
"Kau menamparku, vin." Beo Disha, memegangi sebelah pipinya yang terasa kebas.
"Karena kau tidak bisa menjaga mulutmu!"
"Itulah akibatnya!" Tunjuk Ervin, dengan tatapan tajamnya.
"Aku benar-benar melihat sosok Ervin, yang sangat berbeda dengan Ervin, yang 2 tahun yang lalu aku kenal." Ujar Disha, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Hanya ada Ervin, yang sekarang."
"Ervin, yang kau kenal sudah lenyap bersama penghianatanmu dulu." Tutur Ervin.
"Lalu, apa artinya hubungan ini bagimu?" tanya Disha, menatap nanar wajah, Ervin.
"Kau yakin ingin tahu?" tanya Ervin, yang mendekatkan wajahnya dengan wajah Disha.
"Su-re." Jawab Disha.
"Ck! Tetapi sangat disayangkan aku tidak ingin memberitahumu dalam waktu dekat ini." Tutur Ervin, memundurkan kembali langkahnya.
"Kau ingin balas dendam terhadapku."
"Dengan membuatku mendambakan cinta darimu, Vin. Kau sungguh kejam!" Ucap Disha, kembali meluruhkan air matanya.
"Kau lupa, Disha?"
"Bukannya kau yang datang sendiri kepadaku untuk memintaku tetap kembali bersamamu seperti seorang pengemis." Ujar Ervin, melipatkan kedua tangannya.
"Apa kau melupakan hal itu?" sambungnya kembali.
"Ya, aku mengingat semuanya."
"Memang aku yang memulai ini semua, tetapi kau yang meyakinkanku kembali."
"Disaat pesta penerus J Group berulang tahun, kau memintaku agar aku tetap mencintaimu." Tutur Disha.
"Bahkan kau mengiming-imingiku untuk menjadi kekasihmu kembali."
"Apa itu hanya trik licik darimu!"
...***...
Drap... Drap... Drap...
'Tok-tok-tok'
Ceklekk!
Ervin, yang melihat Batari sudah mengganti gaun tidurnya dengan baju tidur yang biasanya ia pakai.
"Maaf atas sikap, Disha terhadapmu." Beo Ervin.
"Hah..." Angguk Batari.
"Apakah kak Disha, sudah mengetahui semuanya?" tanya Batari, dengan meremas baju tidurnya.
"Sepertinya begitu." Ujar Ervin, yang langsung masuk ke dalam kamar Batari, begitu saja.
Dengan raut wajah Batari, yang sudah berubah sangat pucat mendengar penuturan dari, Ervin.
"Kondisikan wajahmu, Batari." Ujar Ervin, yang tengah menahan senyumnya.
"Aku ta-kut rumor tentang pernikahan kita tersebar." Cicit Batari.
"Duduklah, Batari." Ujar Ervin, seraya menepuk kasur di sebelahnya.
"Tidak." Tolak Batari. Dengan masih memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya.
"Kau tidak perlu khawatir seperti itu."
"Disha, belum mengetahui kebenaran tentang pernikahan kita."
"Jadi kau tidak perlu khawatir." Ujar Ervin, lalu detik berikutnya ia merebahkan tubuhnya di kasur milik, Batari.
"Syukurlah." Cicit Batari, dengan mengusap dadanya.
"Tapi aku tidak menjamin semuanya akan baik-baik saja."
"Kau tahu sendiri Disha, seperti apa."
"Dia tidak akan menyerah begitu saja sebelum keinginanya tercapai." Tutur Ervin, yang menggunakan kedua tangannya untuk menahan kepalanya.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Batari, yang duduk di samping Ervin, yang tengah merebahkan tubuhnya.
"Merahasiakannya " Jawab Ervin. Menatap wajah Batari, yang terlihat cantik tanpa polesan make up di wajahnya.
"Bagaimana jika dia tetap bertanya?"
"Dia pasti bisa membacanya hanya dari gesture tubuhku." Ujar Batari.
"Shutt!" Ervin, yang langsung menghentikan Batari, dengan satu jari di bibirnya. Membuat Batari, mendadak mematung.
"Kau diamlah, aku ingin istirahat sebentar." Ujar Ervin, yang kini memejamkan kedua kelopak matanya.
"Jika kau ingin istirahat, pergilah ke kamarmu." Usir Batari, yang sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Jika kau tidur di sini, lalu aku tidur di mana?" tanya kesal Batari. Dengan menggoyang-goyangkan terus tubuh Ervin, agar terbangun.
"Di sampingku... Di sini masih muat untuk kau tidur." Jawab Ervin, yang membukakan semua kelopak matanya sempurna dengan menatap wajah, Batari.
