My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 6



"Hei!" Tepuk Ara. Pada pundak Batari, yang tengah menatap punggung Bryan.


"Ahh!" Ucap Batari, yang langsung menghapus airmatanya.


"Beberapa hari ini Bryan, selalu nanyain kamu terus loh..." Ujar Ara, yang menatap punggung Bryan, yang sudah menghilang di balik tembok.


"Iya Ra, tadi kami sudah saling berbicara." Ucap Batari.


"Syukurlah" Cicit Ara. Menatap raut wajah Batari, terlihat sedih.


"Are you oke?" tanya Ara.


"Ya," Jawab Batari, dengan menyunggingkan senyumnya.


"Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja! Apa ada problem?" tanya Ara.


"Aku bingung Ra, Bryan mengajakku nonton." Ucap Batari, yang melangkahkan kakinya menuju kursi.


"Kenapa kau mesti bingung! Bukannya itu yang kau mau selama ini." Ujar Ara, yang sudah mendudukkan bokongnya di samping, Batari.


"Ya dulu aku menginginkan momen ini, tapi sekarang..." Batin Batari.


Batari, yang terdiam membuat Ara, bertanya-tanya di dalam hatinya. Seperti bukan sosok Batari, yang selama ini selalu memuja Bryan.


"Aku tidak tahu, Ra." Jawab Batari.


"Sini ponselmu!" Ujar Ara.


"Untuk?" tanya Batari, seraya memberi ponselnya kepada Ara.


Bryan : Ya, malam ini aku senggang. Jadi aku akan terima tawaranmu.


Ara, yang mengechat Bryan, memakai ponsel Batari.


"Sudah." Ucap Ara, yang memberikan kembali kepada Batari.


"Ya ampun Ra! Kenapa kau chat Bryan, aku kan belum memutuskan untuk menerima tawarannya." Ucap Batari.


"Ini adalah kesempatan terbaik untukmu dan Bryan,"


"Apa kau ingin menyia-nyiakan kesempatan ini yang mungkin saja tidak akan datang untuk kedua kalinya." Ujar Ara, membuat batari berpikir dengan ucapan Ara.


...***...


"Terimakasih sayang, aku sangat bahagia bisa dinner romantis denganmu lagi." Ucap Disha.


"Iya sayang," Ucap Ervin, yang membelai lembut rambut Disha. Lalu berpindah membelai lembut wajah Disha, yang terlihat menikmati sentuhannya.


"Malam ini kau sangat cantik, sayang!" Bisik Ervin, di telinga Disha. Membuat Disha, menyunggingkan senyumnya dengan wajah yang sudah memerah.


"Bolehkah aku..." Ucap Ervin, yang mengusap lembut bibir Disha.


"Grep!" Disha, yang menahan tangan Ervin.


"Kenapa kau harus meminta izinku." Ucap Disha, yang memajukan bibirnya dengan bibir Ervin. Dengan jarak yang begitu dekat.


"Cup!" Disha, yang mengecup sekilas bibir Ervin, membuat Ervin menyunggingkan senyumnya.


Ervin, yang membalas dengan mencium bibir merah milik Disha, begitu bergairah dengan saling bertukar saliva.


"Hoshhh!" Deru nafas di antara keduanya saling memburu di kala keduanya sudah melepaskan pagutannya.


"A-aku akan turun." Cicit Disha, dengan wajah yang sudah merah padam.


"Grep!" Ervin, yang memegangi tangan Disha. Di kala Disha, mau membuka pintu mobil.


"K-kenapa?" tanya Disha. Dengan menatap wajah Ervin, yang menatap dirinya begitu dalam.


"Cup!" Ervin, yang mencium kening Disha. Membuat detak jantungnya berdegub kencang di kala Ervin, begitu sweet kepadanya.


"Jangan keluyuran lagi, mengerti!" Ujar Ervin, mengelus rambut Disha.


"Iya sayang..." Ucap Disha, menyunggingkan senyumnya dengan membuka pintu mobil.


"Dah! Hati-hati..." Ucap Disha, dengan melambaikan tangannya.


~Setengah jam kemudian~


Tap... Tap... Tap...


Langkah kaki Batari, yang menuruni anak tangga dengan perasaan yang begitu was-was.


