My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 17



"Sudahlah cepat kerjakan, atau kita berdua yang akan dieksekusi oleh Ervin." Sambungnya kembali. Membuat Joe, lebih bekerja keras lagi.


~Satu jam kemudian~


"Berhasil!!!" Teriak Joe, begitu girang. Dengan Delvin, yang berlari ke arahnya.


"Akhirnya misi kita terpecahkan juga." Tutur Delvin, dengan menepuk pundak Joe.


"Lebih baik kau hubungi Bos, sialanmu itu." Ujar Joe.


"Jangan lupakan dia sahabatmu juga." Tutur Delvin, dengan mengambil ponsel disakunya.


~Setengah jam kemudian~


Drap... Drap... Drap...


"Kau sudah berhasil, Joe" Ujar Ervin, yang sudah berada di ruang rahasia.


"Coba kau lihat." Ujar Joe. Ketika Ervin, sudah berada di sampingnya.


"Di sini sangat begitu jelas perbedaannya, seperti dua orang yang berbeda." Tutur Ervin.


"Kau benar, sepertinya dia mengubah identitasnya serta warna rambut dan warna bola matanya dari bentuk aslinya." Ujar Joe.


"Ini benar-benar sangat mencurigakan, pasti ada alasan di balik ini semua." Gumam Ervin.


"Oh ya, aku juga menemukan data real dari keluargannya juga." Ujar Joe, menunjukan hasil retasannya.


"Nama ini kenapa begitu familiar, di mana aku pernah mendengarnya". Batin Ervin.


...***...


~Rumah~


"Ah, lelahnya." Gumam Batari, yang langsung mendudukan bokongnya di sofa.


Drap... Drap... Drap...


"Kau baru pulang jam segini?" tanya Ervin.


"Ya." Jawab Batari, dengan menolehkan wajahnya menatap Ervin, yang sudah memakai pakaian formal.


"Mau kembali kerja lagi jam segini?" tanya Batari, yang melihat di jam tangannya.


"Ada pertemuan para kolega." Jawab Ervin.


Dret... Dret... Dret...


"Setengah jam lagi aku sampai." Ujar Ervin, yang menutup kembali panggilannya.


"Oh ya aku buru-buru, jangan lupa jaga rumah." Ujar Ervin, dengan melangkahkan kakinya keluar rumah.


"Emangnya aku penjaga rumah ini" Batin Batari.


...***...


~Ballroom~


"Vin, kau tidak salah pasanganmu malam ini dia." Bisik Delvin, dengan menunjuk menggunakan ekor matanya.


"Sure, karena aku tidak memiliki teman wanita selain dia" Ucap ervin dengan suara amat kecilnya


"Ah aku mengerti, karena efek kebucinanmu dulu hingga tidak memiliki ban serep." Ujar Delvin, dengan senyum lebarnya dan mendapatkan pelototan langsung dari Ervin.


"Ekhmm! A-aku kesana dulu, Vin" Ucap Delvin, yang langsung melenggang pergi.


"Jadi ini acara pesta ulang tahunnya cucu satu-satunya dari J GROUP" Ujar Disha.


"Benar, apa kau mengenalnya?" tanya Ervin.


"Ahh... Tentu saja tidak, aku hanya mendengarnya dari teman-temanku saja, karena dia penerus dari J GROUP." Jawab Disha.


"Rupanya sudah jadi bahan perbincangan semua orang." Ujar Ervin.


"Sure, selain tampan dan kaya raya. Dia adalah pengusaha muda yang cukup sukses di kala performa pertamanya terjun di bidang bisnis." Timpal Disha.


"Ekhmm! Lebih baik kita mengucapkan selamat kepada cucu dari J GROUP." Ujar Ervin.


"Sure." Jawab Disha, yang menggandeng lengan Ervin.


"Selamat ulang tahun." Ucap Ervin.


"Ya ter--" Ujar laki-laki itu ketika menolehkan wajahnya.


"Ervin!" Beonya, dengan wajah syok.


"Ethan!!" Cicit Ervin, tak kalah syoknya.


"Jadi dia penerus dari J GROUP." Batin Ervin, yang kembali menormalkan mimik wajahnya.


"Lama tidak bertemu." Ujar Ervin, dengan mengulurkan tangannya.


"Jadi kau CEO dari JE CORP, perusahaan yang beberapa tahun ini sudah berkembang pesat." Ucap Ethan, dengan menjaba tangan Ervin. Dengan mengulum senyum sinis.


"Rupanya kau mendengar banyak tentangku." Jawan Ervin.


"Of course." Timpal Ethan.


"Jika aku mengetahui dari awal kau adalah penerusnya, aku akan lebih bekerja keras lagi untuk persaingan tender." Ujar Ervin.


"Dengan senang hati." Tutur Ethan. Dengan menyunggingkan senyumnya.


