My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 37



"Ayudisha Devira, malam ini kau sangat cantik." Puji Ethan. Menghampiri Disha, yang tengah berada di samping, Ervin.


"Cih! Masih dengan gombalan yang sama." Gumam Ervin, yang masih bisa di dengar oleh, Ethan.


"Ehemm! Aku tidak berbohong, tetapi aku tidak memungkiri wanita yang begitu cantik untuk malam ini yaitu gadis yang bernama, Batari."


"Bagaimana menurutmu, Ervin?" tanya Ethan, dengan seringai. Membuat Ervin, mengepalkan kedua tangannya.


"Tentu saja, aku setuju denganmu." Jawab Ervin, menyunggingkan senyumnya menatap wajah Ethan. Untuk menutupi kobaran api amarahnya.


"Well, aku sangat tertarik dengan adikmu." Bisik Ethan, dengan tersenyum puas.


"Jangan harap!" Ujar Ervin, dengan tatapan tajam.


"Ayolah! Lupakan masa lalu."


"Aku sungguh tertarik dengan adikmu." Ujar Ethan.


"Benar sayang. Apa yang diucapkan, Ethan." sarkas Disha.


"Tidak semudah itu, untuk melupakan masa lalu." Jawab Ervin, dengan lugasnya.


"Baiklah. Kalau begitu bolehkah aku meminta kekasihmu untuk berdansa denganku?" tanya Ethan.


"Ck! Kau sungguh belum berubah."


"Apapun yang aku miliki, kau selalu menginginkannya." Ujar Ervin, dengan mengulum senyum sinisnya.


"Of course."


"Karena aku sangat tertarik dengan apa yang kau miliki." Jawab Ethan, yang tak mau kalah.


"Baiklah, nikmati malam kalian di pesta ini." Ujar Ervin. Melangkahkan kakinya meninggalkan Disha, bersama Ethan.


"Kau cepat sekali menyerahkan kekasihmu kepadaku."


"Sedangkan aku menginginkan untuk mendekati adikmu, kau begitu terlihat marah." Ujar Ethan. Membuat Ervin, sukses menghentikan langkah kakinya.


"Karena kau tak pantas untuknya." Ucap Ervin, dengan membalikkan badanya.


Drap... Drap...


"Lalu yang pantas untuknya, laki-laki seperti apa yang menurutmu?" tanya Ethan. Sudah berada di depan, Ervin.


"Ahh... Atau laki-laki seperti kau!" Tunjuk Ethan, di dada Ervin.


"Sure." Jawab Ervin.


"Hahaha! Kau sungguh lucu." Ujar Ethan. Dengan tersenyum begitu menggelegar.


"Kau akan mencarinya di mana? sedangkan laki-laki yang sepertimu tentunya hanya dirimu seorang." sambungnya kembali, masih dengan gelak tawanya.


"Benar." Jawab Ervin. Membuat Ethan, menghentikan gelak tawanya dan menatap wajah Ervin, serius.


"Cih! Kau itu hanyalah kakaknya. Jadi stop bermimpi!" Bisik Ethan.


"Kau yang harus berhenti bermimpi." Tutur Ervin.


"Bodoh!" sambungnya kembali, melangkahkan kakinya.


...***...


"Ervin!!" Panggil Vano.


"Bang Vano." Beo Ervin, ketika menolehkan wajahnya.


"Ikut aku." Ujar Vano, yang melangkahkan kakinya keluar dari ballroom.


"Aku keluar sebentar. Jika ada yang mencariku, aku sedang bersama, bang Vano." Ucap Ervin, kepada Delvin.


Drap... Drap...


"Ada apa, Bang?" tanya Ervin. Ketika Vano, membawa dirinya ke basement.


Bughh!


Satu pukulan dari Vano, langsung melayang di wajah tampan, Ervin.


"Kenapa kau membuat Batari, menangis berengsek!"


"Sudah aku peringatkan kepadamu, jika kau menyakiti Batari..."


"Kau, langsung berhadapan denganku!" Ujar Vano. Menarik kerah kemeja Ervin, yang sudah terhuyung oleh pukulannya.


"A-aku bisa jelasin, Bang." Ucap Ervin, dengan suara terbata-bata.


Brukkkk!


Dengan mendorong tubuh Ervin, hingga mengenai sebuah mobil.


"Mau jelasin apa!"


"Kau itu benar-benar laki-laki bajingan, yang tidak bisa memilih salah satu seorang wanita." Ujar Vano. Kembali menarik kemeja, Ervin.


"Seharusnya kau sadar! Kau itu sudah menikah." sambungnya kembali.


Bughh!


Vano, yang kembali membaku hantam wajah tampan, Ervin.


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


"Jika saja kau bukan hidup denganku sedari kecil. Sudah aku habisin kau!" Tunjuk Vano, dengan tatapan yang begitu tajam.


