
"Selamat pagi." Ucap Ervin, ketika Batari membukakan kelopak matanya.
"Pagi." Ujar Batari, menyunggingkan senyum di wajahnya.
"Tidurmu nyenyak sekali, sehingga aku tidak tega untuk membangunkanmu." Ucap Ervin, dengan membelai lembut rambut Batari.
"Aku sangat kelelahan, akibat ulahmu yang terus melakukannya lagi dan lagi." Dengus Batari.
"Ekhmm... Karena aku tidak bisa menahannya setiap berada satu ranjang denganmu." Ujar Ervin.
"Dasar mesum." Ucap Batari, dengan memukul kecil dada bidangnya.
"Bagaimana kalau kita melakukannya lagi." Goda Ervin.
"Tidak... Tidak..." Tolak Batari.
"Apa kau tidak kasihan terhadap singa jantanku yang sudah terbangun." Ujar Ervin.
"Apa singa jantanmu juga tidak merasa lelah, telah bekerja lembur semalaman." Ucap Batari.
"Tidak, karena dia memiliki stamina yang kuat." Ujar Ervin.
"Baiklah." Ucap Batari.
"Terimakasih." Ujar Ervin yang mulai menindih Batari.
"Kenapa kau menindihku? maksudku itu... Kau bermain solo saja di kamar mandi." Tunjuk Batari ke arah toilet.
"Hah?" Beo Ervin.
"Ya, tunggu apa lagi." Ucap Batari.
"Glekk! 5 menit saja, ya aku janji." Tutur Ervin, seraya merayu Batari.
"Tidak." Tolak Batari.
"Aku sungguh lelah, badanku juga terasa begitu remuk."
"Kita lakukan lagi nanti ya." Ucap Batari.
"Baiklah." Ujar Ervin, dengan raut masamnya.
"Kak..." Cicit Batari.
"Hmm..." Jawab Ervin, yang masih memasang raut masamnya.
"Apa kau tidak akan pergi ke kantor?" tanya Batari.
"Kenapa? kau takut jika aku tidak bekerja bakalan bangkrut." Jawab Ervin, sambil memainkan rambut Batari.
"Sure." Angguk Batari.
"Hmm... Bisakah Kak Ervin mengantarkanku ke pusara anak kita." Sambung Batari kembali.
"Sure." Jawab Ervin.
"Tetapi ada syaratnya." Ucapnya lagi.
"Syarat?" tanya Batari, dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Mandilah bersamaku." Ujar Ervin, yang mengangkat tubuh Batari menuju kamar mandi.
"Kak..." Protes Batari.
~Pemakaman~
"Maafkan bunda sayang, bunda baru sanggup datang ke rumahmu." Batinnya dengan air mata yang luruh begitu saja.
"Jika insiden itu tidak terjadi, mungkin kau masih berada di rahim bunda saat ini." Sambungnya kembali dengan menaburi bunga di atas pusaranya.
"Pasti saat ini kau sudah menjadi bidadari surganya bunda."
"Tunggu bunda ya sayang, kita akan bertemu kembali." Batinnya.
"Nama yang cantik." Ucap Batari, mengelus batu nisan putrinya yang diberi nama Aillen Aisyah Johnathan.
"Aku sangat penasaran bagaimana wajahnya." Sambungnya lagi dengan air mata yang masih membanjiri wajahnya.
"Sama cantiknya seperti dirimu." Ujar Ervin yang ikut menitihkan air matanya.
...***...
~Kantor JE Corp~
"Ekhmm..." Delvin yang melihat Ervin terus tersenyum sendiri.
"Bos!" Ujar Delvin, membuat Ervin menormalkan kembali ekspresi wajahnya.
"Jika masuk keruangan, kau bisakan mengetuknya terlebih dahulu." Tuturnya yang bergegas mengambil berkas dokumen yang ada di mejanya.
"Berkasnya terbalik, Bos." Ujar Delvin.
"Kau baik-baik saja kan, Bos?" tanya Delvin kembali.
"Sure." Jawab Ervin, langsung membalikkan berkas dokumennya.
"Syukurlah Bos, kau sudah tidak berlarut-larut lagi dalam kesedihan dan aku sangat senang melihat hari pertama kau masuk kembali ke kantor dalam raut wajah ceria." Ujar Delvin.
"Habis gelap terbitlah terang, bukankah seharusnya seperti itu." Ucap Ervin.
"Benar, Bos." Tutur Delvin.
"Ekhmm..." Ujar Ervin, yang melonggarkan dasinya.
"Ah iya, kedatanganku ke sini hanya ingin menginfokan bahwa siang nanti ada meeting." Ucap Delvin.
"Baiklah." Ujar Ervin.
"Tunggu apa lagi." Ujarnya lagi dengan melirikkan matanya ke arah pintu.
