
Siang ini juga Zaky akhirnya mengajak Naya pergi ke rumah Mama dan Papanya. Naya sudah diberitahu oleh suaminya kalau nanti ia menyelesaikan masalah Shanum setibanya di rumah orang tuanya. Namun Zaky tidak mengatakan dengan detail masalah apa yang sedang terjadi pada Shanum.
Sedangkan Ayah Bagas akan datang esok harinya, karena pekerjaannya di kantor tidak bisa ditinggalkan.
Dalam perjalanan ke rumah mertuanya, pikiran Zaky menjadi tidak tenang. Apalagi sampai saat ini Shanum sangat susah dihubungi. Dia tahu bagaimana sifat Shanum kalau sedang mendapat masalah seperti ini. pasti adiknya itu lebih memilih mengurung diri di apartemen dan menonaktifkan ponselnya.
“Mas, tenanglah! Shanum pasti baik-baik saja.” Naya mencoba menenangkan suaminya.
“Terima kasih, Sayang!” sejenak Zaky mengesampingkan urusan adiknya, mengingat saat ini di sampingnya ada sang istri dan calon buah hatinya. Dia juga tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk dalam perjalanannya ini.
Perjalanan kurang lebih selama empat jam akhirnya kini sudah membawa Zaky dan Naya tiba di rumah orang tua mereka. Senja sangat senang melihat kedatangan anak menantunya itu. apalagi sudah lama keduanya tidak pernah singgah, semenjak Naya hamil muda.
“Kak Nabil kok di sini?” tanya Naya kaget saat melihat sepupunya juga berada di rumahnya.
“Kamu nggak suka kalau aku di sini?” tanya balik Nabil dengan wajah pura-pura kecewa.
Naya hanya mencebikkan bibirnya. kemudian duduk bergabung dengan Nabil dan kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Zaky.
Nabil yang kebetulan sedang ada kerjasama dengan salah satu kliennya, membuat ia harus tinggal beberapa hari di rumah Xavier. jadi, berhubung sekarang Nya dan Zaky datang, otomatis rumah semakin ramai.
Setelah berbincang-bincang sejenak, Naya memutuskan masuk ke kamar lebih dulu untuk beristirahat. Sedangkan Zaky dan Nabil masih berada di ruang keluarga.
Zaky yang sejak dulu sudah akrab dengan Nabil, dia menceritakan masalah yang tengah dialami adiknya. Saat ini Shanum terseret dalam masalah yang dibuat temannya. Salah satu teman Shanum seprofesi tengah diamankan oleh pihak berwajib karena terbukti sebagai tersangka pembuat sekaligus penyebar video asusila. Dan nama Shanum ikut terseret, karena diduga salah satu pelaku dari video itu adalah Shanum. Pada saat ini Shanum masih sebagai saksi dan dalam masa peyidikan polisi.
Nabil terdiam mendengar cerita Zaky. walau bagaimana pun juga Zaky dan Shanum sudah dia anggap seperti saudara sendiri. Meskipun Nabil tidak begitu dekat dengan adik Zaky itu.
“Begini saja, aku punya kenalan pengacara hebat. Nanti aku akan hubungi dia setelah itu aku sambungkan dengan kamu. Mungkin bisa saja pengacara itu bisa membantu mengatasi masalh adik kamu. Maaf, aku hanya bisa membantu itu saja.” Ucap Nabil.
“Terima kasih banyak. Aku dan Ayah memang belum sampai mencari seorang pengacara, karena kedatanganku kesini masih ingin bertemu Shanum dulu dan ingin menanyakan langsung ceritanya.” Jawab Zaky tampak lega.
***
Keesokan harinya Zaky dan Ayahnya langsung pergi ke apartemen Shanum. Sedangkan Naya dibiarkan di rumah Mama dan Papanya dulu selagi sang suami menyelsaikan masalah Shanum.
Senja juga ikut senang melihat anak perempuannya itu sangat antusias di dapur. Apalagi melihat ekspresi Naya yang sedang menelan salivanya karena sudah tidak sabar untuk menikmati masakan Mamanya.
“Kok lama sekali sih, Ma! Mama tahu nggak kalau calon cucu Mama ini sudah tidak sabar untuk makan masakan neneknya.” Ucap Naya sembari mengusap perutnya.
“Sabar, Sayang. Ini sebentar lagi selesai. kamu ini ngidam atau sedang kelaparan sih?” Senja berkata sambil menggeleng pelan.
“Dua-duanya sih, Ma.” Jawab Naya terkekeh.
Bau masakan Mamanya semakin menggugah selera. Naya tahu kalau masakan Mamanya sudah matang, buru-buru bumil itu mengambil piring lalu menyajikan hasil masakan Mamanya ke meja makan. Padahal ini bukan waktunya sarapan. Karena Naya sudah sarapan bersama orang tua dan suaminya tadi pagi. dan sekarang saat waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi, Naya sudah meminta Mamanya untuki membuatkan makanan kesukaannya.
“Pelan-pelan Sayang makannya! Mama ini membuatnya khusus buat anak Mama dan calon cucu Mama. jadi tidak akan ada yang meminta.” Ucap Senja saat melihat Naya makan dengan sangat lahap.
“Tapi enak benar-benar enak, Ma. Makanya Naya tidak sabar untuk menikmatinya.” Jawab Naya dengan mulut yang masih mengunyah makanannya.
Senja hanya tersenyum samar. Melihat Naya makan dengan sangat lahap saat sedang hamil, mengingatkan dirinya dulu saat sedang mengandung Naya. Wanita paruh baya itu sangat bahagia melihat anaknya juga bahagia. Apalagi dengan pernikahannya. Ada rasa sesal dalam hati Senja mengingat dulu saat menentang hubungan Naya dengan Zaky yang notabene keduanya adalah saudara angkat dan hidup bersama sejak kecil.
“Terima kasih banyak ya, Ma! Selama Naya masih di sini, apa Mama nggak keberatan untuk memasak seperti ini lagi?” tanya Naya setelah menghabiskan seporsi makanannya.
“Tentu saja, Sayang. Apapun yang kamu minta, Mama akan kabulkan. Apalagi kamu mau kembali tinggal di sini, Mama dan Papa pasti akan sangat senang.” Ucap Senja dengan raut sedih di akhir kalimatnya.
.
.
.
*TBC
Opps belum jadi tamat hari ini guys😉😉🙏
Happy Reading‼️