My Brother My Husband

My Brother My Husband
Chapter 35



"Jika kau menyuruhku untuk menggantinya lagi, lebih baik aku tidak ikut menghadiri pestanya." Ujar Batari. Menatap tajam wajah, Ervin.


"Ehemm... Aku suka dengan gaun ini. Tentunya sangat cocok dengan tubuhmu." Ujar Ervin, yang memelankan ucapan diakhirnya. Sehingga Batari, tidak bisa begitu jelas mendengar ucapannya.


"Akhirnya." Cicit Batari, dengan mengulas senyum kecilnya.


"Sekarang aku akan memanggilkan Mua untuk merias wajahmu, agar terlihat sempurna untuk malam ini." Ujar Ervin.


"Masuklah." Panggil Ervin, kepada Mua yang sangat terkenal dikalangan artis papan atas.


"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku untuk bersiap-siap dan menunggumu di bawah." Ujar Ervin, yang langsung melangkahkan kakinya.


Drap... Drap...! Tap... Tap...!


"Kau mau makeup seperti apa, Nona Batari?" tanya Mua.


"Yang cocok dengan gaunku tentunya."


"Dan jangan terlalu menor, karena aku tidak terlalu suka dengan makeup yang berlebihan." Ujar Batari.


"Baiklah, saya akan membuat Nona terlihat sangat cantik malam ini." Ucap Mua, yang mengeluarkan isi dari kotak riasnya.


~1 jam kemudian~


Batari, sudah tampil sempurna dengan riasan di wajahnya sesuai dengan gaun yang ia pakai malam ini.


Simple dan elegan, tetapi tetap berkelas.


Dipadukan dengan rambut panjangnya yang menjuntai curly.


"Wow... Hasil yang sangat menakjubkan." Puji Mua. Ketika melihat penampilan Batari, malam ini sangat sempurna.


"Karena berkat Anda, membuatku bisa semenakjubkan ini." Ujar Batari, dengan menyunggingkan senyumnya.


"Saya rasa, memang wajah Nona pada dasarnya sudah cantik."


"Saya hanya membantu memoleskan sedikit dengan makeup, tetapi hasilnya benar-benar menakjubkan." Ucap Mua.


"Umm... Saya rasa, jika pak Ervin, melihat penampilan Nona malam ini..."


"Saya yakin, beliau tidak akan pernah berhenti berkedip."


"Dengan melihat Nona, yang begitu cantik dan sempurna." sambungnya kembali. Dengan menggandeng lengan Batari, keluar dari kamarnya.


"Aku rasa kak Ervin, tidak akan berekspresi berlebihan seperti itu." Ucap Batari, yang tengah menuruni anak tangga.


"Melihat penampilanku yang tidak jauh berbeda dari biasanya." sambungnya kembali.


"Kita lihat saja." Ujar Mua, penuh percaya diri.


Tap... Tap... Tap...


"Umm..." Batari, yang sudah berada di belakang Ervin, yang tengah berbincang dengan sekretarisnya.


"Lihat, Vin!" Ujar Delvin. Menatap takjub penampilan Batari, malam ini.


Ervin, yang menolehkan wajahnya pelan ke arah Batari. Dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu datar, tanpa mengeluarkan kata pujian satu pun dari mulutnya.


"Kau sudah selesai rupanya." Ujar Ervin.


"Sudah." Ucap Batari, dengan air mukanya yang terlihat sedih.


"Baiklah, kita pergi sekarang." Ujar Ervin, melangkahkan kakinya menuju mobil.


"Yang Nona, ucapkan ternyata benar. Ekspresi Pak Ervin, terlihat biasa aja ketika menatap penampilan anda yang sangat cantik seperti ini." Bisik Mua.


"Karena sudah feeling dari awal, jadi aku tidak mempermasalahkannya." Ucap Batari, menyunggingkan senyumnya untuk menutupi rasa kecewanya terhadap ekspresi, Ervin.


"Yuk! Saya antar Nona, menuju mobil." Ujar Mua. Berjalan beriringan di samping, Batari.


"Terimakasih." Ucap Batari. Ketika sudah masuk ke dalam mobil, Ervin.


~30 menit kemudian~


Ervin dan Batari, yang keluar dari life. Dengan Ervin, yang menggandeng lengan Batari, menuju ballroom tempat acara di gelar.


"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga." Ujar Ellona, yang menyambut Ervin dan Batari.


"Tentu saja, aku hadir Mba." Ucap Batari, menyunggingkan senyumnya.


"Aku ke sana dulu. Kau tetap di sini bersama, Mba Ellona." Bisik Ervin, yang langsung di angguki oleh Batari.


Drap... Drap...


