
Batari, pun meneteskan air matanya di kala mendengar pernyataan cinta Bryan kepadanya.
Yang tentu saja di sisi lain Batari, merasa senang karena perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Tari..." Beo Bryan, dengan menghapus air mata Batari, yang terus berlinang membasahi wajah cantiknya.
"Maaf," Ucap Batari, yang langsung menghapus air matanya sendiri.
"Apa kau tidak nyaman di kala aku mengungkapkan perasaanku padamu?" tutur Bryan, dengan ekspresi wajahnya yang berubah sendu.
"Aku merasa senang kau mengungkapkan perasaanmu," Ucap Batari, menyunggingkan senyumnya. Walaupun kedua matanya sudah terasa panas ingin mengeluarkan air matanya kembali.
"T-tetapi, aku merasa aku tidak pantas Bry, harus berada di sampingmu untuk sebagai seorang kekasih. Kau terlalu baik untukku, Bry." Sambungnya kembali dengan air mata yang luruh membasahi wajah cantiknya.
"Kau menolakku..." Ucap Bryan, dengan tersenyum hambar.
"Maaf." Cicit Batari, dengan diiringi isak tangisnya.
"Kenapa, Tari? apa karena kita berawal dari seorang sahabat."
Sehingga kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku." Tutur Bryan, yang merasa cintanya bertepuk sebelah tangan.
"B-bukan seperti itu, Bry." Cicit Batari, dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Lalu apa Batari, alasanmu menolakku." Ujar Bryan, kembali.
"Aku tidak pantas untuk kau miliki, Bry." Batin Batari.
"Seperti yang aku katakan barusan, kau terlalu baik untuk wanita sepertiku." Tutur Batari.
"Kau pun wanita baik Tari, sehingga aku memilih dirimu untuk menjadi kekasihku." Ujar Bryan, dengan kesungguhannya.
"Maaf, Bry. Hiks..."
"Lebih baik kita tetap seperti ini, menjadi seorang sahabat." Ucap Batari, yang semakin deras meneteskan air matanya.
"Aku sungguh mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri, Tari."
"Kumohon, kau pikirkan terlebih dahulu jangan langsung membuat keputusan, sungguh aku bisa menunggu berapapun waktu yang kau butuhkan." Ujar Bryan. Dengan kembali menggenggam kedua tangan, Batari.
"Bry, hiks... Ku-mohon mengertilah hiks..." Lirih Batari.
"Apa aku sangat terlambat menyatakan perasaanku, sehingga ada seseorang yang telah menyatakan cinta terlebih dahulu terhadapmu...?" tanya Bryan.
"Sure, bahkan aku sudah dimiliki orang lain, yang tentunya kau pun mengenalinya sangat baik, Bry. Hiks...!" Batin Batari, yang hanya bisa meluruhkan air matanya sebagai ungkapan perasaannya saat ini yang hanya bisa bungkam tanpa bisa mengucapkan satu patah katapun.
...***...
"Aaaaaaaa! Kau...!" Teriak Batari, seraya menunjuk dan langsung menutup kembali tubuhnya dengan selimut.
"Shuttt! Kau berisik sekali pagi-pagi!" Kesal Ervin, yang masih memejamkan kelopak matanya.
"K-kau ngapain di kamarku?" tanya Batari, dengan suara yang sangat kecil.
"Papa, menelponku di pagi buta dan memintaku untuk segera datang ke rumah, katanya kau menginap di sini." Jawab Ervin, yang telah membuka kelopak matanya sempurna.
"Kenapa kau pulang ke rumah, papa dan mama?" tanya Ervin, yang menatap wajah Batari.
"Hmm! Aku tidak ingin Ara, curiga dengan aku tinggal di rumahmu." Alibi Batari.
"Kenapa harus curiga? kan dia tahunya aku itu Kakakmu, bukan suamimu." Tutur Ervin, dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja itu akan bermasalah."
"Karena Ara, mengetahui jika kita tidak memiliki hubungan baik seperti Kakak beradik pada umumnya." Ujar Batari.