"Permisi, Bos." Ucap Delvin.
Di sisi lain.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Ris."
"Jangan-jangan kau masih menunggu dudanya kak Ervin." sarkas Ara.
"Tentu saja tidak, aku sudah melupakan rasa sukaku untuknya dan aku sudah move on." Ujar Rissa.
"Syukurlah kau tidak jadi seorang pelakor." Ucap Ara, dengan mengelus dadanya sendiri.
"Sialan kau, Ra." Ujar Rissa.
"Ekhmm..." Ucap Disha, yang menghampiri Batari bersama teman-temannya yang tengah berada di cafe.
"Kak Disha..." Beo Batari.
"Kau!" Tunjuk Ara.
"Kebetulan aku mencarimu." Ujar Disha.
"Ada apa kau mencari, Batari?" tanya Ara, yang sudah berdiri dengan menatap tajam wajah Disha.
"Aku tidak ada urusan denganmu." Jawab Disha, dengan mendelikkan kedua matanya.
"Sudah Ra, kau kembali duduk saja."
"Aku ingin mendengar apa yang ingin dia katakan." Ucap Batari. Ara pun kembali mendudukkan bokongnya dengan menahan rasa geramnya.
"Katakan! Ada hal apa yang ingin kau sampaikan." Ucap Batari, yang menatap wajah Disha.
"Apa ini?" tanya Batari, di kala Disha menyodorkan sebuah berkas.
"Formulir perceraian." Jawab Disha.
"Brakkk! Apa-apaan maksudmu." sarkas Ara, yang tersulut emosi.
"Ra, duduk!" Ucap Batari.
"Tapi..." Cicit Ara.
"Ra..." Ucapnya lagi, membuat Ara mematuhi intruksinya.
"Apa maksudmu memberiku formulir perceraian ini?" tanya Batari.
"Aku mendengarnya langsung dari Ervin bahwa kau ingin bercerai darinya."
"Tetapi setelah aku amati kau belum sama sekali memberi surat cerai padanya." Ujar Disha.
Dheg!
"Kenapa? apa kau sudah berubah pikiran?" tanya Disha.
"Sure, aku sudah tidak membutuhkan ini lagi." Jawab Batari, menyodorkan kembali formulir perceraian kepada Disha.
"Sayangnya kau masih membutuhkan ini." Ujarnya dengan menyodorkan kepada Batari lagi.
"Aku tidak akan bercerai." Ucap Batari begitu lugas.
"Kau yakin?" tanya Disha, yang menyodorkan sebuah amplop keterangan dari rumah sakit.
Batari pun membuka isi amplopnya.
"Hamil..." Cicit Batari, menatap wajah Disha untuk meminta penjelasan darinya.
Angguk Disha. "Mengandung anak dari Ervin." Ujar Disha.
"Dheg!" Dengan mata yang berkaca-kaca.
"Wanita sialan!" Geram Ara dengan menggebrak meja.
"Tahan Ra..." Ucap Rissa, yang menarik tangan Ara agar kembali duduk.
"Baiklah, hanya itu yang ingin aku sampaikan." Ujar Disha, dengan mengulum senyum kemenangannya. Lalu melangkahkan kakinya keluar dari cafe.
...***...
~Rumah~
"Sudah makan?" tanya Ervin, mengecup kening Batari. Di kala dirinya baru pulang dari kantor.
Angguk Batari. "Kenapa wajahmu ditekuk?" tanyanya kembali dengan menarik kursi di samping Batari.
"Apa ini?" tanya Ervin, melihat Batari menyodorkan sebuah amplop keterangan dari rumah sakit.
"Bacalah!" Ucap Batari, dengan Ervin pun yang membuka dan membacanya dengan raut wajah yang begitu syok.
"Apa kau tidur dengannya?" tanya Batari, yang tengah menahan air matanya.
"A-aku..." Beo Ervin.
"Ya atau tidak." Ucap Batari.
"Ya." Angguk Ervin, membuat air mata Batari luruh dalam pertahanannya.
"Why?" tanya Batari dengan suara paraunya.
"Ini hanya jebakkan, Tari. Disha memanfaatkan kondisiku disaat mabuk." Ujar Ervin.
"Cih!" Ucap Batari tersenyum sinis.
"Percayalah." Ujar Ervin kembali.
"Ya, aku mempercayainya ini bukan hanya sekedar jebakkan semata tetapi inilah sifat aslimu."
"Aku yakin itu bukan benihku." Ujar Ervin, dengan menghapus air mata Batari.
"Percayalah padaku, Tari." Ujarnya.
"Bahkan disaat kau kehilangan bayimu, kau malah membuat bayi yang lainnya dengan wanita lain." Tutur Batari, semakin pecah isak tangisnya.
...----------------...