...***...


"Jangan ikuti aku." Ucap Disha, yang terus melangkahkan kakinya menuju life.


Grep!


"Lepas!!" Berontak Disha.


"Tidak. Aku ingin menghiburmu, Baby." Ujar Ethan. Menggenggam kuat pergelangan lengan, Disha.


"Jangan berlebihan. Hubungan di antara kita hanyalah kesepakatan." Ucap Disha. Menghentakkan tangan, Ethan.


"Disha... Disha... Kau jadi wanita terlalu bodoh!"


"Masih saja berharap dengan bajingan itu."


"Yang jelas-jelas telah membuangmu kepadaku."


"Kurang baik apa lagi, aku yang menerima dirimu dengan tangan terbuka." Ujar Ethan.


"Kau, lebih bajingan dari Ervin!" Tutur Disha. Dengan menunjuk ke arah dada, Ethan.


"Hanya mementingkan kepuasanmu sendiri lalu membuangnya jika sudah mendapatkannya."


"Seharusnya kau berkaca." Ujar Disha, dengan mengulum senyum sinis.


"Tentu saja kau adalah cermin bagiku, Disha."


"Dan Tuhan, sangat adil memberikan wanita sepertimu untukku." Ujar Ethan, yang menarik lengan Disha, untuk berada dalam pelukannya.


"Kau..." Cicit Disha, dengan memelototkan matanya.


"Lepaskan aku!" Cicit Disha, kembali. Dengan memukul-mukul punggung, Ethan.


"Kita nikmati saja malam indah ini." Bisik Ethan. Dengan mencumbui leher Disha, dan sebelah tangannya memencet tombol life.


"Ahhhh!" Disha, yang meremas kuat jas Ethan, yang terus mencumbui dirinya hingga masuk ke dalam life.


"Tubuhmu tidak akan pernah menolak sentuhanku." Ujar Ethan. Menatap Disha, dengan nafas yang terengah-engah.


"Dan aku peringatkan, setiap kau menyentuhku itu tidak geratis." Ucap Disha.


"Of course. Apapun yang kau inginkan aku akan memberikannya untukmu." Ujar Ethan.


"Tunggu!" Ucap Disha, yang menahan tubuh Ethan.


"Why?" Protes Ethan.


"Kita lanjutkan, setelah aku kembali dari toilet." Ucap Disha.


Beberapa menit kemudian.


~Toilet~


Tap... Tap... Tap...


Kriettt...


"Hai... Batari, kita ketemu lagi?" tanya Disha. Melihat Batari, berada dalam satu toilet yang sama.


Tap... Tap... Tap...


"Kenapa dengan matamu yang sembab?" tanya Disha, kembali. Yang masih diacuhkan oleh Batari, yang terus merapikan makeup-nya.


"Oh, aku tahu pasti kau habis menangis melihat kebersamaanku dan, Ervin." sambungnya kembali dengan tersenyum sinis.


Batari, pun masih sama tetap mengacuhkan ucap, Disha.


Ia lebih memilih untuk membasuh kedua tangannya ketimbang menjawab perkataan, Disha.


"Kalau ada orang ngomong itu di jawab!" Ujar Disha. Dengan mendorong tubuh, Batari.


"Akhhhh!" Rintih Batari.


"Apa kau tuli tidak mengerti bahasa manusia!" sambungnya kembali. Menatap puas melihat Batari, yang tengah kesakitan. Dengan mulut Batari, yang masih bungkam.


"Aku sungguh tidak menyangka."


"Kukira kau gadis baik-baik."


"Tetapi ternyata cukup murahan juga hingga mampu di tiduri kakaknya sendiri." Ujar Disha.


Plakkk!


Batari, yang langsung menampar Disha.


Plakkk!


Disha, pun membalas dengan menampar balik wajah cantik, Batari.


"Dengar ya Batari! Aku bisa menyebarkan informasi ini kesemua orang di kampusmu."


"Bahwa gadis yang terlihat baik di kampusnya, ternyata tengah mengandung benih dari kakaknya sendiri." Ujar Disha. Mengancam Batari, yang masih memegang sebelah pipinya yang terasa kebas.


"Kau hanya ingin menggertakku saja, agar aku kemakan dengan ancamanmu yang tidak berdasar memiliki bukti." Ucap Batari.


"Gadis manis sepertimu ternyata bodoh sekali." Ujar Disha, yang mengambil ponselnya lalu memperlihatkan sebuah video kepada, Batari.


"Sekarang kau percaya dengan bukti yang berada di tanganku." Tutur Disha. Dengan senyum di wajahnya. Ketika ekspresi Batari, yang terlihat benar-benar syok.


"I-itu bukan aku." Cicit Batari. Dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Batari... Batari... Sampai kapan kau akan terus mengelak." Ujar Disha.


...----------------...