
"Sudah aku bilangkan, aku tidak mempercayai buaya rawa-rawa seperti, Ervin." Gerutu Ellona, selama mereka berada di perjalanan.
"Tenangkan dirimu, sayang." Ucap Attar, menggenggam sebelah tangannya.
"Bagaimana aku bisa tenang Mas. Batari, sudah menerimanya sebagai seorang suami. Tetapi Ervin, masih menjalin hubungan dengan perempuan bitchh itu." Ujar Ellona, yang masih begitu geram hanya memikirkannya saja.
"Ervin, masih beradaptasi sayang. Aku yakin one day dia akan tersadar siapa yang terbaik untuk menjadi pendampingnya." Tutur Attar, menolehkan wajahnya sekilas menatap wajah, Ellona.
"Tidak untuk menjadi pria rakus jugakan Mas, aku sangat kasihan betapa tersiksanya hidup Batari, secara verbal." Ucap Ellona.
"Lebih baik kau mendoakan hidup mereka, sayang." Ujar Attar.
Di sisi lain.
"Kau menceritakan apa saja tentangku kepada mba Ellona dan bang Attar?" tanya Ervin, yang sudah mengunci tubuh Batari.
"A-aku tidak menceritakan apa-apa..." Jawab Batari.
"Bohong! Kenapa mba Ellona, terlihat begitu marah."
"Pasti kau mengadu sesuatu padanya." Tutur Ervin. Dengan Batari, yang terus menggelengkan kepalanya hingga air mukanya pun terlihat begitu ketakutan.
"Baiklah, jika kau terus bungkam, aku akan memberimu hukuman." Ujar Ervin. Menarik pergelangan tangan, Batari.
...***...
~Kampus~
"Akhir-akhir ini aku selalu melihatmu terus murung." Ujar Rissa, yang memberi minuman kepada, Batari.
"Terimakasih, Ris." Ucap Batari, yang menerima minuman dari Rissa.
"Ehemm... Perasaanmu saja kali, Ris." Jawab Batari, yang akan meminum pemberian dari, Rissa.
"Sangat kebetulan aku sedang begitu haus." sarkas Ara, yang langsung mengambil minuman dari tangan, Batari. Hingga meminumnya begitu tandas.
"Ra, itukan untuk Batari!" Ujar Rissa.
"Tidak apa Ris, mungkin Ara yang lebih membutuhkan minuman itu." Ucap Batari, dengan menyunggingkan senyumnya.
"Tuh Tari, aja tidak mempermasalahkan. Kenapa kau yang terlihat kesal begitu." Ujar Ara.
...***...
~Restoran~
"Kenapa aku harus ikut makan malam kembali?" tanya Batari, ketika langkah kakinya akan masuk ke dalam restoran.
"Karena kau istriku, bukannya seorang istri harus menemani suaminya." Jawab Ervin, yang terus berjalan lurus tanpan menolehkan sedikit pun pandangannya ke arah, Batari.
"Rasanya aku ingin berkata bahwa aku tidak merasa nyaman." Batin Batari, yang tidak menimpali kembali perkataan Ervin.
"Duduklah." Ujar Ervin, yang menarik kursi untuk Batari, duduki.
"Kenapa kursinya hanya dua?" tanya Batari, ketika dirinya mendudukkan bokongnya.
"Memangnya kau mengharapkan siapa lagi?" tanya Ervin, dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Kupikir kita akan makan malam bersama kembali dengan pak Michelle dan istrinya." Jawab Batari.
"Pak Michelle, telah kembali ke negara asalnya." Jawab Ervin.
"Tahu gini aku tidak harus serapi ini." Batin Batari.
Drap... Drap... Drap...
"Kenapa Kak Ervin memesan menu sebanyak ini." Batin Batari, yang melihat pelayan restoran menaruh banyaknya hidangan di meja.
"Makanlah." Ujar Ervin, yang mengambil hot appetizer terlebih dahulu sebagai pembuka makanan.
"Baiklah," Ucap Batari, yang memilih fruit salad sebagai appetizer-nya.
Lalu untuk main course-nya Ervin, mengambil steak. Begitupun Batari, yang selalu berbeda dari Ervin. Dirinya lebih memilih untuk mengambil sea food sebagai makanan utamanya.
Setelah selesai dengan main course-nya kini Ervin dan Batari, mengambil dessert sebagai penutup makan malamnya.
Lagi-lagi mereka berdua mengambil dessert yang berbeda dengan Ervin, yang mengambil cake. Sedangkan Batari, ice cream.
Drap... Drap... Drap...
Langkah kaki seorang pria paruh baya yang menghampiri meja, Ervin dan Batari.
"Bagaimana pendapat anda dengan menu makanan di restoran saya?" tanya pria paruh baya itu.
