My Brother My Husband

My Brother My Husband
Eps 81 ~ Kecupan Singkat



Kini Naya sedang dalam perjalanan ke luar kota menuju kediaman mertuanya. Ini adalah pertama kalinya Naya datang ke rumah mertuanya sekaligus akan tinggal menetap di sana. Sebelum acara pernikahannya dulu memang Naya sama sekali belum pernah diajak Zaky datang ke rumah orang tuanya. Selain karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing, rencana pernikahan mereka berdua juga tergolong cukup singkat dari jarak pertunangan.


Naya saat ini duduk di jog belakang bersama ibu mertuanya. Sedangkan Zaky sedang memegang kemudi dengan didampingi oleh sang Ayah. Sejak dulu baik Tuan Bagas maupun Zaky hampir tidak pernah memakai sopir jika bepergian kemanapun. Kecuali memang sedang urgent, atau mengantar Nyonya Rosma bepergian.


“Apa kamu butuh sesuatu, Nak?” Tanya Nyonya Rosam penuh perhatian.


Naya yang sejak tadi terlihat diam dan jarang bicara menoleh ke arah ibu mertuanya dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Tidak, Bunda.” Jawabya singkat dengan seulas senyum.


Zaky yang sedang memegang kemudi sebenarnya ingin sekali duduk di samping istrinya. Dia tahu kalau ini adalah perjalanan pertama bagi Naya setelah keadaannya baru saja pulih. Namun dia juga tidak enak jika membiarkan Ayahnya yang mengemudi. Apalagi perjalanan menuju rumah membutuhkan waktu kurang lebih selama empat jam.


Naya menyandarkan punggungnya pada jog mobil untuk beristirahat sejenak. Mungkin dengan tidur dia akan sedikit lebih rileks. Entah kenapa perasaan Naya sejak baru saja keluar dari rumahnya tadi mendadak tidak nyaman. Terlebih melihat raut wajah sang Mama yang tampak tidak rela melepas kepergiannya.


Zaky mengendarai mobilnya sudah hampir separoh perjalanan. Dia memutuskan untuk berhenti di rest area sekedar untuk makan siang dulu. Sedangkan Naya juga baru terbangun setelah merasa mobil yang ditumpanginya berhenti.


Tuan Bagas dan Nyonya Rosma keluar lebih dulu dan membiarkan Zaky dan Naya masih di mobil.


“Sayang, apa kamu baik-baik saja?” tanya Zaky.


“Aku baik-baik saja, Mas. Jangan khawatir seperti itu. udara di sini sangat sejuk meskipun siang hari.” Jawab Naya seraya menghirup udara sekitar saat membuka kaca mobil.


Tempat tinggal Zaky dan orang tuanya memang berada di kawasan dataran tinggi. Jadi Zaky memilih mengajak sang istri untuk tinggal bersama orang tuanya adalah keputusan yang sangat tepat untuk Naya melupakan kejadian buruk yang menimpanya tempo hari.


Zaky menggandeng Naya dan bergabung dengan kedua orang tuanya yang sedang duduk di bangku foodcourt sambil menunggu pesanan makanan. Tuan Bagas mempersilakan Naya dan Zaky untuk memesan makanan.


“Bunda sangat senang karena Naya akan tinggal bersama kita. Jadi Bunda tidak akan kesepian lagi dan akan mempunyai teman shopping.” Ujar Nyonya Rosma membuka obrolan.


Naya tersenyum menganggukkan kepala. Dia sangat beruntung memiliki mertua yang sangat baik dan juga menyayanginya.


Usai mereka berempat beristirahat dengan cukup, Zaky kembali melanjutkan perjalanannya yang tinggal sedikit lagi sampai. Naya juga sudah terlihat lebih rileks dari sebelumnya,


**


Kini mereka sudah sampai kediaman Tuan Bagas. Rumah di sebuah kompleks perumahan elit namun terlihat sangat asri dengan hawa sejuk khas pegunungan sangat memanjakan mata Naya.


Bagi Naya tinggal di rumah besar seperti ini sudah biasa. Namun ada hal yang berbeda di tempat tinggalnya yang baru ini. sedikit banyak ia bisa melupakan kejadian buruk yang menimpanya.


Zaky mengambil koper dari mobil dan membawanya masuk ke rumah sekaligus mengajak Naya untuk beristirahat di dalam kamar. namun sayangnya Naya menolak. Ia lebih tertarik menuju taman di belakang rumah dengan view pegunungan dengan menampakkan tumbuhan hijau di sekitarnya. Zaky membiarkan saja. dia meletakkan kopernya dulu lalu menyusul sang istri ke taman.


“Apa kamu nggak capek, hem?” tanya Zaky langsung melingkarkan tangannya di perut Naya.


“Tidak. Aku.. aku sangat senang melihat pemandangan di sini, Mas.” Jawab Naya sedikit terbata.


Tangan Zaky masih setia melingkar di perut Naya. Dia tidak pantang menyerah untuk menghilangkan trauma yang dialami oleh istrinya. Dia sebenarnya masih sakit jika mengingat semua itu.


“Nay, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.” Ucap Zaky sambil meletakkan dagunya di pundak Naya.


“Iya, Mas. Aku tahu. Aku juga sangat mencintaimu.” Balas Naya dengan jantung berdegup tak karuan.


“Kamu tahu bukan kalau seseorang yang mencintai itu tidak akan melukai? Seseorang yang mencintai juga akan melindungi?” tanya Zaky ingin menegaskan agar Naya tidak merasa takut lagi dan membuatnya terbiasa dengan sentuhan yang ia berikan.


“Iya. aku tahu. Maaf,-“


“Sttt…”


Zaky melepas lingkaran tangannya lalu memutar tubuh Naya agar menghadap padanya. Benar saja wajah Naya tampak memerah. Mungkin masih ada rasa takut.


“Lihat mataku, Naya!” pinta Zaky denganh nada lembut.


Naya menurut dan kini keduanya saling menatap dengan intens tanpa berkedip.


“Lihatlah, dan ingatlah kalau mata yang ada di hadapanmu sekarang tidak akan membuatmu takut. Seluruh jiwa dan raganya akan selalu menjagamu, membuatmu nyaman dan tentunya tidak akan pernah menyakitimu.” Ucap Zaky dengan tatapan lurus ke netra Naya hingga membuat Naya seperti terhipnotis.


Ucapan Zaky baru saja ternyata mampu memberikan ketenangan hati Naya. Tanpa sadar dia menganggukkan kepalanya. Dan hal itu membuat Zaky cukup puas karena berhasil membuat sang istri perlahan melupakan traumanya.


Cup


Zaky mengecup singkat bibir Naya sebagai akhir dari usahanya yang pertama. Sedangkan Naya tampak mengedip-ngedipkan matanya terkejut saat mendapati kecupan singkat dari sang suami.


“Kamu baru saja menciumku, Mas?”


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️