My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 14



"Shitt! Baiklah dalam dua hari." Ucap Joe, yang merasa direndahkan oleh, Ervin.


"Baiklah, aku akan menemuimu dua hari kemudian." Ujar Ervin.


Tap... Tap... Tap...


"Silahkan di minum, Tuan." Ucap wanita yang berambut ikal itu.


"Dia sudah akan pergi dan sudah tidak memiliki waktu untuk menikmati hanya segelas kecil sampanye." Ujar Joe. Menatap Ervin, yang tengah menatap sinis ke arahnya.


"Hanya segelas kecil." Ucap Ervin, dengan sekali teguk.


...***...


~Kamar~


Langkah kaki Ervin, terhenti ketika melihat punggung putih Batari, yang tengah menurunkan reseleting kebayanya.


Tanpa Batari, sadari adanya seseorang di dalam kamarnya. Hingga kebayanya pun berhasil dibuka.


Drap... Drap... Drap...


Batari, yang menyadari suara langkah kaki seseorang dengan perasaan yang begitu was-was.


Karena setengah tubuhnya dalam keadaan naked.


"Stop!" Ujar Batari, yang masih membelakangi Ervin.


Dengan jarak antara Ervin dan Batari, tidak terlalu jauh ketika Ervin meghentikan langkah kakinya.


"K-kenapa kau masuk ke-dalam kamarku?" sambungnya kembali. Dengan melepaskan tusuk konde rambutnya, agar rambutnya terurai untuk menutupi punggungnya.


"Kamarku sedang ada perbaikan, kau pun tahu itu." Ujar Ervin, melangkahkan kembali kakinya.


"Rambutmu menghalangi punggung indahmu." Ujarnya lagi. Dengan mengesampingkan rambut Batari, ke depan.


"K-kau..." Cicit Batari. Ketika Ervin, menyentuh kulit punggungnya dengan jari jemarinya.


"Kenapa kau selalu membatasi untuk aku menyentuhmu?"


"Bahkan laki-laki lain menyentuhmu begitu bebes, tanpa adanya pembatas darimu." Ucap Ervin. Memeluk tubuh Batari, dari belakang dengan menggigit kupingnya.


"Mm... Le-lepas..." Cicit Batari. Tengah berontak agar terlepas dari dekapan Ervin, yang membuatnya begitu tidak nyaman.


Ervin, dengan senang hati melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh Batari.


Batari yang langsung refleks menutupi area sensitifnya menggunakan kedua tangannya yang menyilang, diiringi air mata.


"Aku sangat muak, melihatmu selalu menangis di kala aku menyentuhmu."


"Hanya sebuah pelukan."


"Tetapi aku melihat, kau begitu senang jika dipeluk oleh laki-laki lain."


"Apa aku semenjijikan itu? Sehingga kau enggan untuk aku sentuh." Ujar Ervin, dengan menarik ujung dagunya.


"A-aku selalu merasa kotor jika kau menyentuhku."


"Sentuhanmu, selalu mengingatkanku akan insiden itu. Ketika mahkotaku direnggut paksa oleh kakakku sendiri..." Ucap Batari, dengan suara isak tangisnya.


Ketika kata-kata Batari, yang begitu menohok. Ervin, hanya mampu menahan kegeramannya dengan mengepalkan sebelah tangannya.


"A-aku mengizinkanmu untuk tidur di kamarku, melainkan bukan sebebasnya untukmu bisa menyentuhku semaumu."


"Kau harus menghormati adanya benteng antara kau dan aku." Sambungnya.


...***...


~Dua Hari Kemudian~


"Kenapa kau berada di sini?" kesal Joe. Melihat Ervin dan Delvin, sudah duduk manis diruangannya dengan menatap ke arah dirinya yang tengah melakukan aktivitas panasnya.


"Sudah kukatakan dua hari kemudian, aku akan datang ke sini pada jam yang sama." Tutur Ervin, melipatkan kedua tangannya.


"Kau selalu mengganggu waktu kenikmatanku saja!" Gerutu Joe, yang mengakhiri aktivitas panasnya.


"Aku mendengarnya." Ujar Ervin, dengan ekspresi wajah yang sama.