"Iya sayang, aku sudah sampai rumah." Ujar Ervin, ketika langkah kakinya sudah masuk ke dalam rumah.


Tap... Tap... Tap...


Langkah kaki Batari, pun semakin perlahan di kala melihat Ervin, yang baru memasuki rumah.


"Aku tutup teleponnya LOVE YOU." Ujar Ervin. Di kala melihat penampilan Batari, yang terlihat sangat cantik dan rapi.


"Kau mau kemana?" tanya Ervin.


"A-ku ada janji dengan, Ara." Alibi Batari, dengan raut wajah yang sedikit panik.


"Dengan pakaian yang seperti ini." Ujar Ervin, yang mengamati pakaian Batari yang cukup terbuka.


Angguk Batari. "Kau merasa tidak sesak dengan rokmu yang super ketat itu?" tanya Ervin, yang benar-benar mengamati penampilan Batari, dari atas sampai bawah.


"Tidak, aku merasa nyaman dengan penampilanku ini." Ujar Batari, dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Ganti!" Ujar Ervin, yang begitu geram dengan rok yang Batari, pakai.


"Tap--" Protes Batari.


"Kau sudah melupakan dirimu yang tengah mengandung!"


"Ya, benar kau merasa tidak sesak tetapi bayi di dalam kandunganmu yang merasa sesak, Batari!" Ujar Ervin.


"Tidak, aku tidak pernah melupakan bahwa diriku tengah hamil."


"Aku sudah memastikan bahwa rok yang aku pakai benar-benar nyaman, begitupun dengan bayi yang ada di dalam kandunganku."


"Aku tidak mungkin membuatnya sesak." Tutur Batari, dengan kesungguhannya.


"Sudah kubilang ganti! Jika kau ingin pergi menemui sahabatmu."


"Tetapi, jika kau tetap ingin memakai penampilan seperti itu."


"Aku tidak akan mengizinkanmu untuk keluar dari rumah ini." Ujar Ervin.


"Baiklah." Ucap Batari, yang kembali ke kamarnya dengan raut wajah begitu kesal.


"Iya, Bry." Jawab Batari.


"Kau di mana?" tanya Bryan, yang sudah berada di basement mall.


"Aku masih di rumah, Bry." Jawab Batari.


"Apa kau sudah memutuskan kembali untuk tidak datang." Ujar Bryan.


"Tentu saja aku akan datang, karena aku sudah berbuat janji denganmu." Jawab Batari.


"Baiklah, aku menunggumu di sini..." Ujar Bryan, dengan suara happynya.


Tap... Tap... Tap...


Suara langkah kaki Batari, yang kembali menuruni anak tangga membuat Ervin, menolehkan wajahnya.


Ervin, yang mengamati Batari, tengah menuruni anak tangga.


Dengan memakai dress yang membalut di tubuhnya terlihat simple dan begitu menawan, dipadukan dengan paras cantiknya.


Membuat Ervin, tidak berkedip dan menelan air liurnya kembali.


"Tenangkan dirimu Ervin, jangan samapai kau berpaling dari, Disha." Batin Ervin.


"Bagaimana? Apa sekarang aku boleh keluar?" tanya Batari, yang sudah berada dihadapannya dengan jarak yang tidak terlalu dekat maupun jauh.


"Ekhmm! Kau tidak salah memilih pakaian dan dandanan yang seperti ini, hanya untuk jalan bersama sahabatmu." Ujar Ervin.


"Jangan bilang, Kak Ervin ingin menyuruhku untuk mengganti pakaianku kembali." Ucap Batari.


"Tidak, ini lebih baik dari pada yang tadi."


"Tetapi rasanya sangat aneh berpenampilan seperti layaknya seseorang yang akan pergi berkencan, kau yakin hanya ingin bertemu sahabatmu?" tanya Ervin, penuh selidik.


"Deg!!" Ekspresi wajah Batari, yang langsung berubah.


"M-memangnya tidak boleh berpenampilan seperti ini, walaupun hanya ingin jalan bersama seorang teman." Tutur Batari, dengan tangan yang memegang erat tasnya.


"Tentu saja boleh." Ujar Ervin, yang menjawab dengan singkat dan mengesampingkan kecurigaannya terhadap, Batari.


