
Hiks... Hiks... Hiks...
"Tari!" Panggil, Ara dan Rissa.
"Ara, Rissa." Cicit Batari, yang langsung menghapus air matanya.
"Kau kenapa, Tari?" tanya Ara, yang berada di sebelah kanan Batari.
"A-aku tidak apa-apa..." Jawab Batari, dengan menyunggingkan senyumnya.
"Baiklah jika kau tidak mau bercerita." Ujar Ara, yang mengelus punggung Batari.
"Apa semalam kencan kalian gagal total?" Tanya Rissa, dengam rasa keponya.
"Ris, jangan memaksa Batari!" Ujar Rissa.
"A-aku menolaknya hiks..." Cicit Batari, dengan kembali meneteskan air matanya.
"Apa!!" Jawab kompak Ara dan Rissa dengan saling pandang.
"Why, Tari? Bukannya kau sangat tertarik dengan, Bryan." Tutur Rissa, dengan kebingungannya dan di angguki setuju oleh Ara.
"Aku memiliki alasan yang tidak bisa memberitahu kepada kalian." Ucap Batari.
...***...
~Kantor Evano Group~
"Pah, sebenarnya orangtua kandungku siapa?" tanya Ervin, yang sudah berada diruangan kerja David.
"Kau jauh-jauh datang ke sini untuk menanyai hal itu." Jawab David, yang beranjak dari kursi kebesaranya menuju sofa di mana Ervin duduk.
~Flashback On~
"Asal kau tahu, Ervin!"
"Sebenarnya kau tidak memiliki hubungan darah dengan Batari, kalian berdua bukan Kakak adik kandung." Ujar David.
"Ma-maksud Papa, aku bukan anak k-kandung, Papa!" Ujar Ervin, begitu syok mendengar kenyataan yang David, ucapkan barusan.
Angguk David. "Kenapa Papa, baru mengungkapkannya sekarang?" tanya Ervin, begitu kecewa.
"Karena Papa, sudah menganggapmu seperti anak kandung Papa sendiri, Vin.
"Jika insiden ini tidak terjadi mungkin Papa, akan mengatakannya di waktu yang tepat untuk memberitahumu yang sebenarnya." Ujar David, yang melangkahkan kakinya ke arah, Ervin.
"Dan Papa, akan menceritakan semuanya asal usulmu. Dengan syarat kau menikahi, Batari." Tutur David.
~Flashback Off~
"Aku sudah menikahi Batari, sesuai syarat Papa. Dan sekarang aku menagih janji itu." Ujar Ervin, yang kini menatap David.
"Baiklah. Papa, akan menceritakan semuanya dari awal." Ucap David.
~Flashback On~
Hubungan persahabatan kami dimulai saat kami duduk di bangku SMA hingga berlanjut sampai di mana kami bekerja untuk mengurus perusahaan keluarga masing-masing.
Lalu semenjak nathan mengenal gadis yang bernama Amara, Nathan memutuskan untuk menikahi gadis itu sehingga sangat bertentangan dengan keluarga besarnya.
Jika Nathan memilih untuk menikahi Amara. Nathan harus rela kehilangan semua asetnya dan keluar dari keluarganya tanpa membawa sepeser pun uang atau barang-barangnya.
Setelah memutuskan dengan begitu matang selama berhari-hari, akhirnya Nathan rela meninggalkan semuanya demi Amara yang berasal dari panti asuhan, membuat keluarga besarnya kehilangan cara untuk memisahkan mereka berdua.
Kehidupan setelah Nathan dan Amara menikah, banyak lika-liku cobaan yang mereka lalui begitu bertubi-tubi dalam hal ekonomi yang selalu jatuh bangun hingga selalu menantikan kehadiran seorang anak yang dinantinya selama bertahun-tahun.
Setelah pernikahan mereka menginjak di tahun keempat, lambat laun perekonomian mereka pun berkembang pesat, hingga penantiannya untuk memiliki seorang anak pun akhirnya terjawab sudah dengan kabar baik jika Amara tengah mengandung buah hatinya yang pertama.
Betapa bahagianya Nathan yang mendapatkan anugrah yang bertubi-tubi di kehidupannya setelah keterpurukan yang beberapa tahun belakangan ia lalui.
Hingga penantiannya beberapa bulan kemudian Amara melahirkan bayi laki-laki yang begitu tampan dan memberikannya nama GRIFFIN ERVIN JOHNATHAN bayi yang sangat dinantinya.
Singkat cerita disaat usiamu sudah menginjak satu tahun.
Amara didiagnosis penyakit kanker mulut rahim dan disaat itulah Nathan meminta pertolongan kepada Papa untuk merawat Ervin kecil.
Disaat itu Papa dan mama sudah memiliki si kembar Vano dan Ellona yang sudah menginjak usia dua setengah tahun, kami pun membawamu pulang ke rumah kami.
Hingga pada akhirnya Nathan memutuskan untuk membawa Amara pergi berobat ke Tiongkok, tetapi takdir berkata lain pesawat yang ditumpangi oleh mereka berdua terjatuh setelah lepas landas dua puluh lima menit.