"Rupanya seperti itu..." Ujar Ervin, dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lalu kenapa kau menyelimuti tubuhmu kembali?" tanya Ervin, yang mengesampingkan tubuhnya menghadap ke arah, Batari.
"Ahh! I-ini, tentu saja aku harus waspada! Apa lagi di dekatmu." Jawab Batari, dengan terbata-bata.
"Aku tidak akan memperkosamu untuk yang kedua kalinya." Ujar Ervin, yang menyandarkan tubuhnya di ranjang dengan melipatkan kedua tangan di bawah dada.
"A-aku tidak yakin..." Cicit Batari, yang semakin mengeratkan selimut di tubuhnya.
Kriettt
"K-kau mau apa?" tanya Batari, dengan wajah yang semakin panik ketika Ervin, berhasil menindih tubuhnya.
"Bahkan buah dadamu saja sangat kecil, bagaimana mungkin aku akan memperkosamu lagi." Ujar Ervin, dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Whattt!" Batari, yang langsung mendorong tubuh Ervin.
"K-kau sangat kelewat batas!" Tutur Batari, yang sudah beranjak dari tempat tidurnya seraya menunjuk wajah Ervin, yang terus mengulum seringai.
"Aku tidak menyentuhnya secara langsung, hanya mengira-ngira saja."
"Kenapa ekspresimu berlebihan seperti itu?" tutur Ervin.
"Sungguh sangat menyebalkan!" Batin Batari.
"Lebih baik kau ke luar sekarang!" Ucap Batari, seraya mengusir Ervin, dari kamarnya.
"Tidak." Tolak Ervin.
"Aku ingin mandi, dan aku tidak bisa jika ada orang lain di kamarku." Ucap Batari.
"Kau lupa jika sekarang aku suamimu bukan orang lain." Ujar Ervin, dengan senyum seringai di wajahnya.
"A-apa kau juga melupakan kesepakatan yang telah kita sepakati." Ucap Batari, begitu telak.
Drap... Drap... Drap...
"Bagaimana jika aku melupakan sejenak, kesepakatan itu..." Ujar Ervin, dengan memainkan ujung rambut Batari.
"Untuk memberimu sebuah hukuman." Bisik Ervin, membuat bulu kuduk Batari merinding seketika.
"Hu-hukuman?" cicit Batari, dengan menelan salivanya susah.
"Sure." Ujar Ervin dengan menganggukkan kepalanya.
"A-aku tidak berbuat salah apapun, k-kenapa kau memberiku sebuah hu-kuman." Tutur Batari, dengan begitu gugup.
"Glek!" Dengan menelan salivanya kasar.
"Kesalahan pertamamu, kau pulang hingga larut tengah malam." Ujar Ervin. Dengan mencium rambut Batari, yang terasa begitu wangi.
"Kesalahan kedua, kau tidak pulang ke rumahku." Sambungnya dengan turun ke leher jenjang Batari. Membuat Batari, merasa begitu geli. Sehingga meremas ujung dressnya begitu kuat untuk menahan agar tidak mengeluarkan suara yang sangat dibencinya itu.
"Dan yang ketiga--" Ujar Ervin, yang menggantungkan ucapanya dengan melihat wajah Batari, yang tengah memejamkan kedua matanya serta raut wajah yang tengah menahan sesuatu.
"Yang ketiga..." Cicit Batari, yang mengikuti ucapan Ervin.
"Bukalah matamu, Batari. Puffft...!" Ujar Ervin, yang tengah menahan tawanya.
"Hah!" Beo Batari, dengan memelototkan matanya.
"Hahaha... Ternyata kau mudah sekali terbuai akan sentuhan-sentuhan kecil dariku." Tutur Ervin, yang memegangi perutnya yang terasa geli.
"K-kau hanya mengerjaiku." Tutur Batari, dengan raut wajah kesal.
"Sure."
"Bye Batari, aku tunggu kau di bawah." Ujar Ervin, dengan masih tertawa.
"Aaaaaaargh!" Kesal Batari, yang melempar bantal ke arah pintu kamarnya.
~Setengah jam kemudian~
"Sudah ya sayang nanti ku telepon lagi." Ujar Ervin, yang memutuskan sambungannya
Tap... Tap... Tap...
