kalian sudah tidak menganggapku sebagai seorang sahabat lagi." Ucap Rissa, diiringi air mata yang menetes di wajahnya.


"Tidak seperti itu, Rissa. Hiks..." Ucap Batari.


"Dan siapa laki-laki yang telah menghamilimu, Batari?" tanyannya kembali.


"Ya ampun benar-benar kasihan terhadap, Rissa." Beo Nina.


"Dia hamil oleh kakaknya sendiri." sarkas Mira, yang menjawab pertanyaan Rissa.


"Hah!" Syok Rissa. Dengan melirik wajah Mira yang berada di sampingnya, untuk meminta penjelasan lebih rinci lagi.


"Aku tidak tahu siapa namanya. Yang jelas dia tengah mengandung benih dari kakaknya sendiri." sambung Mira, kembali.


"A-apa itu, kak E-ervin." Cicit Rissa, yang mentap wajah, Batari.


Angguk Batari. "Hah! Aku sungguh tidak menyangka dan begitu syok."


"Ternyata kakak yang dimaksud itu adalah, kak Ervin. Seseorang yang selama ini aku kagumi." Ujar Rissa. Dengan memundurkan langkah kakinya.


"Kenapa Batari, kau mau ditiduri olehnya?" cicitnya kembali.


"Aku akan jelasin ini semua, Ris. Secara empat mata denganmu." Ucap Batari.


"Tidak ada yang perlu dijelasin lagi, Batari." Ujar Rissa, dengan geleng-geleng kepala.


"Ris, dengerin dulu penjelasan dari Batari!"


"Dan jangan menyimpulkan terlebih dahulu sesuatu yang belum kau ketahui kebenarannya." Ujar Ara.


"Rissa tunggu!!!" Teriak Ara dan Batari.


"Ra, hiks..." Cicit Batari. Dengan sehancur-hancurnya.


"Lebih baik kau segera pergi dari kampus ini!" Ujar para mahasiswi yang tidak memiliki rasa iba terhadap, Batari.


"Apa kalian di sini tidak memiliki rasa kemanusiaan sama sekali."


"Sehingga menghakimi Batari, seperti ini."


"Kalian tidak tahu apa yang di alami oleh Batari, selama ini."


"Bagaimana hancurnya perasaannya!!!" Teriak Ara. Membuat para mahasiswi bungkam seketika.


"Asal kalian tahu Batari, itu bukan seorang bitchh."


"Dia hanya korban!"


"Dan kalian jangan menganggap diri kalian sendiri merasa suci." sambungnya kembali.


"Sudah, Ra..." Cicit Batari.


"Tidak bisa, Tar. Di sini kau hanya korban, biar mahasiswi seperti mereka itu tahu tentang kebenarannya." Ujar Ara, dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Please, Ra... Ini sakit banget." Lirih Batari. Membuat Ara, langsung memapah tubuh Batari, menuju gerbang untuk mencari taksi.


"Kalian jangan percaya dengan perkataan dia!" Tunjuk Disha, ke arah Ara dan Batari.


"Apa maksudmu?"


"Apa kau belum puas!" tanya Ara, begitu geram.


"Sudah Ra, jangan di tanggapi." Beo Batari, dengan rasa sakit yang semakin menjadi.


"Lihatlah baik-baik, dia itu sedang kesakitan untuk bisa menghindar dari kalian." Ujar Disha, yang memprovokasi kembali membuat para mahasiswi memghampirinya lagi.


Tap... Tap... Tap...


"Dasar Bitchh!" Ucap para mahasiswi yang kembali menghakimi, Batari.


"Jaga ucapan kalian!"


"Apa kalian tidak bisa membedakan mana yang akting mana yang kenyataan." Ujar Ara, dengan geramnya.


"Ra..." Cicit Batari.


"Tidak Batari, kali ini kau jangan melarangku lagi."


"Mereka sudah keterlaluan terhadap dirimu, Batari."


"Aku tidak bisa melihat sahabatku diginiin." Ujar Ara, yang melangkahkan kakinya ke arah para mahasiswi.


Tap... Tap... Tap...


"Apa mau kalian?" tanya Ara, yang sudah berada di depan para mahasiswi. Dengan meninggalkan Batari, bersama Disha yang tengah mengulum seringai di wajahnya.


"K-kau puas!" Ucap Batari, dengan terbata-bata.


"Sangat..."


"Tetapi aku belum puas melihat kau yang benar-benar hancur di tanganku." Ujar Disha, yang terus melangkah ke arah Batari.


"Kau..." Ucap Batari, yang terus memundurkan langkahnya.


"Kenapa?"


"Kau takut, Batari?" tanyanya yang terus melangkahkan kakinya. Dengan seringai yang menghiasi wajahnya.


"Akhhh!" Rintih Batari, di kala perutnya benar-benar terasa sakit.


"Kau jangan terus berakting di depanku."


"Aku tidak akan sekali pun merasa iba terhadapmu, Batari." Ujar Disha.


"S-sungguh aku tidak ber-akting." Ucap Batari. Dengan perut yang begitu terasa sakit.


"Sekali pun itu kenyataan aku tetap tidak akan peduli." sambungnya kembali.


"Ku-mohon... Akhhhh..." Ucapnya dengan keringat yang sudah membanjiri tubuhnya.


"Sudah sangat terlambat untuk kau memohon terhadapku."


"Jadi tidak ada gunanya." Ujar Disha, yang terus melangkahkan kakinya.


"Hanya takdir yang membantumu dari semua ini." sambungnya kembali.


Tin... Tin... Brukkkkk!


"Batari!!!" Teriak Ara.


...----------------...