"Aku sengaja agar kau mendengarnya dan cepat-cepat enyah dari sini." Tutur Joe, menyuruh wanita berambut pendek untuk meninggalkan dirinya.


Drap... Drap... Drap...


"Naikkan dulu reseleting celanamu." Ujar Ervin.


"Aishh! Gara-gara kau." Gerutu Joe. Dengan cepat-cepat menaikkan reseleting celananya.


"Ikuti aku!" Ujar Joe. Mengajak Ervin dan Delvin, menuju ruang rahasianya.


Setelah berada diruang rahasianya, Joe memberikan sebuah dokumen kepada Ervin.


"Aku ingin secara rinci. Di sini hanya tentang dirinya, background keluarganya tidak ada." Ujar Ervin, menutup kembali dokumennya.


"Sudah aku katakan dua hari adalah waktu yang begitu singkat." Tutur Joe.


"Kau selalu meminta waktu lebih, karena kau tidak berusaha mencarinya di dark web." Ujar Ervin.


"Hanya itu yang bisa aku temukan untuk waktu yang singkat, jika ingin hasil yang sempurna beri aku waktu beberapa hari lagi." Ucap Joe.


"Baiklah, kuharap kau memberikan hasil yang sangat memuaskan." Tutur Ervin.


"Sure." Jawab Joe.


"Awasi dia! Aku tidak mau dia bersantai dan bersenang-senang dengan para jalanggnya." Ucap Ervin, kepada Delvin. Lalu melangkahkan kakinya.


"Apa-apaan kau!" Kesal Joe.


"Sudah Joe, ikuti saja perkataannya. Kau tidak mau aset pencaharianmu ini ditutup permanen olehnya." Bisik Delvin.


"Ervin sialan!!!" Teriak Joe. Dengan menendang kursi yang ada di depannya.


...***...


~12 Hari kemudian~


"Aku sangat nervous, Tari." Tutur Ellona, disaat detik-detik akan akad nikah.


"Tarik nafas dalam-dalam, Mba." Ucap Batari.


"Huh! Apa disaat kau menikah tidak merasakan senervous yang aku alami saat ini?" tanya Ellona, menghirup dalam-dalam lalu membuang perlahan-lahan nafasnya.


"Tidak." Dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Oh my god! Aku lupa, bahwa kau menikah karena terpaksa." Ujar Ellona, dengan menepuk jidatnya sendiri.


Ceklek...


"El, apa kau sudah siap?" tanya Ranti.


"Iya, Mah." Jawab Ellona, dengan jantung yang sudah berdebar-debar.


"Baiklah, kalau begitu sekarang kita ke ballroom." Ujar Ranti.


~Ballroom~


Ellona dan Attar, yang sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Duduk di atas pelaminan dengan senyum yang begitu sangat bahagia yang terpancar dari wajahnya masing-masing membuat Batari, iri melihatnya.


"Kenapa kau meneteskan air mata sanyang?" tanya Ranti, kepada anak bungsungnya.


"A-aku hanya bahagia melihat, Mba Ellona dan Bang Attar menikah, Mah." Alibi Batari, menghapus sisa air matanya.


"Kau juga bisa seperti Ellona jika bayi ini sudah lahir ke dunia sayang." Elus Ranti, di perut Batari dengan senyum yang begitu mengembang.


"Tidak, Mah..." Dengan menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak ingin seperti, Mba Ellona." Ucapnya, dengan menyunggingkan senyumnya.


"Why?" tanya Ranti, menatap penuh sedih di antara bola mata Batari.


"Someday, aku tidak bisa memprediksi pernikahanku bertahan sampai kapan, Mah." Ujar Batari, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Apa karena dia kakakmu?"


"Bukan seperti Ellona, yang menikahi Attar." Ujar Ranti. Membuat Batari langsung menganggukkan kepalanya.


"Kau salah sayang." Ucap Ranti, yang kini memeluk tubuh rapuh Batari.


"M-maksud, Mama?" tanya Batari, memeluk erat tubuh Ranti.


"Suatu saat nanti kau akan tahu jawabannya." Ucap Ranti.


"Jeng!" Sapa Dewi.


"Ini putrimu yang bungsukan, Jeng?" tanya Dewi. Menatap penuh kagum ke arah, Batari.