"Ck!" Desis Ervin dengan mengulum senyum sinisnya.


"Coba saja." Tantang Ervin.


"Aku adalah penjahat dalam kisah percintaanmu dulu maupun sekarang, dan aku tidak akan membiarkan pahlawan menang di dalam kisah ini." Ujar Ethan, menepuk pundak Ervin.


"Kau tetap percaya diri dan tidak ada yang berubah dari dalam dirimu, ETHAN ABERCIO." Tutur Ervin.


"Sure." Ujar Ethan, dengan bangganya.


"Siapa namamu cantik?" ujar Ethan, dengan meraih sebelah tangan Disha.


"D-disha" Cicit Disha, dengan nervousnya.


"Maukah kau berdansa denganku?" ujar Ethan. Dengan menatap wajah Ervin, yang tetap menampilkan wajah dinginya seolah-olah tidak tergoyah apa yang tengah dilakukannya.


"S-sure." Ucap Disha, dengan menganggukkan kepalanya diiringi senyum yang menghiasi wajah cantiknya.


"Lihatlah apa yang akan terjadi selanjutnya." Bisik Ethan, mengedipkan sebelah matanya.


"Aku tidak peduli berengsek." Gumam Ervin, seraya mengumpat.


"Vin, Disha ko berdansa dengan si ketan?" tanya Delvin. Menghampiri Ervin, yang tengah menatap Disha dan Ethan berdansa.


"Biarkanlah, kami sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi." Tutur Ervin, yang meneguk sampanyenya.


"Kukira dia menjadi pasanganmu karena kau memang gagal move on." Ujar Delvin.


"Apakah aku terlihat seperti laki-laki yang gagal move on?" tanya Ervin, menatap tajam wajah Delvin.


"Glek!" Dengan menelan salivanya kasar.


"H-hah..." Jawab Delvin, jujur.


"Kupotong gajimu." Tutur Ervin, yang kembali meneguk sampanyenya.


"Glek! Salah ngomong lagi." Batin Delvin, dengan wajah sendunya.


Di sisi lain.


"Ternyata anda sungguh tampan aslinya, apa yang orang-orang katakan memang benar" Puji Disha.


"Hahahaha! Aku tidak menyangkah akan ada rumor seperti itu tentang diriku, kurasa itu sangat berlebihan." Tutur Ethan, dengan senyum lebarnya.


"Ya, anda pantas mendapatkan rumor seperti itu." Ucap Disha, menyunggingkan senyumnya.


"Tetapi bukannya Ervin, tidak kalah tampannya denganku" Goda Ethan.


"Hmm, kalian berdua memiliki aura ketampanan masing-masing, jadi itu penilaianku." Tutur Disha.


"Kau benar." Ujar Ethan.


"Ekhmm! Apakah Ervin, kekasihmu?" tanya Ethan, di tengah dansanya.


"Hubungan kami sudah selesai beberapa waktu lalu." Jawab Disha, dengan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kau hadir menjadi partnernya?" tanya Ethan, kembali.


"Kupikir itu cara terbaik untuk bisa kembali dengannya, jadi aku menerima tawarannya." Jawab Disha, dengan menyunggingkan senyumnya.


"Kau masih memcintainya?" ujar Ethan.


"Sure." Jawab Disha.


"Lebih baik kau berpaling darinya." Tutur Ethan.


"M-maksud anda?" Cicit Disha.


"Jangan begitu formal, berbicaralah seperti kau berbicara dengan Ervin." Ujar Ethan.


"Baiklah, m-maksudmu..." Cicit Disha, dengan mengulang ucapannya.


"Apa kau tidak tertarik dengan laki-laki yang ada dihadapanmu sekarang." Bisik Ethan.


Glekk!


"M-mana mungkin ada wanita yang tidak tertarik dengan pesona ketampanan sepertimu." Ucap Disha, dengan wajah yang sudah memerah.


"Maksudmu kau salah satu di antara wanita itu." Ujar Ethan, menyunggingkan senyumnya.


"Hah..." Jawab Disha, dengan memalingkan wajahnya malu.


"Jadi kau memutuskan untuk berpaling dari, Ervin?" ujar Ethan. Dengan pertanyaan menjebaknya membuat Disha, terdiam.


"Baiklah, aku simpulkan kau tidak tertarik denganku." sambungnya kembali, menyudahi dansanya bersama Disha.


"Grep! T-tunggu..." Cicit Disha, yang meraih lengan Ethan.


"Ada apa?" tanya Ethan, yang tidak menolehkan wajahnya.


"A-aku tertarik kepadamu." Tutur Disha. Membuat Ethan, tersenyum menyeringai.


"Sungguh?" ujar Ethan, yang menolehkan wajahnya dan tidak lupa menampilkan raut senyumnya.


"Hah..." Angguk Disha, dengan melupakan tujuannya.


...----------------...