Papa dan mama, sangat begitu syok setelah melihat berita pesawat terjatuh yang ditumpangi sahabat Papa.
Sehingga Papa, memutuskan seorang diri datang ke tempat lokasi kejadian dan selalu berharap bahwa, Nathan dan Amara selamat.
Setelah datang ke lokasi terjatuhnya pesawat, tim sar membawa banyak kantong jenazah yang akan di bawa ke rumah sakit untuk diidentifikasi, karena banyaknya jenazah yang sudah tidak utuh.
Disaat itu pun Papa, masih berharap akannya ada keajaiban untuk bisa menemukan Nathan dan Amara dalam keadaan hidup.
Tetapi keberuntungan yang tidak berpihak kepada hidup, Nathan dan Amara.
Hingga Papa, pun pasrah dan menyerahkan semua kepada pihak rumah sakit.
Dua hari kemudian jenazah Nathan dan Amara, akhirnya teridentifikasi.
Setelah menerima kabar dari rumah sakit Papa, sebagai wali dari keluarga jenazah mewakili untuk mengambil kedua jenazah tersebut untuk segera dikebumikan.
Sungguh mirisnya saat pemakaman Nathan dan Amara, berlangsung.
kau selalu memanggil mama, papa, terus menerus dengan tangis tiada henti.
Disaat itu Papa, berjanji akan menganggapmu sebagai anak kandung Papa sendiri tanpa adanya membedakan dengan anak Papa yang lainnya.
~Flashback Off~
Air mata Ervin, yang sudah tidak terbendung lagi luruh begitu saja membasahi wajah tampanya disaat mendengar David, menceritakan semuanya.
"Apa keluarga papa, sungguh tidak peduli lagi. Di kala mendengar insiden itu?" tanya Ervin, dengan suara parau sambil menatap foto kedua orangtuanya dengan sendu untuk pertama kalinya melihat sosok kedua orangtuanya.
"Keluarga Nathan, tidak peduli lagi disaat Nathan memutuskan untuk menikahi Amara seorang gadis yang tidak jelas asal usul keluarganya, yang hanya tumbuh besar di panti asuhan."
"Bahkan setelah tahu tentang terjadinya kecelakaan itu, keluarga besar Nathan seolah-olah lebih memilih menutup kedua telinganya rapat-rapat dari pemberitaan yang menewaskan Nathan dan Amara." Ujar David, dengan airmatanya yang tidak berhenti di kala mengingat kejadiaan naas itu kembali.
"Sungguh demi ego, sampai akhir hayat papa Nathan, meninggal pun keluarganya tidak peduli sama sekali. Keluarga macam apa mereka!" Geram Ervin.
"Apa mereka tidak tahu jika papa Nathan dan mama Amara memiliki seorang, Putra." Sambungnya lagi dengan air mata yang terus berlinang. Begitupun David, yang hanya bisa bungkam.
"Jawab aku, Pah. Kenapa mereka begitu kejam."
"Kenapa mereka tidak mencari tahu, sehingga aku pun dirawat oleh orang lain." Lirih Ervin, dengan menundukkan kepalanya.
"Apa bagimu Papa, adalah orang lain. Walaupun Papa, adalah sahabat papamu?" tanya David.
"Bukan seperti itu maksudku, Pah." Ujar Ervin, dengan menatap wajah David.
"Hanya saja papa Nathan, masih memiliki keluarga."
"Yang seharusnya hak asuh sepenuhnya jatuh kepada keluarga papa Nathan, bukan kepada sahabatnya." Lirihnya dengan menundukkan wajahnya kembali.
"Apa mereka benar-benar tidak tahu." Lirihnya lagi.
"Papa, harap kau jangan membencinya!" Tutur David, yang akan membelai rambut Ervin. Tetapi mengurungkan kembali niatnya.
"Mereka pantas aku benci, Pah!" Ujar Ervin, menatap wajah David dengan air mata yang berlinang.
"Hingga aku berumur 28 tahun, mereka tidak sama sekali mencariku, bahkan menampakkan dirinya saja tidak." Ujarnya lagi.
"Ervin! Kendalikan dirimu!" Tutur David.
"Siapa mereka, Pah? Aku berhak tahu." Ucap Ervin, membuat David bungkam kembali.
"Baik, jika Papa tidak ingin memberitahuku, aku akan mencaritahu sendiri." Ujar Ervin, yang beranjak dari tempat duduknya dengan menatap nanar ke wajah David. Lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan David.
...***...
"Aaaaaaaaargh!!!" Teriak Ervin dengan menghempaskan semua berkas-berkas yang ada di meja kerjanya, dengan deru nafas yang begitu memburu.
"Ada apa, Bos? Kenapa semua berkas-berkas ada di lantai?" tanya Delvin. Masuk keruangan Ervin, di kala mendengar teriakannya.
"Diammm!!!!" Ujar Ervin. Membuat Delvin, tidak berani untuk bertanya lagi.
"Aaaaargh!" Teriaknya kembali, dengan menghempaskan seluruh berkasnya ke lantai.
...----------------...