
Tap... Tap... Tap...
"Kenapa sayang pagi-pagi ditekuk begitu wajahnya?" tanya Ranti.
Drap... Drap... Drap...
"Biasa Mah, wanita hamil mah memang suka marah-marah." sarkas Ervin, yang berada di belakang Batari.
"Pasti kau yang menjahilinyakan." Tutur Ranti.
"Sedikit, Mah." Ujar Ervin.
"Kenapa penampilanmu masih acak-acakan, Vin? apa kau belum mandi?" tanya Ranti, kembali.
"Lupa mandi Mah, karena se--" Ucap Batari, yang langsung dibekap mulutnya oleh Ervin.
"Maksudnya Batari, aku bangun ke siangan Mah, jadi lupa mandi." Ujar Ervin, dengan melebarkan senyumnya.
Mmmp...
"Kalian tidak sedang menyembunyikan apa-apa kan." Tutur Ranti, menatap curiga.
"S-sure" Jawab Ervin.
"Awww!" Ringis Ervin. Ketika kakinya diinjak oleh, Batari.
"Maaf, puffft!" Ujar Batari, yang langsung menarik kursinya sambil menahan tawanya.
"Mah, Pah, Vin, Tar, maaf terlambat." Tutur Ellona dan Attar, ketika baru bergabung di meja makan.
"Tidak apa, kami mengerti ko pasti kalian cape karena aktivitas semalam." Ujar David, seraya menggoda putri sulungnya.
"Papa, malu tahu." Protes Ellona.
"Sudah Pah, jangan menggoda Ellona terus. Kasian wajahnya sudah merah." Ucap Ranti.
"Duduklah El, Attar." Ucapnya kembali. Dengan Ellona dan Attar, menarik kursinya masing-masing.
"Ekhmm! Papa harap kalian tidak menunda untuk memiliki momongan." Ujar David, ketika semua anggota keluarganya sudah duduk di meja makan. Kecuali Vano, yang pagi-pagi harus kembali ke kantor karena ada meeting.
"Tentu saja tidak Pah, aku dan Aas Attar, menantikan kehadiran sosok malaikat kecil kami." Ucap Ellona dengan memegang tangan Attar.
...***...
~Rumah~
"Ngapain dia ada di sini." Batin Ervin.
"Ck! Apa semalam mereka belum puas telah menghabiskan malam bersama, hingga pagi begini sudah ada di depan rumah." Batin Batari.
Ervin, pun turun dari mobil untuk menemui Disha, yang sudah menunggunya di depan gerbang rumahnya.
"Ada apa kau datang ke rumah saya?" tanya Ervin, dengan suara yang amat kecil.
"Kau semakin hari semakin tampan, membuatku tidak bisa move on darimu." Ucap Disha, dengan membelai wajah tampan Ervin.
"Dengar Disha! Lebih baik kau enyah dari sini." Tutur Ervin, dengan menghentakkan tangan Disha dari wajahnya.
"Jika aku tidak mau? apa yang akan kau lakukan, Ervin sayang." Ujar Disha, dengan kedua tanganya sudah berada di leher Ervin.
"Aku sungguh muak lihat kelakuan mereka." Batin Batari, seraya keluar dari mobil.
Tap... Tap... Tap...
"Ekhmm..." Suara deheman Batari, membuat Disha dan Ervin sama-sama menolehkan wajahnya.
Lalu cepat-cepat Ervin, melepaskan lengan Disha, dari lehernya.
"Bisakah kalian minggir sedikit, aku mau masuk." Tutur Batari, sedikit ketus.
"Hai Adik manis." Sapa Disha, dengan menyunggingkan senyumnya.
"Kau masuklah duluan, Kakak akan menyusulmu." Ujar Ervin, seraya menarik lengan Disha. Agar Batari, bisa membuka pintu gerbangnya.
"Ah benar, lebih baik gadis manis sepertimu masuk ke dalam jangan mengganggu urusan orang dewasa." Timpal Disha. Membuat Batari, melangkahkan kakinya dengan rasa kesal yang sudah menjalar di tubuhnya.
"Hubungan kita sudah selesai, lebih baik kau pergi dari sini!" Ujar Ervin, yang melangkahkan kakinya menuju mobil.
"Tunggu vin!" Ujar Disha, yang mengekor di belakang Ervin dan berhasil meraih lengan Ervin.
"Ck! Kau mau apa lagi?" Kesal Ervin.
"Ke datanganku ke sini, aku ingin kembali bersamamu seperti sedia kala." Ujar Disha, menggenggam tangan Ervin.
"Aku tahu, aku salah telah mengkhianatimu. Tetapi percayalah semua itu keadaan yang memaksaku seperti ini." Cicit Disha, yang masih memegang tangan Ervin.