"Apa kau tidur nyenyak sayang?" tanya Ranti, yang melihat Batari sudah menarik kursi di meja makan.
"Tidak," Jawab Batari. Memicingkan matanya ketika Ervin, menatap wajahnya dengan masih mengulum senyum kecilnya.
"Loh kenapa, apa sekarang kau sudah tidak betah tidur di sini?" tanya Ranti.
"Tidak, bukan seperti itu maksudku, Mah."
"Tari, hanya kesal sama kucing jantan yang tiba-tiba masuk ke kamar, Tari." Jawabnya.
"Kucing..." Ujar Ranti, menatap bingung ke arah Batari dan Ervin.
"Ya Mah, bahkan kucing jantannya sekarang tengah asik makan." Tutur Batari.
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
"Pelan-pelan Vin, makannya... Waktu masih pagi kau tidak akan terlambat." Ucap Ranti, yang memberi segelas air.
"Syukurin." Batin Batari, tersenyum puas.
"Oh ya sayang, kenapa semalam Bryan, tidak mampir dulu ke rumah?" tanya Ranti.
"Bryan!" Beo Ervin, yang menyemburkan air minumnya.
"Ya, semalam Batari, diantar oleh Bryan."
"Apa kau tidak mengetahui jika Batari, pergi bersama, Bryan?" Ucap Ranti, diiringi anggukkan kepalanya.
"Kau mulai berbohong, Tari. Dan ternyata dugaanku benar." Batin Ervin, dengan menatap tajam wajah Batari.
"Glek!" Batari, menelan salivanya kembali ketika mendapatkan tatapan tajam dari, Ervin.
"Apa kau tidak bilang, jika kau pergi bersama, Bryan?" tanya Ranti, kepada Batari.
"Hmm... Ta--"
"Tentu saja Batari, sudah meminta izinku terlebih dahulu, Mah." sarkas Ervin. Dengan Batari, yang menatap tidak percaya dengan penuturan Ervin.
"Syukurlah jika kau meminta izin." Ucap Ranti.
"Aku ingin mendengar penjelasanmu nanti." Bisik Ervin, dengan meninggalkan meja makan.
~Mobil~
"Kenapa kau berbohong!" Ujar Ervin, disaat mereka berdua sedang dalam perjalanan.
"A-aku memiliki alasan tersendiri." Tutur Batari.
"Alasan!" Ujar Ervin, dengan menaikkan sebelah alisnya
"Alasan untuk kau berkencan dengan bocah itu, sehingga kau tidak meminta izinku terlebih dahulu." Sambungnya kembali dengan menatap sekilas wajah Batari.
"Ya kau benar, jika aku jujur padamu, kau tidak akan memberiku izin." Ucap Batari.
"Shittt!" Umpat Ervin, dengan memukul setirnya.
"Kenapa kau begitu marah? Apa kau mulai mengurusi kehidupan pribadiku?" tanya Batari, yang menatap wajah Ervin yang terlihat begitu kesal.
"Yang di ucapkan Batari, benar kenapa aku merasa kesal." Batin Ervin.
"Aku hanya tidak suka terhadap seseorang yang membohongiku!" Ujar Ervin, dengan melajukan mobilnya begitu kencang.
...***...
~Kampus~
"Bryan, tunggu!" Cicit Batari, yang berhasil meraih tangan Bryan yang tengah menghindar dari Batari.
"Aku minta maaf soal semalam..." Sambungnya kembali dengan melepaskan tangan Bryan.
"Seharusnya aku sadar, aku tidak bisa memaksa seseorang untuk membalas perasaanku!" Ujar Bryan.
"Dan kau berhak untuk memutuskannya, karena cinta yang sesungguhnya hadir dari dalam lubuk hati yang paling dalam, tidak harus adanya keterpaksaan untuk menjalani sebuah hubungan." Sambungnya kembali.
"Maaf." Ucap Batari.
"Aku ke kelas duluan, Tari." Ujar Bryan, dengan melangkahkan kakinya dengan raut wajah penuh rasa kecewa.
"Bry... Hiks... Hiks...!" Cicit Batari, dengan menatap punggung Bryan.
...----------------...