My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 39



"Aku tidak akan menyentuhmu."


"Kau hanya menemaniku tidur di sini." Ujar Ervin.


"Tapi..." Cicit Batari.


"Apa lagi Batari?"


"Apa perkataanku tidak membuatmu yakin." sambungnya kembali.


"A-aku harus mengganti gaun-ku terlebih dahulu." Cicit Batari.


"Baiklah." Ujar Ervin


Tap... Tap... Tap...


Grep!


"Kau mau ke mana?" tanya Ervin.


"Ke kamarku." Jawab Batari.


"Aku tidak menyuruhmu untuk kembali ke kamarmu." Ujar Ervin.


"Tapi kau sudah mengizinkanku untuk mengganti gaunku."


"Kenapa sekarang kau menghalangiku?" tanya Batari. Dengan menatap bingung wajah Ervin.


"Benar, tetapi aku menyuruhmu untuk mengganti gaunmu di sini." Jawab Ervin.


"Apa!" Syok Batari.


"Cepatlah ganti gaunmu di walk in closet." Ujar Ervin. Menarik lengan Batari, menuju ruang ganti.


~15 menit kemudian~


"Kenapa kau masih belum tidur?" tanya Ervin. Melihat Batari, merasa gelisah.


"A-aku tidak terbiasa tidur di-sampingmu." Jawab Batari.


"Mulai sekarang kau harus terbiasa." Ujar Ervin.


"M-maksudmu." Beo Batari, yang tidak mengerti.


"Mulai sekarang kau akan tidur di kamarku." Ujar Ervin, yang melirik wajah Batari.


"Hah!" Dengan wajah syoknya.


"K-kenapa tiba-tiba?" sambungnya.


"Turuti saja perintahku. Aku tidak menginginkan penolakkan darimu." Ujar Ervin, dengan memejamkan kedua matanya.


"Huh! Selalu seperti ini, tanpa berdiskusi terlebih dahulu denganku." Batin Batari.


"Tidurlah!" Ujar Ervin, kembali. Dengan Batari, yang membelakangi Ervin.


Dret... Dret... Dret...


"Iya, Mba." Jawab Ervin.


"Kalian di mana?" tanya Ellona, yang kini berada di kamar hotel tempat Ervin dan Batari menginap.


"Kami sudah berada di rumah. Tadi Batari, merengek meminta pulang." Ujar Ervin. Mendengar deru nafas Batari, sudah teratur.


"Baiklah, jika kalian sudah berada di rumah. Mba, tutup teleponnya." Ucap Ellona. Lalu memutuskan sambungannya.


Srekkk. Drap... Drap...


"Maafkan aku Batari, atas perlakuanku selama ini terhadapmu." Batin Ervin. Menatap wajah Batari, yang sudah terlelap.


"Dan aku belum sempat memujimu yang begitu cantik malam ini secara langsung kepadamu." sambungnya lagi. Dengan mengelus rambutnya dan membelai lembut wajahnya yang tidak terusik sama sekali.


...***...


"Kau sudah rapi. Apa secepat itu kau meninggalkanku?" tanya Ethan, yang baru terbangun dari tidurnya.


"Aku adalah pemuas nafsumu bukan kekasihmu yang harus selalu berada di sampingmu sampai kau terbangun." Jawab Disha, yang masih memoles wajahnya.


"Aku sudah memberimu sebuah penawaran untuk menjadi kekasihku."


"Tetapi rupanya kau lebih senang menjadi wanita tunasusila." Ujar Ethan, yang menyenderkan tubuhnya di ranjang.


"Ralat, aku bitchh hanya untukmu dan itu bukanlah mata pencaharianku karena aku memiliki pekerjaan." Ucap Disha. Dengan menatap wajah Ethan, yang tengah menatap dirinya.


"Aku tahu kau wanita mandiri. Tetapi aku hanya ingin memberimu sebuah ikatan bukan sebagai pemuas nafsuku semata." Ujar Ethan.


"Aku akan selalu menolak penawaranmu itu." Ucap Disha.


Tap... Tap... Tap...


"Dan harus kau ingat... Kau harus menepati janjimu." sambungnya kembali. Dengan membisikkan di telinga, Ethan.


"Tentu saja aku mengingatnya. Sebutkan kau mau apa, aku akan memberikannya." Ujar Ethan.


"Apapun yang aku inginkan, jika sesuatu bukan bentuk barang sekalipun kau akan tetap memberikannya?" tanya Disha, dengan memastikannya.


"Sure." Jawab Ethan.


"Baiklah aku akan menghubungimu lagi."


"Untuk memberitahukan apa yang akan aku minta darimu." Ucap Disha, yang mengambil tasnya untuk segera keluar.


"Kenapa tidak langsung saja kau sebutkan?" tanya Ethan.


"Baiklah."