"Jadi artinya aku boleh ke luar." Tutur Batari, seraya menunjuk ke arah pintu utama.


"Sure." Jawab Ervin, dengan menganggukkan kepalanya.


"kalau begitu aku pamit." Ucap Batari, penuh antusias dan langsung melangkahkan kakinya.


"Tunggu Batari!" Tukas Ervin, dengan Batari, yang langsung menghentikan langkah kakinya dan membalikkan badannya menatap kembali wajah, Ervin.


"Jam 10 malam kau harus sudah ada di rumah." Tutur Ervin. Yang di angguki Batari, tanpa ada gerakan tubuh Batari, yang akan melangkahkan kembali kakinya.


"Why?" Ujar Ervin, dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Hmm, apa sudah tidak ada yang ingin Kak Ervin, ucapkan kembali kepadaku." Jawab Batari, dengan menatap wajah Ervin.


"Tidak," Ujar Ervin, dengan menggelengkan kepalanya.


"Tapi aku ingin memberimu tawaran untuk mengantar ke rumah sahabatmu." Sambungnya kembali.


"Tidak-tidak! A-aku sudah memesan taksi online." Cicit Batari, seraya menolak tawaran Ervin. Dengan langsung melangkahkan kakinya keluar rumah.


"Huh! Kuat-kuat vin..." Batin Ervin, dengan menghela nafasnya kasar.


...***...


~Mall~


"Di mana Bryan?" Gumamnya yang melihat kiri kanan tidak menemukan sosok yang dicarinya.


"Jangan-jangan filmnya sudah dimulai..." Batinya.


Tap... Tap... Tap...


Batari, yang terus melangkahkan kakinya menelusuri lautan manusia untuk masuk ke tempat bioskop, untuk mencari sosok, Bryan.


"Bryan!" Panggil Batari, yang menemukan sosok Bryan, yang tengah duduk dipojokan sofa seorang diri.


"Batari..." Beo Bryan, dengan melambaikan tanganya.


"Maaf aku terlambat, apa filmnya sudah dimulai?" tanya Batari, dengan raut wajah yang merasa bersalah.


Angguk Bryan. "Lalu bagaiman? Apa kita nunggu di jam berikutnya lagi?" Sambungnya yang kini sudah duduk di samping, Bryan.


"Tidak perlu!"


"Kukira kau tidak akan datang, tetapi kau datang juga walaupun tidak jadi untuk nonton filmnya." Ujar Bryan, dengan tetap menampilkan senyumnya


"Maaf!" Cicit Batari.


"Tidak apa-apa..."


" Bagaimana jika aku mengajakmu ke suatu tempat, apa kau mau?" tanya Bryan, dengan berharap Batari mengiyakannya.


"Kemana?" tanya Batari.


"Ke suatu tempat yang pastinya kau akan menyukai tempatnya." Tutur Bryan.


"Baiklah." Batari, yang menyetujui tawaran Bryan.


"Thanks Tari. Ayo!" Ujar Bryan. Menarik tangan Batari, menuju basement.


~15 menit kemudian~


"Tari..." Beo Bryan.


"Hmmm," Jawab Batari, yang sedang menikmati hembusan angin malam.


"Ada yang ingin aku ucapkan kepadamu!" Ujar Bryan, yang kini memegangi kedua tangan Batari.


"Deg!" Jantung Batari, berdetak begitu kencang bak seperti roller coaster.


"Semenjak pertemuan kita 2 tahun yang lalu, sebenarnya aku sudah memendam perasaan terhadapmu, Tari!" Ujar Bryan. Dengan Batari, yang menyunggingkan senyumnya diiringi kedua bola mata berkaca-kaca mendengar perkataan, Bryan.


"Aku begitu sangat takut ketika akan mengutarakan perasaan ini dan sudah aku tekadkan pada malam yang sangat indah ini,"


"Tari, bulan dan bintang sebagai saksi bisunya malam ini aku ingin mengutarakan isi perasaanku yang sudah terpendam 2 tahun lamanya,"


"Maukah kau menerimaku dan tetap berjalan di sampingku sebagai seorang kekasih...?" Ujar Bryan.


...----------------...