My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 30



~Restoran~


"Ada apa lagi?" ujar Ervin. Ketika langkah kaki Batari, terhenti.


"A-aku..." Cicit Batari. Dengan kedua tangannya yang sudah berkeringat.


"Pak Michelle dan istrinya, sudah berada di dalam Bos." Bisik Delvin, di telinga Ervin.


"Ayo." Ujar Ervin, yang menggenggam tangan, Batari.


Drap... Drap...! Tap... Tap...!


"Buonanotte signore Michelle." (Selamat malam Pak Michelle). Ucap Ervin, dengan mengulurkan tangannya.


"Notte signore Ervin." (Malam Pak Ervin). Ujar Michelle, yang menjaba tangan Ervin.


"È tua moglie...?" (Apakah dia istri anda). tanya Michelle, ketika melihat perempuan yang berada di samping Ervin.


"Giusto, Batari mia moglie." (Benar, Batari my wife). Ujar Ervin. Dengan memperkenalkan Batari, sebagai istrinya.


"Bellissima." Puji Andrea istri dari Michelle. Dengan Batari, yang kebingungan oleh bahasa yang belum ia benar-benar pahami.


"Ibu Andrea, berkata bahwa kau cantik." Bisik Ervin, di telinga Batari.


"Thank you, you are very beautiful." Ucap Batari, dengan menyunggingkan senyumnya.


"Per favore si sieda, signore." Ujar Ervin, dengan menarik kursinya masing-masing.


"Da quanto tempo sei sposato?" tanya Michelle, di tengah makan malamnya.


"Tre mesi." Tutur Ervin, dengan tersenyum menatap wajah Batari. Dengan Batari, pun mengikuti menyunggingkan senyumnya.


"Di sini aku merasa seperti orang bodoh yang hanya bisa menyunggingkan raut senyum di wajahku, tanpa mengerti apa yang mereka bicarakan." Batin Batari.


~1 jam kemudian~


"Grazie per la cena, tornerò." (Terimakasih dengan makan malamnya, saya akan mengabari kembali.) Ujar Michelle, dengan melangkahkan kakinya.


...***...


~Rumah~


"Turunkan aku!!!" Teriak Batari, ketika tubuhnya di angkat seperti karung beras. Dengan Ervin, yang membawa Batari ke kamarnya.


Krieeet...


Brukk!


Ervin, yang menaruh tubuh Batari, di atas ranjang begitu kasar.


"Kenapa kau selalu seperti ini kepadaku, hiks..." Ucap Batari, dengan air mata yang membasahi wajahnya.


"Aku hanya menagih hakku darimu sebagai seorang suami, Batari."


"Dan aku sudah menahan diri dari satu minggu lamanya untuk memberimu waktu.


"Aku..." Cicit Batari. Dengan Ervin yang menyambar bibirnya tanpa aba-aba lagi.


Ciuman Ervin, kali ini begitu menuntut. Hingga Batari, begitu kewalahan menghadapi Ervin.


"Hahh!"


"Bibirmu begitu membuatku candu." Ujarnya, yang kembali menciumnya begitu kasar.


Lalu ciumannya turun ke leher Batari, untuk membuat stempel tanda kepemilikannya. Tanpa mempedulikan Batari, yang terus menangis.


Breeet!


Ervin, yang berhasil merobek gaun Batari.


"Glekk! Sangat indah." Beo Ervin. Ketika melihat gunung kembar milik Batari, tanpa ada penghalang sehelai kain pun yang menutupinya.


Hiks... Hiks...


Batari, yang langsung menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi bagian area sensitifnya dalam keadaan setengah naked.


"Aku sudah melihatnya, kau tidak perlu untuk menutupinya."


"Tugasmu sekarang layani aku, Batari." Ujar Ervin, yang membuka paksa kedua tangan Batari. Dengan menyambar kedua gunung kembarnya.


"Ahhhhh..." Suara yang begitu dirinya benci, pada akhirnya keluar juga dari mulutnya dengan air mata yang tak kunjung berhenti.


"Teruslah Batari, aku sangat menyukai suramu." Ujar Ervin.


"Hiks... Hiks... Aku merasa jijik!" Ucap Batari. Dengan Ervin, yang mengepalkan kedua tangannya.


"Aku pastikan kau akan menikmatinya." Ujar Ervin, yang menurunkan seluruh gaunnya hingga dalam keadaan naked. Begitu pun dirinya menanggalkan seluruh pakaiannya, untuk memulai melakukan aktivitas panasnya.


"Kau sungguh nikmat Batari. Pantas saja aku selalu menginginkanmu, ternyata kau sudah menjadi candu bagiku." Ujar Ervin, di tengah aktivitasnya.