"Kau sedang mencari kesempatan dalam kesempitankan!" Tunjuk Batari.
"Bukannya kau yang mencari kesempatan dalam kesempitan terhadapku tadi." Ujar Ervin, yang kini terduduk ditepi ranjang. Berhadapan langsung dengan Batari, yang tengah berdiri menghadapnya.
"K-kapan..." Cicit Batari, dengan detak jatung yang begitu kencang.
"Disaat kau memakai lingerie, bukannya itu kau sedang mencoba menggodaku." Ujar Ervin.
"Sudah aku katakan aku tidak mencoba untuk menggodamu, kau sendiri yang tergoda olehku karena aku memakai lingerie." Tutur Batari.
"Aku laki-laki normal, Batari." Ujar Ervin. Menarik lengan Batari, untuk duduk di pangkuannya.
"Aaaaaaa!" Jerit Batari. Ketika tiba-tiba Ervin, menarik dirinya.
"Aku bisa menerkammu kapan saja." Ucap Ervin, dengan membelai setiap inci dari wajahnya.
"Jangan pernah anggap sepele dari tindakanmu itu, Batari."
"Karena kau berhasil telah membuat singa jantanku terbangun dari tidurnya." Ujar Ervin, mencium rambut Batari, yang begitu harum.
"Kali ini kau masih beruntung."
"Tetapi jangan sekali-kali kau mencoba untuk menggodaku." Sambungnya kembali dengan deru nafas Batari, yang tersenggal-senggal.
"Aku tidak akan pernah memaksamu untuk melayaniku sebagai seorang istri."
"Kecuali kau yang menginginkan diriku, untuk menyentuhmu di setiap inci tubuh halusmu ini." Ujar Ervin, yang menjatuhkan tubuh Batari, di ranjang.
"Tidurlah." Tutur Ervin, yang melangkahkan kakinya keluar dari kamar, Batari.
...***...
~Kampus~
"Ra..." Cicit Batari.
"Hmm... kenapa Batari?" tanya Ara, yang melihat raut gusar dari tubuh, Batari.
"Aku masih bingung, apakah di dunia ini ada yang menikah dengan kakaknya sendiri sepertiku." Tutur Batari.
"Tentu saja ada, tetapi hanya ada beberapa di dunia ini." Ujar Ara.
"Serius Ra, ada?" ucap Batari.
"Ya Tari, banyak influencer yang membahas kisah ini diberbagai penjuru dunia." Ujar Ara.
"Tetapi risiko terberatnya akan dialami oleh anaknya yang akan terlahir cacat, jika mereka memiliki seorang anak." Sambungnya kembali.
Dheg!
Dengan raut syoknya. Bahkan Batari, tidak memikirkan risiko ke depannya apa yang akan terjadi kepada buah hatinya.
"A-pa itu akan berlaku juga kepada anakku, ra?" tanya Batari.
"Mungkin saja." Ujar Ara, dengan menganggukkan kepalanya.
"Tetapi ada yang janggal di pernikahanmu, Tari." sambungnya kembali.
"Maksudmu?" ucap Batari, dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Biasanya jika ada pernikahan sedarah itu diakibatkan orangtuanya dahulu pun menikahnya seperti itu. Tetapi om David dan tante Ranti, kan menikah tidak ada hubungan darah."
"Umm... Atau jangan-jangan kak Ervin, bukan kakak kandungmu Batari." sambungnya kembali.
"Kau ngaco Ra, itu tidak mungkin." Ucap Batari.
"Bisa saja dia bukan kakak kandungmu, Batari."
"Bukannya kau pernah bilang jika kak Ervin, pernah tidak ingin untuk menikahimu karena kau Adiknya."
"Tetapi setelah menemui om David, kak Ervin langsung menyetujui untuk menikahimu. Dan pernikahan pun berlangsung keesokan harinya." Tutur Ara.
"Tapi aku tidak yakin Ra, aku melihat foto masa kecilnya yang tengah digendong oleh papa." Ujar Batari.
"Bisa sajakan kak Ervin di adopsi oleh om David sewaktu dirinya masih sangat kecil." Tutur Ara.
"Mana mungkin Ra, aku tidak percaya jika dia bukan kakak kandungku." Ucap Batari.
"Aku sangat yakin Tari"
"Bahkan jika dilihat-lihat wajah bang Vano dan kak Ervin, memiliki wajah yang tidak ada kemiripan sama sekali." Ujar Ara, dengan cocok loginya kembali. Membuat Batari, terdiam memikirkan penuturan dari, ara.
"Jika benar dia bukan kakak kandungmu bagaimana, Tari?"
"Apa kau akan mempertahankan pernikahanmu?" ujar Ara, dengan kedua pertanyaannya.
...----------------...