"Iya, Jeng. Ini Batari, putri bungsuku." Jawab Ranti, menyunggingkan senyumnya.


"Semakin cantik terakhir kali bertemu." Puji dewi, di kala menatap wajah Batari.


"Andai aku memiliki anak laki-laki, tak jodohin dengan putrimu yang begitu ayu ini." Ujarnya lagi. Membuat Ranti, hanya bisa menyunggingkan senyumnya.


"Oh ya, Jeng. Jangan sampai putrimu seperti anaknya tetanggaku." Sambungnya kembali.


"Maksudnya, Jeng?" tanya Ranti.


"Begini loh, Jeng. Tetangga saya memiliki seorang putri yang begitu introvert sekali, tetapi diam-diam ternyata tengah hamil." Jawab Dewi, begitu antusias.


"Kok bisa ya, Jeng?" ucap Ranti, dengan perasaan was-was.


"Iya, Jeng. Soalnya di hamili oleh kakaknya sendiri."


Deg!


Batari dan Ranti saling bertatapan satu sama lain, lalu menyunggingkan senyumnya kembali agar Dewi, tidak merasa curiga.


"Amit-amit ya Jeng, jangan sampai menimpa kepada putrimu yang ayu ini." Ujar Dewi.


"Umm... Yuk Jeng, foto-foto dulu sama pengantin." Ujar Ranti, untuk mengalihkan perkataan Dewi.


"Mama, ke sana dulu ya sayang." Pamit Ranti, langsung di angguki Batari.


"Huh! Apa di dunia ini kasus kakak menghamili adiknya begitu banyak. Kupikir hanya diriku seorang." Batin Batari, menghela nafasnya dalam.


"Lebih baik aku ke kamar hotel dulu, untuk merapikan riasanku." Batinnya kembali dengan melangkahkan kakinya.


Di sisi lain.


"Untuk apa kau datang ke pernikahan, mba Ellona?" ujar Ervin, menatap tajam wajah Disha.


"Tentu saja untuk mengucapkan selamat kepada kakakmu tercinta, apa itu salah?" jawab Disha, memajukan wajahnya tepat di depan wajah Ervin.


"Mba Ellona, tidak membutuhkan ucapan dari wanita sepertimu." Ujar Ervin, begitu menohok.


"Ervin... Ervin..." Ucap Disha, dengan menyentuh wajah tampannya.


"Singkirkan tangan kotormu dari wajahku, Ayudisha!" Ujar Ervin.


"Kau begitu hot..."


"Aku menginginkan dirimu, pfffft!" Bisik Disha. Dengan Ervin, mendorong tubuh Disha penuh rasa jijik.


"Pergi dari sini!"


"Sebelum aku menyeretmu ke luar dari sini." Ujar Ervin.


"Kita lihat apa itu akan berhasil." Ucap Disha, melangkahkan kakinya kembali menuju ballroom.


"Ayudisha!!!" Teriak Ervin, yang tidak dihiraukan olehnya.


"Shitt!" Desis Ervin, yang segera mengejar dan meraih pergelangan tangan Disha.


"Kenap si Ervin, sayang?" ujar Disha, yang kini berbalik arah memeluk leher Ervin, dengan seringai di wajahnya.


"Singkirkan tanganmu dileherku, Disha!" Ujar Ervin.


"Shutt! Semakin kau marah, aura ketampananmu semakin terpancar." Ucap Disha, menutup mulut Ervin menggunakan jarinya.


"Dasar Bitchh!" Ujar Ervin, berhasil melepaskan tangan Disha di lehernya.


"Hahahaha....!!" Tawa Disha, begitu menggelegar.


Lalu Disha, yang kembali melangkahkan kakinya ke arah Ervin, dan detik berikutnya Disha berhasil mencium bibir Ervin.


Dheg!


Batari, melihat adegan yang seharusnya tidak ia lihat. Membuat hatinya terenyak entah apa alasannya.


Hingga mengurungkan niatnya menuju kamar hotel, yang kembali memasuki ballroom dengan air mata yang menetes deras di wajah cantiknya.


"Kau, sungguh wanita tunasusila!" Ujar Ervin, begitu kesal. Hingga mendorong tubuhnya yang telah mencium bibirnya tanpa seizin darinya.