"Bagaimana menurutmu, sayang?" tanya Ervin, yang menatap wajah Batari.
"Maksudmu, aku tidak mengerti." Bisik Batari.
"Berilah penilaian terhadap menu yang kau makan tadi, sejujur-jujurnya." Jawab Ervin. Dengan membisikkan kembali di telinga, Batari.
"Boleh saya meminta kertas dan sebuah bolpoin." Tutur Batari, kepada pria paruh baya yang ada di depannya itu.
"Sure," Jawab pria paruh baya itu yang memberikan Batari, sebuah kertas dan bolpoin.
Batari, pun menuliskan review sesuai apa yang dirinya rasakan. Dan memberikannya kepada Ervin.
"Ehem! Menu makanan di restoran ini semuanya buruk, itu pendapat istri saya." Tutur Ervin.
"What!" Syok Batari, yang mendengar penuturan Ervin. Disaat membacakan review yang dirinya tulis.
"Apa saya perlu mengganti menu makanan dengan makanan yang lain, sesuai dengan selera istri anda." Tutur pria paruh baya itu.
"Tidak perlu." Tolak Ervin. Langsung beranjak dari tempat duduknya dan menarik pergelangan tangan Batari, untuk keluar dari restoran.
"Tunggu, Pak Ervin!" Ujar Pria paruh baya, yang mengekor di belakang, Ervin dan Batari.
"Apa lagi?" tutur Ervin, yang menghentikan langkah kakinya.
"Bagaimana dengan penanaman saham di restoran saya." Ujar pria paruh baya itu kembali.
"Tentu saja, saya tidak jadi untuk menanamkan saham saya di sini, kau pun sudah tahu jelas bagaimana alasannya." Ujar Ervin.
"Lebih baik kau tutup saja restoranmu ini, yang sebentar lagi akan bangkrut." sambungnya kembali. Dengan Ervin dan Batari, yang melangkahkan kakinya.
"Kenapa kau berbohong Kak, padahal aku tidak menulis review seburuk itu." Tutur Batari, ketika mereka berdua berada di dalam mobil.
"Itu adalah alasanku untuk menolaknya." Jawab Ervin, yang melajukan mobilnya.
"Tapi kau tidak perlu memakai namaku hanya untuk menolak menanamkan saham di restorannya, itu sangat buruk menurutku." Ucap Batari.
"Tidak ada pilihan lain, selain harus melibatkanmu, Batari." Ujar Ervin. Dengan menolehkan wajahnya sekilas menatap wajah Batari, yang terlihat kesal.
Cekittttt!
"Astaga!" Beo Batari. Ketika Ervin, yang mendadak memberhentikan mobilnya tiba-tiba.
"Kau marah...?" tanya Ervin. Dengan menatap wajah Batari, dalam.
"Aku hanya cukup kesal." Jawab Batari, yang mengalihkan arah pandangnya terus menatap ke depan.
"Oh, jadi kau ingin aku memberi hukuman." Tutur Ervin.
Dheg!
Batari, yang menatap wajah Ervin. Dengan raut syoknya.
"Baiklah aku akan memberimu hukuman di sini!" Ujar Ervin, yang melepaskan seat belt.
"J-jangan ku-mohon..." Cicit Batari, dengan raut wajah gelisahnya.
Cup!
Ervin, yang langsung membungkam mulut Batari, dengan ciumannya yang begitu lembut. Membuat Batari, tanpa sadar melipatkan kedua tangannya di leher, Ervin.
"Kau selalu membuatku ketagihan." Ucap Ervin, ketika melepaskan ciumannya dengan deru nafas yang sama-sama memburu.
Dengan Ervin, yang kembali mencium Batari, lebih menuntut. Agar Batari, benar-benar mengikuti permainan darinya untuk lebih bisa menguasai, Batari.
Tok... Tok... Tok...
"Shittt!" Umpat Ervin, ketika rasa gairahnya terganggu oleh ketukan seseorang di kaca mobilnya.
"Naikkan dressmu!" Ujar Ervin. Untuk Batari, segera merapikan penampilannya.
Srekkkk!
"Selamat malam, boleh saya melihat surat pengemudi anda." Tutur petugas kepolisian, yang memperhatikan wanita di samping, Ervin. Dengan penampilan yang terlihat acak-acakan.
Ervin, pun memberikan semua surat berkendaranya kepada petugas kepolisian.
"Anda kami tilang, karena menghentikan mobil anda di samping jalan yang akan sangat mengganggu bagi pengendara lain." Tutur kembali petugas kepolisian. Dengan Ervin, yang memberikan sejumlah uang sebagai tanda tilangnya.
"Kita lanjut di rumah." Ujar Ervin, yang melajukan mobilnya kembali.
...----------------...