
"Kau membawa makanan?" tanya Ervin, melihat sebuah lunch box di meja kerjanya.
"Ini dari Ba--" Jawab Delvin, yang dipotong ucapannya.
"Ayo." Ujar Ervin, yang berjalan menuju life.
"Baik." Ucap Delvin, mengekor di belakangnya.
...***...
"Bunda, tidak tahu apakah keputusan Bunda itu tepat membiarkan ayahmu menikah lagi." Ucap Batari, yang mengelus nisan putrinya. Dengan air mata yang membanjiri wajahnya.
"Hati Bunda begitu terenyak melihat kedekatannya dengan sosok wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya." Sambungnya kembali, yang kini memeluk nisan putrinya.
"Tidak baik jika terus menangis di depan pusara." Ujar Ethan, yang sudah berdiri di hadapan Batari.
"Kak Ethan..." Cicit Batari, yang cepat-cepat menghapus air matanya.
"Jika kau terus menangis, anakmu akan sangat bersedih di atas sana." Tuturnya, dengan menggenggam tangan Batari untuk beranjak.
"Aku hanya terbawa suasana." Ucap Batari, menghapus kembali sisa air matanya.
"Umm... Kenapa Kak Ethan, berada di sini?" tanya Batari.
"Aku mengunjungi pusara nenekku." Jawab Ethan.
"Ayo." Sambungnya kembali, menarik tangan Batari untuk mengikuti langkahnya.
"Apa kau bersedih, karena sudah mengetahui Disha yang tengah mengandung anak dari Ervin?" tanya Ethan, melirik wajah Batari yang berada di sampingnya.
Angguk Batari. "Lalu?" tanyanya lagi.
"Kak Ervin akan bertanggung jawab untuk menikahinya." Jawab Batari, dengan kembali berkaca-kaca.
"What!" Syok Ethan.
"Pasti kau mendengarnya sangat konyol, kenapa aku mengizinkan kak Ervin untuk menikahi kak Disha." Tutur Batari, diangguki Ethan.
"Karena aku tidak ingin bayi itu tidak memiliki seorang ayah." Sambungnya.
"Hatimu sangat mulia, Batari. Bahkan kau sangat bersedia untuk membagi suamimu dengan wanita lain yang tak lain adalah kekasihnya dulu." Ujar Ethan.
"Aku ingin egois tetapi aku tidak bisa untuk melakukannya." Tutur Batari, menghapus air matanya lalu menyunggingkan senyumnya.
"Kau membiarkan perasaanmu yang terluka untuk kebahagiaan orang lain." Ujar Ethan, membuat Batari terdiam.
"Oke, kalau begitu hari ini aku akan membuatmu tersenyum." Ujarnya kembali dengan membuka pintu mobilnya untuk Batari.
"K-kau mau membawaku ke mana?" tanya Batari, yang memasuki mobil Ethan.
"Percayalah padaku." Ujar Ethan.
~20 menit kemudian~
"Timezone." Cicit Batari, ketika Ethan membawanya ke arena permainan.
"Sure." Angguk Ethan, dengan seulas senyum di wajahnya.
"Ayo, kita ke permainan pertama yaitu dance dance revolution." Ujar Ethan.
"Dan luapkan amarahmu di sana." Bisiknya, dengan menarik tangan Batari.
"Aku tidak bisa menari." Tutur Batari.
"Kau hanya membutuhan konsentrasi untuk memainkan DDR ini dan yakinlah kau pasti akan menikmatinya setelah memainkannya." Ujar Ethan.
"Tapi..." Cicit Batari.
"Ayolah, aku akan memilih lagunya." tutur Ethan.
"Scoring." Ucap Batari.
"Sure, apa kau menginginkan freestyle terlebih dahulu?" tanya Ethan.
"Ya, karena aku ingin di level terendah dahulu untuk berkonsentrasi dengan ritme lagunya.
"Baiklah." Ujar Ethan, memilih freestyle sebelum ke scoring.
"Are you ready?" tanya Ethan, yang siap memainkan musiknya.
"Sure." Angguk Batari, yang mulai menginjak panah dari bawah ke atas.
"Bagaimana?" tanya Ethan.
"Ini sangat seru dan sekarang aku bisa menyesuaikan dengan ritme lagunya." Ucap Batari, yang terus berkonsentrasi.
"Oke, kita ke scoring." Tutur Ethan, membuat Batari semakin kewalahan untuk mendapatkan skor.
"Kau sungguh curang." Ucap Batari.
"Kau yang sungguh lambat seperti siput." Ujar Ethan, dengan gelak tawanya dan begitu lihai memainkan DDR.
Hingga tak terasa, Batari yang terus menari dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya tanpa sadar sedikit demi sedikit melupakan beban pikirannya.
Hosh... Hosh... Hosh...