"Malam ini kau sangat cantik dipadukan dengan gaunmu yang elegan, benar-benar penampilan yang sempurna." Puji Ellona.


"Mba, terlalu berlebihan,"


"Bahkan orang yang membuatku berpenampilan seperti ini sama sekali tidak menatapku penuh kagum, seperti orang-orang yang terus menerus memujiku." Batin Batari. Dengan tersenyum kecut ke arah Ervin, yang tengah berbincang bersama Bang Attar, Bang Vano dan Kak Delvin sekretaris setianya.


"Mau Mba, ambilkan makanan atau minuman tidak?" tawar Ellona. Ketika memperhatikan wajah Batari, yang terus melihat ke arah Ervin, dengan tatapan sendu.


"Tidak perlu Mba, saat ini aku sedang tidak lapar." Jawab Batari.


"Baiklah, kalau begitu Mba ke sana dulu. Jika kau merasa lapar ambilah sesukamu." Ujar Ellona.


"Iya Mba." Ucap Batari. Dengan Ellona, yang melangkahkan kakinya menemui para sahabatnya.


Tap... Tap...


"Wah-wah... Aku tidak salah lihat, kan. Ini Batari, sahabat baikku." Ujar Ara. Menatap kagum dengan penampilan Batari, malam ini.


"Kau pikir siapa lagi?"


"Memangnya aku memiliki kembaran seperti, Mba Ellona." Ucap Batari.


"Hahaha... Tentu saja tidak, kau hanya ada satu-satunya di dunia ini." Ujar Ara, yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Selamat malam wanita-wanita cantik." Ucap seorang pria yang tidak Batari dan Ara kenal.


"Malam." Jawab Ara, yang menjaba tangan laki-laki yang ada di depannya.


"Ethan Abercio." Ujar pria itu, yang menyebutkan namanya.


"Namamu?" tanya Ethan. Dengan masih menampilkan senyum di raut wajah tampannya.


"Ayara, atau bisa di panggil Ara." Jawab Ara, yang menyunggingkan senyum manisnya.


"Ehemm... Kalau yang cantik ini?" tanya Ethan. Dengan suara lembutnya, menatap kagum wajah cantik, Batari.


"Batari." Jawab Batari, menyunggingkan seutas senyum di wajahnya. Membuat Ethan, semakin jatuh cinta.


"Ahh, namanya pun secantik wajahnya dan tentunya selembut hatinya juga." Ujar Ethan, penuh gombalan.


"Terimakasih atas pujian, Anda." Ujar Batari.


"Kau pantas mendapatkannya." Tutur Ethan, yang masih menggenggam tangan, Batari.


"Maukah kau berdansa denganku?" tanya Ethan. Sudah membungkukkan tubuhnya di hadapan, Batari.


"Aku--" Beo Batari, yang menggantungkan ucapannya.


"Kau!" Tunjuk Ervin. Menarik kerah baju Ethan, hanya dalam hitungan detik.


"K-kak Ervin.. " Cicit Batari, yang begitu syok.


"Apa-apaan kau!" Ujar Ethan, yang langsung menghentakkan tangan, Ervin.


"Kau... Jauh-jauh dari dia!" Ujar Ervin. Menunjuk ke arah, Batari.


"Dia! Siapanya kau?"


"Bukannya kau sudah memiliki kekasih yang bernama, Disha." Ujar Ethan. Tersenyum menyeringai yang membuat Ervin, langsung terbungkam.


"Atau jangan-jangan kau berselingkuh dengannya tanpa sepengetahuan, Disha." sambungnya kembali. Membuat Ervin, mengepalkan kedua tangannya dengan menggertakkan rahangnya.


Bughhhh!


Ervin, yang langsung memukul wajah tampan, Ethan.


"Cihh!" Desis Ethan. Dengan mengulum senyum sinis dan mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.


"Apa-apaan ini!"


"Yang kau lakukan, Ervin." Ujar David, yang sudah berada di samping Ervin, yang tengah dikuasai api amarah.


"Delvin!"


"Cepat bawa Ervin, keluar dari sini." Ujar David. Yang melihat perkelahian antara Ervin dan Ethan, ditatap oleh banyak pasang mata.


"Ayo Bos, kita keluar."


"Agar tidak memperkeruh suasana di acaranya, Bang Attar." Bisik Delvin. Membuat Ervin, melangkahkan kakinya.


"Tunggu!" Ujar Ethan.


"Kau belum menjawab siapa dia bagimu sehingga kau memukulku seperti ini." Ujar Ethan, yang masih sangat penasaran.


"Aku tidak perlu menjawab apapun atas pertanyaanmu." Tutur Ervin, yang melangkahkan kakinya kembali.


...----------------...