"Ehemm... Tidak ingin sarapan terlebih dahulu denganku." Ujar Ethan. Dengan memberi tawaran.


"No, thank you." Jawab Disha, yang menolak langsung tawaran Ethan. Lalu melangkahkan kakinya.


"Disha... Kau sudah membuatku terpikat denganmu. Tunggulah sebentar lagi aku akan membuatmu menginginkanku." Gumam Ethan.


...***...


"Bryan, bisa antar Abang ke rumah?" tanya Attar.


"Bisa Bang. Sekalian Bryan, ada urusan dengan seseorang." Jawab Bryan.


"Ayo!" Ujar Attar dengan Bryan yang mengikuti langkah kakinya.


~Rumah~


"Ellona-nya tidak ikut pulang, Tar?" tanya Ranti, yang membukakan pintu rumah.


"Tidak, Mah. Ellona masih tidur."


"Attar, pulang hanya mengambil berkas-berkas untuk nanti siang ada meeting." Jawab Attar. Lalu melenggang pergi menuju kamarnya.


"Eh... Ada Bryan, juga. Masuk sini, Nak." Tutur Ranti. Membuat Bryan, pun masuk ke dalam rumah.


"Kau menginap juga di hotel?" tanya Ranti, yang mendudukkan bokongnya di sofa.


"Iya, Tante." Jawab Bryan.


"Apa semalam Tante dan om pulang ke rumah?" tanya balik Bryan.


"Tidak, semalam kami pun menginap. Baru pagi tadi kami pulang." Jawab Ranti.


"Oh... Apa Batari, pun ikut pulang bersama Tante?" tanya Bryan.


"Batari..." Ucap Ranti.


"Iya, Tan."


"Atau Batari, masih menginap di hotel." sambungnya kembali.


"Tidak, bukan itu maksud Tante." Ucap Ranti.


"Ayo Bryan, Abang sudah mengambilnya. Katanya kau akan bertemu seseorang." Ujar Attar, yang sudah membawa berkas yang ia butuhkan.


"Iya udah, ayo Bang."


"Kalau begitu Bryan, pamit dulu Tan." Ucap Bryan.


"Aku juga Mah, izin pamit." Ujar Attar.


"Iya hati-hati kalian." Tutur Ranti. Dengan Attar dan Bryan, yang masuk ke dalam mobil dan melajukannya.


"Bang, apa Batari masih menginap di hotel?" tanya Bryan, ketika sudah keluar dari pintu gerbang.


"Tidak, dia pulang ke rumah." Jawab Attar. Dengan membuka kembali berkas meeting yang baru diambilnya.


"Apa mungkin belum bangun ya. Soalnya tadi aku lagi bertanya ke tante Ranti, tiba-tiba Bang Attar langsung mengajak pergi." Ujar Bryan, yang tengah mengemudikan mobilnya.


"Batari, tidak tinggal di rumah orangtuanya lagi, Bry." Ucap Attar.


"Maksud Bang Attar?" tanya Bryan. Dengan menatap wajah Attar, bingung.


"Jadi Batari, itu tinggal bersama Ervin." Jawab Attar.


"Hah! Ko bisa sih Bang?"


"Bukannya Batari dan kak Ervin, tidak terlalu dekat hubungannya?" tanya Bryan. Dengan raut wajah syok.


"Jangan bilang kau tidak mengetahui jika Batari, sudah menikah dengan Ervin." Jawab Attar. Membuat Bryan, mendadak mengeremkan mobilnya tiba-tiba.


"Bang, jangan bercanda deh." Ujar Bryan. Menatap wajah Attar, serius.


"Serius, Bryan."


"Abang, tidak bohong." Ucap Attar. Dengan wajah seriusnya.


"Ko bisa Batari, menikah dengan kakaknya sendiri." Ujar Bryan.


"MBA, Bry." Beo Attar.


"Apa!!!" Membuat Bryan, begitu syok untuk kedua kalinya. Mendengar penuturan dari, Attar.


"Iya. Karena Batari, hamil mengandung anak Ervin."


"Lagian mereka berdua bukan kakak beradik kandung." Ujar Attar.


"Jadi ini alasan Batari, menolakku dulu." Batin Bryan.


"Kau baik-baik sajakan, Bry?" tanya Attar. Dengan menepuk sebelah pundak, Bryan.


"Ahh... Iya, aku baik-baik saja, Bang."


"Hanya saja aku terlalu syok, mengetahui fakta ini yang membuatku hampir jantungan." Jawab Bryan. Dengan kembali melajukan mobilnya.


"Kenapa kau tidak jujur dengan mengatakan semua ini kepadaku, Batari. Jika aku mengetahui alasan yang sesungguhnya mungkin aku benar-benar melupakanmu dan tidak mengharapkanmu sampai detik ini.


...----------------...