Dengan perasaan Batari, yang benar-benar hancur kembali. Mengingatkannya dengan insiden beberapa bulan yang lalu.


"Ahhhh... Sebentar lagi aku..." Ucap Ervin, yang akan mencapai pelepasannya.


"J-jangan di dalam, ku-mohon..." Ujar Batari. Dengan Ervin, yang tak mempedulikan perkataan Batari. Hingga beberapa saat kemudian Ervin, pun mencapai pelepasannya.


"Ahhhhh..." Dengan menjatuhkan tubuhnya di samping batari di kala sudah mendapatkan pelepasannya.


Hiks... Hiks... Hiks...


~Keesokan Harinya~


Kedua mata Batari, pun perlahan-lahan terbuka dan menatap kesekeliling kamar Ervin, yang tidak melihat seorang pun selain dirinya sendiri.


"Aku seperti wanita tunasusila, begitu dinikmati lalu ditinggal begitu saja." Batinnya, dengan kedua matanya yang kembali memanas.


"Akhhhh!" Ringis Batari, di kala seluruh tubuhnya terasa begitu sakit semua.


"Sungguh aku tidak memiliki tenaga untuk sekedar beranjang dari kasur ini." Batinnya, dengan air mata yang kembali luruh membasahi wajahnya.


"Hiks... Hiks... Mah..." Rintih Batari, ketika perutnya terasa begitu kram tanpa bisa berbuat apa-apa.


...***...


~Poli Kandungan~


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Batari, yang masih berbaring.


"Kondisi bayimu sungguh mengkhawatirkan, Batari." Ujar dr. Rita.


"Apa kalian telah melakukan hubungan suami istri?" sambung dr. Rita, dengan bertanya kepada Batari.


Angguk Batari, dengan begitu pelan.


"Seharusnya, kau benar-benar bedrest dari segala hal termasuk dalam hubungan suami istri."


"Karena itu akan sangat mempengaruhi kondisi janinmu, yang masih di trimester pertama untuk rawannya keguguran." Ujar dr. Rita, dengan menghela nafasnya berat. Dengan Batari, yang hanya bisa terdiam.


"Kau masih sangat beruntung Batari, walaupun kondisi janinmu yang sangat lemah tetapi dia masih tetap bertahan." sambungnya kembali, menuliskan resep obat.


Dengan Batari, yang mengelus perutnya diiringi air mata yang membanjiri wajahnya.


Ceklekkk...


"Batari, bagaimana kondisinya?" tanya Ara. Melihat Batari, keluar dari ruangan dr. Rita.


"Dia masih begitu lemah Ra, apa lagi kejadian semalam, hiks..." Ucapnya. Dengan memeluk tubuh Ara, untuk tempatnya bersandar.


"Memangnya apa yang terjadi, Batari?" tanya Ara.


"Hiks... Hiks... Ra..." Ucap Batari, yang tidak sanggup untuk menceritakan hal yang begitu keji menurutnya.


"Tidak apa Batari, jika kau tidak ingin menceritakannya." Tutur Ara, yang mengelus punggung Batari.


"Lebih baik kau istirahat, jangan terlalu banyak beban pikiran, aku akan mengantarmu pulang." sambungnya kembali, dengan melepaskan pelukannya. Lalu menuntun Batari, untuk menuju mobilnya.


"Terimakasih Ra, kau selalu membantuku disaat aku selalu membutuhkan bantuanmu." Ucap Batari.


"Iya Tari, kapanpun kau membutuhkan bantuanku, aku akan selalu ada untukmu." Ujar Ara, yang membukakan pintu mobilnya untuk Batari, yang terlihat begitu lemas seperti tidak bertenaga.


"Apa kau ingin membeli sesuatu untuk bisa dimakan?" tanya Ara, yang sudah melajukan mobilnya.


"Aku tidak berselera untuk makan Ra, yang aku butuhkan hanyalah istirahat." Jawab Batari.


"Tapi kau terlihat begitu lemas dan pucat, Batari," Tutur Ara, yang benar-benar begitu khawatir.


"Aku akan makan jika aku merasa lapar Ra, aku merasa saat ini aku hanya membutuhkan waktu untuk istirahat." Ucap Batari, menyunggingkan senyumnya.


"Karena seluruh tubuhku terasa sakit semua, Ra..." Batin Batari.


Beberapa menit kemudian Batari, turun dari mobil Ara.


"Terimakasih Ra," Ucap Batari.


"Iya Tari, aku pamit." Ujar Ara yang melajukan kembali mobilnya


Tap... Tap... Tap...


Ceklekkk!


"Habis dari mana saja kau?" tanya Ervin, yang tengah duduk di sofa. Dengan menatap Batari, begitu tajam.


...----------------...