"Disha... Disha... Aku sudah menutup rapat hatiku untukmu karena pengkhianatanmu terhadapku." Ujar Ervin.
"Vin..." Beo Disha, dengan geleng-geleng kepala.
"Karena kau tidak bisa menunggu saya menikahimu, kau malah menjadi buaya betina di belakangku." Ujar Ervin, kembali dengan menghentakkan tangannya.
"Aku pikir aku bermain-main di belakangmu membuatku teralihkan dengan penantian itu, tetapi malah menjadi boomerang untuk kehidupanku." Ucap Disha, dengan meluruhkan air matanya.
"Kau yang memilih jalanmu sendiri, Disha." Ujar Ervin.
"Aku sudah tidak bersama dengan om-om itu lagi, Vin."
"Bisakah kau membuka pintu hatimu untukku lagi." Tutur Disha, seraya memohon.
"Apa karena kau telah di campakan oleh sugar daddymu?"
"Sehingga sekarang kau mengemis-ngemis lagi kepadaku." Ujar Ervin.
"Tentu saja tidak, karena aku yang memutuskan hubungan dengannya agar bisa kembali bersamamu." Ucap Disha.
"Tindakan yang sangat bodoh." Ujar Ervin, membalikkan tubuhnya seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil.
Brakk!
"Vin... Ervin...!" Ucap Disha, dengan mengetuk kaca mobil.
"Ervin!!!" Teriak Disha. Melihat mobil Ervin, telah masuk ke dalam pintu gerbang.
"Aku akan tetap berusaha untuk mendapatkanmu kembali." Batin Disha.
Drap... Drap... Drap...
"Apa cinta semalam kalian belum puas? hingga membuatnya datang sepagi ini." Ucap Batari. Ketika Ervin, baru memasuki rumah.
"Tidak ada cinta satu malam." Jawab Ervin, yang melangkahkan kembali kakinya menuju anak tangga.
"M-maksudmu?" tanya Batari, yang mengekor di belakang tubuh Ervin.
"Dia bukan kekasihku lagi." Ujar Ervin, yang membalikkan tubuhnya.
Dheg!
"L-lalu y-yang tadi pagi k-kau ucapkan?" cicit Batari.
"Aku hanya mengerjaimu." Ujar Ervin.
"Kenapa perasaanku merasa lega." Batin Batari, mengulum senyum kecilnya.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?" tanya Ervin, yang melihat Batari terdiam.
"Lalu kau semalam tidur dengan siapa?" tanya Batari, masih penasaran.
"Delvin." Jawab Ervin, begitu singkat.
"What!!" Syok Batari.
"Kenapa dengan reaksimu seperti itu?" tanya Ervin, dengan menaikkan sebelah alisnya.
"K-kalian G-ay!" Cicit Batari, dengan terbata-bata.
"Apa isi otakmu kosong?"
"Bagaimana mungkin kau mengataiku gay, sedangkan aku bisa menghasilkan kecebong di dalam perutmu." Ujar Ervin, dengan menunjuk perut Batari.
"Seorang gay tidak akan tertarik terhadap lawan jenis." Ujarnya lagi, dengan melangkahkan kembali langkah kakinya.
"Ah benar juga, kenapa kau oon sekali Batari." Batinnya.
...***...
~Flashback Sebelum Hari Pernikahan Ellona~
"Aissh! Kenapa kau tetap mengawalku seperti ini." Kesal Joe.
"Ini perintah dari, Ervin." Tutur Delvin.
"Tidak bosnya tidak sekretarisnya selalu membuatku naik pitam." Gerutu Joe.
"Apa kau tidak bisa meretas ke situsnya?" tanya Delvin, yang melihat cara kerja Joe di komputernya.
"Tidak ada celah untukku masuk, jadi sabarlah aku masih mencari celah." Jawab Joe, dengan raut wajah kesalnya.
"Baiklah." Ujar Delvin, yang masih melihat Joe yang tengah mencari celah untuk bisa meretas data-data valid dari seseorang yang tengah Ervin selidiki.
"Apa kau tidak ada kerjaan, selain berada di tempatku?" tanya Joe.
"Semuanya sudah di handle, jadi tidak ada kerjaan lagi selain mengawasimu." Ujar Delvin.
"Aisshhh! Kau membuatku gila!" Tutur Joe.
"Kau yang membuatku hampir gila. Gara-gara Ervin, menugaskanku untuk mengawasimu selama 24 jam sebelum kau menemukan data valid, aku tidak bisa menikmati waktu luangku." Ujar Delvin.
"Yuk ke laut aja." Tutur Joe, dengan ke frustasiannya.
...----------------...