"Jangan naif, Vin. Kau menikmatinyakan." Ucap Disha, dengan mengulum senyum sinisnya.


"Tidak sama sekali!" Ujar Ervin. Menghapus jejak bibir Disha, di bibirnya.


"Baiklah, kita coba lagi." Tutur Disha, mendekatkan kembali wajahnya. Tetapi kali ini Ervin, berhasil menarik tangannya untuk membawanya ke luar dari hotel.


"Lepas Vin, ini sangat sakit!" Berontak Disha.


...***...


~Ballroom~


"Tari dari mana aja?" tanya Ara.


"Ahh, i-itu..." Jawab Batari. Memikirkan Ervin dan Disha terus menerus berputar di otaknya bak kaset rusak, hingga tanpa disadari air matanya kembali luruh.


"Tari, are you oke?" tanya Ara, yang langsung memeluk tubuh Batari.


"Hiks... Hiks... Hiks..." Suara isak tangis Batari, pun pecah dipelukan Ara.


"Menangislah, jika membuatmu merasa tenang." Ujar Ara, dengan mengelus punggung Batari.


"A-aku tidak tahu k-kenapa, Ra. Rasanya air mataku terus keluar tanpa aku minta." Tutur Batari.


"Kau seperti orang hamil saja, baperan." Celetuk Rissa, yang ikut mengelus punggung Batari.


"Hiks... Hiks... Hiks..." Tangis Batari, semakin pecah.


"Rissa, kalau ngomong tuh dipikir dulu. Jadi tambah nangiskan." Ucap Ara.


"Tuhkan baperan! Kaya tante aku waktu hamil Arka, bawaannya nangis mulu." Timpal Rissa, lagi.


"Hussst! Jangan samain dengan tantemu, Rissa. Mana mungkin Batari, hamil! Nikah aja belum." Ujar Ara.


"Maaf..." Cicit Rissa.


"Kau tidak salah Ris, mungkin aku sedang cape jadi bawaannya pengen nangis." Ujar Batari, yang sudah melepaskan tubuhnya dari pelukan Ara.


"Minumlah, Tari!" Ucap Rissa, dengan menyodorkan segelas air.


"Terimakasih." Ujar Batari, mengambil lalu meminumnya begitu tandas.


"Pelan-pelan Tar, ya ampun kau seperti satu minggu tidak minum saja." Tutur Rissa, melihat sahabatnya yang begitu aneh.


"Mati dong Ris, satu minggu tidak minum." sarkas Ara, menepuk pundak Rissa.


"Awww! Sakit Ra..." Keluh Rissa, seraya mengelus pundaknya yang tidak merah.


"Mana yang sakit?" tanya Ara.


"Inilah!" Tunjuk Rissa, yang langsung ditepuk kembali oleh Ara cukup kencang.


"Ini sangat sakit, Ara!!!" Teriak Rissa, melihat pundaknya memerah.


"Makanya jangan drama." Ujar Ara, dengan melipatkan kedua tangannya.


"Umm... Aku mau kembali ke kamar hotel sebentar." Beo Batari.


"Perlu kita berdua antar?" tawar Ara, di angguki Rissa yang masih mengus pundaknya.


"Tidak, kalian nikmatilah. Aku hanya sebentar ingin merias ulang riasanku." Tuturnya, menunjuk ke arah wajahnya dengan makeup yang sudah berantakan.


"Baiklah, jika ada apa-apa kau hubungi kami berdua." Ujar Rissa.


~Sebrang Jalan~


"Taksi!" Ervin, yang setengah berteriak memberhentikan taksi untuk, Disha.


"Lepas, Vin!" Ujar Disha, terus berontak.


"Diam!" Bentak Ervin. Membuat Disha, tidak berontak lagi.


"Masuk sekarang!" Ujar Ervin.


"Antarkan dia ke alamat xxx." Ujar Ervin, memberi beberapa lembaran uang kepada sopir taksi.


"Baik." Ucap sopir taksi, yang melajukan mobilnya.


"Ervin! Tunggu selanjutnya yang akan aku lakukan kepadamu. Kau akan menyesal membuatku seperti ini!" Batin Disha, mengepalkan kedua tangannya.


...----------------...