Deru nafas keduanya begitu memburu.
"Sungguh sangat menguras tenaga." Ucap Batari.
"Sebentar." Ujar Ethan, yang membelikan minuman untuk Batari dan dirinya.
"Terimakasih." Ucap Batari.
"Kita akan ke mana lagi?" tanya Batari, ketika lengannya kembali di tarik.
"Capitan boneka." Jawab Ethan.
"Baiklah." Ucap Batari, mengikuti langkahnya ke arena permainan selanjutnya.
"Kau menginginkan boneka apa?" tanya Ethan, ketika sudah berada di depan mesin capit.
"Aku menginginkan boneka panda." Jawab Batari, seraya menunjuk.
"Kau yakin, hanya itu?" tanyanya kembali.
"Ah... Aku juga menginginkan boneka beruang." Jawab Batari, kembali.
"Baiklah, aku akan memberikannya untukmu." Ujar Ethan, begitu percaya diri.
"Oke... Kita lihat apakah kau akan mendapatkannya untukku." Ucap Batari.
"Kau meremehkanku." Ujarnya, yang tengah berusaha mencapit boneka beruang terlebih dahulu.
"Tentu saja tidak." Cicit Batari, menahan senyumnya.
"Sial." Gerutu Ethan, ketika gagal mendapatkan bonekanya.
"Kau yakin, akan mendapatkannya untukku?" tanya Batari.
"Sure, aku akan mencobanya kembali." Ujar Ethan, yang kembali mencapit boneka.
"Shittt!" Umpatnya kembali, ketika gagal.
"Sudahlah, kau menyerah saja." Ucap Batari, yang melihat Ethan sudah kesembilan kalinya gagal dalam mencapit boneka.
"Tidak, kali ini aku akan mendapatkannya untukmu." Tutur Ethan, yang kembali berusaha.
"Baiklah, kau hanya akan menghabiskan koinmu saja." Ucap Batari.
"Yes." Ujar Ethan, begitu bahagia berhasil mencapit boneka untuk keenam belas kalinya.
"Wow, beruang." Ucap Batari, begitu bahagia.
"Maaf hanya satu, jika kau menginginkan boneka panda aku akan membelikannya." Ujar Ethan.
"Tidak, ini sudah cukup bagiku." Ucap Batari, yang terus menyunggingkan senyumnya.
"Baiklah." Ujar Ethan, yang kembali menarik pergelangan tangan Batari.
"Kau akan membawaku ke mana lagi?" tanya Batari.
"Bowling." Jawab Ethan.
"Aku tidak bisa main bowling." Cicit Batari.
"Aku akan mengajarimu." Ujar Ethan, memilih bola yang pas untuk jari-jari Batari.
"Ayo." Ujarnya, menarik lengan Batari.
"Pertama-tama langkahkan kaki kananmu."
"Langkah kedua, arahkan bola sejajar dengan pergelangan kaki dan tekuk lututmu."
"Langkah ketiga, ayunkan bola ke belakang dan bersiap keluarkan tenagamu untuk melemparkan bolanya."
"Lalu langkah keempat, ayunkan bola ke depan dan lemparkan bola ke arah pin yang berbaris.
"Seperti ini." Tutur Ethan, ketika pin yang berbaris terjatuh semua dengan lemparan bola yang pas.
"Amazing." Beo Batari.
"Kau ingin mencobanya?" tanya Batari.
"Ya." Jawab Batari, dengan Ethan yang memilihkan bola untuk Batari.
"Cobalah." Ujar Ethan, yang memberikan sebuah bola dan Batari pun menerimanya.
"Kau pasti bisa, ingatlah langkah-langkahnya." Tutur Ethan, dengan Batari yang melakukan langkah-langkah seperti yang Ethan ajarkan.
"Yes." Ucap Batari, yang berhasil menjatuhnya pinnya.
"Never mind, kau tetap berhasil walau hanya menjatuhkan tiga pin." Ujar Ethan, dengan Batari yang terus mengembangkan senyumnya.
"Terimakasih, seharian ini kau membuatku melupakan sejenak akan permasalahan yang tengah aku hadapi." Ucap Batari.
"Setidaknya aku berhasil membuatmu tersenyum." Ujar Ethan, membuat Batari tersenyum canggung.
"Kau menepati janjimu, terimakasih untuk semuanya." Ucap Batari.
"Ya, kau tidak perlu selalu berterimakasih kepadaku." Ujar Ethan, yang melangkahkan kakinya untuk keluar dari mall.
"Baiklah, lalu aku harus membalasmu seperti apa." Tutur Batari, yang mengekor di belakangnya.
"Dengan mentelaktirku." Ujar Ethan, menatap wajah Batari.
"Aku akan menikahi Disha pekan depan." Ujar Ervin.
...----------------...